http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=117328
Beragama secara Humanistik
Oleh Bahrus Surur-Iyunk
Jumat, 5 Agustus 2005
Adalah terlalu politis jika kita memperdebatkan apakah musibah yang
menimpa negeri ini sudah ada sebelumnya atau memang baru muncul pada saat ini.
Yang jelas, bangsa besar seperti Indonesia sedang dirundung duka dan musibah
secara berturut-turut. Dapat dihitung, bencana tsunami Aceh dan Sumut, gempa
bumi Nias dan sebagian pantai barat Sumatera, mencuatnya kasus penyakit polio
dan lumpuh layu, merebaknya muntaber dan busung lapar, ambruknya
sekolah-sekolah dasar saat berlangsungnya proses belajar mengajar, dan berbagai
musibah yang menimpa di tingkat lokal.
Lalu, tidak sedikit yang bertanya, terutama mereka yang agak
skepstis dan tidak terlalu respek terhadap agama dan keberagamaan: apa yang
bisa diperbuat sebuah agama untuk menyelesaikan problem umat manusia yang
sedemikian kompleks? Pertanyaan, kalau bukan kesangsian, semacam inilah yang
mendorong Buya A Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah mengajukan
pertanyaan cerdas pada sebuah forum diskusi meja bundar internasional tentang
"Agama-agama Dunia dan Globalisasi", di Genting Highland Resort, yang dihadiri
oleh tokoh-tokoh pemikir globalisasi peringkat dunia. Moralitas macam apakah
yang dapat menyelamatkan dunia dan kemanusiaan dari kehancuran bersama?
Secara substantif, agama memang sangat mudah dimengerti. Kegiatan
agama dapat dibedakan dari kegiatan yang bukan keagamaan. Memakai busana,
mandi, bernyanyi, menari, berbicara dan bahkan membisu bisa disebut kegiatan
agama manakala dihubungkan dengan doktrin atau kepercayaan agama. Singkatnya,
apa saja yang berkaitan dengan Tuhan atau Yang Sakral itulah yang disebut
agama.
Tetapi, menurut Baston, Schoenrade dan Ventis dalam bukunya,
Religion and the Individual (1993), agama juga dapat dipahami secara
fungsional. "Agama adalah apa saja yang kita lakukan sebagai individu dalam
usaha kita mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi, karena kita sadar bahwa
kita, dan yang lain seperti kita, hidup dan bakal mati." Dengan kata lain,
agama muncul untuk membantu manusia menjawab masalah-masalah yang dihadapi
dalam hidup keseharian.
Dalam konteks inilah agama memberi jawaban secara karakteristik
yang berbeda dengan cara kerja ilmu pengetahuan dan teknologi. Agama lebih
memberi pandangan yang lebih mendasar-transendental terhadap masalah
eksistensial, mulai dari kematian, kebebasan, keterasingan, ketidak-bermaknaan
hingga ketidakadilan sosial.
Memang mesti diakui bahwa setiap agama memiliki dimensi ideologis,
ritualistik dan eksperiensial (pengalaman keagamaan) yang berbeda. Jangankan
antaragama, antarkelompok pemaham agama pun tidak jarang berbeda. Hal ini
disebabkan oleh konstruksi eksoteris atau formalitas agama yang dibangun atas
dasar kontekstualitas ruang dan waktu. Bagaikan secercah sinar yang terpencar
penuh warna-warni, tetapi tetap bersumber dari esensi Yang Satu. Dari sumber
Yang Satu ini lahir konsekuensi teologis yang sangat memungkinkan untuk
digerakkan kepada perbaikan kemanusiaan.
Dimensi konsekuensial religius menunjukkan akibat ajaran agama
dalam perilaku umum, yang tidak secara langsung dan secara khusus ditetapkan
agama, seperti dalam dimensi ideologis dan ritualistik. Efek agama ini bisa
jadi positif atau negatif pada tingkat personal maupun sosial. Martin Luther
King Jr, misalnya, karena dorongan ajaran agama yang baru dianutnya, berjuang
untuk menentang diskriminasi rasial di Amerika Selatan. Tetapi, Jim Jones
justru mendorong hampir seribu pengikutnya untuk minum racun, juga atas dasar
(pemahaman) agamanya.
Oleh karena itu, dalam kerangka berpikir positif, agama dapat
diarahkan kepada kemaslahatan. Artinya, dibutuhkan paradigma agama yang beraras
dan diarahkan pada manusia. Meski ia merupakan suatu sistem-kepercayaan, namun
obyek pengetahuannya bukan lagi Tuhan an sich yang komptemplatif atau kehidupan
abadi, melainkan juga keberadaan, keberadaan materi dan dunia lahiriah. Sebagai
suatu obyek pengetahuan, dunia dan kemanusiaan mendahului Tuhan. Sesudah
mengetahui dunia dan manusia, Tuhan baru dapat diketahui. Tuhan tidak dapat
dibuktikan berdasarkan teori yang spekulatif (mengawang-awang), melainkan hanya
dengan implementasi realitas. Dalam bahasa Ali bin Abi Thalib, "Barang siapa
yang mengetahui dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya."
Pemahaman teologis yang berporos kemanusiaan seperti ini tidak
membela kepentingan Tuhan di dunia, melainkan membela kepentingan manusia dan
alam semesta. Sebab, dibela atau tidak, Tuhan tetaplah Ada dan Sempurna menurut
Dzat" dan Sifat-Nya. Dengan demikian, "Teologi Kemanusiaan" tidak lagi terjebak
pada justifikasi kekuasaan dan kelompok kepentingan tertentu, melainkan
benar-benar "bekerja" untuk kemanusiaan. Bila ini memang benar diyakini, maka
seorang ulama pun akan malu untuk dukung-mendukung calon kepala daerah dan
calon wakil kepala daerah dengan "menjual" dalil-dalil agama.
Dalam konteks kekinian, weltanschauung keagamaan ini penting,
karena ada kebutuhan untuk menempatkan keyakinan akan Tuhan dalam praksis
sosial kemanusiaan. Tuhan bukan hanya suatu konsep prinsip teoritis, melainkan
juga aktivitas di dunia, melalui tindakan-tindakan individual dan sosial.
Dengan kata lain, meminjam istilah Hassan Hanafi, teolog dan filsuf Muslim asal
Mesir, Tuhan bukan suatu obyek untuk dibuktikan secara teoritis, melainkan
suatu tujuan untuk diwujudkan secara praksis. Tuhan bukan wujud, melainkan
menjadi. Ini mungkin merupakan suatu cara yang efisien untuk mengaktifkan
kembali kepercayaan kepada Tuhan sebagai elan vital menyelamatkan kemanusiaan
dari ancaman yang telah mengalami penganekaragaman.
Melalui kepedulian teologis terhadap problem kemanusiaan itu pula
sedikit banyak akan dapat menjawab kegelisahan Dr Zia Rizvi, seorang penasehat
UNDP dan sahabat karib Dr Soejatmoko (alm), tentang keamanan manusia (human
security). Inti dari keamanan manusia itu sendiri berupa kebebasan manusia
(human freedom), kesejahteraan manusia (human wellbeing) dan kelanjutan hidup
manusia (human survival).
Implementasi sederhana dari teologi kemanusiaan tidak hanya
terlihat dari sisi karitatif agama yang memerintahkan umatnya untuk berderma
pada kaum lemah dan miskin. Lebih dari itu, ia membangun kepekaan sosial secara
menyeluruh pada penganutnya untuk menjaga diri dari penyakit sosial (korupsi),
merusak lingkungan hidup (illegal loging), dan menjaga keberlangsungan
kehidupan bersama.
Keberagamaan secara humanistik ini menjadi sangat
optimistik-prospektif ketika menelisik misi semua agama yang baik dan tidak ada
yang akan pernah menjerumuskan penganutnya pada kenistaan. Terlebih lagi, amat
jarang perbedaan agama itu berkisar pada dataran ketimpangan sosial dan
kemanusiaan. Wallahu a'lam bi al-shawab. ***
Penulis alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
pengkaji pada JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hpbjemf/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123197445/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">What
would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/