Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan sedang berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi. Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak", melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda. Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu di mana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerrilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan (Surpressing). Perang ini bukan merupakan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) di mana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya. Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Modjo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855. Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
________________________________ From: item abu <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Friday, June 22, 2012 5:53 PM Subject: Re: [proletar] Komùpas: Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh Belanda Faktanya emang Belanda ga pernah ngejajah Indonesia selama 350 thn. VOC itu cuma sebuah perusahaan swasta, kalo ngoceh VOC adalah negara Belanda, itu kan cuma kibulan unt nutup2in fakta bhw orang Indonesia begitu ga becusnya sampe banyak daerah dikuasai oleh perusahaan swasta. Dan jangan salah, banyak daerah itu emang dijual atau diberikan ke VOC oleh penguasa di Indobesia sendiri, jadi bukan dijajah, tp emang dimiliki oleh VOC dgn sah. Kecuali kalo kita anggap penguasa lokal itu ga pernah punya hak atas daerah yg mereka berikan ke VOC. >________________________________ > From: Sunny <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Saturday, June 23, 2012 11:04 PM >Subject: Re: [proletar] Komùpas: Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh >Belanda > > > >http://forum.kompas.com/nasional/27406-indonesia-tak-pernah-dijajah-350-tahun-oleh-belanda.html > >From: Bukan Pedanda >Sent: Friday, June 22, 2012 4:20 PM >To: [email protected] >Subject: [proletar] Komùpas: Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh >Belanda > >Saya muat berita itu selengkap... > >--- > >MEDAN, KOMPAS.com Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Prof Taufik Abdullah, >mengatakan, Indonesia tidak pernah dijajah oleh pemerintah kolonial Belanda >selama 350 tahun. > >"Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di >bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Ini tidak sesuai dengan fakta, >yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk menaklukkan >beberapa daerah di Hindia Belanda," katanya di Medan, Selasa (19/1/2010). > >Hal tersebut dikatakannya di sela seminar nasional pengusulan Sultan Serdang >ke-5, Sulaiman Syariful Alamsyah (1881-1945), sebagai Pahlawan Nasional. >Taufik mengatakan, orang-orang Belanda pertama kali masuk ke Indonesia pada >tahun 1552 di bawah pimpinan Cornelius de Houtman yang mendarat di salah satu >pelabuhan dan pusat kekuasaan di Nusantara saat itu, yakni Banten. > >Kolonialisme Belanda berakhir pada tahun 1942 ketika Hindia Belanda diserbu >dan diduduki oleh bala tentara Jepang. "Logikanya, apakah masuk akal kalau >dikatakan bahwa Belanda langsung berkuasa ketika mereka baru saja datang di >Banten," katanya. > >Taufik mengatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut >pada abad ke-17 yang boleh dikatakan sebagai zaman ketika berbagai kerajaan di >Kepulauan Nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa. > >Abad ke-17 adalah masa berjayanya Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang >meluaskan kekuasaannya ke tanah Semenanjung dan Pantai Barat Sumatera, >demikian juga dengan Sultan Agung yang meluaskan kekuasaannya ke seluruh Jawa, >kecuali Banten dan Batavia. Begitu juga dengan Raja Tallo yang sekaligus >menjabat Perdana Menteri Kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa >(1653-1669). > >Mereka memerintah di kerajaan masing-masing dan biasa juga terlibat dalam >kompetisi dan konflik sesama mereka. Pada masa itu pula mereka menghadapi >dengan gagah berani infiltrasi kekuatan asing, seperti Belanda, Spanyol, dan >Portugis. > >"Lalu, bagaimana harus dipahami kalau di bawah kolonialisme Belanda >memerintah, raja-raja di Nusantara itu memiliki kekuasaan yang cukup besar dan >bahkan sibuk memperluas wilayah kekuasaan mereka masing-masing," katanya. >Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di >bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
