Setelah kekalahannya dalam Peperangan era Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda 
yang berada dalam kesulitan ekonomi 
berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai 
pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, 
mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan 
keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik 
rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.
Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha 
menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di 
antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV 
wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, 
diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan 
dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk 
kepada Belanda. Belanda 
dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat 
keraton.
Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan 
pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah 
rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. 
Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur 
Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro 
tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia 
kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang 
melewati makam tersebut. Namun Belanda tetap memasang patok-patok 
tersebut bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal, Pangeran 
Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak.
Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena 
dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. 
Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan 
pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di 
Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa 
Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. 
Sementara itu, Belanda —yang tidak berhasil menangkap Pangeran 
Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran.
Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak 
di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai 
basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, 
yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih 
(selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan 
pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.
Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan 
berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat 
pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan 
pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, 
sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro 
dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam 
perang jawa 
ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta 
Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.


________________________________
 From: Sunny <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Saturday, June 23, 2012 12:04 PM
Subject: Re: [proletar] Komùpas: Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh 
Belanda 
 

  
http://forum.kompas.com/nasional/27406-indonesia-tak-pernah-dijajah-350-tahun-oleh-belanda.html

From: Bukan Pedanda 
Sent: Friday, June 22, 2012 4:20 PM
To: [email protected] 
Subject: [proletar] Komùpas: Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh 
Belanda 

Saya muat berita itu selengkap...

---

MEDAN, KOMPAS.com  Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Prof Taufik Abdullah, 
mengatakan, Indonesia tidak pernah dijajah oleh pemerintah kolonial Belanda 
selama 350 tahun.

"Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di 
bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Ini tidak sesuai dengan fakta, 
yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk menaklukkan 
beberapa daerah di Hindia Belanda," katanya di Medan, Selasa (19/1/2010).

Hal tersebut dikatakannya di sela seminar nasional pengusulan Sultan Serdang 
ke-5, Sulaiman Syariful Alamsyah (1881-1945), sebagai Pahlawan Nasional. Taufik 
mengatakan, orang-orang Belanda pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1552 
di bawah pimpinan Cornelius de Houtman yang mendarat di salah satu pelabuhan 
dan pusat kekuasaan di Nusantara saat itu, yakni Banten.

Kolonialisme Belanda berakhir pada tahun 1942 ketika Hindia Belanda diserbu dan 
diduduki oleh bala tentara Jepang. "Logikanya, apakah masuk akal kalau 
dikatakan bahwa Belanda langsung berkuasa ketika mereka baru saja datang di 
Banten," katanya.

Taufik mengatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut 
pada abad ke-17 yang boleh dikatakan sebagai zaman ketika berbagai kerajaan di 
Kepulauan Nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa.

Abad ke-17 adalah masa berjayanya Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang 
meluaskan kekuasaannya ke tanah Semenanjung dan Pantai Barat Sumatera, demikian 
juga dengan Sultan Agung yang meluaskan kekuasaannya ke seluruh Jawa, kecuali 
Banten dan Batavia. Begitu juga dengan Raja Tallo yang sekaligus menjabat 
Perdana Menteri Kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa (1653-1669).

Mereka memerintah di kerajaan masing-masing dan biasa juga terlibat dalam 
kompetisi dan konflik sesama mereka. Pada masa itu pula mereka menghadapi 
dengan gagah berani infiltrasi kekuatan asing, seperti Belanda, Spanyol, dan 
Portugis.

"Lalu, bagaimana harus dipahami kalau di bawah kolonialisme Belanda memerintah, 
raja-raja di Nusantara itu memiliki kekuasaan yang cukup besar dan bahkan sibuk 
memperluas wilayah kekuasaan mereka masing-masing," katanya.
Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di bawah 
kolonialisme Belanda selama 350 tahun.

[Non-text portions of this message have been removed]


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke