Membaca sejarah perang Diponegoro sebenarnya ada hal yang janggal bagi saya, 
sebab setidaknya melawan nalar sehat

Belanda membangun jalan tetapi jalan itu melewati komplek makam pekuburan 
pangeran Diponegoro di tegal Rejo karena itu Diponegoro mealwan maka timbul 
perang yang menelan korban jiwa dan menghabiskan biaya yang sangat banyak.

Pertanyaanya bukankah Belanda tahu bahwa perang itu membutuhkan biayanya 
banyak, mengapa Belanda tidak memindahkan saja pembangunan  jalan ke tempat 
lain? bukan ini lebih murah dan lebih baik. mengapa Belanda begitu bodoh ngotot 
melanjutkan pembangunan jalan di situ? atau sesungguhnya alasan perang 
Diponegoro bukan pembangunan jalan itu ? berarti ada alasana lain??

Ditambah bukankah makam keluaraga raja Jogja bukan di Tegal Rejo tetapi di 
Imogiri, apakah jalan yang dibangun Belanda masih eksis sampai hari ini

Banyak pertanyaan yang bisa di ajukan untuk mengkritisi perang Diponegoro




--- In [email protected], Musik hari Ini <musikhariini@...> wrote:
>
> Setelah kekalahannya dalam Peperangan era Napoleon di Eropa, pemerintah 
> Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi 
> berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai 
> pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, 
> mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan 
> keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik 
> rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.
> Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai 
> berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di 
> antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV 
> wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, 
> diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan 
> dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan 
> tunduk kepada Belanda. Belanda 
> dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat 
> keraton.
> Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya 
> memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, 
> mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. 
> Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur 
> Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro 
> tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia 
> kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang 
> melewati makam tersebut. Namun Belanda tetap memasang patok-patok 
> tersebut bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal, Pangeran 
> Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak.
> Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena 
> dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. 
> Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan 
> pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di 
> Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa 
> Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. 
> Sementara itu, Belanda â€"yang tidak berhasil menangkap Pangeran 
> Diponegoroâ€" membakar habis kediaman Pangeran.
> Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang 
> terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai 
> basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, 
> yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih 
> (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan 
> pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.
> Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan 
> berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat 
> pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan 
> pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, 
> sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan 
> Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual 
> pemberontakan. Dalam perang jawa 
> ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI 
> serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.
> 
> 
> ________________________________
>  From: Sunny <ambon@...>
> To: [email protected] 
> Sent: Saturday, June 23, 2012 12:04 PM
> Subject: Re: [proletar] Komùpas: Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh 
> Belanda 
>  
> 
>   
> http://forum.kompas.com/nasional/27406-indonesia-tak-pernah-dijajah-350-tahun-oleh-belanda.html
> 
> From: Bukan Pedanda 
> Sent: Friday, June 22, 2012 4:20 PM
> To: [email protected] 
> Subject: [proletar] Komùpas: Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh 
> Belanda 
> 
> Saya muat berita itu selengkap...
> 
> ---
> 
> MEDAN, KOMPAS.com  Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Prof Taufik 
> Abdullah, mengatakan, Indonesia tidak pernah dijajah oleh pemerintah kolonial 
> Belanda selama 350 tahun.
> 
> "Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di 
> bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Ini tidak sesuai dengan fakta, 
> yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk menaklukkan 
> beberapa daerah di Hindia Belanda," katanya di Medan, Selasa (19/1/2010).
> 
> Hal tersebut dikatakannya di sela seminar nasional pengusulan Sultan Serdang 
> ke-5, Sulaiman Syariful Alamsyah (1881-1945), sebagai Pahlawan Nasional. 
> Taufik mengatakan, orang-orang Belanda pertama kali masuk ke Indonesia pada 
> tahun 1552 di bawah pimpinan Cornelius de Houtman yang mendarat di salah satu 
> pelabuhan dan pusat kekuasaan di Nusantara saat itu, yakni Banten.
> 
> Kolonialisme Belanda berakhir pada tahun 1942 ketika Hindia Belanda diserbu 
> dan diduduki oleh bala tentara Jepang. "Logikanya, apakah masuk akal kalau 
> dikatakan bahwa Belanda langsung berkuasa ketika mereka baru saja datang di 
> Banten," katanya.
> 
> Taufik mengatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut 
> pada abad ke-17 yang boleh dikatakan sebagai zaman ketika berbagai kerajaan 
> di Kepulauan Nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa.
> 
> Abad ke-17 adalah masa berjayanya Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang 
> meluaskan kekuasaannya ke tanah Semenanjung dan Pantai Barat Sumatera, 
> demikian juga dengan Sultan Agung yang meluaskan kekuasaannya ke seluruh 
> Jawa, kecuali Banten dan Batavia. Begitu juga dengan Raja Tallo yang 
> sekaligus menjabat Perdana Menteri Kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin, Raja 
> Gowa (1653-1669).
> 
> Mereka memerintah di kerajaan masing-masing dan biasa juga terlibat dalam 
> kompetisi dan konflik sesama mereka. Pada masa itu pula mereka menghadapi 
> dengan gagah berani infiltrasi kekuatan asing, seperti Belanda, Spanyol, dan 
> Portugis.
> 
> "Lalu, bagaimana harus dipahami kalau di bawah kolonialisme Belanda 
> memerintah, raja-raja di Nusantara itu memiliki kekuasaan yang cukup besar 
> dan bahkan sibuk memperluas wilayah kekuasaan mereka masing-masing," katanya.
> Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di 
> bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
>  
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke