Nah itulah bedanya elu dari orang yang 'islam'. Hidup & 
tindakan lu sangat terikat teks / kata. Ada kata "jilat" 
lu langsung ngejilat, ada kata "sedot" lu buru-buru nyedot. 
Tambah norak begitu lu ketemu kata "jika". Serta-merta dah 
lu berandai-andai dengan khusuk sampe lu ngecret. Padahal 
kalimat utuhnya: "jika uplik telanjang bulet maka dia tempeli 
wajahnya dengan poster tata dado.." dan elu langsung lepek. 
Padahal, cuma "jika" blek. 

Orang yang 'islam' mah nggak bakal biarin dirinya mandeg di 
satu jaman apalagi tersesat di satu kata. Kalimat, alinea, bab, 
seisi buku, bahkan buku-buku lain pun perlu dikunyah untuk 
dapetin saripati / prinsipnya. Berdasarkan prinsip-prinsip itulah 
teknis pelaksanaan disesuaikan dengan kondisi yang ada / dihadapi.

Elu blek, udah keliatan dah elu cuma kecoak mandeg yang nggak 
kenal prinsip. Hidup & perilaku lu terikat mati pada teks doang 
(ini pun lu salahpahami sebagai 'seks'), pada hal-hal teknis mulu. 
Itu pun cuma sok-sokan biar lu difitnah sebagai "teknisi" yang 
ahli urusan mekanik. Padahal blek, jualan oli palsu tuh nggak 
otomatis jago ngoprek mesin. Semua orang tau lu jualan oli palsu. 
Lu doang yang nggak tau. 

Udahlah blek, elu pilih nama aja kagak jelas, bukan item bukan 
abuabu. Selain cuma nunjukin kebingungan lu, itu nama juga 
ngumumin bahwa elu kecoak serakah, mau ini tapi pengen itu juga.
Udah punya markas di kakus tapi pengen gaul sama manusia di meja makan. 

Padahal blek, untuk lu bisa jadi manusia elu cuma tinggal pahami
apa yang namanya mikir. Dengan begitu idup lu nggak berdasarkan 
teks / kata. Jadi, kalo lu lagi menghadapi situasi yang nggak ada 
teksnya bukan berarti lu boleh diem aje. Lu tetep kudu berupaya 
supaya lu nggak dihukum lantaran dagang oli palsu, misalkan. Upaya 
dengan mikir, bukan ngandelin teks. Ini penting, apalagi untuk 
meraih cita-cita lu jadi ustad. Itu, upaya dengan berpikir itu, 
yang laki/bini/guru lu (si uplik) bilang "ijtihad". 

Kalo lu kelewat takut untuk pinter ya lu cukup jadi kecoak aje. 
Oke? 


--- item abu <itemabu@...> wrote:

> Jadi hukum Islam itu ga beres, makanya hrs diubah, hehehe...
> 
> 
> From: ajeg <ajegilelu@...>
>
> > Pada kenyataannya memang begitu. Bahkan beberapa kawan & 
> > kenalan asal Minang (suku yang cukup kental dengan keislaman) 
> > tidak menelan mentah-mentah pembagian hak waris menurut syariat. 
> > Keluarga mereka bisa membuat putusan soal waris yang lebih 
> > berdasarkan asas keadilan. 
> >
> > Dan ini bukan semata karena budaya Minang menganut sistem 
> > matriarkhat. 
> >
> > --- From: "habe arifin" <habearifin@...> 
> >
> > 
> > > Syariatisasi Hukum Nasional
> > > Oleh: KH. Abdurrahman Wahid 
> > > 
> > > [...] 
> > >
> > > Begitu juga harta warisan dibagikan kepada anak lelaki dua kali 
> > > lipat dari apa yang dibagikan kepada anak perempuan. Dalam 
> > > kenyataan, banyak terjadi para lelaki "melepaskan" haknya itu 
> > > sehingga anak perempuanpun mendapat pembagian yang sama dengan 
> > > anak lelaki. Perubahan ini terjadi karena adanya proses 
> > > penafsiran ulang (re-interprestasi) ini adalah kenyataan hidup 
> > > yang terjadi yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun dan 
> > > harus diperhitungkan oleh para pengamat dunia Islam. 
> > >
> >
> > 
> >
> >
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke