Soal makanan tradisional, Indonesia adalah sorganya lidah 
Indonesia. Bukan cuma soal rasa, tapi juga suasana dan 
terutama manusianya. Hari ini kebetulan Kompas nurunin laporan 
utama soal guyubnya masyarakat Indonesia lewat makanan. 

Ps. 
"The View" itu maksudnya The Stone apa The Valley, atau 
bukan dua-duanya? 


-- 


Sepiring Demokrasi dari Tepi Jalan

Restoran kenes bertumbuhan di perkotaan. Namun, banyak kaum urban 
tetap memburu tempat makan bersahaja, kadang juga berkesan kumuh. 
Apa yang mereka cari? Semata cita rasa, romantisme, atau kerinduan 
akan masa lalu di kampung? 

Sebuah mobil Jaguar X-Type berhenti di sebuah warung sate sederhana 
di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Barat, pekan lalu. Penunggangnya 
memesan sate, duduk di bangku kayu agak kusam, lalu melahap sate di 
warung milik Haji Tarni yang seporsinya berharga Rp 25.000 isi sepuluh tusuk. 
Mantabs. 

Ah, urusan lidah memang tiada berkait dengan soal tunggangan orang. 
Kita lihat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Jelang tengah malam, 
mulut gang buntu di pertemuan Jalan Garuda Ujung dan Jalan Kemayoran 
Gempol riuh disesaki pengunjung. Di bawah temaram cahaya lampu 
jalan, warung bersahaja itu seperti bohlam dikerumuni laron. Mereka 
memburu ketan berlumur susu kental manis dan tempe goreng. Nyam.... 

Di tempat semacam ini, pengunjung kelas elite pun tahu menyesuaikan 
diri. Tak perlu rewel atas ketidaknyamanan atau kealpaan pelayan, seperti jika 
mereka bersantap di restoran mentereng. Pelanggan hanya 
melempar senyum pengertian saat pelayan warung yang super sibuk keliru memahami 
detail pesanan ketan "ajaib" yang kondang itu. 

Malam itu, Ridwan (19) menyantap ketan bersama sopirnya, Muroli (46), 
di dalam mobil. Ridwan mengaku selalu kangen ketan susu itu sejak 
mengenalnya enam tahun lalu. Suasana bersantap seadanya itu dinikmati keduanya, 
akrab tanpa kerikuhan. "Saya, sih, sudah jadi pelanggan di sini sejak tahun 
1992," celoteh Muroli sembari menyikat ketannya di 
belakang kemudi. 

Bersantap di mobil seperti Ridwan dan Muroli adalah salah satu solusi 
keterbatasan ruang. Warung ketan susu yang dirintis Haji Sukrad sejak 1958 itu 
hanya menyediakan sebuah meja saji dan bangku panjang 
tambahan berjajar di tepian gang. Luapan pengunjung membuat lokasi sekitar 
turut terokupasi. Pengunjung sudi duduk di mana saja. Di gardu listrik, emperan 
toko, kelontong, atau nekat duduk di separator 
jalan raya selebar 40 sentimeter di Jalan Kemayoran Gempol. "Iya, ini 
memang tempat makan berbahaya sih, he-he-he," ujar Benny Rahman (24), 
seorang pelanggan. 

Fenomena budaya 

Apa boleh buat, makanan memang bisa melampaui persoalan cita rasa. 
Lono Simatupang, antropolog dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 
menengarai makanan sebagai fenomena budaya. Makanan senatiasa sarat 
oleh kelindan nilai-nilai; mulai dari sistem produksi, penyajian, 
tempat, hingga pengonsumsiannya. Entah itu nilai-nilai terkait 
estetika, rasa enak tak enak, sehat tak sehat, religi, nilai sosial 
mentereng atau kampung, bahkan aspek politis. 

"Sebagian kaum urban menengah-atas di Indonesia tidak terlahir dan dibesarkan 
dalam sistem nilai kelas menengah-atas. Dalam diri mereka 
tetap bercokol referensi nilai-nilai kelas menengah-bawah, bahkan non-urban. 
Itu menumbuhkan hasrat dan kerinduan untuk sekali-sekali 
'bernostalgia' (dengan makanan di tempat bersahaja)," kata Lono 
mencermati kegandrungan kaum urban akan suatu makanan. 

Kerinduan akan entitas non-urban itu boleh dianggap sebagai kerinduan 
akan hal-hal yang terlepas dari pengemasan serba dibuat-buat. Kota seperti 
Jakarta tentu tahu betul bagaimana mengemas segala sesuatu 
untuk dicitrakan, dikonsumsi. Meski begitu, di bawah langit Jakarta masih 
tersisip sudut-sudut bersahaja tanpa pretensi. Seperti warung 
Mbah Joyo di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. 

Warung Mbah Joyo ini menyempil di antara kerumunan rumah warga 
perkampungan, tak jauh dari kolong jembatan layang Jalan Permata 
Hijau. Separuh dinding terbuat dari seng. Sebuah kalender paguyuban 
Gunung Kidul, Yogyakarta, bertengger di tembok. Di salah satu sudut 
lantai semen, puluhan bungkusan tempe segar berserakan. "Biar 
tempenya enggak kegerahan," kata Tugiyem (52) yang biasa disapa Mbah 
Joyo, sang pemilik warung. 

Saat makan siang, warung ini riuh dipadati karyawan kantor. Sepanjang 
gang menjadi semarak pula oleh deretan mobil parkir. Mbah Joyo 
senantiasa menyebut pelanggannya sebagai orang gedongan. Mulai dari 
karyawan kantor, konglomerat, hingga pensiunan jenderal. "Rumahnya 
saja tingkat tiga," ucap Mbah Joyo yang kerap mengantar sayur lodeh 
pesanan pelanggannya langsung ke rumah di sekitar kawasan itu. 

Masakan Mbah Joyo sederhana saja, di antaranya sayur lodeh lombok 
ijo, empal serundeng, sambal tumpang, juga pepes ikan mas. Menu yang bersahaja 
itu kian sedap oleh sikapnya yang hangat. Dia selalu 
mengajak ngobrol siapa pun dengan kebawelannya yang tulus. 
"Cerewetnya (Mbah Joyo) mirip mbah-mbah di kampungku. Sering kangen 
kalau lama enggak ke sini," ujar Santa, karyawan sebuah percetakan 
ternama. 

Kerinduan itu pula yang dicari Petrus Kawit, pelanggan Mbah Joyo 
sejak 1980. "Saya selalu datang ke sini untuk mengobati rasa kangen 
suasana desa saya di Solo yang guyub," ujarnya. 

Siang itu Mbah Joyo membagi-bagi gratis pisang kepok rebus yang baru 
dipanen dari kebunnya. Seorang pelanggan berseloroh, "Ini dessert (makanan 
penutup), ya, Mbah?" Si Mbah pun menjawab tangkas, "Nggih, Mas, dessert!" 

Semua pelanggan sama 

Selain kehangatan sikap penjual yang tidak dibuat-buat, orisinalitas 
makanan (tradisional) boleh jadi memang hanya bisa ditemui di pinggir 
jalan. Paling tidak, itu diyakini Syafrudin (40), pelanggan sate Haji 
Tarni di Jalan Pesanggrahan, Jakarta Barat. Suatu siang setelah 
memarkir mobil Jaguarnya di tepi jalan, Syafrudin menghampiri warung 
sate kambing bersahaja itu. Sang penjual tampak telah akrab 
dengannya. 

"Restoran di hotel-hotel berbintang juga banyak yang menyediakan 
sate. Tapi yang namanya makanan tradisional yang enak sebenarnya, ya, 
di pinggir jalan. Entah kenapa lebih enak rasanya. Makan di restoran 
itu cuma untuk pantas-pantasan menjamu orang," ujar Syafrudin, 
pengusaha asal Surabaya, Jawa Timur, yang baru beberapa tahun tinggal 
di Jakarta. 

Di warung-warung semacam ini, penjual pun tak membeda-bedakan 
pelanggannya. Entah itu pelanggan bersepeda motor ataukah bermobil 
Jaguar. Mereka menjual makanannya tanpa segregasi target pasar; 
kelas A, B, atau rakyat jelata. Siapa pun yang singgah, disikapi 
sama. Seperti Bang Subur, penjual lontong sayur ceker yang tersohor 
di Jalan Nusantara Raya, Depok, Jawa Barat. Pelanggannya mulai dari 
kalangan selebritas hingga penjual sayur. 

"Semua sama saja. Mau artis yang makan atau tukang sayur yang makan, 
kami harus ladenin semua sama baiknya," ujar Bang Subur yang 
berjualan dengan gerobak setiap pukul 23.00. 

Dari pinggir jalan, mereka dengan bijak berdemokrasi lewat lezatnya 
santapan. (SF/BSW/ROW) 

http://cetak.kompas.com/read/2012/06/24/05315888/sepiring.demokrasi.dari.tepi.jalan



--- In [email protected], "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> 
wrote:
>
> Kalau kim hook ... cukup ke soto di samping gasibu ajah, ada "sogo" 
> alias soto goceng ! Lumayan bersih dan pas buat saku kim hook :-)
> 
> Kalau pas mampir ke serang, Sop bebek sama goreng bebek sambel ijo 
> lengkap dengan sate bebek sayah rekomen yang di deket rumah 
> pribadinya bu atut. tempatnya luas, masakan bebek nya manteff ! 
> Tapi, kalau butuh privacy dan butuh suasana beda, masih di jalan 
> bhayangkara, belok kiri dikit, namanya "kebon kubil kubil" itu 
> tempatnya mantep banget. Kebon, ada kolam pancingnya, dan kalau 
> kemaleman, ada 2 buah pondok bambu ber-AC yang disewakan. ( 2 
> tempat ini nddak cocok buat kantong kim hook dan jangan arep bis 
> tanpa ac bisa masuk ke kebon kubil. Nanti lucu kelihatannya. Aneh 
> gitu ...
> 
> Kalau di bandung, johny mungkin akan seneng ke "The View". Di 
> daerah dago. itu tempat mantep buat makan malam sambil memandang 
> kota bandung ... :-)
> 
> Indonesia itu surga kuliner ...
> Nddak kaya singapore.
> 
> Heu heu ... sayah nyari sambel lalap dan pete bakar keliling-
> keliling di singapore nddak pernah dapet ! Jadinya mosti hanting ke 
> pasar, beli sendiri dan masak sendiri deh ... :-)
> 
> Buat kim Hook kalau kebeneran mampir ke singapore, itu ada tempat 
> makan padang di jalan besar sebelum back packer hostels.
> 
> Gile... sekali makan cuman 4 sing dollar  ajah ! Itu sudah sama 
> ayam, minum dan khas teri kacang serta kuah padang.
> 
> Heu heu :-0
> 
> --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> 
> > Sip. Kayaknya perlu buru-buru ke sana. 
> > Kalo di Setiabudi rame, bolehlah tancep ke Nangor 
> > pas tikungan sebelun Unpad. Gak seenak Imut memang, 
> > tapi cukup variatif rasa sambil bisa sekalian 
> > nengok bocah yang konon mau pindah indehoy.. eh, 
> > indekos hehe.. 
> > 
> > Trims! 
> > 
> > --- "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> wrote:
> > 
> > > Es kriem lembang ! Itu deketan sama Tahu Tauhid. Di deket pasar 
> > > lembang. Itu es krim berbagai rasa dan uniknya, cuman dibungkus 
> > > biasa doang tetep bisa tahan dan tetep utuh sampai di Jakarta.
> > > 
> > > Susuri perjalanan pulang dari lembang lewat cihideung. 
> > > Strawberry petik sendiri, minum bandrek di taman bunga sambil 
> > > ngerasain dinginnya  udara bandung utara - cihideung yang juga 
> > > masih segerr 
> > > ...
> > > 
> > > Nongol di setiabudi, depan enhaii ada Surabi Imut. Itu tukang 
> > > surabi biasanya penuh sampai meluber ke jalan raya dari mulai 
> > > sore sampai malam...
> > > 
> > > 
> > > 
> > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> > > 
> > > > Hahaha, kecele bule gua! 
> > > > 
> > > > Paham dah sekarang. Jetlag belum ilang trus 
> > > > dapet "tugas baru" tuh itu.. 
> > > > 
> > > > Laen kali kalo ke Cianjur lagi cobain telur gurame. 
> > > > Makannya jangan diciduk tapi petikin sebutir sebutir. 
> > > > Dijamin butuh waktu belanja lebih dari seminggu. 
> > > > 
> > > > Jadi pengen belanja es krim... gerah bener soalnya 
> > > > ni sore, haha.. 
> > > > 
> > > > Homo bleki mah nggak pernah belanja, wong dia jualan.. 
> > > > 
> > > > --- safin _blanc <pandan.wangi558@...> wrote:
> > > > 
> > > > > ..
> > > > > .. kgak usah heran, beli beras itu kan cuman alasan ..
> > > > > .. klo pisah sebulan lebih, kita mau ngapain dong klo 
> > > > > ketemuan ..
> > > > > .. nah, supaya bebas honeymoonnya, ya atur strategi ..
> > > > > ..
> > > > > .. lain kali mau beli dot ke peking, katanya ... hahaha ..
> > > > > ..
> > > > > .. guyon ginian apa juga ada di kaum homo? ..
> > > > > ..
> > > > > ..
> > > > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke