The View itu adanya di dago pakar. Dari dago terus ke atas ke arah hutan raya, terus lewatin jalan hutan raya (jangan belok) sampai ketemu perumahan "Dago Pakar", Masuk deh ke perumahan itu ...
Itu resto ada di ujung Dago Pakar Estate, tepat setelah Lapang GOLF Dago Pakar. Dengan View kota bandung. ( Kim Hook nddak bakal bisa masuk ke the View karena : 1. Mobil Non AC kagak bakal diijinin masuk sama satpam. 2. Nddak mungkin jalan kaki ke bukit 3. Nddak ada taxi NON AC di Bandung 4. Nddak ada angkot yang lewat The View 5. Profile pengunjung : Cakep/Cantik, Cerdas, Mapan.(dan kim hook jelas bukan profile market The View ) 6. Nddak ada menu yang cuman nasi putih dan daun doang 7. Suka ada razia gigi tongos ... :-0 ) --- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Soal makanan tradisional, Indonesia adalah sorganya lidah > Indonesia. Bukan cuma soal rasa, tapi juga suasana dan > terutama manusianya. Hari ini kebetulan Kompas nurunin laporan > utama soal guyubnya masyarakat Indonesia lewat makanan. > > Ps. > "The View" itu maksudnya The Stone apa The Valley, atau > bukan dua-duanya? > > > -- > > > Sepiring Demokrasi dari Tepi Jalan > > Restoran kenes bertumbuhan di perkotaan. Namun, banyak kaum urban > tetap memburu tempat makan bersahaja, kadang juga berkesan kumuh. > Apa yang mereka cari? Semata cita rasa, romantisme, atau kerinduan > akan masa lalu di kampung? > > Sebuah mobil Jaguar X-Type berhenti di sebuah warung sate sederhana > di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Barat, pekan lalu. Penunggangnya > memesan sate, duduk di bangku kayu agak kusam, lalu melahap sate di > warung milik Haji Tarni yang seporsinya berharga Rp 25.000 isi sepuluh tusuk. > Mantabs. > > Ah, urusan lidah memang tiada berkait dengan soal tunggangan orang. > Kita lihat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Jelang tengah malam, > mulut gang buntu di pertemuan Jalan Garuda Ujung dan Jalan Kemayoran > Gempol riuh disesaki pengunjung. Di bawah temaram cahaya lampu > jalan, warung bersahaja itu seperti bohlam dikerumuni laron. Mereka > memburu ketan berlumur susu kental manis dan tempe goreng. Nyam.... > > Di tempat semacam ini, pengunjung kelas elite pun tahu menyesuaikan > diri. Tak perlu rewel atas ketidaknyamanan atau kealpaan pelayan, seperti > jika mereka bersantap di restoran mentereng. Pelanggan hanya > melempar senyum pengertian saat pelayan warung yang super sibuk keliru > memahami detail pesanan ketan "ajaib" yang kondang itu. > > Malam itu, Ridwan (19) menyantap ketan bersama sopirnya, Muroli (46), > di dalam mobil. Ridwan mengaku selalu kangen ketan susu itu sejak > mengenalnya enam tahun lalu. Suasana bersantap seadanya itu dinikmati > keduanya, akrab tanpa kerikuhan. "Saya, sih, sudah jadi pelanggan di sini > sejak tahun 1992," celoteh Muroli sembari menyikat ketannya di > belakang kemudi. > > Bersantap di mobil seperti Ridwan dan Muroli adalah salah satu solusi > keterbatasan ruang. Warung ketan susu yang dirintis Haji Sukrad sejak 1958 > itu hanya menyediakan sebuah meja saji dan bangku panjang > tambahan berjajar di tepian gang. Luapan pengunjung membuat lokasi sekitar > turut terokupasi. Pengunjung sudi duduk di mana saja. Di gardu listrik, > emperan toko, kelontong, atau nekat duduk di separator > jalan raya selebar 40 sentimeter di Jalan Kemayoran Gempol. "Iya, ini > memang tempat makan berbahaya sih, he-he-he," ujar Benny Rahman (24), > seorang pelanggan. > > Fenomena budaya > > Apa boleh buat, makanan memang bisa melampaui persoalan cita rasa. > Lono Simatupang, antropolog dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, > menengarai makanan sebagai fenomena budaya. Makanan senatiasa sarat > oleh kelindan nilai-nilai; mulai dari sistem produksi, penyajian, > tempat, hingga pengonsumsiannya. Entah itu nilai-nilai terkait > estetika, rasa enak tak enak, sehat tak sehat, religi, nilai sosial > mentereng atau kampung, bahkan aspek politis. > > "Sebagian kaum urban menengah-atas di Indonesia tidak terlahir dan dibesarkan > dalam sistem nilai kelas menengah-atas. Dalam diri mereka > tetap bercokol referensi nilai-nilai kelas menengah-bawah, bahkan non-urban. > Itu menumbuhkan hasrat dan kerinduan untuk sekali-sekali > 'bernostalgia' (dengan makanan di tempat bersahaja)," kata Lono > mencermati kegandrungan kaum urban akan suatu makanan. > > Kerinduan akan entitas non-urban itu boleh dianggap sebagai kerinduan > akan hal-hal yang terlepas dari pengemasan serba dibuat-buat. Kota seperti > Jakarta tentu tahu betul bagaimana mengemas segala sesuatu > untuk dicitrakan, dikonsumsi. Meski begitu, di bawah langit Jakarta masih > tersisip sudut-sudut bersahaja tanpa pretensi. Seperti warung > Mbah Joyo di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. > > Warung Mbah Joyo ini menyempil di antara kerumunan rumah warga > perkampungan, tak jauh dari kolong jembatan layang Jalan Permata > Hijau. Separuh dinding terbuat dari seng. Sebuah kalender paguyuban > Gunung Kidul, Yogyakarta, bertengger di tembok. Di salah satu sudut > lantai semen, puluhan bungkusan tempe segar berserakan. "Biar > tempenya enggak kegerahan," kata Tugiyem (52) yang biasa disapa Mbah > Joyo, sang pemilik warung. > > Saat makan siang, warung ini riuh dipadati karyawan kantor. Sepanjang > gang menjadi semarak pula oleh deretan mobil parkir. Mbah Joyo > senantiasa menyebut pelanggannya sebagai orang gedongan. Mulai dari > karyawan kantor, konglomerat, hingga pensiunan jenderal. "Rumahnya > saja tingkat tiga," ucap Mbah Joyo yang kerap mengantar sayur lodeh > pesanan pelanggannya langsung ke rumah di sekitar kawasan itu. > > Masakan Mbah Joyo sederhana saja, di antaranya sayur lodeh lombok > ijo, empal serundeng, sambal tumpang, juga pepes ikan mas. Menu yang > bersahaja itu kian sedap oleh sikapnya yang hangat. Dia selalu > mengajak ngobrol siapa pun dengan kebawelannya yang tulus. > "Cerewetnya (Mbah Joyo) mirip mbah-mbah di kampungku. Sering kangen > kalau lama enggak ke sini," ujar Santa, karyawan sebuah percetakan > ternama. > > Kerinduan itu pula yang dicari Petrus Kawit, pelanggan Mbah Joyo > sejak 1980. "Saya selalu datang ke sini untuk mengobati rasa kangen > suasana desa saya di Solo yang guyub," ujarnya. > > Siang itu Mbah Joyo membagi-bagi gratis pisang kepok rebus yang baru > dipanen dari kebunnya. Seorang pelanggan berseloroh, "Ini dessert (makanan > penutup), ya, Mbah?" Si Mbah pun menjawab tangkas, "Nggih, Mas, dessert!" > > Semua pelanggan sama > > Selain kehangatan sikap penjual yang tidak dibuat-buat, orisinalitas > makanan (tradisional) boleh jadi memang hanya bisa ditemui di pinggir > jalan. Paling tidak, itu diyakini Syafrudin (40), pelanggan sate Haji > Tarni di Jalan Pesanggrahan, Jakarta Barat. Suatu siang setelah > memarkir mobil Jaguarnya di tepi jalan, Syafrudin menghampiri warung > sate kambing bersahaja itu. Sang penjual tampak telah akrab > dengannya. > > "Restoran di hotel-hotel berbintang juga banyak yang menyediakan > sate. Tapi yang namanya makanan tradisional yang enak sebenarnya, ya, > di pinggir jalan. Entah kenapa lebih enak rasanya. Makan di restoran > itu cuma untuk pantas-pantasan menjamu orang," ujar Syafrudin, > pengusaha asal Surabaya, Jawa Timur, yang baru beberapa tahun tinggal > di Jakarta. > > Di warung-warung semacam ini, penjual pun tak membeda-bedakan > pelanggannya. Entah itu pelanggan bersepeda motor ataukah bermobil > Jaguar. Mereka menjual makanannya tanpa segregasi target pasar; > kelas A, B, atau rakyat jelata. Siapa pun yang singgah, disikapi > sama. Seperti Bang Subur, penjual lontong sayur ceker yang tersohor > di Jalan Nusantara Raya, Depok, Jawa Barat. Pelanggannya mulai dari > kalangan selebritas hingga penjual sayur. > > "Semua sama saja. Mau artis yang makan atau tukang sayur yang makan, > kami harus ladenin semua sama baiknya," ujar Bang Subur yang > berjualan dengan gerobak setiap pukul 23.00. > > Dari pinggir jalan, mereka dengan bijak berdemokrasi lewat lezatnya > santapan. (SF/BSW/ROW) > > http://cetak.kompas.com/read/2012/06/24/05315888/sepiring.demokrasi.dari.tepi.jalan > > > > --- In [email protected], "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@> wrote: > > > > Kalau kim hook ... cukup ke soto di samping gasibu ajah, ada "sogo" > > alias soto goceng ! Lumayan bersih dan pas buat saku kim hook :-) > > > > Kalau pas mampir ke serang, Sop bebek sama goreng bebek sambel ijo > > lengkap dengan sate bebek sayah rekomen yang di deket rumah > > pribadinya bu atut. tempatnya luas, masakan bebek nya manteff ! > > Tapi, kalau butuh privacy dan butuh suasana beda, masih di jalan > > bhayangkara, belok kiri dikit, namanya "kebon kubil kubil" itu > > tempatnya mantep banget. Kebon, ada kolam pancingnya, dan kalau > > kemaleman, ada 2 buah pondok bambu ber-AC yang disewakan. ( 2 > > tempat ini nddak cocok buat kantong kim hook dan jangan arep bis > > tanpa ac bisa masuk ke kebon kubil. Nanti lucu kelihatannya. Aneh > > gitu ... > > > > Kalau di bandung, johny mungkin akan seneng ke "The View". Di > > daerah dago. itu tempat mantep buat makan malam sambil memandang > > kota bandung ... :-) > > > > Indonesia itu surga kuliner ... > > Nddak kaya singapore. > > > > Heu heu ... sayah nyari sambel lalap dan pete bakar keliling- > > keliling di singapore nddak pernah dapet ! Jadinya mosti hanting ke > > pasar, beli sendiri dan masak sendiri deh ... :-) > > > > Buat kim Hook kalau kebeneran mampir ke singapore, itu ada tempat > > makan padang di jalan besar sebelum back packer hostels. > > > > Gile... sekali makan cuman 4 sing dollar ajah ! Itu sudah sama > > ayam, minum dan khas teri kacang serta kuah padang. > > > > Heu heu :-0 > > > > --- "ajeg" <ajegilelu@> wrote: > > > > > Sip. Kayaknya perlu buru-buru ke sana. > > > Kalo di Setiabudi rame, bolehlah tancep ke Nangor > > > pas tikungan sebelun Unpad. Gak seenak Imut memang, > > > tapi cukup variatif rasa sambil bisa sekalian > > > nengok bocah yang konon mau pindah indehoy.. eh, > > > indekos hehe.. > > > > > > Trims! > > > > > > --- "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@> wrote: > > > > > > > Es kriem lembang ! Itu deketan sama Tahu Tauhid. Di deket pasar > > > > lembang. Itu es krim berbagai rasa dan uniknya, cuman dibungkus > > > > biasa doang tetep bisa tahan dan tetep utuh sampai di Jakarta. > > > > > > > > Susuri perjalanan pulang dari lembang lewat cihideung. > > > > Strawberry petik sendiri, minum bandrek di taman bunga sambil > > > > ngerasain dinginnya udara bandung utara - cihideung yang juga > > > > masih segerr > > > > ... > > > > > > > > Nongol di setiabudi, depan enhaii ada Surabi Imut. Itu tukang > > > > surabi biasanya penuh sampai meluber ke jalan raya dari mulai > > > > sore sampai malam... > > > > > > > > > > > > > > > > --- "ajeg" <ajegilelu@> wrote: > > > > > > > > > Hahaha, kecele bule gua! > > > > > > > > > > Paham dah sekarang. Jetlag belum ilang trus > > > > > dapet "tugas baru" tuh itu.. > > > > > > > > > > Laen kali kalo ke Cianjur lagi cobain telur gurame. > > > > > Makannya jangan diciduk tapi petikin sebutir sebutir. > > > > > Dijamin butuh waktu belanja lebih dari seminggu. > > > > > > > > > > Jadi pengen belanja es krim... gerah bener soalnya > > > > > ni sore, haha.. > > > > > > > > > > Homo bleki mah nggak pernah belanja, wong dia jualan.. > > > > > > > > > > --- safin _blanc <pandan.wangi558@> wrote: > > > > > > > > > > > .. > > > > > > .. kgak usah heran, beli beras itu kan cuman alasan .. > > > > > > .. klo pisah sebulan lebih, kita mau ngapain dong klo > > > > > > ketemuan .. > > > > > > .. nah, supaya bebas honeymoonnya, ya atur strategi .. > > > > > > .. > > > > > > .. lain kali mau beli dot ke peking, katanya ... hahaha .. > > > > > > .. > > > > > > .. guyon ginian apa juga ada di kaum homo? .. > > > > > > .. > > > > > > .. > > > > > > > > > > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
