http://www.shnews.co/kolom/matahati/detile-27-negara-makan-negara.html


"Negara Makan Negara"
KRISTANTO HARTADI| Rabu, 20 Juni 2012 - 11:44:12 WIB 
  a.. 
Saya selalu terngiang ucapan getir Leo Batubara, semasa dia masih anggota Dewan 
Pers, “bangsa Indonesia masih perlu korupsi”.
Pada Sabtu akhir pekan lalu, sambil menunggu giliran di dokter gigi, saya 
membaca sebuah artikel di New York Times (17/6), mengenai upaya pemerintah di 
China mengatasi problem korupsi yang juga melanda raksasa ekonomi tersebut. 
Judul artikel itu adalah " Accused Chinese Party Members Face Harsh Discipline 
". Artikel itu berkisah mengenai cara Partai Komunis China menghukum para 
pejabatnya yang diketahui sudah korupsi luar biasa, dengan mengirimkan mereka 
ke sebuah tempat penahanan khusus bernama Shuanggui (baca: shwang-gwei), yang 
mirip-mirip kamp konsentrasi.

Dituliskan, para tokoh partai atau BUMN yang terindikasi korupsi akan 
dijebloskan ke Shuanggui untuk diinterogasi dengan cara-cara yang sangat 
menyiksa baik fisik maupun mental sampai mengakui dosanya. Sejumlah pengacara 
China disebutkan mengakui siapa pun akan bergidik bila mendengar kata 
"di-Shuanggui-kan". Dalam catatan media resmi hanya segelintir orang saja yang 
bisa keluar dari tempat itu dalam keadaan utuh tubuh dan jiwanya, karena sudah 
ratusan pimpinan partai sekeluarnya dari Shuanggui memilih bunuh diri karena 
malu dan tertekan, atau meninggal secara misterius ketika ditahan.

Biasanya, bila interrogator sudah mendapatkan jawaban yang dimaui, para tahanan 
langsung dicopot dari jabatan di partai, dan hanya beberapa kasus saja yang 
berlanjut ke tahap penuntutan lalu ke meja hijau. Tujuan tindakan ini adalah 
selain untuk melokalisir kasus korupsi agar tidak meluas dan menghancurkan 
partai, sekaligus menghukum mereka yang memang koruptor.

Lalu, sebagai bagian dari artikel itu ada sebuah kutipan menarik dari Chu 
Zhaoxian, seorang blogger China yang pernah diizinkan mengunjungi fasilitas itu 
: "Do not be invited here. If you come here, your days will seem like years." 
Yang artinya kira-kira jangan sampai deh masuk ke situ, karena kalau itu 
kejadiannya sehari bisa terasa bertahun-tahun.

Koruptor yang Berjasa 

Semasa menjadi pemimpin redaksi Sinar Harapan, saya pernah diajak mengikuti 
kunjungan kenegaraan (visit state) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke 
Australia. Dalam perjalan pulang di pesawat, salah seorang pembantu presiden 
melontarkan gagasan mengenai penjara khusus para koruptor, untuk memisahkan 
para terpidana korupsi dari para narapidana kasus-kasus kejahatan umum seperti 
pembunuhan, perampokan dll. Alasannya: kan banyak dari para koruptor itu 
teman-teman kita yang pernah berjasa bagi negara. Namun untunglah gagasan itu 
tidak pernah terwujud dan semoga tidak pernah terwujud.

Jelaslah pandangan dan pendekatan para pemimpin di Indonesia tentang korupsi 
memang berbeda dengan China. Meski meng-shuanggui-kan seorang terduga kasus 
korupsi jelas pelanggaran HAM karena fasilitas itu bukan lembaga penyidik yang 
resmi. Kalau menonton acara Indonesia Lawyer Club di TV-One, saya merasa miris 
melihat bagaimana para lawyer yang necis itu dengan garang membela para 
terdakwa korupsi, lalu dengan gagah berani mempersalahkan KPK, misalnya. 

Atau ketua dewan pembina partai yang kini berkuasa, alih-alih merasa malu atau 
minta maaf karena gagal membina kader, eh malah tidak terima partainya selalu 
disebut “juara korupsi” karena dia mencatat dalam ranking ada partai-partai 
lain yang kadernya lebih banyak terkena kasus korupsi. Itu sama saja dia 
membenarkan dan mengizinkan korupsi. 

Maka tak heran banyak terpidana korupsi di negara kita bisa tetap berjalan 
dengan kepala tegak dan dada tengadah, bukannya malu lalu bunuh diri. Jadi, 
saya selalu terngiang ucapan getir Leo Batubara, semasa dia masih anggota Dewan 
Pers, “bangsa Indonesia masih perlu korupsi”.

Negara Tipu Negara

Saya tidak ingin pesimistis melihat perjalanan bangsa Indonesia, tapi cukup 
ketar-ketir melihat perkembangan kasus-kasus korupsi, atau pun kekerasan demi 
kekerasan yang hampir tiada hentinya. Itu semua indikasi pengelolaan negara 
yang sudah makin awut-awutan. Misalnya, seorang teman yang bekerja di kantor 
dinas di sebuah kabupaten menulis dalam group BB kami, bahwa sebagian mobil 
dinas pemda yang semula berplat nomor merah, sekarang sudah pakai plat hitam, 
demi menghindari keharusan membeli pertamax. Itu contoh kecil saja bagaimana 
(aparat) negara menipu negara. Dan hampir setiap hari ada pejabat negara di 
daerah maupun pusat ditangkap karena korupsi.

Pekan lalu, di Kuala Lumpur, saya ngobrol dengan kerabat yang sudah beberapa 
tahun tinggal di kota itu. Dia bertutur pernah mengalami untuk urusan denda 
pelanggaran lalulintas sebesar RM 50 (atau Rp 150.000) dia dilarang meninggkan 
Malaysia, sebelum denda itu dibayar di sebuah loket denda di airport. Di negeri 
kita, koruptor bisa melenggang pergi, sehari sebelum perintah cekal keluar. 
Jadi, dengan Malaysia pun kita tertinggal jauuuuuhh banget!

Menurut Noam Chomsky tiga ciri pokok negara gagal adalah: tak mampu melindungi 
warga negara dari kekerasan, penyerangan dan perusakan; cenderung mengabaikan 
hukum; dan menderita defisit demokrasi. Dan negara itu pasti juga mengalami 
sindrom korupsi yang akut, terutama di kalangan para elit politik dan 
birokrasi. Apakah kita sudah ada di tahap itu? Saya kuatir kita menuju ke 
destini itu, selama tidak ada kesungguhan menjadikan korupsi kejahatan yang 
luar biasa dan dihukum dengan luar biasa pula.


(MATAHATI/SHNEWS.CO/MH.008) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke