Ref: Angka kelaihran tinngi dan distribusi pendapatan tidak seimbang untuk 
merata serta lapangan kerja sangat terbatas, maka tentu saja bukan kecil 
problematiknya.

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/27/59245/problematika_pengangguran_usia_muda/#.T-vzHfXDMeU


Problematika Pengangguran Usia Muda
Oleh : Desmon Silitonga. 
Wakil Presiden Boediono dalam sarasehan nasional mengenai tenaga kerja muda 
yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu menyatakan bahwa jumlah 
penganguran usia muda (youth unemployment) di Indonesia masih terbilang cukup 
tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi syarat mutlak yang harus 
dimiliki untuk menurunkan tingkat pengangguran tersebut. Pertumbuhan yang 
tinggi hanya dapat dicapai dengan pertumbuhan investasi yang tinggi.
Saat ini, walaupun pertumbuhan Indonesia rata-rata berada di Kisaran 5 persen-6 
persen, tetapi kondisi tersebut tidak akan maksimal untuk menurunkan tingkat 
pengangguran, khususnya pengangguran usia muda. Menurut Boediono setidaknya 
dibutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 7 persen-8 persen. Pertumbuhan sebesar 
itu pernah dicapai Indonesia sebelum krisis moneter pecah tahun 1997. Tetapi, 
setelah itu dan hingga saat ini, pertumbuhan sebesar itu tidak dapat sentuh 
lagi. Selain itu, investasi pemerintah khususnya untuk infrastruktur juga 
cenderung rendah dan stagnan. Praktis pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini 
diletakkan pada komsumsi dan investasi sektor swasta. Pertumbuhan belanja 
(investasi) pemerintah relatif stagnan. 

Menurut data BPS, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sampai Februari 
2012 mencapai 6,32 persen (7,2 juta orang), turun dibandingkan Februari 2011 
sebesar 6,8 persen. Sekitar 50 persen lebih (4,2 juta orang) dari total 
pengangguran terbuka tersebut diisi oleh usia muda. Persentase pengangguran 
usia muda Indonesia sangat tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata persentase 
pengangguran muda di Asia Tenggara dan dunia. Tahun 2009 saja, persentase 
pengangguran muda di Indonesia mencapai 22,2 persen, sementara rata-rata 
pengangguran usia muda di Asia Pasifik hanya 13,9 persen dan dunia 12,8 persen. 

Kondisi pengangguran usia muda di Indonesia kian memprihatinkan karena sudah 
mengenai lulusan pendidikan tinggi, dimana tren juga cenderung menunjukkan 
peningkatan. Data BPS menunjukkan pengangguran lulusan pendidikan tinggi 
berkontribusi sebesar 20 persen terhadap total pengangguran terbuka. Fakta 
tersebut sekaligus menunjukkan bahwa masih besar mismatch antara supply lulusan 
pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Kondisi tentu perlu 
mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) yang 
ada. 

Fenomena Global

Permasalahan pengangguran usia muda bukan hanya menjadi masalah Indonesia, 
tetapi memang sudah jadi fenomena global, khususnya setelah krisis keuangan 
tahun 2008 yang pecah di AS. Krisis tersebut memberikan efek domino bagi 
ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi global turun cukup dalam dan mendorong 
pemutusan hubungan kerja (PHK) khususnya di AS dan kawasan Uni Eropa. 

Krisis keuangan global tersebut bahkan masih membuat ekonomi AS belum pulih 
secara total. Ekonomi masih melambat dan tingkat pengangguran masih tinggi di 
level 8 persen, dimana penganggur usia muda yang biasa dijuluki booemerang 
mencapai 18 persen-22 persen. Kondisi yang sama juga terjadi di Uni Eropa 
dengan tingkat pengangguran mencapai 9 persen-10 persen, dimana pengangguran 
usia muda mencapai 21 persen-22 persen. Bahkan, beberapa di zona euro, seperti 
Yunani dan Spanyol tingkat penganggurannya mencapai di atas 20 persen. Kondisi 
ini tentu akan sangat membahayakan stabilitas ekonomi dan politik jika tidak 
ada solusi. Inggris yang dikenal dengan kekuatan ekonominya juga mengalami tren 
pengangguran usia muda yang tinggi.

Namun, fenomena pengangguran usia muda yang paling tinggi justru terjadi di 
Timur Tengah (middle east) dan Afrika Utara, dimana menurut data International 
Labour Organization (ILO) tahun 2010, tingkat pengangguran usia muda di Timur 
Tengah dan Afrika Utara hampir mencapai 24 persen. Turunnya sejumlah pemimpin 
diktator di kedua kawasan ini tahun lalu yang dimulai dari revolusi Jasmin di 
Tunisia dan jadi efek domino ke kawasan lainnya, merupakan dampak langsung dari 
tingginya tingkat pengangguran usia muda. Para penganggur usia muda ini sangat 
frustasi dan akhirnya melakukan demonstrasi menuntut pemerintah turun.

Solusi Harus Dicari

Pemerintah harus sekuat tenaga mendorong penurunan pengangguran usia muda, 
ditengah keterbatasan kapasitas ekonomi. Pemerintah harus menempatkan generasi 
muda sebagai aset yang berharga bagi modal pembangunan ekonomi. Masih munculnya 
penyakit sosial yang muncul dari generasi muda, bukan tidak mungkin terjadi 
karena pemerintah gagal memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka.

Fungsi APBN sebagai stimulus bagi pertumbuhan ekonomi juga tidak berfungsi 
secara maksimal, karena terbelenggu oleh tingginya subsidi, belanja rutin 
pemerintah, dan pembayaran utang. Sementara, untuk belanja yang lebih produktif 
dan memberi efek berganda, seperti infrastruktur tidak terakselerasi dengan 
sempurna. Kualitas infrastruktur yang buruk sekaligus jadi penghambat daya 
saing ekonomi Indonesia.

Walaupun, anggaran pemerintah terbatas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang 
tinggi, tetapi hal itu tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk tidak 
berusaha menurunkan pengangguran usia muda. Setidaknya ada beberapa hal yang 
bisa/sudah dilakukan pemerintah bersama dengan seluruh stakeholder yang ada;

Pertama mendorong program Corporate Sosial Responsibility (CSR) BUMN bagi 
program kewirausahaan (enterprenuership) yang ditujukan bagi kaum muda, 
khususnya di daerah-daerah yang aksesnya terbatas. Memberikan pemberdayaan bagi 
kaum muda, sehingga dapat merangsang kreatifitas untuk menciptakan sesuatu yang 
memberi nilai tambah. 

Kedua meningkatkan investasi pemerintah untuk peningkatan kualitas dan 
kuantitas balai-balai latihan kerja (BLK) dan pusat-pusat training (training 
centre). Hal tersebut sangat efektif jadi wadah bagi penganggur usia muda untuk 
meningkatkan dan memperdalam keahlian (skill) yang lebih spesifik, sehingga 
diharapkan memberikan nilai tambah ketika masuk ke pasar tenaga kerja.

Ketiga meningkatkan komunikasi dan kerjasama antara dunia pendidikan dengan 
pasar tenaga kerja. Pendidikan tinggi harus memiliki kemandirian untuk dapat 
membuat kurikulum yang berbasis sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, 
sehingga mismatch antara dunia pendidikan tinggi dan pasar tenaga kerja dapat 
terus diminimalisir. Kurikulum kewirausahaan yang saat ini berkembang di 
beberapa pendidikan tinggi merupakan hal positif yang terus ditingkatkan. 
Diharapkan kurikulum kewirausahaan bisa memberikan wawasan bagi lulusan 
pendidikan tinggi melihat pasar kerja dari sisi yang lain. 

Keempat pemerintah dapat mendorong sektor swasta (private) dan BUMN untuk 
membuka akses bagi program magang dan training untuk lulusan pendidikan tinggi, 
sehingga ada kesinambungan antara teori dan praktik, Jerman dan Austria cukup 
berhasil menekan tingkat pengangguran usia muda ketika krisis keuangan global 
terjadi dengan program-program magang dan training.*** 

Penulis adalah Analis PT. Millenium Danatama Indonesia Asset Management 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke