Dogmatism dan Marxism-Leninism
(Panduan methodologi cara berpikir Ws untuk generasi mendatang dalam menghadapi
tantangan zaman)
{^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^}
Ws A> Pembuka:
Setelah era kemerdekaan, atau 17 Agustus 1945, Pancasila telah ditetapkan
sebagai Grondslag Philosophy. Pancasila disusun dan ditawarkan di sidang PPKI
yang merupakan kelanjutan dari BPUPKI bentukan Jepang. Pancasila yang sekarang,
tak lain merupakan hasil kompromistis dari Pancasila yang ditawarkan oleh Ir.
Soekarno dan Moh Yamin 1 june 1945. Kompromistis ini berasal dari pihak kaum
nasionalis dan Agama Islam yang menawarkan Piagam Jakarta.
Di era ini (1945), kaum Komunis Indonesia tidak banyak terlibat karena selain
mereka dalam tahanan, mereka jadi buronan Belanda setelah gagal memerdekakan
Indonesia di tahun 1926. Artinya kaum Komunis tidak banyak terlibat dalam
pembuatan grondslag philosophy Indonesia saat ini. (meski ada sedikit
perwakilan di BPUPKI)
Pancasila dan UUD 1945, disusun oleh bangsa Indonesia yang rata-rata justru
didikan atau bersekolah dengan sistem Belanda yang tanpa grondslag philosophy
dogmatis/doktrinal. (Belanda di abad 20 sudah melewati fase Aufklarung atau era
Age of Enlightenment di Eropa). Hampir semua founding fathers Indonesia
menjalani pendidikannya dari belanda.
Ada anekdot lucu oleh kaum Marxis modern thd dogmatism Russia yang di buat oleh
Joseph Stalin. Komunisme yang dirancang VI Lenin dan Leon Trotsky bersifat
Komunisme yang dialektis dan revisionis tiada henti untuk adjustment zaman atau
malah drive zaman.
Namun sepeninggal VI Lenin dan Leon Trotsky, Joseph Stalin mendesign Marxisme
Leninisme seperti agama, yaitu dikultuskan, doktrinal dan dogmatis dan secara
massive di brainwashedkan ke seluruh rakyat.
Sebenarnya Nikita Khruschev telah mencoba melakukan de-stalinisme, namun gagal.
De-stalinisme baru sukses dilakukan di era Mikail Gorbachev.
Sehingga anekdot Marxis modern thd Marxisme-Leninisme Russia adalah:
VI Lenin dan Joseph Stalin adalah produk pendidikan Tsar Nikolas 2 yang mereka
jatuhkan, lalu mereka mampu membuat sistem baru yang memang memajukan Russia
(data bahwa angka literacy Russia meningkat pesat, dan disertai pesatnya
pengembangan sains, industry dan teknologi Uni Soviet). Namun ironisnya, produk
Komunisme sendiri tidak mampu melakukan pembaharuan/modernisasi pemikiran
Komunisme Russia.
Disini artinya, VI Lenin- Joseph Stalin yang merupakan produk pendidikan di
zaman Tsar, malah mampu menciptakan pemikiran baru/breakthrough peradaban dan
membawa Uni Soviet modern, namun lucu-nya, produk pendidikan di zaman Stalin
malah tidak mampu menciptakan pemikiran/modernisasi/revisionis baru thd
Komunisme sampai tiba di era Mikail Gorbachev.
+++
Tak salah kiranya gambaran diatas ini mirip yang terjadi dengan Indonesia saat
ini, yaitu para Founding fathers merupakan produk pendidikan Belanda, mereka
membawa grondslag philosophy baru bernama Pancasila, namun produk pendidikan
yang mereka ciptakan saat ini tidak mampu membawa pemikiran, visi dan grondslag
philosophy baru lagi, tidak ada pemimpin Indonesia yang bisa menciptakan visi
baru lagi, tidak ada modernisasi/revisionis pemikiran sejak visi Founding
Fathers.
Dua hal yang terjadi di Russia dan Indonesia itu disebut sebagai dogmatism,
atau pemikiran kita terkonstruksi oleh sang pembuat pola pikir. Dogmatism is
the mean, kita tidak mampu menciptakan pemikiran baru, gagasan baru, visi baru,
revisionis atau perbaikan-perbaikan terhadap pemikiran lama dan menciptakan
pemikiran-pemikiran baru
Ws B> Eksoteris vs esoteris
Definition and argument:
Eksoteris adalah makna atau pengertian yang tekstual letterlijk, sedangkan
esoteris adalah makna yang hakekat essensial atau makna secara kontekstual.
Secara essensial, manusia akan lebih mudah memahami segala ajaran dengan cara
tekstual letterlijk. Makna esoteris lebih sulit untuk dimengerti oleh setiap
manusia, karena untuk memahami makna esoteris memerlukan `different view' atau
`think out of the box'.
Setiap ajaran hampir mempunyai dua pemahaman eksoteris dan esoteris. Namun demi
pemudahan pengertian, maka revisi dari penjelasan eksoteris tekstual/letterlijk
akan sangat lebih efisien, daripada melakukan penafsiran ulang/esoteris.
Melakukan revisionis tekstual/letterlijk eksoteris jauh lebih universal dan
obyektif, artinya akan memudahkan pengertian semua orang secara universal dan
obyektif daripada melakukan re-tafsir essensial esoteris.
Secara umum dan naluriah dan obyektif, manusia akan lebih mudah memahami sebuah
makna dari pengertian eksoteris/letterlijk
Ws C> Dogmatism dan Pencerahan
Dogmatism adalah sebuah pola pikir/cara berpikir/mindset yang mengikuti cara
berpikir orang lain atau mengikuti cara berpikir pembuatnya.
Misalkan kaum agama Islam, mereka mengikuti pola pikir/cara berpikir/mindset
nabi-nya
Sedangkan kaum Nasionalis, mereka mengikuti pola pikir/cara berpikir/mindset
founding fathernya.
Ciri-ciri seseorang dogmatis adalah orang-orang yang tidak mampu membuat
sinthesa atau pola pikir baru/visi baru yang raw materialnya/bahan
dasarnya/inspirasinya dari pola pikir lama
Sedangkan ciri-ciri seorang cerah, atau pencerahan, saya definisikan sebagai
kemampuan atau kreativitas atau inovasi untuk selalu membuat
pengertian-pengertian baru, gagasan-gagasan baru, visi-visi baru, atau new
ideas, dan sebaiknya ini dituliskan secara eksoteris/letterlijk agar obyektif
dan universal dan agar lebih mudah dimengerti oleh semua orang.
Tentang dogmatism dan kreativitas pencerahan akan saya contohkan artikel dari
Vladimir Ilyich Lenin dari judul `Dogmatism and freedom of criticism'
VI Lenin menulis,
a. Apa arti (lama) dari pengertian freedom of criticism
b. apa arti dan revisi-revisi (new advocates) baru dari pengertian freedom of
criticism
Pola pikir VI Lenin ini saya sebut sebagai pola pikir dialektis, secara
eksoteris/tekstual/letterlijk, ia menjelaskan pengertian lama, dan me-revisinya
kedalam pengertian baru.
Artinya VI Lenin tidak hanya mengkultus sebuah pengertian lama, VI Lenin tidak
melestarikan dari sebuah pengertian lama, namun ia mampu produce atau membuat
pengertian baru secara eksoteris/letterlijk agar obyektif dan universal
Apabila VI Lenin dogmagtis, maka pola pikir/mindsetnya hanya akan
berkutat/terjebak kedalam arti/pengertian lama, dan tidak akan mampu
membuat/produce arti baru/new ideas .
Saya contohkan lagi antara DOGMATISM dan PENCERAHAN/KREATIVITAS MELAKUKAN
SINTHESIS
a. Dogmatism
Nabi A mengatakan A benar
- Badu mengikuti kata Nabi A, dan selalu berpikir dengan methodologi A.
Ajaran A dia anggap benar secara absolut.
disisi lain ada perspektive atau ajaran/pemikiran B.
disini ketika Badu menganggap satu-satunya kebenaran menurut nabi A adalah A,
maka badu menganggap B salah.
Badu sama sekali tidak mampu melakukan sinthesis pemikiran atau produce
pemikiran-pemikiran baru. Badu totally mengikuti apa kata Nabi A dan di otaknya
terprogram sepenuhnya oleh kata dan ajaran nabi A.
b. Dialektika/pencerahan/sinthesa
Nabi A mengatakan A
Nabi B mengatakan B
Badu mampu mengolah pengertian (meaning) tentang A, dan mampu mengolah
pengertian (meaning) tentang B, dan Badu mampu memproduce (sinthesis)/output
pemikiran baru yaitu C
Pencerahan, adalah dimana anda mampu secara kreatif, inovative, mampu
mengembangkan pemikiran lama (sebagai input), anda proses melalui berbagai
methodologi berpikir, dan sebagai output maka anda akan produce
pemikiran-pemikiran baru/new ideas.
Ws D> Belajar Marxisme-Leninisme dengan pola pikir agama (doktrinal/dogmatis),
atau belajar agama dengan pola pikir marxisme-leninisme (dialektis)
Marxisme-Leninisme mempunyai grondslag philosophy Dialektika Materialisme atau
pola pikir pengembangan/revisionis yang tiada berakhir. Revisionis harus
dilakukan secara Letterlijk/eksoteris agar obyektif dan memudahkan pengertian
bagi setiap orang.
Sedangkan agama, mempunyai 2 methodologi, yaitu eksoteris letterlijk dan
essensial esoteris. Agama berplatform/grondslag philosophy dogmatis/doktrinal.
So, apabila Anda belajar Marxisme-Leninisme dengan pola pikir agama, maka anda
akan secara dogmatis/doktrinal dalam pemahamannya.
sedangkan apabila anda belajar agama dengan pola pikir Marxisme-Leninisme
(dialektika), maka anda akan melakukan sinthesis/produce new ideas thd
pemahaman agama.
Saya contohkan bagaimana perbedaan pandangan/perspektive dalam agama dan
Marxisme-Leninisme:
Didalam kita suci Al-Quran ada kata Jihad. Secara eksoteris/letterlijk Jihad
berarti perang untuk medapatkan surga Allah.
Apabila manusia membaca ini, lalu mengikutinya secara eksoteris/letterlijk,
atau melakukan jihad perang untuk mendapatkan surga Allah apakah ini salah?
tentu tidak, karena memang secara eksoteris/letterlijk kata-kata-nya begitu.
Ini cara pemahaman agama yang dogmatis/doktrinal
Sedangkan di dalam pola pikir Marxisme Leninisme, maka anda harus selalu
dituntut untuk membuat new ideas/sinthesis dan menuliskannya secara
letterlijk/eksoteris agar menjadi objective, universal dan mudah dimengerti
semua orang
untuk itu, apabila kita ber-pola pikir Marxisme-Leninisme, maka saya berani
melakukan produce new ideas terhadap kitab suci agama.
Misalnya thd Eksoteris/tekstual/letterlijk Jihad perang untuk memperoleh jalan
surga kita ganti menjadi jihad untuk memusuhi kebodohan atau jihad untuk ilmu
pengetahuan. Dan ini harus dituliskan secara letterlijk/eksoteris agar semua
orang yang membacanya mudah memahaminya.
Saya contohkan:
a. Jihad adalah perang suci untuk mendapatkan sorga Allah
maka saya revisionis secara tekstual/eksoteris/letterlijk
b. Pengertian (meaning) baru dari Jihad adalah perang melawan kebodohan untuk
peradaban manusia yang lebih baik dan humanis.
Marxisme Leninisme bukanlah suatu ajaran kultuisme, sehingga mengganti
kata-kata tekstual eksoteris/letterlijk demi sebuah kemanusiaan, demi sebuah
peradaban masa depan yang lebih baik, why not tidak dilakukan???
Ws E> Agama dari tinjauan perspektive Dialektika Materialisme History
Agama, sebenarnya apabila dihilangkan unsur mistisisme-nya beserta unsur
supernaturalnya, dan kita melihatnya dari perspektivis sosiologis dan sejarah,
tak lain merupakan suatu pencerahan atau kreativitas, atau new ideas, atau
gagasan-gagasan baru dari nabi-nabi-nya saja.
Kita lihat bahwa Nabi Mohammad mengatakan sebagai Nabi penerus 24 nabi
sebelumnya, dan dia secara kreative inovative membuat ajaran-ajaran baru.
Beberapa ajaran lama masih diadopsi, misal shalat, puasa dan mengitari kakbah,
hal ini sudah ada jauh sebelum Mohammad ada, jadi tradisi shalat, puasa, dan
mengitari kakbah adalah tradisi sebelum Mohammad, dan diadopsi atau
dilanggengkan oleh Mohammad, dan Mohammad juga mengembangkan kreativitasnya dan
memberikan ajaran-ajaran atau pemikiran-pemikiran baru. Disini artinya Mohammad
secara dialektis memang input data pemikirannya dari history/sejarah 24 nabi
sebelumnya, dan secara output dia juga mampu melakukan kreativitas atau
pengembangan ajaran baru yang dinamainya dengan label Islam.
Siddharta, semula beragama Hindhu, namun ia banyak melakukan perenungan dan
akhirnya dia mampu produce atau melakukan gagasan-gagasan baru dan secara
kreatif mampu menciptakan ajaran baru yang dinamai-nya dengan Buddhisme.
Siddharta juga masih mengadopsi ajaran-ajaran lama dari Hindu seperti konsep
reinkarnasi, namun Sidharta Buddha juga mampu secara kreatif membentuk
ajaran-ajaran/pemikiran-pemikiran baru.
Jadi, secara conclusion, nabi-nabi atau pembawa ajaran-ajaran baru itu apabila
dilihat dengan perspektive materialisme history, mereka sebenarnya adalah
revolusioner, atau pencipta ajaran-ajaran baru yang berasal/input dari
ajaran-ajaran lama
Agama samawi secara perspektive history materi urutannya sbb:
???> Mesir> Moses > Jesus > Mohammad > Stop karena secara philosophy
adalah doktrinal/dogmatis
Moses menciptakan ajaran baru yang didevelopment dari Mesir, Jesus menciptakan
ajaran baru yang didevelopment dari Moses, Mohammad menciptakan ajaran baru
yang didevelopment dari kristen orthodox (Jesus)
sedangkan agama asia tengah urutannya sbb:
???> Hindu > Buddha > Stop apabila dimaknai secara doktrinal/dogmatis
Sidharta menciptakan ajaran baru yang didevelopment dari ajaran lama Hindu.
Ws F> Dogmatism, Indonesian People, dan Marxisme-Leninisme
Di facebook saya kemaren, tanggal 27 june 2012, ada seorang perempuan menulis
bahwa Marxisme-Leninisme mengajarkan membolehkan segala cara untuk mencapai
tujuan. Hal ini bertentangan dengan ajaran agama.
Untuk itu akan saya jelaskan:
A. Karl Marx dan VI Lenin memang mengatakan bahwa ketika sudah tidak ada jalan
lain, maka untuk kepentingan revolusi maka kekerasan boleh dilakukan.
B. Hal ini sebenarnya kontekstual.
C. Pada faktanya agama Islam di zaman Mohammad juga sama, melakukan kekerasan
perang jihad.
D. Marxisme Leninisme tidak untuk dikultuskan, namun untuk dikembangkan,
artinya kita tidak wajib mengikuti kata-kata Karl Marx dan VI Lenin, artinya
seorang Marxis Leninis tidak wajib untuk mengikuti kata-kata Karl Marx dan VI
Lenin bahwasanya `ketika sudah tidak ada jalan lain lagi thd revolusi maka
kekerasan dibolehkan'
tapi sebagai `umat' Marxisme-Leninisme, kita wajib mengembangkan pemikiran Karl
Marx dan VI Lenin dan memproduce new ideas yang lebih baik dan humanis dan
menuliskannya secara eksoteris letterlijk agar obyektif.
E. Sebenarnya secara alam bawah sadar, saya bisa membaca cara berpikir seorang
perempuan yang menuliskan `bahwa ajaran Marxisme-Leninisme membolehkan segala
cara dan itu bertentangan dengan agama', saya sangat bisa melihat pemikiran
perempuan ini dipenuhi dogma-dogma/doktrin yang sulit dilepaskannya.
Ws G> Bagaimana menciptakan kreativitas, pencerahan, gagasan/visi baru?
Kreativitas tentu saja memerlukan raw material atau input data.
Raw material atau input data bisa berasal dari sejarah, knowledge, alam/nature,
plus dengan pengolahan secara orisinal pemikiran, maka produce pemikiran atau
gagasan baru.
Jadi kreativitas atau pencerahan adalah gabungan dari:
a. input data yang bisa berupa sejarah, knowledge atau apapun (kompleksitas
faktor)
b. orisinalitas subyektive/empiris manusia
Jadi kreativitas saya definisikan sebagai:
Kemampuan manusia dengan pengalamannya/empiris/subyektif/orisinalitasnya
mengolah input-input data yang diterima dari panca indera-nya dan di simpan di
memory otaknya, untuk memproduksi ide-ide atau gagasan-gagasan atau visi-visi
baru untuk direalisasikan.
Sebagai catatan:
Marxis-Leninis menggunakan raw material atau input data/Knowledge yang berupa
modern science atau science ter-modern di zamannya.
Ws H> Tantangan zaman
Zaman akan selalu berubah, dan juga tantangannya akan selalu berubah.
Solusi-solusi Karl Marx dan VI Lenin tentu sudah tidak sesuai lagi dengan
tantangan zaman di abad 21 atau abad 25 nanti. Demikian juga solusi dari
founding fathers dan juga agama, sudah tidak akan mampu mengatasi persoalan
zaman di abad 25 atau seterusnya.
So, untuk itu yang perlu diambil dari pemikiran-pemikiran Karl Marx dan VI
Lenin adalah methodologi berpikirnya/cara berpikirnya saja, yaitu dialektika
materialisme, atau berpikir dengan cara
a. Sebagai input berpikir maka gunakan KNOWLEDGE berdasarkan modern science
(natural sciences dan juga social sciences seperti sosiologi atau antropologi
dan juga sejarah)
b. Proses berpikir dialektika, yaitu melakukan analisa dan sinthesa dari
pemikiran-pemikiran lama untuk produce pemikiran-pemikiran baru sebagai solusi
atau drive peradaban. Pemikiran lama yang masih relevan bisa diadopsi, yang
sudah irrelevan boleh dibuang
c. Sebagai output, maka memberikan pemikiran-pemikiran baru, gagasan-gagasan
baru, solusi-solusi dan visi-visi baru, demikian terus menerus (permanent
revolution)
<~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~>
Conclusion:
a. Agama adalah suatu weltanschauung/world view/pola pikir/mindset yang
bersifat dogmatis/doktrinal, apabila anda menjadi umat ber-agama, maka pola
pikir/world view anda akan mengikuti (absolut?) dari pola pikir/world view
pembuatnya.
b. Nasionalisme di Indonesia, saya melihatnya dilandasi oleh pola pikir agama
terutama Islam, sehingga nasionalisme di Indonesia berbasis dogmatis/doktrinal.
Hal ini tampak nyata dari grondslag philosophy Pancasila di sila pertama, dan
biasanya angka 1 secara psikologis merupakan hal yang utama, berbunyi
`Ketuhanan Yang Maha Esa' yang jelas-jelas melambangkan monotheisme.
c. Marxisme-Leninisme adalah ajaran yang tidak harus (malah haram)
mengikuti/follow pola pikir pembuatnya, namun sebagai kaum Marxis-Leninis, anda
dituntut untuk melakukan revisi/produce new ideas/produce new visions secara
berkesinambungan atau permanent revolution.
D. Disini bisa saya simpulkan kaum agama mendasarkan input pemikiran berbasis
kitab suci, dan mereka dituntut untuk melanggengkannya, melestarikannya,
mengamalkannya, dan menjalankannya.
Sedangkan kaum nasionalis indonesia mendasarkan input pemikiran berbasis
grondslag philosophy Pancasila, dan mereka dituntut untuk melanggengkannya,
melestarikannya, mengamalkannya, dan menjalankannya.
Sedangkan kaum Marxis-Leninis mendasarkan input pemikiran berbasis KNOWLEDGE
MODERN SCIENCE (Natural dan Social Sciences) di zamannya masing-masing, dan
mereka dituntut, agar dari Knowledge modern sciences mereka mampu memberikan
solusi, produce new ideas, produce visi-visi baru dan kemudian
merealisasikannya.
***********
What is to be done:
a. Banyak manusia-manusia Indonesia akibat mayoritas beragama Islam dan
ber-grondslag philosophy Pancasila, maka pola pikir/mindset-nya cenderung
dogmatism/doktrinal. Pemikiran doktrinal akan membuat kebekuan berpikir
sehingga ketika zaman berubah, dan tantangan zaman berubah, maka mereka tidak
akan mampu membuat solusi-solusi secara rasional, mereka tidak akan mampu drive
zaman dan peradaban jika pemikiran mereka dogmatis dan doktrinal terhadap
pemikiran manusia-manusia masa lampau.
b. Zaman selalu berubah, dan juga tantangannya. Manusia modern dituntut untuk
mampu melakukan solusi-solusi dan perbaikan/revisionis terhadap
perubahan-perubahan dan tantangan zaman, dan akan lebih baik lagi kalau ide-ide
atau gagasan-gagasan mereka mampu drive perubahan zaman seperti apa yang
dilakukan oleh Karl Marx dan VI Lenin.
Manusia-manusia dogmatis/doktrinal tidak akan mampu melakukan/memproduksi
solusi-solusi dari perubahan dan tantangan zaman dari dirinya sendiri.
Manusia-manusia dogmatis/doktrinal akan menawarkan solusi-solusi dari
pemikiran-pemikiran orang lain (misal pemikiran Nabi Mohammad atau Ir.
Soekarno, dlsb).
Saya contohkan banyak umat islam yang ingin kembali ke methode syariah islam.
Apakah syariah Islam ini merupakan ide/gagasan mereka sendiri? tentu tidak,
syariah Islam adalah pemikiran Mohammad abad 6 untuk mengatasi/solusi bagi
masyarakat Arab abad ke 6.
1. Apakah hal ini realistis, apabila abad 21 yang zaman dan tantangannya sudah
berbeda, maka solusinya kembali ke solusi abad 6 di tanah arab?
2. Ini bukti dogmatism pemikiran para manusia-manusia beragama Islam, mereka
tidak mampu mencari solusi sendiri dari pemikirannya yang orisinal dan otentik,
sehingga wacana yang dilemparkan adalah wacana syariah Islam dimana itu
pemikiran Mohammad di tanah Arab abad ke 6
3. Bukti dogmatism kaum Nasionalis adalah mereka selalu ingin mensucikan
Pancasila dan UUD 1945, mereka selalu ingin balik ke pemikiran founding
fathers, yaitu memurnikan Pancasila dan selalu ingin kembali ke konstitusi lama
UUD 1945
+++++
c. Indonesia masa depan, saya harapkan manusia-manusianya adalah manusia yang
Berpola pikir dialektis (tidak berpola pikir dogmatis/doktrinal), mampu secara
mandiri/orisinal/otentikal melakukan/produce visi-visi baru secara
berkesinambungan, baik untuk solusi zaman yang selalu berubah dan akan lebih
sophisticated apabila mampu drive/inovasi perubahan zaman
d. Kaum Marxis-Leninis adalah kaum revisionis secara tekstual letterlijk, kaum
yang selalu mampu memproduksi new ideas/pemikiran-pemikiran dalam segala hal,
termasuk grondslag philosophy modern yang selalu harus dimodernisasi sesuai
zaman (permanent revolution).
Kaum Marxis-Leninis berdasarkan/atau philosophynya menginjak/didasarkan dari
knowledge modern science, harus selalu mampu produce philosophy-philosophy baru
yang mengimprove masyarakat, memberdayakan masyarakat, dengan tujuan utama atau
goalnya adalah merealisasikan SOCIAL JUSTICE/keadilan sosial sebaik mungkin
(best effort) meski tidak mungkin sempurna, namun best effort-nya harus selalu
dimodernisasi/diperbaiki terus menerus.
Saya tidak tahu bagaimana zaman abad 25 dan tantangannya,
namun
Apabila kaum Marxis-Leninis mampu mendasarkan/input data/knowledge-nya berdasar
modern sciences di zamannya, pola pikirnya dialektika, dan mampu memproduksi
terus visi-visi baru (bahkan sampai ke grondslag philosophy), dan melakukan
revisionis terus menerus secara letterlijk/eksoteris tekstual terhadap
pemikiran-pemikirannya,
maka mereka akan selalu menjadi anak zaman, dan
menjadi manusia-manusia yang pioneer di setiap zaman yang terus berganti dan
berubah
.
untuk itu, kaum Marxis-Leninis abad 25 adalah kaum Marxis-Leninis yang
mendasarkan input data/pengetahuannya berbasis Knowledge Science termodern abad
25 dan melakukan proses pemikiran, dan selanjutnya mereka mampu melakukan
output solusi masalah di abad 25 dengan pemikiran-pemikiran baru abad 25,
(bukan dari abad 21, 19, 6, atau 0) ataupun malah mampu drive untuk menciptakan
new ideas untuk menembus zaman secara futuristik.
Generasi Marxis Leninis harus selalu menjadi generasi mandiri yang orisinal,
create visi baru secara berkesinambungan, untuk direalisasikan dengan
goal/tujuan humanisme dan social justice, dan mereka adalah generasi yang tidak
pernah menyandarkan pemikiran-pemikirannya thd pemikiran-pemikiran seseorang di
zaman lama
Viva Marxisme-Leninisme
28 june 12
@ws
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/