Ref: Menurut laporan terakhir Bank Dunia, RDTL mencapai kemajuan pesat, tingkat 
hidup penduduk mengalami perbaikan signifikan, berkat minyak dan gas yang 
dimiliki. Dapat dibayangkan kalau Timor Leste tetap dibawah NKRI, bisa sama 
atau malah lebih buruk keadaannya dari daerah tertinggal dari daerah-daerah 
tetangganya di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini bukan karena KTI miskin, 
sebaliknya. Lihat saja pada Papua dari emas saja mausk miliaran dollar tiap 
tahun, tetapi rakyat Papua dimana kehidupan mereka berada? Kemana gerangan 
pendapatan hasil kekayaan alam mereka dipergikan? 

http://www.shnews.co/detile-3948-ketahanan-pangan-di-gerbang-selatan.html

Ketahanan Pangan di Gerbang Selatan 
Albertina S.C. | Kamis, 28 Juni 2012 - 15:12:57 WIB

Dibaca : 25 


(SH/Albertina S.C.)NTT bermimpi mengekspor pangan ke Timor Leste. 
Penampilan pos perbatasan Republik Indonesia dan Republik Demokrat Timor Leste 
bak bumi dan langit. 

Pos perbatasan yang dibangun pemerintahan Xanana Gusmao megah dengan fasilitas 
pintu pengamanan yang dapat mendeteksi setiap kendaraan yang masuk. 

Sementara itu, fasilitas Pos Perbatasan RI di dekat Motoain, Kabupaten Belu, 
Nusa Tenggara Timur, misalnya, sangat minim dan tak ubahnya seperti pintu masuk 
kompleks perkantoran. 

Pemeriksaan di Pos Perbatasan RDTL yang dahulu “dijajah” Indonesia dan baru 10 
tahun menjadi negara itu relatif modern, lebih teliti, tanpa ribet. 

Sebaliknya, pemeriksaan di Pos Perbatasan RI berbelit-belit dan para tentara 
menenteng senjata. Di waktu malam, dari 38 pos pengamanan perbatasan RI-RDTL, 
hanya 10 pos pengamanan perbatasan (pamtas) Indonesia, baik di Belu dan Timor 
Tengah Utara (TTU) yang menikmati listrik. 

Karenanya, sudah selayaknya pemerintah tidak lagi memperlakukan wilayah 
perbatasan sebagai halaman belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Namun, “Menempatkan wilayah perbatasan sebagai halaman depan atau show window 
sehingga orang yang masuk ke wilayah kita menemukan kesan yang positif. 
Apalagi, jika taraf kehidupan masyarakatnya juga lebih baik, ada kenyamanan dan 
ketenteraman,” kata Profesor Kedi Suradisastra, Ketua Tim Kunjungan Kerja Forum 
Komunikasi Profesor Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen 
Pertanian, kepada SH di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/6) lalu. 

Tidak bisa dimungkiri, masalah pembangunan fisik bisa merangsang seseorang 
berpikir dan mulai berinterpretasi dengan pandangannya sendiri. “Kok ternyata 
di seberang ada lampu penerangan misalnya, sedangkan di kita belum? Itu sudah 
bisa menimbulkan perasaan yang kurang enak,” kata pakar kebijakan pertanian 
ini. 

Kenyataannya, survei yang dilakukan Profesor Kedi di Kabupaten Belu dan TTU 
menemukan, masyarakat di kedua wilayah yang bertetangga langsung dengan Timor 
Leste hampir sama: berada dalam situasi subsistem atau kegiatan bertahan hidup. 
Ini situasi yang tidak bisa diandalkan untuk memberikan kehidupan. 

Berpijak pada studi yang digelar sejak Februari silam, tim yang terdiri dari 14 
profesor merancang sebuah model pusat kegiatan ekonomi berbasis inovasi 
pertanian di wilayah perbatasan. Kegiatan percepatan pembangunan pertanian ini 
didukung enclave-enclave atau kantong-kantong produksi yang memasok komoditas 
dari wilayah di luar perbatasan. 

Desain ini bertujuan meningkatkan kegiatan masyarakat setempat dan meningkatkan 
taraf hidup warga di perbatasan RI-RTDL. Dengan demikian diharapkan, “Tidak ada 
lagi keresahan atau mengurangi keresahan atau ketidaknyamanan karena 
membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan di seberang,” kata Kedi. 

“Pilot Project” 

Dalam presentasi hasil kajian kepada Sekretaris Daerah Provinsi NTT Fransiskus 
Salem di Kupang, Kedi menjelaskan, timnya telah menentukan dua lokasi sebagai 
pusat kegiatan ekonomi dengan tiga kantong produksi di masing-masing kabupaten 
yang berhadapan langsung dengan negara bekas provinsi ke-27 Indonesia tersebut. 
Tim juga merekomendasikan untuk membentuk pilot project untuk menindaklanjuti 
kajian tersebut. 

Menurut Amir Pohan, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT, desain 
rancangan Profesor Riset “Sudah sangat bagus, bisa operasional, dan mudah 
dicerna.” 

Balai yang dipimpinnya berperan di kantong-kantong produksi yang menyuplai 
komoditas seperti jagung, padi, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan sayuran ke 
pusat kegiatan ekonomi terpadu tersebut. 

Dari hasil survei, kata Amir, ada beberapa teknologi yang sudah diterapkan di 
lapangan. Contohnya untuk komoditas padi di salah satu enclave, tim telah 
mendata produksi padinya 3 ton dan berpotensi sampai 6 ton, bahkan bisa diolah 
hingga menghasilkan 10 ton. 

Sekda NTT Fransiskus Salem mengatakan, apa yang dilakukan tim riset tersebut 
merupakan wujud komitmen pemerintah pusat untuk membangun NKRI di gerbang 
selatan. Oleh karena itu, dia mendorong pembentukan tim teknis untuk 
menindaklanjuti survei tersebut. 

“Kita benar-benar ingin agar sekali lagi, masyarakat tidak ingin 
buku—(kajian-red) banyak-banyak, mereka ingin bukti. Karena itu saya sepakat 
dengan rekomendasi, dibutuhkan ada sebuah aktivitas berbentuk pilot project,” 
ujarnya. 

Kedi optimistis BPTP NTT dan pemerintah daerah akan segera merancang pilot 
project. Apalagi, Sekda NTT berjanji akan mengimplementasikan rekomendasi itu 
dalam waktu satu bulan. 

Lebih jauh, jika kantong-kantong produksi sudah dapat memenuhi kebutuhan 
masyarakat di wilayah perbatasan RI-RDTL, dan bahkan surplus, tidak tertutup 
kemungkinan suplai akan diperlebar ke wilayah lain di Timor Barat atau 
kabupaten lain. “Bahkan kita bisa ekspor ke Timor Leste,” kata Prof Kedi. 

Menurut Frans, selama ini warga Timor Leste membeli barang kebutuhan nonlokal 
langsung dari Surabaya, Jawa Timur. “Padahal, kita ingin Nusa Tenggara Timur 
menjadi home base. Jadi semua orang Timor Leste tidak perlu ke Surabaya, dia 
beli di NTT, apakah itu di Atambua atau di Kupang,” katanya. 

Untuk itu, perlu sarana transportasi yang lancar sehingga NTT-lah yang memasok 
berbagai kebutuhan nonlokal untuk negara tetangga itu. “Kalau mau dibiarkan 
persaingan bebas terbuka, ketika orang lain sudah pakai superjet, kita masih 
pakai kuda, ya, bagaimana kita bisa sama? Jadi, perlu diproteksi sedikitlah,” 
tuturnya. 

Menurutnya, sudah saatnya pemerintah mengarahkan perhatian pada pembangunan di 
wilayah timur Indonesia. “Jadi, pemerintah mesti setop di sana, kurangi 
pembangunan di sana, biar buka jalan tol yang banyak di sana, negara bangun di 
timur. Baru bisa jalan. Itu yang harus terjadi,” katanya. 

Lepas dari berbagai hambatan yang membelit, Frans mengapresiasi perhatian 
pemerintah pusat pada NTT yang dari waktu ke waktu semakin besar. “Tapi, kami 
juga berharap terus-menerus ditingkatkan agar kami bisa berlari mengejar 
saudara-saudara kita dari provinsi di wilayah barat,” ia berharap. 

(Sinar Harapan) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke