Biarpun korupsi, tp krn ngebagi2kan kitab auloh, maka akan dpt pahala jihad dr 
auloh.




>________________________________
> From: Sunny <[email protected]>
>To: [email protected] 
>Sent: Monday, July 2, 2012 5:36 AM
>Subject: [proletar] Aroma Korupsi Kitab Suci
> 
>
>  
>Ref: Aroma korupsi kitab suci pasti wangi baunya dan lezat rasanya bagi 
>koruptor.
>
>http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/14793-aroma-korupsi-kitab-suci
>Aroma Korupsi Kitab Suci 
>Friday, 29 June 2012 12:53 
>
>Al Quran (Foto qadin.net)
>Dugaan korupsi pengadaan Al-Quran diselidiki KPK. Mantan Dirjen Bimas Islam, 
>Nasaruddin Umar, tersodok. Tak ada jejak temuan dalam audit BPK dan itjen. 
>Anggaran melesat sejak APBN-P 2011. Pemenang lelang 2011-2012 berbeda 
>perusahaan, tapi "bersaudara". --- 
>
>Bermula dari seminar pemberantasan korupsi di Universitas Al-Azhar Jakarta, 
>Rabu 20 Juni, pekan lalu. Deputi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi 
>(KPK), K.M.S. Rony, tak tahan "membocorkan" potret korupsi yang kian miris. 
>"Ada korupsi pengadaan Al-Quran. Menyedihkan," katanya. Rony tak menyebut 
>nilai kerugian, waktu, dan pemain yang terlibat, demi strategi penyelidikan. 
>Sinyal nama menyusul muncul dari pernyataan Ketua KPK, Abraham Samad, saat 
>dikonfirmasi wartawan di sela-sela rapat dengan Komisi III DPR, selang 
>beberapa saat. 
>"Itu waktu wamen (wakil menteri) masih menjadi Dirjen Pendidikan Agama Islam," 
>kata Samad kepada wartawan di Senayan. "Kami punya bukti kuat," Samad 
>optimistis. KPK sudah melakukan ekspose. Samad berkeyakinan, tak lama lagi 
>kasus ini naik ke tahap penyidikan. Wamen Agama saat ini adalah Nasaruddin 
>Umar. Tapi ia bukan mantan Dirjen Pendidikan Islam, melainkan Dirjen Bimbingan 
>Masyarakat (Bimas) Islam, Juni 2006-April 2011.
>
>Awal pekan ini, GATRA memperoleh informasi, KPK mengirim surat pemanggilan 
>pemeriksaan staf Ditjen Pendidikan Islam. Berkembanglah spekulasi, 
>jangan-jangan kasus ini bukan pada Ditjen Bimas Islam yang pernah dipimpin 
>Nasar. Apalagi, anggaran Ditjen Pendidikan Islam jauh lebih besar: Rp 28-an 
>trilyun. Sedangkan Bimas Islam hanya Rp 300-an milyar.
>
>Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., kemudian memastikan, kasus itu di Ditjen 
>Bimas Islam pada anggaran 2011-2012, dengan nilai Rp 35 milyar. Sebelumnya 
>beredar kabar lain: tahun anggaran 2010-2011. "Biar tidak simpang siur, proyek 
>pengadaan anggaran ini tahun 2011-2012," kata Johan kepada GATRA, Selasa lalu.
>
>Kasus ini, menurut Johan, baru pekan lalu dimulai penyelidikannya. Pemanggilan 
>terperiksa dimulai pekan ini. Benarkah Nasaruddin Umar terlibat? "Belum ada 
>kesimpulan seperti itu," katanya. "Belum ada nama yang disebutkan. Bahkan 
>belum ada kesimpulan adanya tindak pidana korupsi."
>
>GATRA beberapa kali menghubungi Abraham Samad untuk mengklarifikasi maksud 
>penyebutan wamen: sekadar penjelasan waktu atau keterlibatan sang tokoh. Samad 
>tak merespons.
>
>Publikasi kasus ini membuat geger Kementerian Agama (Kemenag) dan lingkaran 
>Nasaruddin Umar. Rabu itu, saat kabar ini meledak, para pejabat puncak Kemenag 
>sedang berkumpul di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, untuk mengikuti rapat kerja 
>nasional (rakernas). Mulai menteri, wamen, sampai pejabat eselon II.
>
>Nasar mengaku terpukul. Apalagi, dalam rakernas itu beredar kliping 
>pemberitaan berbagai media siber seputar berita ini dengan beragam judul yang 
>menyodok namanya. "Ayah saya di Bone shock, langsung sakit, dan dilarikan ke 
>rumah sakit," kata profesor ilmu tafsir Al-Quran UIN Jakarta itu.
>
>Pada hari kedua rapat di Ancol, Nasar mengumpulkan seluruh stafnya yang pernah 
>terlibat pengadaan Al-Quran, sejak 2009 sampai 2011. "Semua berkas kami bawa 
>dari kantor ke kamar hotel di Ancol," katanya.
>
>Saat itu, Nasar belum tahu, pengadaan tahun berapa yang dibidik KPK. Jadinya, 
>ia memeriksa seluruh berkas. "Audit BPK dan inspektorat tidak pernah 
>menyatakan ada masalah," ujarnya. Ia pun fokus pada kasus yang pernah disurati 
>Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag: pengadaan Al-Quran pada APBN 2011. Saat 
>itu, ada penggunaan (optimalisasi) sisa anggaran (efisiensi) untuk menambah 
>volume cetakan Al-Quran.
>
>Pada pengadaan dengan APBN 2009, 2010, dan APBN-P 2011 juga ada sisa anggaran, 
>mulai Rp 23 juta sampai Rp 2 milyar (lihat tabel). Tapi sisanya tidak 
>dicairkan dari kas negara. Hanya pada APBN 2011, sebagian sisanya, sejumlah 
>9,99% dari nilai kontrak, sekitar Rp 459 juta, digunakan lagi untuk menambah 
>cetakan mushaf, dari semula 67.600 eksemplar menjadi 85.110 eksemplar. Menurut 
>Perpres 54/2010, kata Nasar, penggunaan sisa anggaran, sepanjang di bawah 10%, 
>dibolehkan.
>
>Itulah sebabnya, dalam audit BPK tahun 2010 dan 2011, kasus pengadaan Al-Quran 
>tidak masuk dalam temuan masalah. Status audit keuangan Kemenag oleh BPK tahun 
>2010 adalah wajar dengan pengecualian (WDP). Yang dikecualikan itu bukan soal 
>pengadaan kitab suci, melainkan tentang kas Badan Layanan Umum. Sedangkan pada 
>audit BPK tahun 2011, status keuangan Kemenag meningkat: dinyatakan wajar 
>tanpa pengecualian (WTP).
>
>Bahtiar Arief, Kepala Biro Humas BPK, tidak bisa memberikan tanggapan atas 
>dugaaan korupsi pengadaan Al-Quran itu. "Kami sedang teliti, kumpulkan data 
>dan informasi," katanya lewat pesan singkat kepada GATRA. Seorang auditor yang 
>menolak disebut namanya bersikukuh bahwa tidak ada masalah dalam pemeriksaan 
>BPK atas keuangan Kemenag. "Dalam pengadaan Al-Quran juga nggak ada masalah," 
>ia menambahkan.
>
>Anggaran pengadaan kitab suci sejak 2009 naik setiap tahun. Baru pada APBN-P 
>2011, kenaikannya tajam, dari Rp 5,6 milyar menjadi Rp 22,8 milyar. Lalu pada 
>APBN 2012 melonjak lagi menjadi Rp 55 milyar. Peneliti ICW, Ade Irawan, 
>menyebutkan bahwa dalam korupsi pengadaan Al-Quran ini ada dua kemungkinan. 
>Pertama, korupsi politik. Kedua, pengadaan diada-adakan atau dibutuh-butuhkan 
>karena ada yang mau menggarap.
>
>Sumber GATRA menyebutkan, pemenang lelang pengadaan 2011 yang nilainya sudah 
>melonjak jauh itu merupakan titipan anggota DPR asal daerah pemilihan (dapil) 
>Bekasi, tempat pemenang lelang. Mitra Kemenag di DPR adalah Komisi VIII dan 
>salah satu anggota komisi ini yang asal dapil Bekasi-Depok adalah Zulkarnaen 
>Djabbar, anggota Fraksi Golkar yang juga Wakil Ketua MKGR.
>
>GATRA berkali-kali menghubungi nomor Zulkarnaen dan mengirim SMS, tapi tak ada 
>jawaban. Dua hari terakhir, GATRA bolak-balik ke Komisi VIII, tapi tetap sepi. 
>Beberapa nama pimpinan dan anggota Komisi VIII yang biasa terbuka, seperti 
>Said Abdullah (PDIP), Chairun Nisa (Golkar), dan Gondo Radityo (Demokrat), 
>tidak merespons.
>
>Hanya Erwin Moeslimin Singajuru, anggota baru Komisi VIII asal PDIP, yang mau 
>menanggapi. "Komisi VIII segera melayangkan surat untuk rapat dengan Menteri 
>Agama. Nanti kami tanyakan dugaan korupsi pengadaan Al-Quran," tuturnya kepada 
>Ade Faizal Alami dari GATRA. 
>Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK atas Laporan Keuangan Kemenag Tahun 
>Anggaran 2010 dan 
>2011, masalah yang terkait dengan pengadaan Al-Quran hanya ditemukan pada LHP 
>tahun 2010. Bukan soal pengadaan, melainkan denda keterlambatan. Bukan 
>kegiatan tahun 2010, melainkan tahun 2008. Denda total Rp 1,17 milyar itu 
>untuk pengadaan dan pengiriman sejumlah barang: Al-Quran, Juz Amma dan 
>terjemahannya, serta tafsir Al-Quran di Ditjen Bimas Islam.
>
>Ada tiga perusahaan yang diminta membayar denda. Dua perusahan membayar penuh 
>pada Oktober 2009. Nah, yang terlihat ganjil, ada satu perusahaan, PT Pura 
>Barutama, yang semestinya membayar denda Rp 874,5 juta, tapi baru menyetor Rp 
>50 juta. Itu pun dibayarkan paling akhir dibandingkan dengan dua perusahan 
>lainnya: Februari 2010. Ke mana sisa denda senilai Rp 820-an juta? Pemeriksa 
>BPK akan memeriksa lagi berkasnya.
>
>Asrori S. Karni, Cavin R. Manuputty, dan Anthony Djafar
>
>(Laporan Khusus Majalah GATRA edisi 18/44, terbit Kamis, 28 Juni 2012)
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> 
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke