http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/11/nas17.htm

Dari Salatiga untuk Damai Papua

DI kawasan Airmuncrat Jalan Pahlawan, Rabu (10/8) siang, Otto Mayor melakukan 
demonstrasi. Dia cuma sendiri, berdiri mematung tanpa menyampaikan orasi. 
Penampilannya unik, membuat perhatian orang yang berlalu-lalang di sekitarnya 
terpantik. Lelaki kelahiran Papua yang mukim di Salatiga itu cuma membelitkan 
selembar kain di selangkangannya. Sebuah tongkat berbendera Merah-Putih 
tergenggam di tangan kanan, sedangkan botol air mineral di kiri. Di punggungnya 
yang legam tersandang sebuah ransel berisi pakaian dan sekadar bekal makanan.

Lantas apa yang hendak dia sampaikan dalam aksi yang telah kesekian kali ini? 
Kalau ingin tahu kita tak perlu bertanya. Cukup lihat saja selembar papan 
tripleks di depan dadanya: ''Papua Zona Damai''. Ya, Otto hendak menyuarakan 
perdamaian di Papua, tanah kelahirannya. ''Beberapa waktu lalu saya dengar dari 
media, adanya pembahasan soal Papua di Senat Amerika. Saya khawatir akan 
terjadi kekerasan di sana. Saya tidak ingin Papua jadi seperti Aceh atau Poso. 
Sebagai orang yang berasal dari sana, saya ingin berpartisipasi agar persoalan 
RI-Papua cepat selesai,'' ujarnya.

Sejatinya, suami Ngatiyem itu ingin menyampaikan aspirasinya langsung kepada 
Kapolda Jateng Irjen Chaerul Rasjid di kantornya. Tapi sebagai rakyat kecil, 
dia tahu diri. Untuk ketemu dengan seorang pejabat penting, tentu bukan 
persoalan mudah. Maka, saat sampai di depan Mapolda Jateng Jalan Pahlawan, Otto 
mengurungkan niatnya. Dia memilih datang ke Bundaran Airmuncrat, sebab yakin di 
sana banyak wartawan yang akan menyuarakan aspirasinya. Otto betul-betul 
serius. Demi melakukan aksi itu, dia rela berjalan kaki dari Salatiga. 

Tidak Asing

''Saya berangkat dari Salatiga, Selasa (9/8) jam 10.00, dengan bekal sebungkus 
nasi dan uang secukupnya. Karena sampai di Banyumanik sudah malam, saya 
menginap di sana. Baru pagi tadi saya turun ke sini,'' katanya.

Otto Mayor bukan nama asing. Dia kerap kali muncul di media massa dengan 
aksi-aksi tunggalnya. Meski sehari-hari bekerja mengayuh becak, dia tetap 
kritis menyikapi beragam persoalan yang terjadi di masyarakat. 

Dari soal kenaikan BBM, mahalnya pendidikan, sampai narkoba, semua pernah 
diteriakkan. Hingga tengah hari, lelaki yang tinggal di Jalan Merak, Klaseman, 
Salatiga itu terus berdiri. 

Pria itu terlihat tegar, meski sinar matahari begitu terik membakar kulit 
tubuhnya yang kekar. Orang-orang yang lewat cuma melihat, tapi Otto seperti tak 
peduli.(Rukardi-46) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hs6do2f/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123714717/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke