jadi yang salah soekarno ya ... ?
trus uplik akan teriak (seperti biasa) : "Kami mendukung dari jauh !'

gitu plik ?

--- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@...> wrote:
>
> 
> 
> Inilah hasil kemerdekaan yang dikprilklamirkan 17 Agustus tahun 1945 itu...
> 
> Di Papua, di kabupaten Bima sama saja..
> 
> Inilah hasil kemerdekaan yang dipoklamiarkan oleh anjing fascist Jepang 
> Soekaro, penjual romsuha kepada fascist Jepang itu...
> 
> 
> --- In [email protected], demitanahair@ wrote:
> >
> > SHNEWS.CO: Luka di Lapangan Tembaromba http://bit.ly/MgAbUK 
> > 
> > Luka di Lapangan Tembaromba 
> > 
> > Tutut Herlina| Senin, 09 Juli 2012 - 15:19:04 WIB 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > (dok/antara)
> > 
> > Aparat pemerintahan daerah (pemda) hingga kini belum berani masuk ke 
> > Kecamatan Lambu. 
> > 
> > 
> > 
> > Perempuan itu berteriak kencang seketika. “Cukup,” ujarnya dari balik 
> > kerumunan warga, akhir bulan lalu. Matanya tampak melotot, sedangkan 
> > napasnya ngos-ngosan. 
> > 
> > “Anak kami sudah pada mati,” kata dia. Kalimat terakhirnya itu disambut 
> > teriakan gaduh ibu-ibu lainnya, “Betul-betul!”. Mereka mengenakan 
> > kerudung di kepala yang terbuat dari sarung khas perempuan Bima, Nusa 
> > Tenggara Barat (NTB). 
> > 
> > Amarah itu bukan tanpa sebab. Saat itu, sejumlah pejabat daerah datang ke 
> > Lapangan Tembaromba, Desa Rato, Kecamatan Lambu, Bima, menemani tamu dari 
> > Jakarta. 
> > 
> > Namun, warga di sana masih belum bisa menerima aparat pemerintahan daerah 
> > (pemda). “Kalau kami tidak menghargai kalian, sudah kami usir mereka,” 
> > kata seorang pemuda kepada salah satu rombongan dari Jakarta. 
> > 
> > Warga Lambu menyimpan amarah terhadap aparat pemda, utamanya Bupati Bima 
> > Ferry Zulkarnaen. Persoalan bermula ketika seorang karyawan PT Sumber 
> > Mineral Nusantara (SMN) datang mendadak di Lambu. Ia kemudian mengukur 
> > tanah dan meletakkan patok di atas pekarangan milik warga. “Warga tanya 
> > kenapa tanahnya diukur,” kata Musatin Geri, pemuda yang tinggal di 
> > kecamatan itu. 
> > 
> > Sang karyawan mengaku mematok tanah untuk melakukan uji sampel kandungan 
> > emas di bawah permukaan bumi itu. Perusahaan SMN ternyata telah mengantongi 
> > surat izin eksplorasi dari Bupati Bima Ferry Zulkarnaen. 
> > 
> > Surat izin Nomor 188/2010 itu dikeluarkan pada 2010 menjelang masa tugas 
> > Ferry sebagai incumbent (petahana) berakhir. Ferry kemudian memenangkan 
> > kembali pemilihan umum kepala daerah (pilkada) berikutnya. 
> > 
> > Merasa tidak terima, sejumlah warga mencoba mempertanyakan kejelasan izin 
> > ekplorasi itu. Namun, mereka tidak mendapatkan jawaban memuaskan. “Kami 
> > kemudian mencari informasi sendiri dan benar bahwa bupati telah 
> > mengeluarkan izin eksplorasi tambang emas,” katanya. 
> > 
> > Setelah kebenaran informasi didapat, rakyat mulai gelisah. Akhirnya mereka 
> > menghimpun diri untuk menolak rencana eksplorasi. Aksi damai sebagai bentuk 
> > penolakan digelar terus-menerus. Mereka berusaha mengetuk hati aparat pemda 
> > supaya membatalkan izin itu. “Tapi mereka terus diam. Demo kami tidak 
> > dianggap,” kata Hasanudin, warga lainnya. 
> > 
> > Akhirnya, sejumlah pemuda membuat taktik. Setelah demo damai tak lagi 
> > mempan, mereka memutuskan memblokade pelabuhan Sape yang kebetulan hanya 
> > berjarak 2 kilometer dari Kecamatan Lambu. 
> > 
> > “Dalam aksi itu, ada beberapa teman kami yang tertembak. Makanya kami 
> > bakar kantor kelurahan, KUA, polsek dan kecamatan,” ujarnya. 
> > 
> > Rumah-rumah pengawai negeri sipil (PNS) yang tadinya tidak mendukung rakyat 
> > juga dirusak, sehingga mau tidak mau mereka harus mengikuti kemauan 
> > mayoritas rakyat di sana. “Dulu ada yang menerima dan menolak, biasanya 
> > PNS. Setelah kami memblok pelabuhan, PNS semuanya balik arah mendukung 
> > kami,” ujar Hasanudin. 
> > 
> > Bakar Kantor Bupati 
> > 
> > Puncaknya, mereka membakar kompleks kantor Bupati Bima yang letaknya di 
> > pusat kota. Setelah peristiwa itu barulah bupati mencabut izin eksplorasi 
> > tambang PT SMN. “Pemaksaan menjadi jalan terbaik buat kamu, perang atau 
> > mati, semuanya halal bagi kami. Kami sudah memperbaiki segala hal, berjuang 
> > berbagai hal, tetapi provinsi dan pusat tidak pernah merespons,” papar 
> > Hasanudin. 
> > 
> > Hanya saja, saat ini masih ada 14 izin eksplorasi tambang lainnya yang 
> > belum dicabut. Izin eksplorasi itu ada di hampir sebagian besar kecamatan 
> > di Bima. Meskipun begitu, luka yang ada pada warga hingga kini masih tetap 
> > menganga. 
> > 
> > Keluarga korban yang meninggal karena tertembus peluru aparat dan mengalami 
> > kecacatan, belum juga memperoleh santunan. Aparat yang menembak juga belum 
> > diproses secara hukum. 
> > 
> > Sementara itu, menurut pengakuan warga setempat, ekonomi masyarakat mulai 
> > “diblokade”. Bawang merah yang menjadi produk andalan pertanian 
> > kecamatan itu sulit dibawa ke pasar luar karena kapal-kapal pengangkut 
> > tidak berani mengangkut setelah ada “instruksi rahasia” dari pejabat 
> > daerah. “Tapi kami tidak akan patah arang untuk mempertahankan tanah 
> > kami,” kata Hasanudin. 
> > 
> > Ia mengatakan, Lambu setidaknya telah memberikan contoh yang “terbaik” 
> > bagi rakyat Indonesia setelah tanah yang menjadi alat produksi tidak juga 
> > diberikan secara adil dan merata oleh negara. “Apa yang terjadi di Lambu 
> > bisa dikatakan biasa, tetapi bisa juga menjadi dahsyat,” ujarnya. 
> > 
> > Di Lambu, hingga kini tak ada aparat pemda maupun aparat keamanan yang bisa 
> > masuk ke daerah itu. Kemarahan rakyat membuat mereka tidak berani masuk ke 
> > area itu. 
> > 
> > Di Lambu juga, puluhan bangunan milik pemerintah masih terbengkalai dan 
> > menjadi saksi bisu keberanian rakyat Lambu terhadap ketidakadilan 
> > pemerintah. 
> > 
> > “Di Lambu seperti hukum rimba, tak ada dari kami yang berani masuk ke 
> > sana. Kabarnya, mereka sudah mempersenjatai diri,” tutur Herman, pegawai 
> > Dinas Perikanan Kabupaten Bima. Namun Geri mengatakan, “Kami akan tetap 
> > bertahan,” (Bersambung) 
> > 
> > (Sinar Harapan)
> > Sent from my BlackBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke