Ref: Kalau yang namanya pemerintah pro rakyat pasti tahu diri! Tanpa perlu ada 
teriakan pun telah dilaksanakan perubahan demi perbaikan bagi kepentingan dan 
tingkat hidup rakyat, tetapi kalau yang disebut “wakil rakyat” seperti yang 
disuarakan oleh Marzuki Ali, ketua DPR NKRI : “orang miskin itu malas” 
(http://surabaya.tribunnews.com/2012/07/08/marzuki-orang-miskin-itu-malas ), 
berarti biar berteriak sampai mampus pun tidak akan diharaukan! Jangan berilusi 
dengan teriakan kepada rezim yang mementingkan kepentingan kaum elit. Bebaskan 
pikiran Anda dari ilusi!


http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/dengarlah-teriakan-rakyat/22243
Dengarlah ‘Teriakan’ Rakyat
Kamis, 12 Juli 2012 | 14:25

Setiap hari rakyat “berteriak” meminta perubahan. Meminta akses pelayanan 
kesehatan dan pendidikan. Meminta perbaikan lalu lintas kota yang macet. 
Meminta sistem drainase yang baik, yang mampu mencegah banjir di musim 
penghujan. Meminta perbaikan tata kota. Meminta perbaikan tata kelola 
birokrasi. Meminta keseriusan para penyelenggara negara memberantas korupsi. 

Teriakan itu biasanya sangat lantang pada saat kampanye pemilu. Ketika para 
kandidat anggota dewan, calon bupati dan walikota, calon gubernur, dan calon 
presiden datang meminta dukungan, rakyat mendapat kesempatan untuk “berteriak” 
selantang-lantangnya meminta perubahan. Hanya lima tahun sekali para jelata dan 
kelas menengah mendapat kesempatan untuk meneriakkan penderitaan mereka. 

Biasanya, para kandidat datang menghampiri konstituen dengan memposisikan diri 
sebagai dewa penyelamat. Mereka menebar janji untuk membuat perubahan. Namun, 
setelah terpilih, aspirasi rakyat dilupakan. Janji yang pernah dilontarkan tak 
lagi diingat. Kepentingan pribadi, kelompok, dan partai memaksa mereka lupa 
semua janji manis. My word is not bond. Seakan-akan janji bukan kewajiban. 

Lima tahun kemudian, tanpa malu, para pengobral janji itu datang lagi. Mereka 
menghampiri rakyat bukan terutama untuk mengangkat rakyat dari penderitaan, 
melainkan dukungan suara agar menang dalam pertarungan. 

Dengan pemahaman ini kita menyaksikan Pilkada DKI Jakarta, pemilu yang dianggap 
banyak orang sebagai barometer politik Indonesia. Hasil sementara Pilkada DKI, 
Rabu (11/7) memperlihatkan keunggulan Jokowi-Ahok. Tapi, pasangan dari luar 
Jakarta ini tidak bisa langsung dinyatakan sebagai pemenang. Sebab, khusus 
untuk DKI Jakarta, calon gubernur baru akan dinyatakan pemenang jika meraih 
suara hingga 50%+1. 

Pasangan Jokowi-Ahok yang meraih suara di atas 40% harus bertarung di putaran 
kedua dengan pasangan Foke-Nara yang berada di urutan kedua dengan raihan suara 
terpaut sekitar 10% di bawah mereka. 

Sangat fenomenal keunggulan Jokowi-Ahok. Tak satu pun lembaga survei yang 
memprediksi keunggulan mereka. Setiap survei selalu menempatkan incumbent pada 
urutan pertama. Pasangan yang datang dari luar DKI tak pernah diramalkan 
sebagai pemenang. Tapi, kenyataan menunjukkan hal berbeda dan itu bisa 
disimpulkan dengan satu kata: perubahan. Masyarakat Jakarta yang heterogen ini 
mengharapkan perubahan. Mereka ingin figur yang sungguh-sungguh mendengarkan 
“teriakan” mereka. 

Pertama, rakyat DKI mengharapkan pemimpin yang mampu mengurai kemacetan lalu 
lintas. Apa pun alasan yang dikemukakan pemerintah, rakyat hanya ingin 
penurunan tingkat kemacetan. Rakyat acap bertanya, mengapa negara lain bisa 
menata ibukotanya hingga bebas dari kemacetan, sedangkan kita tidak mampu dan 
seakan tidak berdaya? 

Kedua, terkait kemacetan, rakyat mengharapkan sistem transportasi yang lebih 
berpihak pada angkutan umum. Tingginya jumlah angkutan pribadi dan buruknya 
angkutan umum merupakan bukti kasat mata. Jumlah angkutan umum yang hanya 8% 
dari total kendaraan mengangkut 98% warga yang mengadakan perjalanan. Jika ada 
transportasi umum yang aman dan nyaman, kelas menengah atas pun akan memilih 
angkutan umum. 

Ketiga, rakyat mengharapkan sebuah tata kota yang memanusiakan warga. Para 
pejalan kaki, termasuk pelancong, bisa berjalan kaki dengan leluasa dan bangga 
karena trotoar lebar dan bersih dari pedagang kaki lima. Rakyat mengharapkan 
ruang publik untuk rekreasi dan bersosialisasi. Rakyat mengimpikan ruang 
terbuka hijau di setiap RW. Jakarta saat ini terlalu sumpek, berdebu, kotor, 
dan tidak tertata. 

Keempat, para pedagang kecil mengharapkan kawasan khusus untuk mereka. Sebutlah 
kawasan khusus pedagang kaki lima yang dilengkapi sejumlah fasilitas penting. 
Tanpa area khusus, pedagang kaki lima akan terus menghuni trotoar dan berbagai 
kawasan terlarang. 

Kelima, selain infrastruktur transportasi yang baik, penduduk kota mengharapkan 
ketersediaan air minum. Sebagian besar warga kota hidup dari air sumur, bukan 
air pipa yang dilayani perusahaan air minum. Sebagian warga yang sudah 
terlayani air PAM acap mengeluh kontinuitas pasokan dan kualitas air. 

Keenam, warga kota mengharapkan akses yang lebih tinggi untuk mendapatkan 
pelayanan kesehatan dan pendidikan. Sekitar 46,7% warga Jakarta maksimal 
berpendidikan SD dan sederajat. Di antara mereka, ada satu juta lebih atau 6% 
yang belum pernah duduk di bangku sekolah dan 2,7 juta atau 16,7% tidak tamat 
SD. Sekitar 1,5 juta atau 31% warga DKI bekerja di sektor informal, khususnya 
pedagang. Jika tidak ditata, pekerja informal cenderung melanggar peruntukan 
kawasan sebagaimana terjadi selama ini. 

Ketujuh, warga mengimpikan pemimpin yang punya visi, program yang terukur dan 
kemampuan menggerakkan roda organisasi untuk melayani seluruh rakyat. Pemimpin 
yang bisa menjadi suri teladan dalam membasmi korupsi hingga ke akar-akarnya. 

Sangat wajar jika laju pertumbuhan DKI di atas rata-rata nasional karena lebih 
dari 70% uang beredar di Jakarta. Jakarta bukan saja pusat pemerintahan, 
melainkan juga pusat kegiatan ekonomi, hiburan, dan pendidikan. APBD Jakarta 
lebih dari cukup untuk merespons positif tujuh isu yang menjadi perhatian 
rakyat. Pada tahun 2011, misalnya, APBD DKI sebesar Rp 28,3 triliun. PAD 
Jakarta termasuk yang tertinggi di Indonesia, yakni Rp 17,8 triliun atau 63% 
dari APBD tahun 2011. 

Jakarta bukan saja barometer politik dan ekonomi, tapi juga barometer peradaban 
Indonesia. Karena itu, penataan Jakarta menjadi kota yang aman dan nyaman bagi 
semua penghuni serta provinsi yang memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi 
semua warganya menjadi sangat penting. Ini semua sangat tergantung pada 
kualitas pemimpin. 

Pemimpin yang benar-benar menggunakan mata untuk melihat dan telinga untuk 
mendengarkan “teriakan” rakyat. Pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi dan 
seluruh sumber daya untuk mengangkat martabat rakyatny


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke