Ga juga, biasanya rakyat itu minta bantuan, minta duit, krn emang mereka malas. Kalo mereka dikasih bantuan duit yg banyak, mereka ga akan peduli dgn orang lain.
>________________________________ > From: Sunny <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Saturday, July 14, 2012 4:40 AM >Subject: [proletar] Dengarlah ‘Teriakan’ Rakyat > > > >Ref: Kalau yang namanya pemerintah pro rakyat pasti tahu diri! Tanpa perlu ada >teriakan pun telah dilaksanakan perubahan demi perbaikan bagi kepentingan dan >tingkat hidup rakyat, tetapi kalau yang disebut “wakil rakyat” seperti yang >disuarakan oleh Marzuki Ali, ketua DPR NKRI : “orang miskin itu malas” >(http://surabaya.tribunnews.com/2012/07/08/marzuki-orang-miskin-itu-malas ), >berarti biar berteriak sampai mampus pun tidak akan diharaukan! Jangan >berilusi dengan teriakan kepada rezim yang mementingkan kepentingan kaum elit. >Bebaskan pikiran Anda dari ilusi! > >http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/dengarlah-teriakan-rakyat/22243 >Dengarlah ‘Teriakan’ Rakyat >Kamis, 12 Juli 2012 | 14:25 > >Setiap hari rakyat “berteriak” meminta perubahan. Meminta akses pelayanan >kesehatan dan pendidikan. Meminta perbaikan lalu lintas kota yang macet. >Meminta sistem drainase yang baik, yang mampu mencegah banjir di musim >penghujan. Meminta perbaikan tata kota. Meminta perbaikan tata kelola >birokrasi. Meminta keseriusan para penyelenggara negara memberantas korupsi. > >Teriakan itu biasanya sangat lantang pada saat kampanye pemilu. Ketika para >kandidat anggota dewan, calon bupati dan walikota, calon gubernur, dan calon >presiden datang meminta dukungan, rakyat mendapat kesempatan untuk “berteriak” >selantang-lantangnya meminta perubahan. Hanya lima tahun sekali para jelata >dan kelas menengah mendapat kesempatan untuk meneriakkan penderitaan mereka. > >Biasanya, para kandidat datang menghampiri konstituen dengan memposisikan diri >sebagai dewa penyelamat. Mereka menebar janji untuk membuat perubahan. Namun, >setelah terpilih, aspirasi rakyat dilupakan. Janji yang pernah dilontarkan tak >lagi diingat. Kepentingan pribadi, kelompok, dan partai memaksa mereka lupa >semua janji manis. My word is not bond. Seakan-akan janji bukan kewajiban. > >Lima tahun kemudian, tanpa malu, para pengobral janji itu datang lagi. Mereka >menghampiri rakyat bukan terutama untuk mengangkat rakyat dari penderitaan, >melainkan dukungan suara agar menang dalam pertarungan. > >Dengan pemahaman ini kita menyaksikan Pilkada DKI Jakarta, pemilu yang >dianggap banyak orang sebagai barometer politik Indonesia. Hasil sementara >Pilkada DKI, Rabu (11/7) memperlihatkan keunggulan Jokowi-Ahok. Tapi, pasangan >dari luar Jakarta ini tidak bisa langsung dinyatakan sebagai pemenang. Sebab, >khusus untuk DKI Jakarta, calon gubernur baru akan dinyatakan pemenang jika >meraih suara hingga 50%+1. > >Pasangan Jokowi-Ahok yang meraih suara di atas 40% harus bertarung di putaran >kedua dengan pasangan Foke-Nara yang berada di urutan kedua dengan raihan >suara terpaut sekitar 10% di bawah mereka. > >Sangat fenomenal keunggulan Jokowi-Ahok. Tak satu pun lembaga survei yang >memprediksi keunggulan mereka. Setiap survei selalu menempatkan incumbent pada >urutan pertama. Pasangan yang datang dari luar DKI tak pernah diramalkan >sebagai pemenang. Tapi, kenyataan menunjukkan hal berbeda dan itu bisa >disimpulkan dengan satu kata: perubahan. Masyarakat Jakarta yang heterogen ini >mengharapkan perubahan. Mereka ingin figur yang sungguh-sungguh mendengarkan >“teriakan” mereka. > >Pertama, rakyat DKI mengharapkan pemimpin yang mampu mengurai kemacetan lalu >lintas. Apa pun alasan yang dikemukakan pemerintah, rakyat hanya ingin >penurunan tingkat kemacetan. Rakyat acap bertanya, mengapa negara lain bisa >menata ibukotanya hingga bebas dari kemacetan, sedangkan kita tidak mampu dan >seakan tidak berdaya? > >Kedua, terkait kemacetan, rakyat mengharapkan sistem transportasi yang lebih >berpihak pada angkutan umum. Tingginya jumlah angkutan pribadi dan buruknya >angkutan umum merupakan bukti kasat mata. Jumlah angkutan umum yang hanya 8% >dari total kendaraan mengangkut 98% warga yang mengadakan perjalanan. Jika ada >transportasi umum yang aman dan nyaman, kelas menengah atas pun akan memilih >angkutan umum. > >Ketiga, rakyat mengharapkan sebuah tata kota yang memanusiakan warga. Para >pejalan kaki, termasuk pelancong, bisa berjalan kaki dengan leluasa dan bangga >karena trotoar lebar dan bersih dari pedagang kaki lima. Rakyat mengharapkan >ruang publik untuk rekreasi dan bersosialisasi. Rakyat mengimpikan ruang >terbuka hijau di setiap RW. Jakarta saat ini terlalu sumpek, berdebu, kotor, >dan tidak tertata. > >Keempat, para pedagang kecil mengharapkan kawasan khusus untuk mereka. >Sebutlah kawasan khusus pedagang kaki lima yang dilengkapi sejumlah fasilitas >penting. Tanpa area khusus, pedagang kaki lima akan terus menghuni trotoar dan >berbagai kawasan terlarang. > >Kelima, selain infrastruktur transportasi yang baik, penduduk kota >mengharapkan ketersediaan air minum. Sebagian besar warga kota hidup dari air >sumur, bukan air pipa yang dilayani perusahaan air minum. Sebagian warga yang >sudah terlayani air PAM acap mengeluh kontinuitas pasokan dan kualitas air. > >Keenam, warga kota mengharapkan akses yang lebih tinggi untuk mendapatkan >pelayanan kesehatan dan pendidikan. Sekitar 46,7% warga Jakarta maksimal >berpendidikan SD dan sederajat. Di antara mereka, ada satu juta lebih atau 6% >yang belum pernah duduk di bangku sekolah dan 2,7 juta atau 16,7% tidak tamat >SD. Sekitar 1,5 juta atau 31% warga DKI bekerja di sektor informal, khususnya >pedagang. Jika tidak ditata, pekerja informal cenderung melanggar peruntukan >kawasan sebagaimana terjadi selama ini. > >Ketujuh, warga mengimpikan pemimpin yang punya visi, program yang terukur dan >kemampuan menggerakkan roda organisasi untuk melayani seluruh rakyat. Pemimpin >yang bisa menjadi suri teladan dalam membasmi korupsi hingga ke akar-akarnya. > >Sangat wajar jika laju pertumbuhan DKI di atas rata-rata nasional karena lebih >dari 70% uang beredar di Jakarta. Jakarta bukan saja pusat pemerintahan, >melainkan juga pusat kegiatan ekonomi, hiburan, dan pendidikan. APBD Jakarta >lebih dari cukup untuk merespons positif tujuh isu yang menjadi perhatian >rakyat. Pada tahun 2011, misalnya, APBD DKI sebesar Rp 28,3 triliun. PAD >Jakarta termasuk yang tertinggi di Indonesia, yakni Rp 17,8 triliun atau 63% >dari APBD tahun 2011. > >Jakarta bukan saja barometer politik dan ekonomi, tapi juga barometer >peradaban Indonesia. Karena itu, penataan Jakarta menjadi kota yang aman dan >nyaman bagi semua penghuni serta provinsi yang memberikan kesejahteraan dan >keadilan bagi semua warganya menjadi sangat penting. Ini semua sangat >tergantung pada kualitas pemimpin. > >Pemimpin yang benar-benar menggunakan mata untuk melihat dan telinga untuk >mendengarkan “teriakan” rakyat. Pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi >dan seluruh sumber daya untuk mengangkat martabat rakyatny > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
