Aku teringat beberapa bulan yang lalu berjumpa dengan seorang bapak2 di sebuah restoran di sini. Kebetulan serombongan/sefamili ini sedang mengunjungi putranya yang sedang studi di sini. Setelah ngalor ngidul dan basa basi ini itu tentang soal yang tidak topik, bapak ini sempat tanya soal kerjaanku dan achirnya sampai pelbagai aspek yang menyangkut ekonomi dan masa depan Indonesia. Sampailah dia (bapak) ini ke soal dimana tulisan ini bersumber yakni ungkapannya yang sampai sekarang masih aku coba resapi. Dia bilang:"kenapa bung tidak balik ke Indonesia kan bisa nyumbangin tenaga dan pikiran buat Indonesia. Apalagi kalau dilihat Indonesia itu kaya raya, cari segala nacam sumber alam kita kan punya". Sampai disini aku tertegun dan mulai mengolah apa yang bapak ini utarakan. Baru2 ini saya baca dimilis, kalau ada seorang anak petani menang "senam otak" olimpiade matematika. Mulai saya pikir2 dan mengkaitkan anak desa ini yang jadi juara matematika dengan ungkapan bapak yang aku temui di restoran itu. Pikir2 bagaimana masa depannya anak desa ini, yang pegang juara matematika? Apakah dia nantinya dapat pekerjaan yang memadai sesuai dengan statusnya sebagai seorang genius. Berapa bayarannya nanti bila seandainya bocah ini dapat pekerjaan di kemudian hari. Apakah dia akan bisa menyumbangkan kepinterannya bagi kemajuan tehnologi di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu aku membaca bahwa banyak scientist terutama dari China dan India yang bekerja di Amerika balik ke negara asal usulnya. Apakah mereka ini didorong oleh sikap seorang nasionalis yang harus dikedepankan ketimbang keuntungan materi yang mereka dapat dengan kerja di Amerika? Ternyata tidak begitu realitanya. Mereka para scientist ini selain memang punya kecintaan terhadap negara asal usulnya tapi yang lebih penting dan jadi pertimbangan mereka untuk balik kampung yalah mereka disediakan tempat kerja yang sesuai dengan bakatnya dan mendapat imbalan materi yang kecukupan. Mereka yang balik kampung banyak yang achirnya kerja di bidang R&D, dan dapat bayaran yang cukup. Lalu bagaimana dengan cendikiawan2 dan para scientist dari Indonesia yang sempat dan bekerja di LN? Apa , misalnya mereka ini bersedia balik apakah mereka akan terpikat dengan ungkapan, lebih tepat aku katakan obrolan amburadulnya bapak di restoran itu yang cuap2: .....negara kita itu kaya raya bung! Jadi menurut dia si bapak yang suka ngomong tanpa pikir ini, yang perlu itu nasionalisme....soal hidup kecukupan sesuai dengan jerih payah seseorang menimba ilmu itu adalah soal nomor dua. Pokok-e jadi nasionalis dulu, soal bisa makan atau bisa menghidupi pamili/keluarga itu urusan sekunder. Siapa yang mau menjelajahi cara gladrah kayak begini? Aku perlu tanyakan kepada sampeyan2 di milis ini, apa ada tuh seorang yang begitu nasionalis, tanpa memikirkan kehidupan masa depan istri anak pinaknya? Harry Adinegara
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hedgont/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123922442/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">What would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer in the arts today at Network for Good</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
