Saya pikir, ada yang aneh dengan pola pikir orang Indonesia secara mainstream:

1. Mereka berpikir sesuai keyakinannya yang tidak mau berubah, dari 
keyakinannya yang tidak mau berubah tsb, mereka lantas mencari 
pembenaran-pembenaran untuk menguatkan ke-absurd-an keyakinannya....

prinsipnya, orang Indonesia secara mainstream tidak mau merubah keyakinannya 
meski fakta dan data menyatakan hal yang ...berbeda dengan keyakinannya,

ini tidak beda dengan cara berpikir seorang charlatan...

lain dengan ilmu logika...

berpikir berdasarkan data dan fakta, dan apabila ada perubahan data dan fakta 
maka pola pikir dan keyakinannya ikut berubah pula...

ie: kemaren saya baca di blog,

statemen sbb:

orang yang tanggung mendalami sains maka akan menjadi atheis, namun orang yang 
dalam mendalami sains maka akan percaya tuhan

statemen diatas tanpa disertai data dan fakta...

+++

akan saya tunjukan bagaimana saya berpikir:
Data dan Fakta
Albert Einstein, Richard Feynman, Stephen Hawking, Richard Dawkins, Carl Sagan, 
Peter Higgs, Alexandrovich Friedman, Alexander Oparin, dlsb...dan fisikawan 
ataupun ilmuwan kelas kakap mayoritas atheis...

dari data dan fakta tsb lalu saya pelajari bagaimana mereka berpikir, dan 
memandang universe (weltanschauung)

dari situlah saya mengerti pola pikir mereka yang atheis...

+++
Ini perbedaan krusial, antara berpikir berangkat dari keyakinan dan pada 
prinsipnya tidak mau mengubah keyakinan, dan hanya sibuk mencari 
pembenaran-pembenaran thd keyakinannya...

dan antara berpikir berbasis data dan fakta, ketika kita berpikir berbasis data 
dan fakta, maka ketika data dan fakta berubah-pun pemikiran kita ikut berubah, 
termasuk revolusi fundamental di bidang fisika di CERN LHC 4 july 2012, 
menunjukan data dan fakta baru yang mengubah pola pikir bagi kaum yang selalu 
berpikir berbasiskan data dan fakta

*****

Setiap pola pikir, atau grondslag philosophy bagai pedang bermata dua, punya 
kelebihan dan kelemahan, mengandung banyak manfaat positive dan sekaligus punya 
potensi destruktive...

saya cukup bisa mengurai banyak kelemahan grondslag philosophy atheis, saya 
tahu itu...

namun apakah seseorang yang beragama bisa tahu kelemahan apa jika mereka 
menjadi seorang yang percaya kepada Tuhan?

apakah percaya kepada Tuhan tidak mempunyai implikasi negatif/buruk 
sedikitpun????

Jika kita menjadi atheis, maka kita punya kelebihan dan kelemahan dari 
grondslag philosophy tsb, dan apakah jika kita percaya kepada tuhan maka cara 
berpikir kita tidak punya kelemahan sama sekali???

22 july 12

>ws



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke