http://www.analisadaily.com/news/read/2012/07/28/65492/hari_tengah_menguji_kepekaan_presiden_sby/#.UBUhE6PDMeU
Sabtu, 28 Jul 2012 00:02 WIB
Hari Tengah Menguji Kepekaan Presiden SBY
Oleh : Darwin Putra Sitepu. 

Kecewa. Mungkin itulah yang tengah dirasakan warga korban lumpur Lapindo yang 
berada di kawasan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Terhitung sejak semburan 
pertama terjadi hingga saat ini, kondisi mereka, warga korban lumpur Lapindo 
masih dihantui ketidakpastian. Hal ini berangkat dari kecenderungan lemahnya 
pemerintah dalam menanggapi berbagai tuntutan dan aksi warga korban lumpur 
Lapindo dalam memperoleh keadilan.
Aksi tutup jalan sering kali terjadi di kawasan Porong dengan sengaja dilakukan 
warga korban lumpur Lapindo sebagai aksi kekecewaan mendalam. Namun yang di 
dapat hanya kerugian semata, tanpa ada respon positif dari pihak berwenang, 
pemerintah setempat. Media sebagai corong keadilan juga telah berulang kali 
menunjukkan fakta bahwa warga Porong tengah kesulitan. Namun tetap saja masih 
dianggap hal biasa saja di negeri ini. Bagaimana tidak, kemiskinan saja 
dianggap kesalahan rakyatnya yang malas. Bukankah itu aneh.

Sejak tempat tinggal dan lapangan kerja, telah tiada. Sejak itu juga 
perekonomian rumah tangga sebagian besar warga korban lumpur Lapindo kian 
terpuruk. Hal ini diperparah lagi dengan adanya pola ganti rugi yang cenderung 
dipolitisir. Kecenderungan itu tampak jelas dengan lambat dan lemahnya 
penyelesaian ganti rugi yang tidak seberapa dibandingkan kerusakan yang didera 
warga sekitar kawasan lumpur Lapindo. 

Hari Suwardi: Pencari Keadilan

Dipenuhi dengan rasa kecewa, dengan sedikit harapan muncullah lelaki paruh 
baya, Hari Suwardi, bak superman tengah disorot banyak media. Hari Suwardi 
sebagai salah seorang warga korban lumpur Lapindo seketika menjadi patriot 
berdaya ledak semangat juang beramunisi uang seadanya, memberanikan diri 
bersama rekannya melintasi jalanan menuju titik sentral terpenting di Jakarta, 
Istana Negara. 

Perjuangan Hari Suwardi, korban lumpur Lapindo, masih berlanjut. Hari yang 
berniat mengadu ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya tiba di Jakarta 
setelah berjalan kaki selama 25 hari dari Porong, Sidoarjo. Hari tiba di 
Jakarta pagi tadi, Minggu (8/7/2012), sekira pukul 09.00 WIB. Dia langsung 
menuju Kantor Kontras di Jalan Borobudur, Cikini, Jakarta Pusat. Dengan 
ditemani Harto Wiyono (42) yang mengawal Hari dengan membawa motor, Hari 
menuntut pada pemerintah untuk segera menyelesaikan kasus lumpur Lapindo yang 
menurutnya pembayarannya masih kurang sekira Rp1 triliun. "Secepatnya 
pemerintah harus menyelesaikan permasalahan di Sidoarjo ini, saya tidak akan 
menyebutkan aset saya berapa yang paling penting semua warga disana harus 
segera menyelesaikan pembayaran," ungkapnya saat berbincang dengan Okezone 
salah satu media yang terus mengikuti aksinya.

Berbekal uang seadanya, Hari mampu mencapai Jakarta bermodalkan doa dan 
kegigihan tengah mendatangi wakil rakyat di Senayan. Setibanya disana, Hari 
langsung menemui salah seorang anggota DPR untuk memenuhi permintaannya untuk 
dipertemukan dengan Presiden SBY. Ditimpal dengan dukungan dari DPR, melalui 
Fraksi PKS tidak ketinggalan membumingkan di media dengan harapan dan keinginan 
Hari Suwardi untuk bertemu orang nomor satu di republik ini. 

Berikut pernyataan salah seorang anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, 
Indra, meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai 
Golkar, Aburizal Bakrie, mau menemui Hari Suwardi, warga Porong, korban lumpur 
Lapindo Sidoarjo yang melakukan aksi jalan kaki Sidoarjo-Jakarta. "Saya yakin 
sebagai negarawan Pak SBY selaku Presiden dan Pak Ical selaku tokoh besar di 
negeri ini memiliki kelembutan hati, kepekaan, dan kepedulian yang besar atas 
persoalan anak bangsa yang terzalimi," kata Indra, kepada wartawan di DPR, 
Jakarta, Senin (9/7/2012).

Belum lama sejak kedatangan Hari, salah satu kejadian yang tidak kalah penting 
saat penulis buku berjudul "Lapindo File": Konspirasi SBY-Bakrie?" diterbitkan, 
seketika itu juga penulis Ali Azhar Akbar menghilang bagaikan angin lalu. Penuh 
misteri. Kondisi yang begitu mengkhawatirkan tersebut tengah diperhadapkan pada 
orang-orang pencari keadilan. Pihak berwenang, polisi juga hingga kini 
kesulitan mendapatkan jejaknya. Seakan aroma politisi begitu kental terjadi. 

Kategori kasus lumpur Lapindo yang telah disetujui oleh pemerintah sebagai 
bencana alam, sebenarnya masih menuai kontroversi. Bagaimana tidak, keluarnya 
lumpur Lapindo tidak dapat disamakan dengan kejadian alami seperti gunung 
berapi. Melainkan sejak PT Minarak Lapindo melakukan aktivitas perusahaannya di 
kawasan tersebut. Dari sudut pandang latar belakang semburan lumpur muncul 
sejak aktivitas PT Minarak Lapindo mulai melakukan kesalahan. Hal ini 
ditengarai akibat pipa bawah tanah yang dipasang tidak sepenuhnya dapat 
terjamin. 

Bagaimana pun logika bermain, terang saja kesalahan manusia itu telah 
dikesampingkan sejak diputuskan oleh Mahkamah Agung sebagai bencana alam, dan 
dimenangkan pihak perusahaan PT Minarak Lapindo. Ntah, bagaimana caranya itu 
bisa dimenangkan. Alhasil hari ini, pemerintah harus menyisihkan APBN-nya untuk 
membiayai ganti rugi atas kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal warga korban 
lumpur Lapindo. Sebuah tanggung jawab yang tidak semestinya. Walaupun tak 
dimungkiri bahwa perusahaan milik Group Bakrie yang juga menangani kasus 
pembiayaan ganti rugi korban Lapindo masih ikut dan didapati tebang pilih.

Pernyataan jelas, tegas, dan padat dilontarkan Hari Suwardi ketika diwawancarai 
beberapa media. Salah satunya menyatakan bahwa pola ganti rugi yang wajib 
didapatkan warga korban lumpur Lapindo hingga kini belum juga terpenuhi. 
Sedangkan kondisi warga korban masih terpuruk. Dengan mantapnya, Hari tidak 
enggan menyambung perkataannya dengan meminta orang nomor satu di republik ini 
untuk segera memberikan keadilan. Hari menganggap tinggal salah seorang 
negarawan yang tinggal di Istana Negara inilah yang dapat sedikit membukakan 
secercah harapan di hatinya.

Penutup

Belakangan hari, ternyata Hari Suwardi bersama rekannya masih menunggu respon 
dan panggilan yang kian hari semakin tidak memberikan kepastian. Seakan upaya 
dan kegigihannya tidak dibayar dengan kesudahan yang selayaknya, sebuah 
pertemuan saja dengan Presiden SBY. Harapan itu pun semakin sirna. Kondisi 
memaksanya untuk memendam rasa kecewa sedalam-dalamnya atas kesibukan yang 
super tengah dijalani seorang Presiden negeri ini. 

Forum Internasional bidang ekonomi seperti IMF, akhir-akhir ini semakin 
mendesak Presiden SBY untuk mendorong dan memastikan kedudukan negara Indonesia 
masih dalam tataran perekonomian aman dan terkendali. Belum lagi, tuntutan MDGs 
semakin menjadi-jadi sejak waktu kepemimpinannya semakin dekat dengan akhir 
masa kerjanya. Berangkat dari kesibukan luar biasa itu, pertemuan dengan 
Presiden akhirnya sirna begitu saja. Walaupun tidak ada respon langsung yang 
Hari dapatkan dari Juru bicara ataupun menterinya. 

Menutup aksinya, Hari Suwardi meminta DPR untuk semakin proaktif dengan kondisi 
warga lumpur Lapindo, yang tidak lain adalah rakyat Indonesia juga. Hari 
mengharapkan suatu saat keadilan itu benar-benar diwujudkan tidak dengan 
janji-janji kosong di saat pemilu saja. Dibutuhkan pemimpin yang cinta pada 
rakyatnya. Sehingga di kemudian hari para pencari keadilan tidak disepelekan 
begitu saja. 

Hemat penulis, sebagaimana orang bijak katakan bahwa pemimpin itu dapat dilihat 
sejauh mana kepekaan pemimpin itu terhadap kondisi rakyatnya, hal tersebut 
terpatri sebagai wujud pemimpin amanah. Menjadi fakta pemimpin amanah tersebut 
tengah sulit ditemui. Semoga tekad Hari Suwardi juga dapat menjadi pelajaran 
berharga bagi pemimpin di kemudian hari.***

Penulis adalah Mahasiswa Unimed, Ikhwan di Pondokan Ar-Rahman, UKMI-Unimed

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke