MEDIA INDONESIA
Rabu, 24 Agustus 2005


Nasib Indonesia di Tangan Pengiklan!
Effendi Gazali, Direktur Salemba School, Institute for Media dan Campaign 
Literacy, Jakarta



TIDAK mengherankan kenapa nilai ujian akhir nasional (UAN) siswa-siswi kita 
sekarang hancur-hancuran. Salah satu faktor yang pantas diperhitungkan dalam 
fenomena itu adalah hilangnya prinsip-prinsip logika pada tayangan-tayangan 
televisi kita dewasa ini. Untuk mengambil satu contoh yang kasatmata, sebutlah 
berbagai kompetisi untuk menjadi artis atau bintang terkenal, yang umumnya 
menghadirkan juri, pencela, atau pemberi komentar (dan berbagai istilah 
lainnya).

Dalam acara tersebut para juri menganalisis secara tajam dan memberi komentar 
dari berbagai aspek, serta memuji atau mengkritik para peserta. Tapi, 
sesungguhnya para juri tersebut adalah makhluk Tuhan yang pantas dikasihani. 
Apa pun komentar mereka, bisa menjadi tidak ada artinya kalau saja peserta 
mampu mengundang secara spontan atau juga mengerahkan teman serta handai 
tolannya mengirimkan SMS dukungan. Singkatnya, yang jelek bisa bertahan, yang 
dipuji-puji pun bisa tereliminasi.

Sesungguhnya, jika kita mau berpikir jernih, yang tereliminasi di situ adalah 
proses pendidikan, sesuatu yang biasanya terdapat di ruang kelas, namun bisa 
juga dibawa ke forum lain berupa media televisi. Pengumuman SMS itulah yang 
kemudian ditunggu dengan suasana (dibuat) sedemikian rupa, berdebar-debar, 
berlinang air mata, dan telanjur terkenal sebagai reality show.

Posisi pengiklan

Pertanyaan selanjutnya, kapankah nasib atau masa depan suatu bangsa bisa lebih 
menjanjikan? Jawabannya ternyata tidak hanya bergantung pada fundamental sistem 
ekonomi dan politik yang sedang berlangsung. Dalam konteks yang lebih spesifik, 
saya memilih jawaban Mullan (Consuming Television, 1997) yang secara tidak 
langsung menunjuk pada suatu keadaan di mana advertisers have shown themselves 
reluctant to be associated with 'undesirable' programming, even if such 
programmes deliver substantial audiences.

Kenapa kita perlu mulai memerhatikan secara khusus sepak terjang para pengiklan 
di layar televisi? Pertama, ini adalah suatu pendekatan yang relatif baru di 
tanah air. Biasanya berbagai persoalan di televisi kita langsung dikaitkan 
dengan pemilik modal, manajemen, divisi pemasaran, insan kreator dan produser, 
serta jurnalis berikut editor di dalam stasiun TV. Padahal dalam bisnis media, 
pengiklan pada dasarnya adalah 'raja'. Jika 'Sang Raja' tidak mau menempatkan 
iklan di acara-acara mereka, itu adalah awal kiamat bagi sebuah stasiun TV.

Kedua, berdasar insting, pengiklan pasti harus meraih pemirsa 
sebanyak-banyaknya dengan hanya mengeluarkan biaya serendah-rendahnya 
(Fairclough, 1995). Untuk itu dalam kolaborasi dengan stasiun-stasiun TV, 
mereka akan gampang tergoda untuk hanya mengekspos bagian paling mudah dari 
unsur-unsur klasik penarik pemirsa, yakni: konflik/kekerasan, seks dan 
kriminalitas, politik, mistik, musik dan tarian, serta juga humor.

Ketiga, setelah kedua langkah tadi, mereka umumnya akan bersiap-siap mengajukan 
soal selera pemirsa sebagai alasan. Kira-kira justifikasi yang sering diberikan 
adalah: ''Memang masyarakat kita maunya begitu!'' Atau sederhananya, mereka 
barangkali ingin menyatakan bahwa masyarakat kita 'belum cerdas'. Untuk lebih 
lengkapnya, kadang kala publik dinyatakan sebagai 'orang-orang yang sangat 
tertekan oleh beban ekonomi serta obrolan para elite yang membosankan dan tidak 
mereka mengerti'. Karena itu, pemirsa 'ingin mencari sesuatu yang gampangan' ; 
atau juga 'memang selera masyarakat masih rendah'!

Keempat, jumlah uang yang dihabiskan pengiklan di TV (yang secara tidak 
langsung dapat membentuk selera bangsa ini) tidak tanggung-tanggung, rata-rata 
di atas 60% dari belanja iklan tahunan Indonesia. Sisanya baru dibagi-bagi ke 
media lain.

Kini andaikanlah, ada satu stasiun TV yang ingin ke luar sendiri dari pakem 
rating (pemeringkatan program dan jumlah pemirsa) pada jam-jam tertentu, dan 
sebagai ganti membuat sebuah acara baru yang dianggap mencerdaskan publik. Apa 
yang akan terjadi? Umumnya jika upaya keluar dari pakem ini tidak diikuti oleh 
dukungan pengiklan secara konsisten dalam jangka panjang, maka ia akan mati 
konyol sebagai 'martir tanpa tanda jasa'. Pendek kata, Kellner (1990) 
menggambarkan fenomena ini sebagai the logic of accumulation and exclusion. 
Logika ini mesti terlihat sebagai sesuatu yang 'alami, wajar, dan sudah 
seharusnya demikian'.

Ini pulalah yang menjelaskan kenapa terjadi gerakan 'program latah' di berbagai 
stasiun TV kita. Kalau yang satu Digoyang Abis, yang lain Digoyang Pesisir, 
lainnya Digoyang Bandung; atau jenis Buru-Sergap, Patroli, Sidik, Tikam, dan 
sebagainya. Belum lagi infotainment yang hadir sejak kita bangun tidur hingga 
hampir tengah malam.

Media literacy pengiklan

Mungkinkah apa yang digambarkan Mullan sebagai penolakan oleh pengiklan 
terhadap program-program yang dianggap tidak sejalan dengan pencerdasan bangsa 
dapat terjadi? Bisa, jika para pengiklan kita, meliputi secara komprehensif: 
para pemilik industri produk ataupun jasa, mereka yang bekerja di bagian 
marketing dan promosi industri tersebut, pemilik dan insan-insan perusahaan 
periklanan telah memiliki tingkat media literacy (kecakapan bermedia) yang 
lebih baik!

Terdapat beberapa poin pokok dalam kecerdasan bermedia para pengiklan. Satu, 
kesadaran bahwa sekalipun justifikasi (asumsi) mereka tentang selera masyarakat 
barangkali benar, namun mereka tetap memiliki kewajiban untuk mencerdaskan 
masyarakat. Intinya: orang yang kurang cerdas kok malah diberikan sajian yang 
tidak mencerdaskan! Terlebih-lebih, jika ternyata asumsi mereka keliru. Artinya 
apa yang dianggap sebagai 'selera masyarakat' ternyata semata terakumulasi 
karena publik tidak memiliki alternatif program lain.

Dua, para pengiklan setidaknya mulai memikirkan bahwa keadaan yang makin buruk, 
tidak hanya akan menimpa masyarakat yang jauh di luar lingkaran hidup mereka, 
tapi juga mereka sendiri. Entah dalam bentuk kekerasan di lampu-lampu merah 
ketika mereka sedang menyetir, atau gaya hidup amat bebas di antara remaja yang 
diam-diam masuk ke rumah mereka. Tentu, segera bisa muncul perdebatan bahwa 
dampak televisi tidak bersifat langsung ke perubahan tingkah laku (copy cat 
phenomenon). Memang ada beberapa studi kasus yang tidak menunjukkan pengaruh 
langsung secara signifikan, namun paradigma bahwa media massa powerful dan 
pengaruhnya terjadi melalui suatu proses, masih diyakini secara luas di 
kalangan peneliti komunikasi pada periode ini. Apalagi hal tersebut harus 
diletakkan dalam konteks bangsa Indonesia yang sedang mencari-cari sistem 
politik, ekonomi, pendidikan, dan media yang lebih baik disertai akumulasi 
kekecewaan akan perbaikan riil yang belum kunjung datang.

Akhirnya tulisan ini harus ditutup dengan mengatakan, mestinya para pengiklan 
merasa bangga (dan karenanya sekaligus memegang tanggung jawab besar) 
diletakkan sebagai pihak yang menentukan wajah televisi kita di masa depan; dan 
secara tidak langsung di antara pemerhati komunikasi, dipercaya ikut menentukan 
masa depan bangsa ini. Bentuk riilnya adalah membaca nurani dan menunjukkan 
sikap untuk mendukung program-program yang sekarang mungkin terlihat sedikit 
pemirsanya, namun lambat laun bisa masuk dalam kebiasaan menonton khalayak. 
Contoh konkretnya seperti beberapa program dialog dan edutainment yang terdapat 
di Metro TV dan berbagai stasiun TV lain, yang mungkin tidak akan pernah eksis 
atau hanya bertahan dua atau tiga episode tanpa dukungan pengiklan.***

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hc4ke2v/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1124848274/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke