http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=441
Nasionalisme Yang Kian Layu
Oleh Hasrul Piliang
By adminpadek
Selasa, 23-Agustus-2005, 13:00:30
Sulit untuk ditepis, adanya anggapan selama ini, kita tidak peduli
dengan internalisasi paham nasionalisme kepada Warga Negara. Dewasa ini, hampir
tidak terlihat sama sekali upaya-upaya nyata dan terukur yang telah kita
lakukan untuk mempertebal rasa nasionalisme.
Sementara prilaku ketauladanan yang diharapkan dari anak-anak bangsa yang
terpilih untuk mengurus negeri ini, semakin menjadi barang yang langka di
tengah prilaku aji mumpung yang mengenaskan.
Prilaku aji mumpung tersebut telah menjadi kuman yang menggerogoti
nasionalisme, dan sementara itu, sebagian kita menganggap seolah-olah
nasionalisme (Ke-Indonesia-an) sudah menjadi sesuatu yang sudah final. Ia
seakan telah selesai ketika Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di
Proklamirkan.
Pada hal, penanaman paham nasionalisme kepada Warga Negara tidak akan
pernah mengenal kata selesai. Saban waktu, sampai kapanpun, Ia menghendaki
proses pemupukan dan pemeliharaan. Dalam proses pemupukan dan pemeliharaan
selama 60 tahun yang kurang terurus. Kini Nasionalisme kita kian layu, kering
dan gersang.
Mencermati lebih seksama lagi, tentang dinamika dan pasang surut rasa
nasionalisme berbangsa dan bernegara kita pada hari ini. Kelihatanlah, dari
hari ke hari, kita hidup dalam sebuah kecenderungan yang memprihatinkan. Rasa
nasionalisme, yang bagi para pejuang dan para pendahulu kita, telah menjadi
spirit monumental "Merdeka atau Mati". Kini, pada sebagian kita, spirit
nasionalisme itu telah menjadi sekedar simbol-simbol retorik belaka.
Sekedar contoh, pada hari ini, kita semakin dibuai oleh arus utama jaman
yang mengagungkan liberalisme dan individualisme. Sebagian kita tengah bergerak
ke arah nilai, dan struktur peradaban yang belum tentu terbaik untuk kita. Kita
cenderung terperangkap ke dalam pemuliaan nilai orang lain, dan terjebak ke
dalam lobang kelam mitos di mana Demokrasi, adalah kebebasan tanpa nilai,
perasaan dan lebih menyedihkan lagi, sebagian kita telah menerjemahkan
demokrasi sebagai sebuah cara untuk keluar dari aturan-aturan hukum yang
berlaku.
Dan Kita menjadi lupa, bahwa sesungguhnya Demokrasi itu adalah Kebebasan
yang dimiliki seseorang, sekelompok orang yang bertujuan pula untuk menjamin
terjadi pula kebebasan bagi orang lain, bagi kelompok lain dan kebebasan pula
bagi semua masyarakat. Kebebasan seseorang atau sekelompok orang, tetapi
berakibat kepada pembelengguan kebebasan seseorang, sekelompok orang atau
terjadinya pembelengguan kebebasan semua masyarakat. Itu pasti bukan Demokrasi,
itu Demograzy. Yakni pementasan sebuah kebiadaban. Dan semua ini, secara
pelan-pelan, kecenderungan-kecenderungan yang kurang menguntungkan itu, akan
semakin meluas, dan menjadi tanah kering, bagi persemaian rasa Nasionalisme
yang semakin tumbuh gersang.
Maka sangat pada tempatnyalah, peringatan Hari Kemerdekaan Republik
Indonesia yang baru saja kita rayakan, kita tangkap spiritnya dan kita jadikan
momentum, untuk kembali kepada jati diri, dan nilai-nilai luhur Pancasila.
Sejarah telah menoreh bukti dan kita wajib berkeyakinan, hanya di atas
nilai-nilai luhur seperti itulah, yaitu nilai ber-Ketuhanan, ber-Kemanusiaan,
ber-Persatuan, ber-Kerakyatan dan ber-Keadilan social dalam setiap kebijakan
dan tindakan. Di atas nilai itulah Bangsa Kita akan hidup dalam kemakmuran dan
keadilan.
Untuk mencapai kemakmuran dan keadilan bagi semua anak Bangsa, lalu kita
mencarinya di atas nilai lain dan melihat jalan diluar nilai-nilai luhur, maka
sesungguhnya kita tengah terpedaya, dalam pesona fotamargana di padang pasir
yang tandus. Sekali lagi, dalam suasana Agustus yang bersejarah ini, sejampang
jalan panjang kekeliruan dan kealpaan yang kita tempuh belum terlalu jauh, dan
titik awal di mana kita berangkat masih bisa kita ingat dengan baik.
Marilah kita tengok dan lalu kita maknai. Bahwa nasionalisme yang tangguh
dan meng-hati sanubari, adalah prasyarat bagi kejayaan sebuah Bangsa. Sejarah
membuktikan, Negara-Negara maju dewasa ini, adalah karena mementingkan
pembangunan, pemupukan dan pemeliharaan Nasionalisme , sama pentingnya dengan
pembangunan, pemupukan dan pemeliharaan pembangunan fisik lainnya.
*Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Padang.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12he28co4/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1124848382/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">What
would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/