Respon atas runtuhnya Turki Usmani di Hindia Belanda (Indonesia) Sebagai respon terhadap keruntuhan khilafah sebuah komite didirikan di Surabaya pada tanggal 4 Oktober 1924 diketuai oleh Wondosoedirdjo (kemudian dikenal sebagai Wondoamiseno) dari Sarekat Islam dan wakil ketua KHA. Wahab Hasbullah. Tujuannya untuk membahas undangan kongres khilafah di Kairo [12]. Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan menyelenggarakan Kongres Al-Islam Hindia III di Surabaya pada tanggal 24-27 Desember 1924, yang diikuti 68 organisasi Islam yang mewakili pimpinan pusat (hoofdbestuur) maupun cabang (afdeling), serta mendapat dukungan tertulis dari 10 cabang organisasi lainnya. Kongres ini juga dihadiri oleh banyak ulama dari seluruh penjuru Hindia Belanda. Keputusan penting kongres ini adalah melibatkan diri dalam pergerakan khilafah dan mengirimkan utusan yang harus dianggap sebagai wakil umat Islam Indonesia ke kongres dunia Islam[13]. Kongres ini memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Kairo yang terdiri dari Suryopranoto (SI), Haji Fakhruddin (Muhammadiyah) dan KHA. Wahab dari kalangan tradisi [14].
Karena ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, KHA. Wahab dan 3 penyokongnya mengadakan rapat dengan kalangan ulama senior dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Mereka sempat mendirikan Komite Merembuk Hijaz. Komite ini dibangun dengan 2 maksud, yakni mengimbangi Komite Khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ke kalangan pembaharu, dan menyerukan kepada Ibnu Sa'ud], penguasa baru di Arab Saudi agar kebiasaan beragama yang benar dapat diteruskan [15]. Komite inilah yang diubah namanya menjadi Nahdlatul Ulama pada suatu rapat di Surabaya tanggal 31 Januari 1926. Rapat ini tetap menempatkan masalah Hijaz sebagai persoalan utama[16]. Pada tahun yang sama diselenggarakan Muktamar Alam Islamy Far'ul Hindias Syarqiyah (MAIFHS, Konferensi Dunia Islam Cabang Hindia Timur) di Bogor, sebagai respon atas undangan Kongres Islam Sedunia yang diselenggarakan Ibnu Saud dari Arab Saudi[17]. Pada tanggal 13-19 Mei 1926, diadakan Kongres Dunia Islam di Kairo. Dari Hindia Belanda hadirlah H. Abdullah Ahmad dan H. Rasul. Di bulan berikutnya (1 Juni 1926) diselenggarakan Kongres Khilafah di Makkah. Saat itu Indonesia mengirimkan 2 utusan, yakni Tjokroaminoto (Central Sarekat Islam) dan K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah). Penunjukan mereka ditetapkan pada Kongres Al-Islam IV di Yogyakarta (21-27 Agustus 1925) dan V di Bandung (6 Februari 1926). Mereka berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya dengan kapal Rondo dan dielu-elukan masyarakat. Sesampai di Tanjung Priok banyak pemimpin Islam yang menyambut ke pelabuhan. Pada tahun 1927 berlangsung Kongres Khilafah II di Makkah. Hindia-Belanda diwakili oleh H. Agus Salim (SI). ________________________________ From: ajeg <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, August 8, 2012 3:12 PM Subject: Re: [proletar] HTI dan Ormas Islam akan Gelar Aksi Besar untuk Rohingya Yeah, itu karena voting dijadikan tumpuan utama demokrasi. Tak peduli berapa besar jumlahnya di tengah masyarakat, asal bisa jadi juara dalam pemungutan suara maka the winner takes all. Di sisi lain, di Indonesia, HTI semakin gencar menggemborkan penegakan sistem kekhalifahan, yang konyolnya (seperti disebut di bawah), nggak apa-apa si khalifah melakukan dosa selama pelantikannya melafazkan kalimat-kalimat tauhid. Tambah cilaka lagi, kekhalifahan yang mereka idamkan bukanlah model khulafaur rasyidin yang dijalankan 4-khalifah sesudah Muhammad, melainkan kekhalifahan Ustmani yang sudah bangkrut di Turki tapi mau dibangkitkan di Indonesia. --- Musik hari Ini <musikhariini@...> wrote: > Democracy is like a casino, everyone has a chance of winning... > > 1% of people is rich (''winners''), 99% of people are poor > (''losers'') > > > > From: ajeg <ajegilelu@...> > > > Jadi, mengulang pertanyaan Bung Yanu, apa yang waktu itu > > dilakukan Ahlul Halli wal Aqdi ketika sang pemimpin "berdosa"? > > > > --- Dimas H. Pamungkas <dims_stk36@...> > > > > Mesin itu pada prinsip kerjanya sama kapanpun jg. Yg beda > > bagaimana menjawab kebutuhan terkini. Ada yg mau bunyinya halus > > dll. > > Bangunan sistem yg diturunkan Allah dijamin kesempurnaannya. > > Dimana setiap problematika kehidupan dapat ditemukan solusinya di > > dalam Islam. > > > > Syariat Islam bukan mesin tua. Syariat Islam adalah aturan hidup > > sepanjang masa. Itu tidak bisa/cukup dianalogikan dengan mesin. > > Walaupun sdh lama diturunkan Al Quran tdk hanya mengatur umat > > masa lampau, tapi jg mengatur umat masa kini dan esok hingga bumi > > berakhir. > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > From: ajeg <ajegilelu@...> > > > > > Bukannya Anda sudah mengutip pendapat Imam Suyuthi > > > bahwa keseluruhan prosedur itu berujung pada bentuk > > > kekuasaan monarkhi? > > > > > > Keliatannya, para ulama pada jaman itu memang > > > tidak punya alasan untuk menolak, membatalkan, apalagi > > > memakzulkan pemimpin pilihan mereka sendiri walau sang > > > pilihan ternyata tidak melaksanakan isi sumpah / baiat > > > (Dimas malah menyebutnya "melakukan dosa" -- lucu, > > > berdosa tapi dibiarkan tetap berkuasa hanya lantaran > > > seremoni pelantikannya mengucap lafaz tauhid; miriplah > > > dengan membiarkan SBY berdosa & tetap berkuasa lantaran > > > mengucap sumpah dengan santun :) Sebab, para ulama yang > > > berkedudukan sebagai Ahlul Halli wal Aqdi saat itu > > > memang tidak punya kewenangan lain di luar memilih & > > > mengambil sumpah si pemimpin. > > > > > > Tapi ya begitulah. Namanya juga jaman doeloe. Ahlul > > > Halli wal Aqdi yang sangat modern pada masa itu tentu > > > tidak memadai lagi untuk situasi & kondisi masakini. > > > Meminjam analogi mesin mobil yang perlu diperbaiki terus > > > teknologinya agar sesuai kebutuhan / tuntutan fungsional, > > > maka ikhtiar manusia sejauh ini sudah mencapai apa yang > > > sekarang dikenal sebagai parlemen. > > > > > > Mau mundur lagi ke mesin tua? Monggo. Yang pasti, > > > tingkat kecerdasan masyarakat Indonesia pada jaman ini > > > pastilah menolak jika MPR hanya diisi ketum-ketum partai. > > > Tanpa melalui pemilu dan semata hanya karena menjabat > > > ketum partai. > > > > > > Pendeknya, dari uraian opini tentang sistem kekhalifahan > > > selama ini pada akhirnya toh kelihatan juga bahwa faktor > > > manusialah yang menentukan sistem berjalan baik atau buruk. > > > > > > --- jcmk <justcallme@...> wrote: > > > > > > > bung dimas, > > > > yg Anda tulis dibawah adalah pendapat Anda. > > > > > > > > tapi yg saya penasaran itu sikap para ulama yg hidup di masa > > > > itu. > > > > apa sikap mereka jika "syarat sah" sebagai khilafah (termasuk > > > > prosedur baiat dsb) itu tidak terpenuhi ? > > > > > > > > apakah mereka menerima, setuju, menolak negara itu, pasrah, > > > > abstain atau bagaimana? > > > > > > > > > > > > 2012/8/7 Dimas H. Pamungkas <dims_stk36@...>: > > > > > Pada masa pemerintahan Bani-bani itu... > > > > > Statusnya mereka melakukan dosa dengan mewariskan kekuasaan > > > > > pada anaknya atau saudaranya. > > > > > > > > > > Akan tetapi praktek baiat pengangkatan tetap dilakukan > > > > > dengan lafaz kalimat-kalimat tauhid. Semacam sumpah setia > > > > > menjalankan syariah Islam dst.... Maka barangsiapa yang > > > > > hidup saat itu akan ingat hadits Rasulullah SAW yang > > > > > diriwayatkan oleh Muslim melalui `Auf bin Malik: > > > > > "Sebaik-baik para imam kalian adalah yang kalian mencintai > > > > > mereka dan mereka mencintai kalian, kalian berdoa untuk > > > > > mereka dan mereka berdoa untuk kalian. Dan seburuk-buruk > > > > > para imam kalian adalah yang kalian membenci mereka dan > > > > > mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka > > > > > melaknat kalian." > > > > > Dikatakan: > > > > > "Wahai Rasulullah, tidakkah kami harus memerangi mereka > > > > > dengan pedang?" > > > > > Beliau berkata: "Tidak, selama mereka menegakkan shalat di > > > > > antara kalian. Dan jika kalian melihat dari para pemimpin > > > > > kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah > > > > > perbuatannya itu, dan janganlah kalian melepaskan tangan > > > > > dari ketaatan." > > > > > Para ulama menjelaskan makna menegakkan sholat sebagai > > > > > kinayah (kiasan) dari penegakan agama dan berhukum > > > > > kepadanya. > > > > > Maka dari itu, keberadaan pemerintahan Bani-bani itu adalah > > > > > tetap sah sepanjang akad baiat dilakukan. Dan kaum muslim > > > > > tetap wajib taat kepada khalifah itu sepanjang khalifah > > > > > masih menerapkan hukum-hukum Islam. > > > > > > > > > > Memang ada cacat dalam pemerintahan Bani-bani tersebut, > > > > > tetapi tidak menggugurkan kenyataan mereka tetap bertahkim > > > > > pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Artinya tidak > > > > > bisa menggugurkan kenyataan bahwa mereka adalah khilafah > > > > > Islam, apalagi kita membaca betapa gigihnya mereka > > > > > memperjuangkan dakwah Islam menyebarluaskan Islam ke > > > > > seluruh penjuru dunia (ilal 'alam). > > > > > Namun akankah kita meneladani khalifah yang buruk-buruk itu? > > > > > Tentu tidak. > > > > > Kita harus meneladani yang terbaik pelaksanaannya, yakni > > > > > pada masa Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan > > > > > Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz, Kegigihan muhammad > > > > > Al Fatih, Sulaiman Al Qonuni, dan banyak lagi khalifah yang > > > > > bisa kita teladani. > > > > > > > > > > Melalui penggalian hukum yang mendalam dan jernih memandang > > > > > persoalan kekinian, maka perlu adanya sistemisasi penerapan > > > > > Islam secara utuh dan totalitas (kaaffah). Hukum - hukum > > > > > itu digali dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, Ijma' > > > > > Shahabat dan Qiyas. Dengan modal dasar ke-4 itu para ulama > > > > > hendaknya mampu menjawab berbagai permasalahan terkini > > > > > dimana mereka yakin hanya Islam-lah solusi atas > > > > > permasalahan yang terjadi saat ini. > > > > > > > > > > Salam, > > > > > Dimas > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
