Konteks saat itu lebih ke pencarian pijakan / pegangan 
dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Sementara, 
ide tentang 'Negara Indonesia' waktu itu belum meluas. 

Respon yang wajar mengingat beberapa tahun sebelumnya 
Turki Ustmani dianggap berjasa membantu Sultan Thaha (Jambi) 
untuk melawan Belanda. 

Yang perlu dipelajari adalah kegiatan HTI saat ini. 
Mereka banyak mengangkat isu-isu internasional tetapi
terlalu sedikit bicara masalah-masalah nasional 
seperti korupsi dlsb. Selain itu, mereka terus meninggikan 
kibaran bendera khilafah di saat Negara RI sudah berdiri. 

Keliatan bahwa mereka bukan cuma mau mengoreksi kesalahan 
pemerintah, tapi memang berniat mengganti Republik Indonesia. 
HTI, nama berlabel "franchise" itu mengundang banyak tanya 
yang mereka sendiri kesulitan untuk menjawab. 

--- Musik hari Ini <musikhariini@...> wrote:

> Respon atas runtuhnya Turki Usmani di Hindia Belanda (Indonesia)
> Sebagai respon terhadap keruntuhan khilafah sebuah komite didirikan 
> di Surabaya pada tanggal 4 Oktober 1924 diketuai oleh 
> Wondosoedirdjo (kemudian dikenal sebagai Wondoamiseno) dari Sarekat 
> Islam dan wakil ketua KHA. Wahab Hasbullah. Tujuannya untuk 
> membahas undangan kongres khilafah di Kairo [12]. Pertemuan ini 
> ditindaklanjuti dengan menyelenggarakan Kongres Al-Islam Hindia III 
> di Surabaya pada tanggal 24-27 Desember 1924, yang diikuti 68 
> organisasi Islam yang mewakili pimpinan pusat (hoofdbestuur) maupun 
> cabang (afdeling), serta mendapat dukungan tertulis dari 10 cabang 
> organisasi lainnya. 
> Kongres ini juga dihadiri oleh banyak ulama dari seluruh penjuru 
> Hindia Belanda. Keputusan penting kongres ini adalah melibatkan 
> diri dalam pergerakan khilafah dan mengirimkan utusan yang harus 
> dianggap sebagai wakil umat Islam Indonesia ke kongres dunia 
> Islam[13]. Kongres ini memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke 
> Kairo yang terdiri dari Suryopranoto (SI), Haji Fakhruddin 
> (Muhammadiyah) dan KHA. Wahab dari kalangan tradisi [14].
> 
> Karena ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, KHA. 
> Wahab dan 3 penyokongnya mengadakan rapat dengan kalangan ulama 
> senior dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Mereka 
> sempat mendirikan Komite Merembuk Hijaz. Komite ini dibangun 
> dengan 2 maksud, yakni mengimbangi Komite Khilafat yang secara 
> berangsur-angsur jatuh ke kalangan pembaharu, dan menyerukan kepada 
> Ibnu Sa'ud], penguasa baru di Arab Saudi agar kebiasaan beragama 
> yang benar dapat diteruskan [15]. Komite inilah yang diubah namanya 
> menjadi Nahdlatul Ulama pada suatu rapat di Surabaya tanggal 31 
> Januari 1926. Rapat ini tetap menempatkan masalah Hijaz sebagai 
> persoalan utama[16].
> Pada tahun yang sama diselenggarakan Muktamar Alam Islamy Far'ul 
> Hindias Syarqiyah (MAIFHS, Konferensi Dunia Islam Cabang Hindia 
> Timur) di Bogor, sebagai respon atas undangan Kongres Islam Sedunia 
> yang diselenggarakan Ibnu Saud dari Arab Saudi[17]. Pada tanggal 
> 13-19 Mei 1926, diadakan Kongres Dunia Islam di Kairo. Dari Hindia 
> Belanda hadirlah H. Abdullah Ahmad dan H. Rasul. Di bulan 
> berikutnya (1 Juni 1926) diselenggarakan Kongres Khilafah di 
> Makkah. Saat itu Indonesia mengirimkan 2 utusan, yakni 
> Tjokroaminoto (Central Sarekat Islam) dan K.H. Mas Mansur 
> (Muhammadiyah). Penunjukan mereka ditetapkan pada Kongres Al-Islam 
> IV di Yogyakarta (21-27 Agustus 1925) dan V di Bandung (6 Februari 
> 1926). Mereka berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya dengan kapal 
> Rondo dan dielu-elukan masyarakat. Sesampai di Tanjung Priok banyak 
> pemimpin Islam yang menyambut ke pelabuhan.
> Pada tahun 1927 berlangsung Kongres Khilafah II di Makkah. Hindia-
> Belanda diwakili oleh H. Agus Salim (SI).
> 
> 
>
> From: ajeg <ajegilelu@...>
> 
> > Yeah, itu karena voting dijadikan tumpuan utama 
> > demokrasi. Tak peduli berapa besar jumlahnya 
> > di tengah masyarakat, asal bisa jadi juara dalam 
> > pemungutan suara maka the winner takes all. 
> >
> > Di sisi lain, di Indonesia, HTI semakin gencar 
> > menggemborkan penegakan sistem kekhalifahan, yang 
> > konyolnya (seperti disebut di bawah), nggak apa-apa 
> > si khalifah melakukan dosa selama pelantikannya 
> > melafazkan kalimat-kalimat tauhid. 
> > 
> > Tambah cilaka lagi, kekhalifahan yang mereka idamkan 
> > bukanlah model khulafaur rasyidin yang dijalankan 
> > 4-khalifah sesudah Muhammad, melainkan kekhalifahan 
> > Ustmani yang sudah bangkrut di Turki tapi mau 
> > dibangkitkan di Indonesia. 
> > 
> > --- Musik hari Ini <musikhariini@...> wrote: 
> > 
> > > Democracy is like a casino, everyone has a chance of winning...
> > > 
> > > 1% of people is rich (''winners''), 99% of people are poor 
> > > (''losers'')
> > > 
> > 





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke