Dha tutu mengirim di "Jaringan ateis Minang" tulisan yang sama di website 
lain...

Website lain yang memuat tulisan yang sama.. 
http://www.rumahfiqih.com/ust/e2.php?id=1136972813&title=foto-paspor-tanpa-jilbab

Foto Paspor Tanpa Jilbab

Pertanyaan

Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz, saya gundah sekali. Suami saya saat ini sedang menempuh kuliah di 
negara lain, kami sudah terpisah dalam jangka waktu yang lama. Saya belum bisa 
menyertai karena saya seorang pegawai negeri juga. Saat ini saya ditugaskan 
belajar di negeri yang sama dengan suami. Masalahnya ustadz, untuk mengurus 
paspor, saya harus menyertakan foto yang tanpa jilbab, saya suah berusaha agar 
saya bisa memakai foto yang memakai jilbab, tapi ternyata ditolak. Ustadz, apa 
yang harusa saya lakukan? Terus terang saya dan suami sudah terpisah lama 
sekali, kami takut masing masing diri kami sulit untuk menjaga diri. Mohon 
pendapat dari ustadz. Terimakasih sebelumnya.


Y

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Pada dasarnya tidak ada keharusan bagi wanita untuk melepas jilbab sekedar 
karena alasan kepentingan pas photo. Kalau pun ada aturan seperti itu, pastilah 
aturan yang dibuat-buat oleh pihak-pihak yang tidak paham agama.

Ada ada saja alasan yang dibuat. Misalnya, kalau pakai jilbab tidak bisa 
kelihatan telinganya. Sehingga tidak bisa dikenali wajahnya yang asli. 
Astaghfirullah 'azhiem...

Apakah mengenali wajah seseorang harus dengan melihat daun telinga? Apakah daun 
telinga seseorang itu menjadi faktor penentu untuk membedakannya dengan wajar 
orang lain?

Sungguh ini hanya akal-akalan belaka. Kalau bukan karena niatnya jahat untuk 
melecehkan wanita muslimah, maka bisa jadi karena petugasnya terlalu awam 
terhadap agamanya. Sebab menutup aurat bagi muslimah hukumnya wajib. Dan jilbab 
adalah bagian utuh dari pakaian seorang wanita muslimah.

Lagi pula secara logika pun aneh. Orang yang setiap hari memakai jilbab dan 
tidak terlihat telinganya, justru semakin tidak dikenali kalau berfoto harus 
membuka jilbab dan terlihat telinga. Sebenarnya peraturan ini sendiri yang 
justru aneh dan tidak masuk akal sehat.

Maka jangan sampai karena perasaan inferior kita, hak kita sebagai muslim jadi 
terkorbankan. Seharusnya Islam itu lebih tinggi dari segala peraturan buatan 
manusia manapun. Taat kepada orang tua pun harus dikalahkah dengan ketaatan 
kepada Allah. Apalagi taat kepada peraturan macam begitu yang hanya akal-akalan 
petugas. Tentu harus dilawan dan dikalahkan bila sampai mengancam jati diri 
seorang muslim.

Kalau seandainya peraturan itu sudah terlanjur menjadi sistem yang berlaku 
secara formal, selama kita masih di Indonesia, sebenarnya mudah saja. Di 
mana-mana kita sangat kenal dengan watak dan karakteristik 'peraturan' di 
negeri ini.

Buknakah para tahanan di dalam penjara bisa mendapatkan fasilitas nyaman, 
ber-AC, punya TV, bisa telepon kemana-mana pakai HP, bahkan tidak jarang 
mendapat menu istimewa, bahkan dapat jam setoran dari istri sampai punya waktu 
'cuti' untuk jalan-jalan ke luar penjara. Padahal kita tahu seharusnya semua 
faslitas itu tidak mungin didapat. Tapi apa lacur, ternyata semua bisa diatur 
asalkan ada pelicinnya. Di sini berlaku hukum KUHP (Kasih Uang Habis Perkara).

Maka apa susahnya meminta kerelaan petugas imigrasi dan 'berdamai' dengan 
mereka agar wanita muslimah tidak perlu ditelanjangi auratnya, sekedar untuk 
berfoto di passport. Mungkin bila didekati dengan cara yang baik dan 
mengesankan, insya Allah hatinya akan luluh juga.

Pepatah Arab sering mengatakan: Al-Insan 'abidul Ihsan, manusia itu budak 
kebaikan. Kecenderungan orang itu adalah akan melayani bila kita memberikan 
kebaikan kepadanya lebih dahulu.

Apalagi yang kita kejar bukanlah kepentingan duniawi, melainkan kepentingan 
ukhwawi. Maka memberikan sekedar biaya untuk melunakkan hati para petugas 
menjadi wajar. Bukankah Rasulullah SAW dahulu pun seringkali memberikan harta 
kepada para pemuka kafir yang memusuhi umat Islam?

Bukankah dari sebagian dana zakat itu ada yang diperuntukkan buat orang-orang 
yang sedang dirayu hatinya? Mereka disebut sebagai al-muallafati qulubuhum. Dan 
muallaf itu bukan saja mereka yang sudah masuk Islam, tetapi termasuk juga 
orang yang keras hatinya kepada hukum Islam atau menentang syariat Islam. 
Kepada mereka, berikanlah suatu hal yang bisamenjadikan lunak hatinya.

Di dunia ini, apalagi di negeri ini, aturan mana sih yang tidak bisa 'diatur'? 
Jadi silahkan atur saja dan kompromikan dengan petugas. Kami yakin anda pasti 
bisa melakukannya. Dalam masalah seperti ini, mungkin akan lebih efektif kalau 
kita berikan 'kebaikan' kepada petugas ketimbang ayat Quran, hadits dan 
dalil-dalil syar'i.

Adakalahnya kebaikan itu jauh lebih berarti ketimbang seribu ayat Quran buat 
melunakkan hati seseorang. Sebab orang yang hatinya sudah sakit dan membeku, 
tiap dibacakan ayat Quran, bukannya sadar tapi malah semakin menjauh.

Wassalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke