Kalo kepaksa, ngaku sbg kafir jg gpp koq unt orang Islam. Itu kata auloh sendiri.
>________________________________ > From: Bukan Pedanda <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Wednesday, August 22, 2012 5:37 PM >Subject: [proletar] Fatwa untuk mendorong korupsi.. > > > > >Dha tutu mengirim di "Jaringan ateis Minang" tulisan yang sama di website >lain... > >Website lain yang memuat tulisan yang sama.. >http://www.rumahfiqih.com/ust/e2.php?id=1136972813&title=foto-paspor-tanpa-jilbab > >Foto Paspor Tanpa Jilbab > >Pertanyaan > >Assalamualaikum wr. wb. > >Ustadz, saya gundah sekali. Suami saya saat ini sedang menempuh kuliah di >negara lain, kami sudah terpisah dalam jangka waktu yang lama. Saya belum bisa >menyertai karena saya seorang pegawai negeri juga. Saat ini saya ditugaskan >belajar di negeri yang sama dengan suami. Masalahnya ustadz, untuk mengurus >paspor, saya harus menyertakan foto yang tanpa jilbab, saya suah berusaha agar >saya bisa memakai foto yang memakai jilbab, tapi ternyata ditolak. Ustadz, apa >yang harusa saya lakukan? Terus terang saya dan suami sudah terpisah lama >sekali, kami takut masing masing diri kami sulit untuk menjaga diri. Mohon >pendapat dari ustadz. Terimakasih sebelumnya. > >Y > >Jawaban > >Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh, > >Pada dasarnya tidak ada keharusan bagi wanita untuk melepas jilbab sekedar >karena alasan kepentingan pas photo. Kalau pun ada aturan seperti itu, >pastilah aturan yang dibuat-buat oleh pihak-pihak yang tidak paham agama. > >Ada ada saja alasan yang dibuat. Misalnya, kalau pakai jilbab tidak bisa >kelihatan telinganya. Sehingga tidak bisa dikenali wajahnya yang asli. >Astaghfirullah 'azhiem... > >Apakah mengenali wajah seseorang harus dengan melihat daun telinga? Apakah >daun telinga seseorang itu menjadi faktor penentu untuk membedakannya dengan >wajar orang lain? > >Sungguh ini hanya akal-akalan belaka. Kalau bukan karena niatnya jahat untuk >melecehkan wanita muslimah, maka bisa jadi karena petugasnya terlalu awam >terhadap agamanya. Sebab menutup aurat bagi muslimah hukumnya wajib. Dan >jilbab adalah bagian utuh dari pakaian seorang wanita muslimah. > >Lagi pula secara logika pun aneh. Orang yang setiap hari memakai jilbab dan >tidak terlihat telinganya, justru semakin tidak dikenali kalau berfoto harus >membuka jilbab dan terlihat telinga. Sebenarnya peraturan ini sendiri yang >justru aneh dan tidak masuk akal sehat. > >Maka jangan sampai karena perasaan inferior kita, hak kita sebagai muslim jadi >terkorbankan. Seharusnya Islam itu lebih tinggi dari segala peraturan buatan >manusia manapun. Taat kepada orang tua pun harus dikalahkah dengan ketaatan >kepada Allah. Apalagi taat kepada peraturan macam begitu yang hanya >akal-akalan petugas. Tentu harus dilawan dan dikalahkan bila sampai mengancam >jati diri seorang muslim. > >Kalau seandainya peraturan itu sudah terlanjur menjadi sistem yang berlaku >secara formal, selama kita masih di Indonesia, sebenarnya mudah saja. Di >mana-mana kita sangat kenal dengan watak dan karakteristik 'peraturan' di >negeri ini. > >Buknakah para tahanan di dalam penjara bisa mendapatkan fasilitas nyaman, >ber-AC, punya TV, bisa telepon kemana-mana pakai HP, bahkan tidak jarang >mendapat menu istimewa, bahkan dapat jam setoran dari istri sampai punya waktu >'cuti' untuk jalan-jalan ke luar penjara. Padahal kita tahu seharusnya semua >faslitas itu tidak mungin didapat. Tapi apa lacur, ternyata semua bisa diatur >asalkan ada pelicinnya. Di sini berlaku hukum KUHP (Kasih Uang Habis Perkara). > >Maka apa susahnya meminta kerelaan petugas imigrasi dan 'berdamai' dengan >mereka agar wanita muslimah tidak perlu ditelanjangi auratnya, sekedar untuk >berfoto di passport. Mungkin bila didekati dengan cara yang baik dan >mengesankan, insya Allah hatinya akan luluh juga. > >Pepatah Arab sering mengatakan: Al-Insan 'abidul Ihsan, manusia itu budak >kebaikan. Kecenderungan orang itu adalah akan melayani bila kita memberikan >kebaikan kepadanya lebih dahulu. > >Apalagi yang kita kejar bukanlah kepentingan duniawi, melainkan kepentingan >ukhwawi. Maka memberikan sekedar biaya untuk melunakkan hati para petugas >menjadi wajar. Bukankah Rasulullah SAW dahulu pun seringkali memberikan harta >kepada para pemuka kafir yang memusuhi umat Islam? > >Bukankah dari sebagian dana zakat itu ada yang diperuntukkan buat orang-orang >yang sedang dirayu hatinya? Mereka disebut sebagai al-muallafati qulubuhum. >Dan muallaf itu bukan saja mereka yang sudah masuk Islam, tetapi termasuk juga >orang yang keras hatinya kepada hukum Islam atau menentang syariat Islam. >Kepada mereka, berikanlah suatu hal yang bisamenjadikan lunak hatinya. > >Di dunia ini, apalagi di negeri ini, aturan mana sih yang tidak bisa 'diatur'? >Jadi silahkan atur saja dan kompromikan dengan petugas. Kami yakin anda pasti >bisa melakukannya. Dalam masalah seperti ini, mungkin akan lebih efektif kalau >kita berikan 'kebaikan' kepada petugas ketimbang ayat Quran, hadits dan >dalil-dalil syar'i. > >Adakalahnya kebaikan itu jauh lebih berarti ketimbang seribu ayat Quran buat >melunakkan hati seseorang. Sebab orang yang hatinya sudah sakit dan membeku, >tiap dibacakan ayat Quran, bukannya sadar tapi malah semakin menjauh. > >Wassalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh, > >Ahmad Sarwat, Lc. > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
