http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=189969
Babak Pertama Blok Cepu: 0 -1 untuk Direksi Pertamina (1) Mungkinkah Berpoduksi 2008? Catatan: Dahlan Iskan Direksi Pertamina akhirnya "kalah". Perjuangannya untuk mendapatkan hak suara 55 persen dalam pengelolaan Blok Cepu kandas. Pemerintah sudah memutuskan Blok Cepu yang bisa menghasilkan uang Rp 2 triliun sebulan itu dibelah pinang: Pertamina 50 persen, ExxonMobil 50 persen. Persis MoU yang sudah ditandatangani pemerintah (oleh Menko Ekuin) bersama Exxon. Kelak, masing-masing pihak melepaskan 5 persen untuk pemerintah daerah. Yang dimaksud pemda adalah Provinsi Jatim, Provinsi Jateng, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Tuban. Pemda-pemda itu pun harus membayar sekitar Rp 1,8 triliun. Pemerintah pusat akan menetapkan besarnya persentase untuk setiap pemda. Rakyat Bojonegoro harus mendapat yang terbesar. Kalau pemda-pemda itu tidak mau atau tidak mampu membayar, tetap saja Pertamina 50 persen dan Exxon 50 persen. Karena putusan itu diambil oleh sidang kabinet yang dipimpin Presiden SBY (sebelum berangkat ke AS), tentu itulah keputusan final. Selama ini memang ada dua pendapat untuk satu Blok Cepu. Ada yang pro Exxon dan ada yang pro Merah-Putih. Masing-masing punya suporter. Kini, putusan sudah digedok. Pertamina harus menerima itu. Lalu, apakah direksi Pertamina akan dipecat? Atau akan mengundurkan diri? Atau diam-diam akan terus mengusahakan agar masih bisa "menang dalam kekalahan"? Permainan memang belum selesai. Masih banyak detil yang harus diperjelas. Ingatlah. Minyak itu licin. Jangan sampai terpeleset lagi. Kontrak harus dibuat rinci. Lengkap dengan sanksinya. Esensi kerja sama dengan Exxon adalah agar dalam waktu "secepat-cepatnya" kita bisa dapat tambahan produksi minyak mentah yang "cukup besar". Yakni, untuk mengatasi kekurangan minyak di dalam negeri. Kekurangan produksi minyak inilah yang mengganggu kurs rupiah sedemikian hebatnya sampai-sampai kita berada dalam krisis lagi. Yang dimaksud "secepat-cepatnya" adalah tahun 2008. Kalau kerja sama dengan Exxon tidak diteken sekarang, pada 2008 kita belum akan punya tambahan produksi minyak. Berarti krisis ini akan panjang sekali. Yang dimaksud "cukup besar" adalah tambahan produksi 150.000 barel per hari. Dengan tambahan segitu, kebutuhan minyak mentah kita menjadi cukup. Pertanyaan kritis: benarkah Exxon bisa membuat Blok Cepu berproduksi pada 2008? Apalagi dengan jumlah 150.000 barel per hari? Kalau tidak, masih berlakukah esensi mengapa kita menyerahkan Blok Cepu kepada Exxon? Marilah kita bicarakan kemungkinan-kemungkinannya. Blok Cepu memang sudah siap diproduksi. Tidak perlu lagi penelitian dan pengujian. Exxon sudah memastikan jumlah kandungan minyaknya, kedalamannya, dan titik-titik sumurnya. Tapi, karena Exxon adalah perusahaan Amerika Serikat, tentu mereka akan menetapkan standar persiapan dan penggarapan. Termasuk standar fasilitas dan keamanan. Untuk itu Exxon memerlukan tanah seluas 1.000 ha. Masuk akalkah dalam satu tahun ke depan ini sudah bisa membebaskan lahan yang diperlukan? Bukankah pembebasan lahan merupakan persoalan yang maharuwet saat ini? Atau siapa yang berkewajiban membebaskan lahan dari rakyat? Exxon? Pertamina? Pemda? Soal kemampuan membebaskan lahan ini begitu penting dicek agar bisa tahu realistis atau tidak menetapkan tahun dimulainya produksi. Apalagi, kalau benar bahwa ada informasi untuk proyek ini Exxon memerlukan tanah sekitar 1.000 ha. Informasi ini sudah beredar luas di masyarakat setempat. Dampaknya, para petani mulai memasang harga sendiri-sendiri. Bisa ratusan atau ribuan kali dari harga sawah selama ini. Kalau benar Exxon memerlukan tanah 1.000 ha, mungkinkah dalam waktu satu tahun mampu menyelesaikannya? Dalam suasana reformasi seperti sekarang, rasanya mustahil. Kita bisa memaklumi bahwa perusahaan seraksasa Exxon memerlukan banyak syarat. Misalnya, perumahan untuk tenaga asing yang sangat banyak. Juga yang memenuhi standar perumahan orang Barat. Lingkungan juga harus sangat aman sehingga harus ada jarak tertentu dari perkampungan. Harus ada pula fasilitas umum kelas dunia yang bisa mereka gunakan. Artinya, yang kelas dan lingkungannya tidak mudah diusik oleh orang luar. Bahkan, sudah beredar luas bahwa perlu lahan juga untuk pembangunan airstrip. Yakni, bandara kecil yang bisa memudahkan lalu lintas udara. Baik untuk mempercepat perjalanan menuju Bojonegoro maupun untuk evakuasi di saat terjadi keadaan darurat. Pertanyaannya: mungkinkah mendapatkan tanah seluas itu di tempat yang sudah ditentukan? Terutama dalam keadaan seperti sekarang, di mana pemerintah (pusat maupun daerah) tidak akan mampu menjanjikan apa pun? Kalau tidak, mungkinkah Exxon merivisi perencanaan keperluan lahannya? Dengan mengorbankan/menurunkan standar yang sudah menjadi prosedur tetapnya? Pemerintah harus bertanya baik-baik pada Exxon. Juga sejelas-jelasnya. Mengapa? Kalau persoalan tersebut kemudian dijadikan alasan sehingga Blok Cepu tidak bisa berproduksi pada 2008, kita juga yang salah. Bukan Exxon yang salah. Padahal, kalau Blok Cepu baru bisa berproduksi pada 2009, apalagi kalau sampai 2010, hilanglah sebenarnya alasan mendasar untuk mengerjasamakan Blok Cepu dengan Exxon. Direksi Pertamina (kalau berani!) masih bisa bertarung di sini. (bersambung). [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/FXrMlA/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
