Pertarungan pemilihan presiden Amerika Serkat bukan antara Presiden Barack
Obama dengan Mitt Romney, dan bukan pertarungan antara Partai Republik dan
Demokrat.

Tetapi, ini pertarungan antara siapa yang lebih menunjukkan kesetiaannya
terhadap Zionis-Israel. Antara partai yang lebih membela kepentingan
keamanan Zionis-Israel. Maka, sekarang ini sejatinya pertarungan diantara
para "pion" Zionis-Israel.

Para tokoh Zionis-Israel akan melihat tokoh dan partai mana yang lebih
menampakkan kesetiaan mereka terhadap rezim Zionis-Israel. Inilah yang akan
menjadi ukuran kepada siapa dukungan akan diberikan oleh kekuatan
Zionis-Israel.

Ada parameter yang sangat jelas, terutama bagi seorang kandidat atau partai
politik, yang menginginkan dukungan dari komunitas Yahudi dan Jaringan
Zionis-Israel. Kekuatan Zionis-Israel tetap menjadi faktor yang determinan
(penting) dalam menentukan kemenangan bagi seorang kandidat presiden.

Kampanye hanya menjadi perlomban atau ajang penampilan tokoh yang akan
mengekspresikan (menampakkan) pandangan dan sikapnya, terhadap sejumnlah
isu politik, khususnya yang akan terkait dengan kepentingan Zionsis-Israel.

Isu politik yang disampaikan para tokoh dari Partai Republik dan Demokrat,
serta komitmen mereka akan sangat penting, kepada siapa dijatuhkan pilihan
dukungan para tokoh Zionis itu.

Para konglomerat (billionair) Yahudi di Amerka Serkat,  jumlahnya hanya 1
persen, tetapi mereka menguasai seluruh sektor, terutama sektor ekonomi,
perbankan, bursa saham, media, kampus, dan sekarang merambah ke
pemerintahan, kongres, dan senat. Semuanya dibawah kendali jaringan
Zionis-Israel. Karena itu, denyut di Gedung Putih, hanyalah merefleksikan
kepentingan rezim di Tel Aviv, yang disuarakan oleh Benyamin Netanyahu
semata.

Ada masalah yang sangat mendasar dalam kampanye pemilihan presiden Amerika
Serikat saat ini. Di mana, kali ini Presiden Barack Obama melakukan
intervensi terhadap Komite Nasional Partai Demokrat, dan mengubah agenda
dan isu kampanyenya dengan memasukkan masalah Jerusalem sebagai ibukota
Israel, dan bersifat final (abadi). Tidak akan bisa diubah dan
dinegosiasikan lagi.

Keputusan Obama dan menjadikan masalah status Jerusalem sebagai ibukota
Israel yang bersifat final, pasti akan mempunyai implikasi dalam setiap
pembicaraan perdamaian Timur Tengah.

Mustahil akan melakukan pembicaraan damai, bila Amerika Serikat sudah
meletakkan status Jerusalem sebagai ibukota Zionis-Israel, dan bersifat
final. Karena, hakekatnya Jerusalem adalah wilayah Arab Palestina, yang
dianeksasi (dicaplok) Zionis-Israel sejak perang tahun l967.

Posisi Mitt Romney lebih dahulu dengan sangat keras, bukan hanya
berkomitmen menjadikan Jerusalem menjadi ibukota abadi Zionis-Israel,
tetapi Mitt Romney, tidak akan pernah memberikan peluang sedikitpun bagi
lahirnya negara Palestina.

Romney akan bertindak lebih keras lagi terhadap kekuatan perlawanan di
Palestina, yang menginginkan kemerdekaan tanah air mereka. Hamas adalah
musuh yang jelas-jelas harus diperangi, bukan kekuatan perlawanan yang
memperjuangkan kemerdekaan, tetapi kelompok teroris yang harus dibasmi
sampai ke akar-akarnya.

Romney juga berjanji akan meningkatkan bantjuan militernya kepada
Zionis-Israel, sebagai bentuk komitmen Amerika Serikat terhadap keamanan
negara Zionis itu.

Lalu, apa yang membedakan antara Barack Obama dengan Mitt Romney? Antara
Demokrat dengan Republik? Nothing.  Tidak ada.

Ketika Republik di bawah George Bush Senior dan Bush Junior. Keduanya
menghancurkan leburkan negara-negara Islam, seperti Irak, Kuwait,
Afghanistan, dan Palestina. Negeri-negeri itu luluh-lantak. Bekeping.
 Jutaan orang menjadi pengungsi. Jutaan lainnya tewas. Kemudian,
dilanjutkan dengan perang melawan terorisme global. Sampai hari ini belum
usai.

Ketika Barack Obama masuk ke Gedung Putih, kenyataannya tak ada perubahan
apapun atas kebijakan luar negerinya. Obama terus menguras anggarannya
memerangi terosisme di seluruh kawasan dunia Islam. Tanpa henti. Dengan
menggunakan kekuatan militernya.

Usamah bin Laden, Anwar al-Aulaqi, dan sejumlah tokoh gerakan jihad, tewas
oleh pesawat tanpa awak (drone), yang dikendalkan oleh CIA. Menghancurkan
semua jaringan dan kekuatan Islam, yang ingin menegakkan nilai-nilai Islam,
yang mereka yakini.

Perang yang dilancarkan oleh Amerika tidak pernah usai. Karena, hakikatnya
Amerika Serikat, siapapun yang menjadi pemimpin di negeri itu, hanyalah
menjalankan skenario Zionis-Israel. Mitt Romney dan Obama hanyalah menjadi
"pion" Zionis-Israel.

Dengan menjadikan Jerusalem sebagai platform kampanye mereka, Barack Obama
dan Mitt Romney, secara sadar-sesadarnya tidak pernah menginginkan
perdamaian di Timur Tengah. Menjadikan Jerusalem sebagai ibukota
Zionis-Israel oleh Partai Republik dan Demokrat, sama halnya dengan
mengabadikan konflik di Timur Tengah.

Memang,  konflik di Timur Tengah tidak  akan pernah berakhir, bersamaan
dengan sikap Partai Republik dan Demokrat, antara Mitt Romney dan Barack
Obama yang menjadikan Jerusalem sebagai ibukota Zionis-Israel.

Keputusan itu menjadikan konflik Arab-Israel menjadi abadi. Sampai
orang-orang Mukmin dapat mengalahkan Zionis-Israel. Maka segala perundingan
dan negosiasi dengan Israel hanyalah sia-sia belaka. Wallahu'alam.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke