Baru 3 orang ke Fiji, bisa langsung menggebrak.
Aku jadi ingat teman millis dari kota Bogor yg malah meng internet kan 
negara di Afrika yg nota bene sering dianggap wilayah terbelakang.
+++

Karena Merekalah, Masyarakat Fiji Mengenal Indonesia
Memang belum banyak masyarakat Fiji mengenal Indonesia. Setiap saya bertemu 
dengan orang Fiji, mereka selalu bertanya demikian,
" Where do you come from ? "
" Indonesia "
" Malaysia ?! . "
" No. no. Indonesia !!! "
Ya, orang Fiji lebih mengenal Malaysia dibanding Indonesia. Hal tersebut 
saya maklumi, selain Fiji dan Malaysia sama-sama negara anggota Commowealth 
dimana Malaysian High Commission (Kedubes Malaysia) telah lama dibentuk di 
Fiji. Kemudian produk-produk Malaysia banyak dipasarkan dan terpenting 
sekali banyak pengusaha Malaysia berinvestasi di Fiji.

Bagaimana dengan Indonesia ? Sudah 10 tahun keberadaan KBRI di Fiji, tetapi 
seiring perjalanan waktu dengan mengadakan kerjasama di segala bidang, lama 
kelamaan masyarakat Fiji mulai mengenal Indonesia. Beberapa tahun ini 
kerjasama dibidang ekonomi makin digalakkan dengan cara Indonesia 
mengirimkan banyak tenaga ahli dibidang kerajinan tangan terutama kerajinan 
tangan dari bahan tempurung kelapa dan bambu. Dan baru tahun ini diadakan 
pelatihan-pelatihan dibidang pengolahan hasil pertanian.
Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan 
masyarakat Fiji terutama kaum perempuannya (komunitas perempuan) dalam 
meningkatkan perekonomian keluarga.

1. Kerajinan tempurung kelapa.
Dengan keahliannya, Drs. FX Supriyono, MPd telah banyak memberikan pelatihan 
tentang pemanfaatan bambu dan tempurung kelapa yang banyak terdapat di Fiji 
tetapi belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Selama 6 tahun Drs. FX 
Supriyono MPd aktif memberikan pelatihan di berbagai wilayah negara Fiji dan 
banyak manfaat yang diperoleh oleh masyarakat Fiji sehingga tidak 
mengherankan nama beliau cukup terkenal di Fiji. Tanpa banyak kata, saya 
tampilkan foto-foto kegiatan beliau pada salah satu komunitas terkenal di 
Fiji.

Tempurung kelapa yang terbuang percuma di Fiji (dok. FRIENDS FIJI)
Pak Supriyono memberikan pengarahan awal cara mengolah tempurung kelapa 
(dok. FRIENDS FIJI)
Tempurung kelapa diproses dengan menggunakan mesin sederhana dan murah (dok. 
FRIENDS FIJI)
Berbagai produk kerajinan tangan dari tempurung kelapa (dok FRIENDS FIJI)
Gantungan lampu dari tempurung kelapa (dok. FRIENDS FIJI)
Di sela-sela pelatihan, Pak Supriyono selalu mengajak peserta bermain dengan 
memanfaatkan janur kelapa (dok. FRIENDS FIJI)
Inilah hasil main-mainnya (dok. FRIENDS FIJI)

2. Kerajinan tangan dari sampah plastik (recycling product)
Sosok satu ini sudah lama tinggal di Fiji. Selain jago masak, beliau juga 
mempunyai keahlian membuat kerajinan tangan dari bahan sampah plastik 
(recycling product). Nama beliau adalah Suster Anna Supraptiwi. Ya, benar 
beliau seorang biarawati tetapi bukan sembarang baiarawati. Kiprahnya di 
Fiji cukup banyak dan berulang kali media-media di Fiji baik cetak maupun 
elektronik mengulas dan mewawancarai beliau.

Diawali dari gereja, beliau memberikan pelatihan tentang pemanfaatan limbah 
plastik menjadi kerajinan tangan/anyaman seperti dompet, tas dan sebagainya. 
Beliau sangat aktif memperkenalkan produk pengolahan limbah di Fiji dan 
sering diundang untuk memberikan pelatihan oleh beberapa kementerian, 
komunitas perempuan, sekolah dan lain-lain. Produk-produk pengolahan limbah 
yang dihasilkan oleh binaan beliau diminati oleh masyarakat Fiji. Ada satu 
resort terkenal di Fiji yang menyediakan satu tempat khusus untuk pemasaran 
produk-pengolahan limbah tersebut.

Limbah plastik yang sudah dibersihkan dan diolah (dok. pribadi)
Beberapa produk hasil pengolahan limbah plastik (dok. pribadi)
Para ibu di Fiji sangat antusias mengerjakan olahan limbah plastik 
(dok.pribadi)
Suster Anna memberikan penjelasan tentang produk pengolahan limbah plastik 
kepada Menteri Wanita Republik Fiji (dok.pribadi)
3. Pengolahan Hasil Pertanian

Makanan utama masyarakat Fiji adalah singkong, talas, sukun, ubi, dan yam. 
Tanaman umbi-umbian tersebut hanya dikonsumsi dalam bentuk rebusan. Karena 
imbas budaya Inggris yang melekat pada masyarakat Fiji maka roti menjadi 
pilihan kedua sebagai makanan utama. Sayangnya Fiji masih mengimpor tepung 
terigu dari Australia, Selandia Baru dan Cina.

Dalam dua tahun ini pemerintah Fiji sedang berusaha untuk mengurangi 
ketergantungan impor bahan makanan. Untuk itu mereka antusias sekali apabila 
ada negara yang mau membantu untuk mengatasi persoalan ini. Nah ini yang 
dimanfaatkan oleh Indonesia, bukan dengan bantuan dana tetapi bantuan ilmu 
pengetahuan dan pengalaman dalam memanfaatkan sumber daya pertanian yang 
dimiliki oleh Fiji.

Sosok satu ini datang pada saat yang tepat walaupun belum lama di Fiji 
tetapi memberikan kemaslahatan bagi masyarakat Fiji. Awalnya beliau ragu 
karena alasan umur dan kurang pengalaman tapi berulang kali saya menyakinkan 
kalau beliau pasti bisa dan punya kemampuan untuk transfer ilmu kepada 
masyarakat Fiji.

Dimulai dari perkebunan coklat di Korovou dilanjutkan ke komunitas di 
Lautoka dan terakhir diberi kepercayaan untuk memberikan training di 
Secretariat of the Pacific Community (SPC). Yang terakhir ini menjadi ajang 
pembuktian kemampuan beliau dalam pengolahan hasil pertanian (olahan 
makanan). Perlu diketahui SPC merupakan institusi yang sangat terkenal di 
Fiji dan tempat berkumpulnya para ahli (sebagian besar bertitel PHD) mulai 
pertanian, ekonomi, kehutanan, iklim, lingkungan hidup dan sebagainya yang 
melakukan riset dan pengembangan sumber daya alam di wilayah Pasifik.

Dengan modal keberanian dan kepercayaan, beliau melakukan presentasi 
dihadapan para petinggi SPC bagaimana memanfaatkan sumber daya alam yang ada 
di Pasifik seperti umbi-umbian, buah-buahan dan kelapa. Presentasi beliau 
memberikan kesan yang mendalam sehingga para petinggi SPC menawarkan beliau 
(sekaligus ajang pembuktian) untuk mengembangkan produk olahan pangan.

Dengan peralatan yang terbatas, beliau telah menunjukkan kemampuannya dengan 
membuat 50 produk olahan pangan dalam waktu 2 bulan diantaranya tepung 
sukun, tepung talas, tepung pisang, tepung ubi, coconut jam, sale pisang, 
wine nanas, wine pisang, mocaf, tepung singkong, kava healthy drink, kerupuk 
dari tepung sukun, permen, yoghurt dan masih banyak lagi. Akibatnya SPC 
menjadi sorotan media karena program training yang beliau berikan. Siapakah 
beliau? Anak muda bernama Nindya ini berusia 24 tahun dan lulusan S-1 
teknologi pengolahan hasil pertanian UGM tahun 2010. Bisa dibayangkan 
bagaimana para petinggi SPC yang kebanyakan PHD dibuat tercengang oleh apa 
yang sudah dikerjakan oleh lulusan S-1 asal Indonesia ini.

Produk olahan makanan dan minuman yang dihasilkan (dok.akio)
Produk Baking dari tepung mocaf dan tepung sukun (dok. akio)
Produk olahan umbi-umbian (dok.akio)
Produk olahan makanan (dok.akio)
Proses pengolahan krupuk dari tepung sukun (dok. bulakana)
Nindya dengan Dr. Lex Thomson (Leader FACT SPC) (dok.nindya)

Apa yang sudah dilakukan oleh ketiga orang Indonesia di atas memberikan 
dampak positif bagi masyarakat Fiji. Pengaruhnya adalah masyarakat Fiji 
mulai mengenal Indonesia dan menariknya masyarakat Fiji menilai orang 
Indonesia pintar-pintar alias SMART.

Ketiga orang Indonesia tersebut pernah mengatakan bahwa yang dilakukan 
adalah demi bangsa dan negara. Mereka datang ke Fiji bukan untuk jalan-jalan 
tetapi menunjukkan sesuatu yang tidak ternilai harganya yaitu nama baik 
Indonesia di mata masyarakat Pasifik Selatan. Walaupun sebagian orang merasa 
pesimis dengan kondisi Indonesia sekarang tetapi mereka tetap mencintai 
INDONESIA. Ada satu kutipan yang menarik untuk direnungkan.

"Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, 
kerja,dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya 
menghasilkan alasan." (Jokowi) 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke