VIVAnews - Masih lekat dalam ingatan warga Italia ketika enam bulan lalu, 
seorang pembuat batu bata di Bologna Italia menyiram dirinya sendiri dengan 
bensin dan menyulutnya di depan kantor pajak. Selang sembilan hari kemudian, 
Giuseppe Campaniello tewas.

Campaniello memutuskan mengakhiri hidupnya di depan kantor yang sebenarnya 
telah membunuh dia pelan-pelan. Akibat krisis di Italia dan beberapa negara 
Eropa, pemerintahan Perdana Menteri Mario Monti menerapkan langkah 
penghematan, dengan memecat pegawai dan menaikkan pajak.

"Dia adalah orang yang baik. Hanya saja dia tidak punya kesempatan untuk 
membuktikan dirinya. Jika Giuseppe punya kesempatan, utangnya pasti 
terbayar. Tapi itu bukan yang mereka inginkan, karena kami tidak 
berpenghasilan 20.000 euro per bulan," kata janda Campaniello, Tiziana, 
kepada CNN pekan ini.
Campaniello adalah satu dari jutaan warga Italia yang menghadapi problema 
yang sama. Pelaku bunuh diri lainnya adalah Mario Frasacco, 59, di Roma yang 
menembak dirinya sendiri pada April lalu. Pabrik alumunium miliknya mandek, 
dan 10 pekerjanya jadi penganggur.

Putri Frasacco, Giorgia, mengaku tidak menyadari ayahnya akan bunuh diri. 
"Pada hari dia bunuh diri, dia berlaku seperti biasa. Saya tidak melihat 
rasa tidak nyaman di wajahnya. Setelah lima bulan berlalu, saya tetap tidak 
mengerti," kata dia.

Mereka jadi korban utang negara yang hampir mendekati taraf membahayakan. 
Padahal, Italia adalah negara ekonomi ketiga di zona euro. Puluhan tahun 
sebelum krisis, pajak tidak jadi masalah besar bagi Negeri Pasta ini.
Sebelumnya, warga bahkan tidak membayar penuh pajak. Namun semenjak krisis, 
pengumpulan pajak ibarat keharusan, jika perlu dengan paksaan.

Kebanyakan yang bunuh diri adalah pemilik usaha kecil maupun wiraswasta yang 
pailit. Tercatat, bunuh diri di negara ini meningkat hingga 52 persen, dari 
187 pada 2010. Padahal pada tahun 2005, jumlahnya hanya 123.

Dalam 10 tahun terakhir, angka bunuh diri di Italia meningkat hingga dua 
kali lipat. Saking banyaknya yang bunuh diri, para janda suami-suami nekat 
itu berkumpul dan membentuk sebuah klub bernama "Vedove Bianche" atau janda 
putih. Tujuan klub ini adalah menunjukkan dampak dari krisis ekonomi yang 
berujung pada pemaksaan pajak.

Tidak hanya di Italia, peningkatan angka bunuh diri terjadi di Yunani, 
negara terparah terdampak krisis. Menurut data Kementerian Kesehatan Yunani, 
angka bunuh diri di negara tersebut meningkat lebih dari 40 persen per 
tahun.

Inggris, bukan anggota zona euro, sedikit lebih baik dari negara Eropa 
lainnya, meski juga tidak luput dari fenomena ini. Peneliti di Jurnal Medis 
Inggris menuliskan resesi tahun 2008-2011 telah menyebabkan lebih dari 1.000 
orang bunuh diri.

Bagi mereka yang bertahan dari badai krisis--dan tidak bunuh 
diri--menyalahkan pemerintah atas pemotongan pekerja dan kenaikan pajak. 
Tiziana, yang menjanda setelah suaminya bunuh diri, kini menderita secara 
ekonomi dan finansial.

"Siapa yang akan menerima saya bekerja di usia 48 tahun? Siapa? Saya harus 
ke mana? Haruskan saya menjadi pelacur? Karena ke sanalah mereka 
(pemerintah) menggiring kami. Atau saya juga harus bunuh diri dan lari dari 
masalah dan mengurangi beban pemerintah?" kata dia, getir. (kd) 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke