http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/100598 Jumat, 14 September 2012 | 01:14:43 WIB
Mengembalikan "Jiwa" Kapitalisme KORAN JAKARTA/GANDJAR DEWA ART Krisis global tampaknya masih akan mengiringi kehidupan dalam waktu lama. Dampaknya, masyarakat semakin jauh menjangkau produk-produk. Dunia juga masih merasakan efek destruktif krisis finansial dunia akibat bunga pembelian rumah yang tinggi untuk nasabah subprima beberapa waktu lalu, khususnya mereka yang berpenghasilan cekak. Krisis pun meluas, merentang dari Amerika Serikat hingga Eropa. Indonesia terus berjaga-jaga, terutama terkait volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan. Tak ayal, situasi tersebut kembali memunculkan kritik pada kapitalisme karena dianggap menjadi biang krisis dunia. Kalau ditilik sejarahnya, agamaagama memiliki peran dalam kelahiran kapitalisme. Setidaknya, ada empat agama besar dunia yang langsung atau tidak berkaitan dengan meluasnya paham tersebut. Sosiolog Max Weber (1864-1920), dalam The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism (1904), menjelaskan bahwa etika Protestanlah yang membidani lahirnya sistem ekonomi yang rasional dan modern. Etika tersebut berasal dari sekelompok orang Eropa dan Amerika yang melahirkan sistem usaha bebas dalam bentuknya yang modern dan efi sien, sebuah sistem yang disebut kapitalisme. Sebelumnya, dalam sejarah memang sudah ada pertukaran bebas barang dan jasa serta usaha meraih laba. Akan tetapi, sistem usaha bebas yang menjalankan mekanisme rasional seperti pembukuan, organisasi impersonal, dan sebagainya baru terbentuk setelah revolusi protestantisme yang meyakini bahwa keberhasilan dalam urusan duniawi, termasuk memenuhi hajat ekonomi, cerminan dari terwujudnya kehendak Tuhan. Oleh karena itu, bekerja keras, menabung, dan berhemat dikategorikan sebagai ibadah yang bernilai etis dan moral. Apalagi jika kekayaan itu kemudian dimanfaatkan untuk menolong sesama manusia. Etika itu juga "mengajarkan" seseorang telah ditentukan di dalam hidup. Mereka yang sukses menggambarkan bakal menikmati hidup abadi. Maka dari itu, orang Amerika lalu bekerja keras agar sukses karena tidak mau dinilai gagal yang berarti jauh dari hidup abadi. Itulah sebabnya Amerika maju, begitulah tesis Weber. Sebagaimana dikemukakan Weber dalam bukunya yang lain, Ancient Judaism (1921), alasan doktriner di balik pengutamaan sistem kapitalisme oleh Yahudi pun setali tiga uang dengan justifi kasi etika protestantisme terhadap kapitalisme. Penganut Yudaisme sebagai manusia berakal harus berusaha sebisa mungkin mewarnai dan bahkan menaklukkan dunia demi mengatasi segala kekurangan di muka Bumi. Meski sempat dikritik Weber sebagai etika yang menghalangi perkembangan kapitalisme, fakta sejarah saat ini membuktikan hal sebaliknya. Konfusianisme justru mampu merevisi kapitalisme yang limbung di era krisis global sekarang. Sebab, China sebagai negeri asal Konfusius (551-479 sebelum Kristus) kini justru mengalami pertumbuhan ekonomi impresif. Pertumbuhan itu terjadi karena China menerapkan kapitalisme negara yang digerakkan etika konfusianisme. Etika itu mengajarkan negara harus dibangun berdasarkan negara-keluarga serta dijalankan secara hierarkis dalam satu organisasi sosial yang otokratis. Konfusianisme sangat mengutamakan kolektivisme. Maka itu, siapa pun harus mengedepankan kepentingan orang lain di atas keinginan pribadi serta menekankan kerja sama. Singkatnya, spirit konfusianisme adalah gotong-royong dan ini melahirkan kapitalime negara seperti disebut Ian Bremmer (1969) - dalam The End of Free Market (2010). Kapitalisme versi China memanfaatkan BUMN dan swasta yang loyal secara politik untuk mendominasi sektor-sektor strategis seperti penerbangan, telekomunikasi, dan produksi senjata. Selain itu, China menggunakan BUMN untuk mengeksploitasi sumber daya seperti migas demi menciptakan lapangan pekerjaan. Berdasarkan skema ini, negara menjamin pengejaran kepentingan pribadi (swasta) asalkan ikhtiar itu untuk kepentingan masyarakat. Dawam Rahardjo dalam Etika Ekonomi dan Manajemen (1990) mengatakan, teologi Islam menganut pandangan egalitarian. Oleh karena itu, umat manusia harus melepaskan segala belenggu yang memperbudak dirinya. Islam mengkritik masyarakat Mekah yang cenderung bercorak kapitalistis yang kental. Masyarakat Mekah gemar mengakumulasi kapital. Maka itu, perisitiwa hijrah dari Mekah ke Madinah dapat diartikan sebagai keinginan Islam membangun masyarakat baru nonkapitalistis. Berbeda dengan Mekah, Madinah waktu itu belum membentuk formasi sosial ekonomi yang baru. Lembaga pemilikan perorangan pada umumnya tak dikenal. Dengan kata lain, struktur so sial Madinah memungkinkan tumbuhnya nilai-nilai egalitarian. Tugas umat atau manusialah untuk membongkar segala struktur alias bangunan infrastruktur ekonomi dan suprastruktur ideologi yang menghambat realisasi masyarakat egaliter tersebut. Namun, di sisi lain, ciri umum kapitalisme adalah pemilikan perorangan atas alat-alat produksi, kebebasan berusaha, pe ngejaran laba, produksi untuk pasar, ekonomi uang, mekanisme persaingan, dan rasionalitas dalam perilaku usaha. Pendeknya, saripati kapitalisme adalah rasionalitas. Sebab, dengan rasio itulah manusia melakukan kalkulasi untung-rugi. Kesejahteraan Pertanyaannya kemudian, jika kapitalisme memiliki kaitan dengan agama, mengapa manusia kini terbelit krisis fi nansial global yang demikian berat? Jawabannya, manusia telah menanggalkan spirit agama dari kapitalisme. Aki batnya, kapitalisme mengalami per ubahan dari kesejahteraan yang ber sendikan agama dan berwajah kemanusiaan menjadi hanya bertujuan menumpuk modal pada segelintir orang saja. Meminjam tamsil Michel Wieviorka, kapitalisme berwajah kesejahteraan dicederai superkapitalisme pemegang saham di mana perusahaan tidak lagi mengenal batas kedaulatan negara dan mengontrol hampir semua sektor ekonomi dunia. Tujuan perusahaan dalam sistem kapitalisme baru yang kosong dari etika agama ini memuaskan dahaga para pemegang saham akan efi siensi demi mendapat keuntungan sebear-besarnya. Parahnya, upaya tersebut sering harus merusak lingkungan, berkongkalikong dengan birokrat, bekerja sama dengan preman, dan sebagainya. Akhir kata, krisis global saat ini janganlah disimpulkan sebagai senjakala kapitalisme. Sebaliknya, krisis seyogianya menjadi peringatan bagi dunia untuk memutar haluan kapitalisme dari superkapitalisme pemegang saham menuju fitrah awalnya sebagai kapitalisme kesejahteraan yang memiliki etika agamis. Itulah jiwa asli kapitalisme yang ingin mewujudkan kesejahteraan umat manusia. oleh : Satrio Wahono Penulis adalah Magister Filsafat UI dan Pengajar FE Universitas Pancasila [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
