http://www.mediaindonesia.com/read/2012/10/10/352566/284/1/Pembantaian_Massal_1965-1966_Pernah_Terjadi_Bagian_2
Wawancara Khusus Sutradara Film The Act of Killing Pembantaian Massal 1965-1966 Pernah Terjadi (Bagian 2) Penulis : Donny Andhika Senin, 01 Oktober 2012 20:35 WIB JAKARTA--MICOM: Film The Act of Killing garapan warga negara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer menjadi pergunjingan karena mengisahkan tentang pembantaian massal anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) oleh para pemuda di Medan termasuk dari unsur Pemuda Pancasila pada tahun 1965. Berikut wawancara selanjutnya: 6. Apa keunggulan dan kelemahan film ini? Keunggulannya, bila pantas disebutkan, salah satunya, adalah film ini boleh dibilang dibuat dengan metode pembuatan yang orisinal, dan metode tersebut berkembang bersama cerita film yang ditangkap oleh metode ini. Jadi, metode dan cerita yang ditangkapnya saling mengembangkan dan melengkapi, sehingga semakin lama kami berproses dengan film ini, bukan hanya metodenya semakin baik, tetapi ceritanya pun semakin kuat. Keunggulan lain, dari segi tema, boleh jadi ini film pertama yang mengangkat babak sejarah kelam Indonesia ini dari sudut pandang pelaku, dan berhasil membongkar serta menunjukkan kebudayaan seperti apa yang sekarang hidup di Indonesia ketika para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan, bukan hanya menikmati impunitas, tetapi juga diperlakukan layaknya pahlawan, dan mereka bisa tetap mengumbar sesumbar mengenai kejahatannya--bahkan sesudah film ini rama dibicarakan di Indonesia. Kelemahan film ini, nah itu sebetulnya harus ditanyakan kepada kritikus film atau penonton. Sebagai film, bagi saya, ini sudah yang terbaik. Dengan segala sumber daya yang kami miliki, baik metodenya, rekaman sepanjang seribuan jam, maupun sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pembuatan film, ini sudah paling baik yang bisa kami usahakan. Juga dalam editing, kami sudah mencoba banyak sekali kombinasi gabungan berbagai adegan, dan The Act of Killing yang kita saksikan sekarang adalah yang terbaik. Penambahan atau pengurangan bagian dari film ini tidak akan membuatnya jadi lebih baik. Itu yang saya rasakan, tentu saja, pendapat saya sangat subyektif. Tapi dari segi teknis, metode yang dipakai untuk membuat film ini, termasuk riset dan pendekatan kepada tokoh yang difilmkan, memerlukan waktu yang sangat panjang dibandingkan rata-rata waktu pembuatan film pada umumnya. Pembuatan film ini memerlukan kesabaran ekstra, dan juga pada akhirnya menghasilkan seribuan jam rekaman yang membuat proses editing menjadi sangat rumit (dan lama). 7. Apakah film anda layak menjadi film dokumenter? Sebetulnya ini tergantung bagaimana mendefinisikan dokumenter--dan membedakannya dengan fiksi. Kalau yang dimaksud dengan dokumenter adalah film yang berupaya mendokumentasikan realitas sebagaimana seolah tidak ada kamera, maka The Act of Killing bukanlah film jenis dokumenter seperti itu. Sebaliknya, film ini menangkap realitas dengan kesadaran bahwa ada kamera di depan para narasumbernya. Yang ingin kita tangkap justru adalah apa yang sengaja ingin ditampilkan kepada dunia melalui kamera. Film ini bukan ingin mendokumentasikan realitas yang lazimnya terjadi tanpa kehadiran kamera, film ini ingin mendokumentasikan imajinasi para narasumbernya. Kesulitan lain dalam penggolongan genre film, adalah pertanyaan saya di dalam film ini, apakah kita tahu bedanya fiksi dan realitas? Realitas sebagaimana sesuatu peristiwa atau perbuatan dipergelarkan (performed) itu masih realitas atau sudah terkontaminasi fiksi? Sejarah resmi Indonesia, misalnya, taruhlah tentang G30S dan pembantaian jutaan orang yang menyusul kemudian, sebagaimana ditulis dalam buku teks pelajaran sejarah, apakah itu realitas--senyatanya begitu--atau fiksi? Atau sebagiannya fiksi dan sebagiannya realitas? Berapa persen realitasnya berapa persen fiksinya? Contoh lain, film "Pengkhianatan G30S PKI", misalnya, betulkah itu masuk golongan dokudrama (dokumenter yang didramatisasi)? Bagian penyiksaan perwira tinggi AD di film itu dokudrama atau fiksi? Bukankah justru dokumen visum pemeriksaan dokter forensik menyatakan tidak ada tanda-tanda penyiksaan? Lantas, doku(menter) apa yang mendasari drama(tisasi) adegan penyiksaan dalam film tersebut? Dalam film ini para narasumber memang berakting, memainkan perannya, sebagai diri sendiri sebagaimana ia ingin dilihat oleh penonton. Film ini melibatkan sebuah fiksi yang dibangun sebagai alat bagi narasumber untuk mengekspresikan imajinasi, ingatan, dan pengalamannya. Tapi hanya karena ada 'akting' di situ, dan ada film fiksi sebagai 'bahasa', tidak berarti bahwa film ini keseluruhannya adalah film fiksi. Walaupun begitu, betul, The Act of Killing, bukan sebuah dokumenter biasa sebagaimana lazimnya dipahami orang. Kerumitan menggolongkan The Act of Killing dalam kategori dokumenter, dokudrama, atau fiksi, semakin bertambah ketika, misalnya, Anwar memeragakan ulang pembunuhan yang dilakukannya dahulu. Kami menemukan bahwa dulu sekalipun (ketika Anwar sedang melakukan pembunuhan terhadap orang yang dianggap komunis) Anwar sudah melakukannya sebagai sebuah pergelaran (performance). Ia meniru tokoh dalam film yang baru saja ditontonnya. Ia menjelma menjadi seseorang yang lain untuk sekejap dirinya lari dari pembunuhan yang dilakukan oleh tubuhnya itu. Dahulupun ia berakting ketika melakukan pembunuhan. Dan ketika kami memintanya melakukan peragaan ulang (re-enactment), dan dia kembali berakting, peragaan tersebut menjadi sebuah dramatisasi dari peristiwa yang terjadi, tetapi juga sebuah dokumenter, karena pembunuhan yang sebenarnya sekalipun juga sudah merupakan sebuah dramatisasi. 8. Ada yang bilang anda menipu aktor dalam film The Act of Killing. Aktor dan aktris tidak tahu seperti apa angle dari film dan untuk apa film tersebut. Bagaimana pendapat anda? Kalau ada narasumber yang tidak tahu seperti apa angle dari film The Act of Killing, itu bisa macam-macam penyebabnya, tapi yang pasti itu bukan karena saya menipunya. Saya selalu menjelaskan kepada semua partisipan apa yang akan kita lakukan, dan untuk apa. Tokoh utama dalam film ini, Anwar Congo, misalnya, terlibat dalam proses pembuatan film ini sejak awal, jadi tujuh tahun lamanya saya sudah bekerja sama, sangat tidak masuk akal jika ia mau terus membuat film yang tidak mereka pahami angle atau tujuannya. Tanpa kesediaan dan pemahaman semua partisipan, film ini tidak akan jadi, film ini akan berhenti di tengah jalan. Kontroversi remeh dan tak produktif soal apakah film ini untuk umum atau untuk tesis sungguh aneh, memangnya tesis dibuat untuk disembunyikan dan dirahasiakan? Anwar sendiri di acara televisi yang disiarkan luas menyatakan bagaimana teknik membunuhnya terilhami oleh film, dan bagaimana ia kemudian di malam hari membuang mayat. Rahasia apakah yang ada di dalam film ini dan harus ditutupi? Atau komplain bahwa film yang disyuting selama ini sebetulnya film fiksi berjudul Arsan dan Aminah juga aneh. Anwar tahu bahwa Arsan dan Aminah hanyalah sebuah 'ruang' baginya untuk mengangkat ingatan dan bayangannya, juga mimpi buruknya, ke dalam bentuk fiksi yang didramatisasi. Setiap kali ada partisipan baru, kami menjelaskannya lagi, dan Anwar ada di situ, sehingga Anwar entah sudah berapa kali mendengar penjelasan saya ini. Film Arsan dan Aminah, dengan sepengetahuan Anwar, tidak pernah dimaksudkan untuk jadi film utuh, terpisah, dan tersendiri. Ini adalah bagian integral dari dokumenter The Act of Killing yang juga meliput bagaimana Arsan dan Aminah dibuat dan bagaimana partisipannya bereaksi terhadap Arsan dan Aminah. Sebagai bagian penting dalam metode pembuatan film ini adalah kami memutarkan rekaman hasil shooting kepada para partisipan untuk mendapatkan reaksinya dan reaksi mereka terhadap hasil syuting juga kami rekam. Semua partisipan tahu rekaman apa saja yang kami punya, dan mereka juga sudah menontonnya. Kami tidak pernah mengambil gambar dan merekam secara sembunyi-sembunyi, kami merekam secara terbuka, meminta izin, dan baru mulai kalau sudah mendapatkan izin tertulis. 9. Apakah anda sudah menghitung dampak dan reaksi pemerintah Indonesia terhadap film tersebut? Dan bagaimana dengan reaksi dunia? Kalau film ini keluar di era Orde Baru di bawah Suharto, kami tahu lebih banyak mengenai apa yang akan terjadi dan bagaimana reaksi pemerintah terhadap film ini. Sesudah reformasi politik tahun 1998, Indonesia menjadi negeri yang serba 'nanggung.' Make-upnya tebal, hampir seperti topeng, pemerintah Indonesia maunya kelihatan berubah dengan jargon "Era Reformasi"nya, wajahnya dimanis-maniskan sehingga kelihatan lebih demokratis dan bebas, tapi sebetulnya 'jeroan'nya masih sama-sama saja. Perimbangan kekuasaan tidak berubah di Indonesia, kelompok yang dulu kaya raya dengan mengeksploitasi sekarang masih kaya raya dan mengeksploitasi. Partai besar dari zaman Orde Baru, masih jadi partai besar. Film kami menunjukkan kenapa. Rezim yang dibangun di atas pembantaian massal ini masih belum berakhir. Para pembantai (dan mereka yang menangguk keuntungan dari pembantaian massal itu) masih menang. Di negara Indonesia yang nanggung ini, sukar memprediksi dampak dan reaksi pemerintah Indonesia terhadap film ini, oleh karenanya kami selalu memperhitungkan dan bersiap untuk yang terburuk. Sementara reaksi di dunia, saya belum bisa bicara banyak. Tetapi jika Festival Toronto bisa jadi ukuran, mungkin akan sama di mana-mana, di Eropa atau di Amerika. Saya berharap bahwa film ini membuka diskusi dan pembahasan yang lebih luas di segala aspek pengetahuan dan kebudayaan, bukan hanya sejarah, HAM, dan film, tetapi juga meluas ke masalah kesenian, kebudayaan, politik, ekonomi, etika, pendidikan, sampai pembahasan psikologis di tingkat yang paling personal. (OX/X-1 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
