Siapa musuh dan siapa teman semua jelas tidak ada perbantahan, yaitu Vested Interest Sukarno contra kepentingan2 Barat yang tidak bertentangan dengan kepentingan2 RI. Tujuan Barat sangat sederhana, yaitu menahan pengaruh Cina di Asia Tenggara dimana terkait pengamanan supply. Untuk itu Sukarno dibayar Amerika untuk menyusupi mata2 Barat ke Cina melalui PKI yang jauh sebelumnya direbut melalui rekayasa peristiwa Madiun karena RI adalah aliansi Amerika di Asia Tenggara.
Sukarno diwajibkan untuk menyiapkan suksesi di Indonesia agar dalam peralihan kekuasaan nanti tidak terjadi kekacauan di Indonesia yang berarti merugikan kepentingan Barat dalam perang dingin dengan Soviet dan perang terbuka dengan Cina. Tapi karena vested interest menolak dirinya diganti, Sukarno merekayasa dirinya jadi presiden seumur hidup dengan mematikan suksesi disertai pernyataan perang terbuka Ganyang Malaysia. Dengan menculik presiden kemudian menyanderanya, mendiktekan perintah2 pengunduran diri secara kontitusional adalah cara sederhana, murah, sedikit korban, dijamin hasilnya tinggi, dan tidak menimbulkan kebencian rakyat maupun harga diri bangsa yang di-obok2 oleh si penculiknya. Biasanya, kalo si presiden kepala batu boleh ditembak mati, atau mati sakit, atau bunuh diri. Tapi untuk kasus Sukarno yang kepala batu, cukup dibuat tambahan rutin yaitu SP 11 Maret, baru kemudian dikirim ke RS untuk tidak pernah keluar hidup lagi. Tapi setelah keluar mati diberi penghormatan sebagai presiden dan layak dianggap sebagai pahlawan bangsanya. Sama saja dulu, waktu perang dunia kedua usai, pemenangnya itu cuma satu, yaitu USA. Tapi dalam buku sejarang manapun didunia ini sudah direkayasa oleh Amerika bahwa pemenangnya itu bukan USA, tapi adalah Sekutu, maksudnya kalo ada yang kalah maka jangan bencinya ke Amerika tapi dibagi rata kepada sekutu. Jepang yang sudah menyerah kalah pun tidak dihina tapi dihormati, kaisarnya tetap dengan tahtanya, tapi semua jendral2nya, semua perwira2nya semuanya dibunuh mati tapi tidak diumumkan dihukum mati melainkan diumumkan sebagai bunuh diri bagai kehormatan seorang satria Bushido yang pantang menyerah yang merupakan kebanggaan budaya rakyat Jepang. Jadi enggak pernah anda jumpai berita, atau membaca sejarah ada satu orang Jepangpun yang dihukum oleh Amerika atas tuduhan kejahatan perang dunia kedua. Semuanya dihargai Amerika sebagai satria Bushido yang bunuh diri untuk kehormatan bangsanya, meskipun sebenarnya disiksa, dikorek info2nya untuk ikut menarik pelaku2 yang belum diketahuinya, dan akhirnya mereka dibunuh secara keji, secara hina, tanpa perlu diberitakan yang sebenarnya hanya untuk menanamkan bibit kebencian dan permusuhan. Tapi perbuatan Amerika jangan disalahkan, sejah zaman purba begitulah hukum perang, bagi yang kalah tidak akan pernah bahagia, dan bagi yang menang selalu berpesta ria. Semua negara yang menang perang pasti berbuat yang sama bahkan lebih biadab dari apa yang dilakukan Amerika. Demikianlah, G30S hanyalah satu dari sedemikian banyak cara dalam menghukum seorang pengkhianat tanpa harus menimbulkan kebencian antar Bangsa atau antar negara dengan cara tetap menghormati kedaulatan dan harga diri bangsa lainnya meskipun semuanya hanya semu belaka. > isa <i.bramijn@...> wrote: > Yang Presiden Sukarno belum sadari, > mungkin, ialah bahwa CIA sudah jauh > terlibat dalam peristiwa tsb dan > Jendral Suharto dkk dengan dukungan > sementara kalangan nasionalis dan > religius, Presiden Sukarno berangsur- > angsur menyadari bahwa Jendral > Suharto cs telah bertindak > melangkahinya, membangkanginya dan > akhirnya samasekali mengkhianatinya. Tidan benar bahwa Sukarno belum sadari keterlibatan CIA. Yang salah kaprah pemahaman orang2 Indonesia maupun para analis politikusnya adalah, bahwa G30S sebagai penculikan dan pembunuhan Jendral2 sebagai urusan internal Angkatan Darat. Itu sama sekali SALAH. G30S adalah PENCULIKAN PRESIDEN, jadi bukan penculikan jendral2. Jadi untuk keberhasilan menculik presiden, menyanderanya dan kemudian mendiktekan hal2 yang penting mengenai pengunduran dirinya secara konstitusional. Presiden RI itu khan ada pelindung2nya, dan pelindung2nya itu khan para jendral2, jadi untuk bisa berhasil menculik Sukarno maka jendral2nya inilah harus diculik atau dibunuh. Berhasil menculik dan membunuh jendral artinya berhasil menculik Presiden. Kemudian presiden dibawa ke lubang buaya untuk menyaksikan mayat jendral2nya sebagai shock terapi, kemudian Suharto ditelepon para penculiknya untuk menjemput dan menyandera Presiden Sukarno hingga apa yang diperintahkan oleh para penculiknya dilakukan oleh Sukarno. Jadi penculik2nya BUKAN TENTARA RI, mungkin tentara Malaysia yang dilatih Inggris-Amerika yang mengenakan seragam Cakrabirawa, seragam Diponegoro, atau seragam apapun yang dianggap perlu untuk keberhasilan penculikan ini. Suharto hanyalah salah satu jendral penyambut serangan komando penculik2 ini dari dalam negeri, dia mempersiapkan pendaratannya dan informasi waktu2 keberadaan Sukarno yang bisa berubah setiap saat. Apa yang terjadi dengan Sukarno, tidak beda dengan yang terjadi di Vietnam, di Cina melalui Rev. Kebudayaan, di Panama, di Bolivia, dan diseluruh Amerika Latin telah dikerjain Amerika dengan teknik serangan komando yang persis sama seperti G30S di Jakartan. Kesalahan Sukarno sudah jelas, cari gara2 dengan ganyang Malaysia, padahal sudah dibantu mendapatkan Irian Jaya. Sukarno merampas semua perusahaan milik modal asing melalui yang dinamakannya nasionalisasi. Jadi terlalu banyak pelanggaran2 Internasional yang dilakukan Sukarno dengan melakukan subversi kepada negara2 tetangganya. Setelah Sukarno keluar dari PBB, maka keselamatan Sukarno sudah tidak terlindung. Pusat serangan komando ini berada didalam kedubes Amerika di Jakarta dan Sukarno tahu jelas sekali dalam hal ini. Jadi kepada para pembaca, marilah kita menerima kenyataan dengan berjiwa besar, bahwa Sukarno memang salah, bertindak blunder menjerumuskan bangsa dan negaranya kejurang kehinaan dan kenistaan yang tidak ada jalan keluarnya selain membayar dengan jiwa raga bung besar ini. SP 11 Maret bukanlah pengkhianatan Suharto, karena surat tsb tidak perlu ada, cuma di-ada2kan saja untuk supaya bisa secara konstitusi Sukarno dipaksa turun. Jadi sekali lagi SP 11 Maret bukan benda sejarah, ada atau tidak ada SP 11 Maret tidak mengubah nasib Sukarno. Jadi SP 11 Maret hanyalah formalitas saja, hanyalah untuk basa basi protokoler saja. Ny. Muslim binti Muskitawati. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
