Pengadilan HAM itu untuk mengadili siapa ???  Pengadilan cuma mengadili orang 
yang masih hidup bukan mengadili orang yang sudah mati.
G30S PKI adalah gerakan Politik dan gerakan militer internal Angkatan Darat RI 
sebagai protest ketidak puasan terhadap politik Sukarno.

Jadi resminya bukanlah pelanggaran HAM, meskipun terjadi pembunuhan massal tapi 
tidak mungkin untuk diadili karena kedua belah pihak sama2 melakukan 
pelanggaran HAM.

> isa <i.bramijn@...> wrote:
> PERDEBATAN Sekitar PELAKSANAAN HAM
> terutama dalam kaitannya dengan G30S,
> 1965, akan terus berlangsung.

Pelanggaran HAM yang terkait dengan G30S sudah selesai tidak bisa lagi 
diperdebatkan karena tidak ada yang bisa disalahkan.

Ada yang menyalahkan Sukarno dan ada juga yang menyalahkan Suharto, lalu siapa 
yang mau dijadikan tertuduh sebagai pelanggar HAM ???  ke-dua2nya sudah 
dinyatakan sebagai pahlawan bangsa dalam sejarahnya, jadi sudah tidak bisa 
diperdebatkan.

Sukarno melanggar HAM dengan mengganyang Malaysia, dengan menasionalisasi 
perusahaan2 asing, dengan menangkapi, menyiksa, membunuh dan memenjarakan 
rakyat yang opposisi tanpa diadili.  Semua kejahatan2 memang dilakukan Sukarno.

Mereka yang dendam terhadap Sukarno mendukung Suharto, lalu terjadi lagi 
pelanggaran2 HAM oleh Suharto dimana 10 juta orang2 yang tidak berdosa dibunuh 
oleh muslimin2 yang memanfaatkan dukungan kepada Suharto.

Lalu gimana caranya mau meminta keadilan pengadilan HAM kepada dua bangsat 
bajingan pengkhianat bangsa yang sudah almarhum ini yang sudah menyengsarakan 
bangsa dan menjerumuskan negaranya kejurang yang sangat hina ini ???

Ny. Muslim binti Muskitawati.










> isa <i.bramijn@...> wrote:
> Yang Presiden Sukarno belum sadari,
> mungkin, ialah bahwa CIA sudah jauh 
> terlibat dalam peristiwa tsb dan
> Jendral Suharto dkk dengan dukungan 
> sementara kalangan nasionalis dan
> religius, Presiden Sukarno berangsur-
> angsur menyadari bahwa Jendral
> Suharto cs telah bertindak
> melangkahinya, membangkanginya dan
> akhirnya samasekali mengkhianatinya.

Tidan benar bahwa Sukarno belum sadari keterlibatan CIA.  Yang salah kaprah 
pemahaman orang2 Indonesia maupun para analis politikusnya adalah, bahwa G30S 
sebagai penculikan dan pembunuhan Jendral2 sebagai urusan internal Angkatan 
Darat.  Itu sama sekali SALAH.

G30S adalah PENCULIKAN PRESIDEN, jadi bukan penculikan jendral2.  Jadi untuk 
keberhasilan menculik presiden, menyanderanya dan kemudian mendiktekan hal2 
yang penting mengenai pengunduran dirinya secara konstitusional.

Presiden RI itu khan ada pelindung2nya, dan pelindung2nya itu khan para 
jendral2, jadi untuk bisa berhasil menculik Sukarno maka jendral2nya inilah 
harus diculik atau dibunuh.  Berhasil menculik dan membunuh jendral artinya 
berhasil menculik Presiden.  Kemudian presiden dibawa ke lubang buaya untuk 
menyaksikan mayat jendral2nya sebagai shock terapi, kemudian Suharto ditelepon 
para penculiknya untuk menjemput dan menyandera Presiden Sukarno hingga apa 
yang diperintahkan oleh para penculiknya dilakukan oleh Sukarno.

Jadi penculik2nya BUKAN TENTARA RI, mungkin tentara Malaysia yang dilatih 
Inggris-Amerika yang mengenakan seragam Cakrabirawa, seragam Diponegoro, atau 
seragam apapun yang dianggap perlu untuk keberhasilan penculikan ini.  Suharto 
hanyalah salah satu jendral penyambut serangan komando penculik2 ini dari dalam 
negeri, dia mempersiapkan pendaratannya dan informasi waktu2 keberadaan Sukarno 
yang bisa berubah setiap saat.

Apa yang terjadi dengan Sukarno, tidak beda dengan yang terjadi di Vietnam, di 
Cina melalui Rev. Kebudayaan, di Panama, di Bolivia, dan diseluruh Amerika 
Latin telah dikerjain Amerika dengan teknik serangan komando yang persis sama 
seperti G30S di Jakartan.

Kesalahan Sukarno sudah jelas, cari gara2 dengan ganyang Malaysia, padahal 
sudah dibantu mendapatkan Irian Jaya.

Sukarno merampas semua perusahaan milik modal asing melalui yang dinamakannya 
nasionalisasi.  Jadi terlalu banyak pelanggaran2 Internasional yang dilakukan 
Sukarno dengan melakukan subversi kepada negara2 tetangganya.

Setelah Sukarno keluar dari PBB, maka keselamatan Sukarno sudah tidak 
terlindung.  Pusat serangan komando ini berada didalam kedubes Amerika di 
Jakarta dan Sukarno tahu jelas sekali dalam hal ini.

Jadi kepada para pembaca, marilah kita menerima kenyataan dengan berjiwa besar, 
bahwa Sukarno memang salah, bertindak blunder menjerumuskan bangsa dan 
negaranya kejurang kehinaan dan kenistaan yang tidak ada jalan keluarnya selain 
membayar dengan jiwa raga bung besar ini.

SP 11 Maret bukanlah pengkhianatan Suharto, karena surat tsb tidak perlu ada, 
cuma di-ada2kan saja untuk supaya bisa secara konstitusi Sukarno dipaksa turun. 
 Jadi sekali lagi SP 11 Maret bukan benda sejarah, ada atau tidak ada SP 11 
Maret tidak mengubah nasib Sukarno.  Jadi SP 11 Maret hanyalah formalitas saja, 
hanyalah untuk basa basi protokoler saja.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke