Meskipun Amerika dan Inggris tidak pernah mengakui keterlibatan pasukan khususnya yang masuk ke Indonesia melalui laut dengan bantuan Suharto untuk melakukan pembunuhan jendral2 yang paling dekat dengan Sukarno sebelum kemudian menculik Sukarno, namun CIA sudah melepaskan dokumen2 yang mengakui keterlibatannya dalam perencanaan yang tidak disebutkan sejauh mana keterlibatannya itu sendiri.
Tapi satu hal yang penting anda semua ketahui disini, bahwa sebuah gerakan besar yang direncanakan CIA tidak mungkin sekedar menculiki dan membunuh jendral2, YANG JADI TARGET PENCULIKAN ADALAH PRESIDEN SUKARNO BUKAN JENDRAL2NYA. Jendral2 yang disekitar Sukarno bukanlah target untuk diculik melainkan untuk dibunuh untuk memperlancar proses penculikan Sukarno. Langkah LetKol Untung adalah gerak tipuan saja yang katanya bertindak menculik jendral2 untuk melindungi presiden Sukarno, sedangkan gerakan pasukan asing justru membunuh jendral2 untuk menculik Sukarno. Singkat kata, jendral2 berhasil dibunuh maka presiden Sukarno juga berhasil diculik untuk kemudian didiktekan mengundurkan diri dimana prosesnya akan diawasi Suharto. Setelah di shock terapi, maka oleh para penculiknya, Sukarno diserahkan kepada Suharto sebagai sandera dan tahanan di Istananya. Jadi pada saat tanggal 1 Oktober 1965, para penculik menelepon Suharto untuk menjemput Sukarno di Halim. Padahal kenapa harus dijemput ???? Sukarno khan punya pengawal pribadi, lalu kenapa harus menelepon Suharto minta dijemput ??? Jadi silahkan baca yang jelas berita bahasa Inggrisnya dari wikipedia yang saya cantumkan dibawah ini dimana jelas sekali kata2nya, yaitu Suharto mengangkut Sukarno ke Bogor dulu baru diangkut ke Jakarta kemudian, sedangkan Omar Dhani lari ke Kamboja, sedangkan Aidit ke Jawa Tengah. Belum pernah ada koran Indonesia yang menyebutkan bahwa Omar Dhani melarikan diri ke Kamboja. Sementara pasukan Suharto menawan Sukarno di Bogor sebelum kemudian dibawa ke Jakarta, dan waktu itu Aidit lari ke Jawa Tengah. Rupanya, Sukarno mau dilarikan ke Kamboja tetapi keburu ditangkap pasukan Suharto sehingga hanya Omar Dhani yang berhasil melarikan diri ke Kamboja. http://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno Removal from power Transition to the New Order On the dawn of 1 October 1965, six of Indonesia's most senior army generals were kidnapped and killed by a movement calling themselves the "30 September Movement" (G30S). Among those killed was Ahmad Yani, while Nasution narrowly escaped. The G30S Movement consisted of members of the Presidential Guards, Brawidjaja Division, and Diponegoro Division, under the command of a Lieutenant-Colonel Untung bin Sjamsuri, a known communist sympathiser who participated in the 1948 PKI rebellion. The movement took control of the radio station and the Merdeka Square. They broadcasted statement declaring the kidnappings were meant to protect Sukarno from a coup attempt by CIA-influenced generals. Later, it broadcasted the disbandment of Sukarno's cabinet, to be replaced by a "Revolutionary Council". In Central Java, soldiers associated with the Movement also seized control of Yogyakarta and Solo between 1–2 October, killing two colonels. Major General Suharto, commander of the Army's strategic reserves, took control of the army the following morning.[30] Suharto ordered troops to take-over the radio station of Republic of Indonesia Radio and Merdeka Square. On the afternoon of that day, Suharto issued an ultimatum to the Halim Air Force Base, where the G30S had based themselves and where Sukarno (the reasons for his presence are unclear and were subject of claim and counter-claim), Air Marshal Omar Dhani, and PKI chairman Aidit had gathered. By the following day, it was clear that the incompetently organised and poorly coordinated coup had failed. Sukarno took-up residence in the Bogor Palace, while Omar Dhani fled to Cambodia and Aidit to Central Java.[31] By 2 October, Suharto's soldiers occupied Halim Air Force Base, after a short gunfight. Sukarno's obedience to Suharto's 1 October ultimatum to leave Halim is seen as changing all power relationships.[32] Sukarno's fragile balance of power between the military, political Islam, communists, and nationalists that underlay his "Guided Democracy" was now collapsing.[31] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
