Pendidikan di perguruan tinggi antara Indonesia dan Asing memang berbeda 
kurikulumnya, dan penyebab berbedanya tsb juga disebabkan tidak adanya 
kemauan pemerintah utk merubah kurikulum baik sejak SD sd perguruan tinggi, 
hanya khusus perguruan tinggi bukan semua jurusan mendapat pelajaran sesuai 
dengan apa yg bro Wawan tulis, masih banyak mata pelajaran yg mengharuskan 
di hafal, semisal kedokteran, biologi, kimia, fisika dan sejenisnya.

Putri bungsuku lulusan terbaik di sekolahnya, ketika mau melanjutkan ke 
perguruan tinggi bertanya ke aku, jurusan apa yg baik utk dia, aku hanya 
jelaskan bila percaya eksistensi Allah tanpa pamrih maka jurusan fisika, 
biologi dan math dilepas, karena ke 3 bidang tsb bisa membuat iman jebol, 
putriku akhirnya mengambil kimia.

Apakah nantinya berjiwa enterpreneur tidaknya aku bilang ambil di pendidikan 
strata S2, karena utk S1 adalah dasar utk menjadi orang tua bukan orang 
dewasa, seperti halnya orang tua yg bisa nya ngotot, maka S1 umumnya pun 
suka ngotot gak puguh, berbeda setelah S2 maka kuping masih terbuka lebar 
utk menjadi pendengar yg baik.

Jurusan IA dan sejenisnya di Indonesia memang belum ada, demikian juga 
jurusan yg membutuhkan alat laboratorium mutahir butuh banyak biaya, dengan 
kondisi tsb maka hanya jurusan management yg lebih banyak memberikan home 
work study kasus, seperti halnya Piliphina yg termasuk jagoan dibidang 
management, sedang utk arsitektur Indonesia masih bisa unjuk gigi karena 
dasarnya bukan study kasus melainkan imajinasi yg di sesuaikan dengan 
kemampuan mahasiswa.

Permasalahan lain, adalah dosennya sendiri, dimana utk mendapatkan dosen yg 
up to date sangat sulit, silahkan bayangkan bila dosen sehari hari nyambi 
kesana sini, sedang perkembangan teknolgi sudah berubah terus.

Saat ini perkembangan pendidikan termasuk cepat berubah, bila pengajar tidak 
mengikuti perkembangan kapan mahasiswa nya bisa menjadi lebih pintar ?

Istilah sekian persen utk materi dan sekian puluh persen utk melatih otak 
kanan cocoknya di S2, karena bila hal ini dipaksakan di S1, aku jamin 
hasilnya akan kacau, karena bukan semata persentasi yg harus di perhitungkan 
melainkan kemampuan analisa dan mengingat lah yg menjadi dasar utk sampai ke 
level diatasnya.

Dalam hal ini bisa aku berikan contoh antara play groups dan kelas 0, di 
play groups cukup bersosialisasi, di kelas 0 sedikit dapat tambahan warna 
mewarnai, begitu masuk ke SD sudah siap utk menerima dogma dogma yg memang 
menjadi dasar semua pendidikan.
Apa jadinya bila dogma dogma di SD sd SLTA di rubah jumlah jam pelajarannya 
?

Hanya memang khusus binatang juspiglah yg mampu langsung loncat ke S teler, 
dan hasilnya bisa terlihat kemampuannya hanya menggonggong dan terkaing 
kaing doangan.

----- Original Message ----- 
From: "wawan" <[email protected]>

>
> Kang Sur,
>
> saya sudah pernah menjalani pendidikan di Indonesia dan MIT,
>
> bedanya, kalau pendidikan di Indonesia memang digiring untuk menjadi 
> engineer,
>
> sedangkan pendidikan  di MIT digiring untuk menjadi imajinator dan 
> kecerdasan general,
>
> misal tentang study Artificial Intelligence, ini materi pembahasannya 5%, 
> yang 95% adalah melatih otak untuk bermain logika, baik aljabar, boolean, 
> arithmetika, logic, konversi analog to digital
>
> baiknya kang sur coba cari referensi bagaimana methodologi kuliah  di luar 
> negeri
>
> mereka juga integrated dengan venture capital, misal lulusan terbaik 
> stanford ataupun skolkovo, mereka akan dimodali untuk membuat start-up, 
> kalau sukses baru para venture capital masuk
>
> saya pikir, kita banyak salah paham bahwa pendidikan tinggi tidak penting, 
> saya pikir ini akibat kurikulum indonesia
>
> artinya, kalau kurikulum indonesia tidak mendorong para siswa untuk 
> menjadi entrepreneur ya jangan disalahkan atau digeneralisasi yg salah 
> adalah university, karena university seperti Stanford, Harvard, Barkeley, 
> MIT, itu justru sekolah untuk menciptakan entreprenuer
>
> di indonesia sebenarnya juga sudah banyak, misalnya sekolah yg dibuat oleh 
> ciputra
>
> --- In [email protected], "suryana" <gsuryana@...> wrote:
>>
>
>>
>> Setiap manusia sudah mendapat jatahnya masing masing, selama menyadari
>> jatahnya silahkan kembangkan, dan pendidikan bukan semata jenjang utk
>> menjadi pengusaha, sudah terlalu banyak contoh utk jenis jenis pekerjaan
>> tertentu tidak membutuhkan pendidikan tinggi.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke