Oh ? saya kira dalam hal ini kang mas Ajeg kurang ajeg pendiriannya ; hahahaha, mangsud saya bukan harus bicara agama; dan terus yang bisa bicara terpilih jadi President RI. Mangsud saya bukan begitu kang Mas. Tapi sing jelas ... membangun NKRI itu jelas serba runyam; harus ada kompromi yang tepat. Tak sembarang narik kesimpulan hanya dari pandangan nyamping saja. Pandangan mesti harus daari depaan blakang atas bawah, nyamping; makaa komentar2 yang terlontar dari seseoraang terhadap seorang tokoh negri ini, bisa dianggap sebagai corong kelompok lainnya; bukan demi kepentingan rakyat banyak.
Karena kita harus sadar, bahwa hampir semua yaang duduk diatas ... yo wis begitulah. Sopo yang dicalonkan mestine ya baagiaan daari MEREKA itulah; entah kelompok yang manapun sami mawon, kaang Mas. Jadi ndaak ujsah terlalu berharap lah.Ndak usah banyaak idealis lah. Yang praktis2 sajalah. Yo opo ora ? he he maaf lho mas Ajeg. --- On Tue, 11/6/12, ajeg <[email protected]> wrote: From: ajeg <[email protected]> Subject: Re: [proletar] Temui Ratu Inggris, SBY pakai busana To: [email protected] Received: Tuesday, November 6, 2012, 10:58 PM Kalo syaratnya jago bicara tuhan & agama ya nggak salah & nggak asing lagi, comot saja... uplik si sutan relameraja ehe.. --- Dimas Wuryanto <dimaswur@...> wrote: > Membahas NKRI pada saat ini jauuuh lebih sulit ketimbang > membicarakn agama dan Tuhan. Tapi ay berterimakasih buaanget akan > maukannya. Hanya saja mituut Kng Mas Ajeg sopo sing PAS jadi Pres > yad ? mengingat disemua sudut NKRI telh bercokol mfi2 yang artinya > yah hmpir smua yang kini ada diatas baik DPR, Yudikatif aplagi > executif adalah meragukan semua ! Yaa tentunya termasuk saya > sendiri. > > --- ajeg <ajegilelu@...> wrote: > > > Tepo seliro.. > > > > Wah udah lama nggak dengar kata ini. > > > > Bagus. > > > > Sekarang, kita urut dulu. > > Dari jeplakan SBY sepanjang 8 tahun ini kelihatan jelas > > pola pikirnya yang langsung lompat ke hasil -> harmonis. > > Siapa nggak mau hidup seperti itu? > > Semua yang sehat pikiran tentu mau. > > Lalu bagaimana prosesnya? > > > > Bertahun-tahun dengan tata rambut baku dan tata bahasa klimis, > > SBY selalu bicara "bersama kita bisa". > > Entah itu sebuah ajakan, perintah, atau pepesan kosong, > > tidak lagi penting. Sebab pertanyaan yang tidak terjawab sampai > > sekarang adalah, bersama siapa, dan bisa apa? > > > > Fakta: > > > > Belum genap satu bulan dilantik, terjadi kecelakaan terbodoh > > di Jagorawi / Cikeas; lima tewas, belasan luka berat dan ringan. > > Dengan ceria SBY berpidato di depan keluarga korban akan > > menanggung segala biaya akibat kecelakaan yang dia timbulkan itu. > > > > Bulan berikutnya, datang tsunami di Aceh. Duaratusribu tewas > > dan tak bisa disebut lagi kehancuran yang juga melanda beberapa > > propinsi lain. > > Sejak itu, bencana serta malapetaka datang dan pergi silih > > berganti atau berbarengan. Tak putus-putus. Baik bencana alam > > maupun bencana buatan seperti bom; kecelakaan angkutan; perang > > antarsuku; rusuh pilkada; tawuran antarkampung antarpelajar dlsb. > > Korban terus berjatuhan dan masih menyisakan puluhanribu orang > > di tempat-tempat pengungsian sampai hari ini - termasuk pengungsi > > peninggalan Perang Timtim '99 dan Perang Ambon 2000. > > > > Lantas, ngapain sajakah SBY ketika anak-buahnya rame-rame > > menjarah APBN selain bolak-balik pidato (resmi di podium > > berlambang kepresidenan) untuk menunjukkan kepingin berdiri > > paling depan menghunus pedang memberantas korupsi? > > > > Nah, di mana kata "tepo seliro" itu mau ditempatkan di sini? > > > > Yang pasti, rakyat Indonesia sudah sangat bertenggang-rasa > > ketika itu orang menjadi presiden (lagi) dengan data sbb: > > > > Pilpres 2009 > > > > DPT....................171.068.667 orang > > Suara sah..............121.504.481 lembar > > SBY-Boediono............73.874.562 contrengan > > > > So, kecuali hasil uji partikel Higgs Boson kemarin > > berhasil mengubah cara berhitung, maka 73 juta tidaklah > > mayoritas dari 171 juta. > > Lebih-lebih mayoritas dari seluruh Rakyat Indonesia > > yang berjumlah 230 juta orang. > > > > Kalau harus ada tenggang-rasa, maka giliran SBY & koncolah > > untuk melakukan itu. > > Tolak atau tunda menerima penghargaan apapun dari siapapun > > sebelum menunjukkan tanda-tanda bekerja untuk... para > > pemilihnya saja dulu - fakta bahwa di radio & televisi dari > > hari ke hari ada saja pemilih SBY yang mencabut suara > > dukungannya, artinya legitimasi SBY sebagai presiden sudahlah > > rontok. > > > > Memberi penghargaan kepada seorang presiden yang negara (bahkan > > kabinetnya) kacau-balau itu sama saja dengan menghargai kerja > > si presiden dalam menghancurkan negaranya (dan kabinetnya). > > Tinggal tunggu saatnya 3 alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) > > diobrak-abrik dunia "internasional". > > > > Inilah proses itu. > > > > Begitu bukan? > > > > Bukan begitu? > > > > you don't need no baggage you just get on board > > - curtis mayfield > > > > http://www.youtube.com/watch?v=k9Brw_0gncU > > > > --- Dimas Wuryanto <dimaswur@> wrote: > > > > > Masalahnya kita masih duduk di bumi NKRI. Dan kita pula tahu > > > banget, bahwa kita semua setuju; setidaknya mayoritas > > > mengangkat sby sebagai president RI. Yang aartinya mungkin saja > > > terbaik dari yang buruk2; lebih ke sono lagi artinya kita semua > > > BURUK ? > > > Itulah tepo sliro. trims Kang Mas Ajeg. > > > > > > --- ajeg <ajegilelu@...> wrote: > > > > > > > Rasanya saya bisa memahami (bukan memaklumi) > > > > pemikiran Pak Iwa. > > > > > > > > Kalau tanggapan ini disebut kritik ya anggap saja > > > > berbagi pengenalan tentang bangsa Indonesia. > > > > Khususnya untuk mereka yang kelewat nyinyir terhadap > > > > negeri ini tanpa berani melihat sebab-musababnya. > > > > Kelewat takut menghajar para pembajak yang menduduki > > > > kekuasaan. > > > > > > > > --- Dimas Wuryanto <dimaswur@...> wrote: > > > > > > > > > Jawaban dari saudara ajeg alias ajigile luh, sangat > > > > > memenuhi kepantasan. Walau sudara imawardi mungkin ngambil > > > > > kesempatan untuk melontarkan kritik terhadap sby; dan > > > > > pastinya juga ada mengandung kebenaaran. ASkan tetapi kita > > > > > harus selalu bermawas diri en tepo sliro; suatu kritik > > > > > terhadap seseorang atau sekelompok pada saat ini akan > > > > > dimanfaatkan oleh orang atau kelompok lainnya untuk dan > > > > > demi keuntungan kelompoknya yang anda sendiri belum yakin > > > > > akan JUJUR untuk ngurus Negara. > > > > > > > > > > Jadi hati2lah. Salut pada KI Ajeg yang menamaakan diri > > > > > kurang srek > > > > > > > > > > --- ajeg <ajegilelu@...> wrote: > > > > > > > > > > > Teluk Belanga adalah pakaian khas Melayu Sumatera. > > > > > > Model serupa juga dikenal di berbagai daerah Nusantara > > > > > > dengan aneka varian. Model Sumatera ini ditetapkan > > > > > > sebagai pakaian sipil nasional melalui keputusan presiden > > > > > > th 1972 dan diperbarui th 1990. > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
