Pada akhir abad ke enam era Kristen sejumlah kota berkembang disepanjang pantai
Arab sebagai tempat pertumbuhan perdagangan. Bangsa Arab menerima barang
dipelabuhan Laut Merah dan membawa kafilah unta melintasi padang pasir menuju
Suriah dan Palestina, mengangkut rempah-rempah dan kain dan barang-barang
dagangan lainnya.
Mereka pergi ke utara, selatan, timur, dan barat, sehingga mereka tahu semua
tentang dunia Kristen dan ide-idenya, juga tentang Zarathustra dan ide-idenya.
Sejumlah suku Yahudi tinggal di tengah orang Arab, mereka datang ke sini
setelah bangsa Romawi mengusir mereka keluar dari Palestina.
Baik orang Arab maupun orang Yahudi adalah keturunan semit dan leluhur mereka
bersambung ke Ibrahim (dan melaluinya kepada Adam). Orang Arab memandang diri
mereka sebagai keturunan Ismail, anak Ibrahim dari istri keduanya Hajar.
Cerita-cerita yang umumnya terkait dengan Perjanjian LamaAdam dan Hawa, Habil
dan Qabil, Nuh dan bahteranya, Yusuf dan Mesir, Musa dan Firaun, dan yang
lainjuga merupakan bagian dari tradisi Arab. Meskipun sebagian besar orang
Arab adalah kafir musyrik pada saat itu dan orang Yahudi tetap tegas
monoteistik, kedua kelompok ini nyaris tak dapat dibedakan dalam hal budaya dan
gaya hidup: orang Yahudi dari daerah ini berbicara bahasa Arab, dan struktur
suku mereka mirip dengan orang Arab.
Sebagian orang Arab adalah suku Badui yang tinggal nomaden di padang gurun,
tetapi yang lainnya penghuni kota. Nabi Muhammad lahir dan dibesarkan di kota
Makkah yang sangat kosmopolitan, di dekat pantai Laut Merah.
Makkah adalah kota perdagangan dan niaga yang luas, tetapi bisnis terbesar
mereka yang paling bergengsi adalah agama Makkah memiliki setidaknya seratus
kuil untuk dewa-dewa kafir dengan nama seperti Hubal, Manat, Allat, al-Uzza,
dan Fals.
Para peziarah mengalir masuk untuk mengunjungi situs-situs itu, melaksanakan
ritual, dan melakukan bisnis kecil di samping itu, sehingga Makkah memiliki
industri wisata yang sibuk dengan penginapan, bar, toko-toko, dan jasa katering
untuk para peziarah.
Muhammad lahir sekitar 570. Tanggalnya yang tepat tidak diketahui karena tak
seorang pun yang memberi banyak perhatian kepadanya pada saat itu. Ayahnya
adalah seorang miskin yang meninggal ketika Muhammad masih di dalam kandungan,
meninggalkan ibu Muhammad dalam keadaan hampir miskin.
Kemudian, ketika Muhammad baru berumur enam tahun, ibunya pun meninggal.
Meskipun merupakan anggota Quraisy, suku yang paling kuat di Makkah, Muhammad
tidak mempunyai status di sana karena beliau tergolong salah satu klan suku
yang miskin, Bani ("marga" atau "keluarga") Hasyim.
Kita dapat merasakan bahwa bocah ini tumbuh dengan perasaan yang cukup peka
tentang statusnya yang tidak meyakinkan sebagai anak yatim piatu. Akan tetapi
dia tidak ditinggalkan, kerabat dekatnya membawanya masuk.
Dia tinggal bersama kakeknya sampai orang tua itu meninggal dan kemudian
bersama pamannya Abu Thalib, yang membesarkannya seperti anak sendiri, namun
kenyataannya tetaplah bahwa dia bukan siapa-siapa di dalam budayanya, dan di
luar rumah pamannya dia mungkin mencicipi sikap benci dan tidak hormat yang
banyak ditunjukkan kepada anak yatim piatu. Masa kecilnya menanamkan dalam
dirinya kepedulian seumur hidup terhadap penderitaan para janda dan anak yatim.
Ketika Muhammad berusia dua puluh lima, seorang janda kaya yang pengusaha
bernama Khadijah mempekerjakannya untuk mengelola kafilahnya dan menjalankan
bisnis untuknya. Masyarakat Arab pada umumnya tidak ramah terhadap perempuan,
tetapi Khadijah telah mewarisi kekayaan suaminya, dan fakta bahwa dia memegang
kekayaan itu menunjukkan tentunya dia memiliki pribadi yang kuat dan
karismatik.
Rasa saling menghormati dan kasih sayang antara Muhammad dan Khadijah membuat
keduanya melangsungkan perkawinan, sebuah kemitraan yang berlangsung hangat
sampai kemauan Khadijah 25 tahun kemudian. Dan meskipun Arabia adalah
masyarakat poligami di mana hanya memiliki satu istri bukan hal biasa, Muhammad
tidak menikah dengan orang lain selama masa hidup Khadijah.
Sebagai orang dewasa, anak yatim itu membangun kehidupan pribadi dan bisnis
yang cukup sukses. Ia mendapatkan reputasi karena keahlian diplomatik, dan
pihak-pihak yang berselisih kerap memintanya untuk bertindak sebagai penengah.
Namun, ketika Muhammad mendekati usia empat puluh dia mulai menderita apa yang
sekarang bisa kita sebelum usia setengah baya.
Dia makin bertanya-tanya tentang kehidupan. Memandang ke sekeliling, dia
melihat sebuah masyarakat yang bergelimang kekayaan, namun di tengah semua
kemakmuran itu, dia melihat banyak janda yang hidup miskin dengan hanya
mengandalkan derma dan anak-anak yatim harus berjuang untuk sekadar mendapatkan
makan.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Beliau mengembangkan kebiasaan menyendiri pada waktu-waktu tertentu di dalam
sebuah gua di gunung untuk bermeditasi. Di sana, suatu hari, beliau
mendapatkan pengalaman penting, yang hakikatnya hingga kini tetap misterius,
karena berbagai kisah yang tersebar mungkin mencerminkan berbagai deskripsi
oleh Muhammad sendiri.
Tradisi yang telah melekat menyebut pengalaman itu sebagai kunjungan dari
malaikat Jibril. Dalam satu kisah, Muhammad berbicara tentang "kain sutra yang
di atasnya terdapat beberapa tulisan" dibawakan kepadanya saat ia sedang tidur.
Akan tetapi, utamanya itu adalah interaksi lisan dan pribadi, yang dimulai
ketika Muhammad, yang sedang bermeditasi dalam kegelapan gua, merasakan sebuah
kehadiran yang sangat besar dan mengerikan: ada orang lain di dalam gua itu
bersamanya.
Tiba-tiba ia merasa dirinya didekap dari belakang dengan sangat keras sehingga
ia tak bisa bernapas. Lalu terdengar suara, yang tidak terasa sebagai terdengar
dari luar melainkan lebih seperti dari dalam dirinya sendiri, memerintahkannya
untuk "membaca!". Muhammad berhasil berbicara sambil terengah-engah bahwa
dirinya tidak bisa membaca.
Perintah itu datang lagi: "Bacalah!". Sekali lagi Muhammad memprotes bahwa ia
tidak bisa membaca, tidak tahu apa yang harus dibaca, tapi malaikat suara itu,
dorongan itumenyalak sekali lagi: "Bacalah!". Setelah itu Muhammad merasa
kata-kata agung yang membangkitkan ketakutan terbentuk di dalam hatinya dan
pembacaan itu pun dimulai,
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya".
Muhammad turun dari gunung dengan rasa takut, berpikir mungkin ia telah
dirasuki jin, roh jahat. Di luar, ia merasa sebuah kehadiran telah memenuhi
dunia hingga ke ujung cakrawala. Menurut beberapa riwayat, beliau melihat
sebuah cahaya dengan bentuk seperti manusia di dalamnya, namun lebih
menggelegar dan menakutkan.
Di rumah, beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang telah terjadi, dan
Khadijah meyakinkannya bahwa beliau benar-benar waras, bahwa yang datang
kepadanya itu sesungguhnya adalah malaikat, dan bahwa dirinya sedang dipanggil
untuk melayani Allah.
"Aku percaya padamu," kata Khadijah, dan dengan demikian menjadi pengikut
pertama Muhammad, muslim pertama.
Pada awalnya, Muhammad berdakwah hanya kepada teman-teman akrab dan kerabat
dekat. Untuk beberapa lama, ia tidak mengalami pewahyuan lagi, dan itu
membuatnya depresi: beliau merasa seperti gagal.
Tapi kemudian wahyu mulai datang lagi. Lambat laun, beliau menyampaikan
risalahnya kepada publik, sampai memberitahu orang-orang di sekitar Makkah,
"Hanya ada satu Allah. Tunduk kepada kehendak-Nya, atau engkau akan dihukum ke
neraka"dan beliau menyebutkan menyangkut apa saja ketundukan kepada kehendak
Allah itu: meninggalkan pesta pora, mabuk-mabukan, kekejaman, dan tirani;
menyayangi yang lemah dan tak berdaya; membantu orang miskin; menegakkan
keadilan; dan beramal baik.
Diantara banyak kuil di Makkah ada bangunan berbentuk kubus dengan sebuah batu
yang dimuliakan di pojoknya, sebuah batu hitam mengkilap yang jatuh dari langit
pada zaman dahulu kalasebuah meteor, mungkin.
Kuil ini disebut Ka'bah, dan dongeng suku-suku mengatakan bahwa Ibrahim
sendirilah yang membangunnya, dengan bantuan putranya Ismail. Muhammad
menganggap dirinya sebagai keturunan Ibrahim dan tahu semua tentang monoteisme
Ibrahim yang tanpa kompromi.
Memang, Muhammad tidak berpikiran bahwa dia meng-khutbahkan sesuatu yang baru;
ia yakin bahwa dirinya diutus untuk memperbarui apa telah disampaikan Ibrahim
(dan banyak nabi-nabi lainnya), sehingga ia memusatkan perhatiannya pada
Ka'bah. Inilah, katanya, yang harus menjadi satu-satunya tempat suci Makkah:
bait Allah.
'Al' dalam bahasa Arab berarti "yang itu", sedangkan 'lah' adalah bentuk
penghilangan bunyi dalam percakapan dari kata tldhy yang berarti "tuhan".
Allah, dengan demikian, berarti "Tuhan". Inilah poin inti dalam Islam:
Muhammad bukan berbicara tentang "tuhan yang ini" versus "tuhan yang itu .
Dia tidak mengatakan, "Percayalah pada Tuhan yang disebut Lah karena Dia adalah
tuhan yang terbesar dan terkuat," atau bahkan bahwa Lah adalah "satu-satunya
tuhan sejati" dan semua yang lain adalah palsu.
Orang bisa bermain dengan gagasan seperti itu dan masih berpikir tentang Tuhan
sebagai sebuah wujud tertentu dengan kekuatan dialami, mungkin makhluk yang
tampak seperti Zeus, memiliki keabadian, bisa mengangkat seratus unta dengan
satu tangan, dan tak ada duanya. Itu akan tetap merupakan sebuah keyakinan pada
satu tuhan.
Muhammad mengusulkan sesuatu yang berbeda dan lebih besar. Dia mengajarkan
bahwa ada satu Tuhan yang mencakup semua dan universal sehingga tidak bisa
dihubungkan dengan gambaran tertentu, atribut tertentu, gagasan tertentu,
batasan tertentu. Hanya ada Allah dan semua yang lain adalah ciptaan Allah:
inilah pesan yang beliau sampaikan kepada siapa saja yang mau mendengarkan.
Para pemimpin bisnis Makkah mulai merasa terancam oleh Muhammad karena mereka
menghasilkan banyak uang dari pariwisata religius; jika idenya tentang
hanya-satu-tuhan ini menyebar, mereka takut, para penyembah semua dewa lain
akan berhenti datang ke Makkah dan mereka akan hancur. (Hari ini, ironisnya,
lebih dari jutaan orang datang ke Makkah setiap tahun untuk melaksanakan ibadah
haji di Ka'bah, membuatnya pertemuan tahunan terbesar di dunia!).
Selain itu, Makkah mendapat keuntungan dari tempat mabuk-mabukan, perjudian,
prostitusi, serta atraksi lain yang sejenis, dan pialang kekuasaan suku tidak
bisa metoleransi orang yang menyeru untuk menentang jenis hiburan yang membawa
kekayaan bagi mereka, bahkan jika ia hanya mendapat segelintir pengikut, banyak
di antara mereka adalah orang-orang miskin yang tidak berdaya dan para budak.
Namun ternyata tidak semua pengikutnya orang miskin dan budak: di antara mereka
termasuk orang-orang kaya dan pedagang terhormat seperti Abu Bakar dan Utsman,
dan tak lama kemudian bahkan mencakup Umar yang bertubuh besar gagah, yang
awalnya merupakan salah satu musuh Muhammad paling sengit. Kecenderungan ini
tampak mengganggu..
Selama hampir dua belas tahun, paman Muhammad Abu Thalib membela dirinya
terhadap semua kritik. Menurut sebagian besar umat Islam, Abu Thalib sendiri
tak pernah masuk Islam, tetapi ia berdiri membela kemenakannya lantaran
kesetiaan pribadi dan cinta, dan perkataannya dihormati. Khadijah juga
mendukung suaminya tanpa ragu, yang memberinya kenyamanan yang amat berharga.
Kemudian, setelah melewatkan waktu satu tahun yang berat, kedua tokoh utama
dalam kehidupan Muhammad ini wafat, membuat Rasul Allah terbuka terhadap
serangan musuh-musuhnya.
Tahun itu, tujuh tetua ; suku Quraisy memutuskan untuk membunuh Muhammad ketika
ia tidur, dan dengan demikian menyingkirkan sang pengacau sebelum ia bisa
melakukan kerusakan riil terhadap perekonomian.
Salah satu paman Muhammad memelopori beberapa persekongkolan semacam itu.
Sesungguhnya, ketujuh anggota komplotan itu memiliki hubungan kerabat dengan
Muhammad, namun hal ini tidak melunakkan tekad mereka.
Untungnya, Muhammad menangkap kabar angin tentang persekongkolan itu dan
menyusun rencana untuk menggagalkannya dengan bantuan dua sahabat dekatnya.
Salah satunya adalah sepupunya Ali, yang kini adalah seorang pemuda tegap, yang
akan segera menikah dengan Fathimah putri Muhammad dan menjadi menantu Rasul.
Yang lainnya adalah sahabatnya, Abu Bakar, pengikut pertama Muhammad di luar
lingkaran keluarga dan penasihat terdekatnya, yang akan segera menjadi ayah
mertua Muhammad.
Nabi sudah ada kontak dengan delegasi dari Yatsrib, sebuah kota lain dekat
pantai Laut Merah, sekitar 250 kilometer sebelah utara Makkah. Ini adalah kota
pertanian bukannya kota perdagangan dan dicabik-cabik oleh konflik karena para
penduduknya terdiri atas beberapa suku yang saling bertikai.
Penduduk Yatsrib menginginkan orang luar yang berpikiran adil untuk datang dan
mengawasi negosiasi di antara suku-suku itu; mereka berharap bahwa jika mereka
menyerahkan wewenang peradilan kepada orang semacam itu, ia akai| mampu membawa
perdamaian.
Muhammad memiliki reputasi sebagai seorang yang berpikiran adil dan penengah
yang cakap, peran yang telah dimainkannya dalam beberapa perselisihan penting,
dan karenanya orang Yatsrib berpikir beliau mungkin orang yang cocok untuk
pekerjaan itu. Beberapa di antara mereka mengunjungi Makkah untuk bertemu
Muhammad dan menemukan karismanya yang luar biasa. Mereka masuk Islam dan
mengundang Muhammad untuk pindah ke Yatsrib sebagai penengah dan membantu
mengakhiri semua pertengkaran. Nabi menerima usul tersebut.
Pembunuhan Muhammad direncanakan pada malam bulan September tahun 622 M. Malam
itu, Nabi dan Abu Bakar menyelinap pergi ke padang gurun. Ali berbaring di
tempat tidur Muhammad agar terlihat seolah-olah beliau masih ada di sana.
Ketika calon pembunuh menerobos masuk, mereka marah karena menemukan Ali,
tetapi mereka, membebaskannya dan mengirim regu pencari keluar untuk memburu
Nabi. Muhammad dan Abu Bakar baru sampai ke sebuah gua di dekat Makkah, namun
legenda mengisahkan bahwa laba-laba membangun jaringnya di mulut gua setelah
mereka masuk.
Ketika regu pencari datang dan melihat jaring laba-laba itu, mereka mengira tak
seorang pun masuk ke dalamnya, dan dengan demikian melewatkannya. Muhammad dan
Abu Bakar berhasil selamat sampai ke Yatsrib, setelah itu beberapa pengikut
Muhammad yang lain pindah ke sana juga, dan sisanya segera menyusul.
Sebagian besar imigran dari Makkah ini harus meninggalkan rumah dan harta benda
mereka di belakang; sebagian besar memutus hubungan dengan anggota keluarga dan
sesama suku yang belum bertobat. Tapi setidaknya mereka pindah ke tempat di
mana mereka akan aman, dan di mana pemimpin mereka Muhammad telah diundang
untuk memimpin sebagai otoritas tertinggi kota, penengah di antara suku para
kepala suku yang saling bersaing.
Sesuai dengan janjinya, Muhammad duduk bersama dengan suku-suku yang bertikai
di kota untuk menuntaskan perjanjian (yang kemudian disebut Piagam Madinah).
Perjanjian ini menjadikan kota itu sebuah konfederasi, menjamin bagi
masing-masing suku hak untuk menjalankan agama istiadat sendiri, menerapkan
bagi semua warga negara peraturan yang dirancang untuk menjaga perdamaian
secara keseluruhan, menegakkan suatu proses hukum yang murni untuk
menyelesaikan masalah internal suku mereka sendiri dan menyerahkan kepada
Muhammad kewenangan untuk menyelesaikan sengketa antar suku.
Yang paling penting, semua penandatanganan, muslim dan non muslim, berjanji
untuk bergabung dengan semua yang lain untuk membela Madinah terhadap serangan
dari luar. Meskipun dokumen ini disebut konstitusi tertulis pertama, itu
sebenarnya lebih merupakan sebuah perjanjian multipartai.
Muhammad juga menunjuk salah satu muslim Yatsribi untuk membina dan membantu
setiap keluarga muslim Makkah. Penduduk asli menjadi tuan rumah bagi pendatang
baru dan keluarganya, membantu mereka menetap, dan memulai kehidupan baru.
Sejak saat itu, muslim Yatsribi disebut Anshar, "para penolong".
Nama kotanya juga berubah, Yatsrib menjadi Madinah, yang secara sederhana
berarti "kota" (kependekan dari ungkapan yang berarti "Kota Sang Nabi").
Peristiwa kepindahan kaum muslim dari Makkah ke Madinah, dikenal sebagai Hijrah
(kadang dieja Hijriyah atau Hegira dalam bahasa Inggris.)
Dua belas tahun kemudian, ketika umat Islam menciptakan kalender mereka
sendiri, mereka menghitungnya dari peristiwa ini karena Hijrah, mereka rasa,
menandai poros sejarah, titik balik nasib mereka, momen yang membagi semua
waktu menjadi sebelum Hijrah dan setelah Hijrah.
Sebagian agama menandai hari kelahiran pendiri mereka sebagai titik awal
mereka; sebagian, hari wafatnya; dan yang lain lagi, saat pencerahan nabi
mereka atau interaksi kunci dengan Allah.
Dalam ajaran Buddha, misalnya, agamanya dimulai saat Sidharta Gautama mencapai
pencerahan di bawah pohon bodhi. Kekristenan memberi arti penting keagamaan
pada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus (dan juga kelahirannya).
Akan tetapi, Islam tidak memberi banyak perhatian pada hari kelahiran Muhammad.
Pewahyuan di gua diperingati sebagai malam paling suci dalam peribadatan
Islam: ini adalah malam kemuliaan, Lailatul Qadar, yang jatuh pada atau di
dekat hari kedua puluh tujuh bulan Ramadan, bulan puasa. Tetapi dalam kalender
sejarah muslim, peristiwa itu terjadi sepuluh tahun sebelum titik balik yang
benar-benar penting: Hijrah.
Apa yang membuat perpindahan dari satu kota ke kota lain begitu penting?
Hijrah menempati kedudukan terpenting di antara peristiwa-peristiwa dalam
sejarah Islam karena menandai lahirnya komunitas muslim, ummah, sebagaimana
sebutannya dalam Islam. Sebelum Hijrah, Muhammad adalah seorang pendakwah
dengan pengikut individual. Setelah Hijrah, beliau adalah pemimpin masyarakat
yang berpaling kepadanya untuk mendapatkan perundang-undangan, arah politik,
dan bimbingan sosial.
Kata hijrah berarti "pemutusan hubungan".
Orang-orang yang bergabung dengan komunitas di Madinah meninggalkan ikatan
kesukuan dan menerima kelompok baru ini sebagai ikatan transenden, dan karena
komunitas ini secara keseluruhan berkenaan dengan membangun alternatif bagi
Makkah masa kecil Muhammad, ia merupakan sebuah Proyek sosial yang bersifat
ibadah dan berdimensi epik.
Proyek sosial ini, yang menjadi jelas sepenuhnya di Madinah setelah Hijrah,
adalah unsur inti Islam. Cukup jelas, Islam adalah sebuah agama, tetapi sejak
awalnya (jika Hijrah diambil sebagai "awal") juga merupakan entitas politik.
Ya, Islam menentukan cara untuk menjadi baik, dan ya, setiap muslim yang taat
berharap untuk masuk surga dengan mengikuti jalan itu, tapi bukannya berfokus
pada keselamatan individu sendiri-sendiri, Islam menyajikan sebuah rencana
untuk membangun masyarakat yang taat.
Individu memperoleh tempat di surga dengan berpartisipasi sebagai anggota dari
komunitas dan terlibat dalam proyek sosial Islam, yang bertujuan membangun
sebuah dunia di mana anak-anak yatim tidak akan merasa ditelantarkan dan di
mana para janda tidak akan pernah menjadi tunawisma, lapar, atau takut.
[bersambung...]
=====
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/