[lanjutan...]
Setelah Muhammad menjadi pemimpin Madinah, orang-orang datang kepadanya meminta bimbingan dan penilaian tentang segala macam pertanyaan kehidupan, besar atau kecil: bagaimana mendisiplinkan anak-anak bagaimana cara mencuci tangan apa yang dianggap adil dalam sebuah perjanjian apa yang harus dilakukan dengan seorang pencuri daftarnya berlanjut terus. Pertanyaan yang dalam banyak masyarakat lainnya akan diputuskan oleh beberapa spesialis terpisah, seperti hakim, legislator, pemimpin politik, dokter, guru, jenderal, dan lain-lain, semuanya berada dalam lingkup pengetahuan Nabi di sini. Bagian dari Al-Quran yang diturunkan di Makkah seluruhnya terdiri atas bahasa yang seperti ini: "Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan dahsyat dan bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi begini?" Pada hari itu bumi menceritakan beritanya karena sesungguhnya Tuhanmu memerintahkan itu kepadanya Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam Supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka Barangsiapa yang mengerjakan Jkebaikan seberat dzarrah pun Niscaya akan melihatnya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun Niscaya akan melihatnya pula". Ketika melihat ayat-ayat diturunkan di Madinah, Anda masih menemukan banyak ungkapan bersemangat, liris, dan mengecam, tetapi Anda juga dapat menemukan bagian-bagian seperti ini: "Allah mensyariatkati bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi mastng-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak menge-tahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ` Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Ini adalah undang-undang, dan ke arah inilah upaya masyarakat muslim berkembang, setelah berakar di Madinah. Setelah Hijrah, penduduk Arab asli dari Madinah secara bertahap masuk Islam, namun tiga suku Yahudi kota itu sebagian besar menolak berpindah agama, dan dari waktu ke waktu sebuah gesekan berkembang di antara mereka dan kaum muslim. Di antara orang-orang Arab juga, beberapa pria yang terganggu oleh naiknya kedudukan Muhammad memendam kebencian yang dijaga ketat. Sementara itu, suku Quraisy belum menghentikan upaya untuk membunuh Muhammad, meskipun dia kini tinggal 250 mil jauhnya. Selain menetapkan balasan yang besarnya seratus unta untuk kepala Muhammad, para pemimpin Quraisy tetap berusaha mengusir seluruh pengikutnya. Untuk mendanai serangan terhadap Madinah, pedagang terkaya Makkah meningkatkan ekspedisi perdagangan mereka. Muhammad membalas dengan memimpin serangan muslim terhadap kafilah Makkah tersebut (yang membantu memecahkan masalah lain yang dihadapi emigran Makkah: bagaimana menghidupi diri sekarang setelah mereka terpaksa meninggalkan seluruh barang dan bisnis mereka). Setelah setahun penggerebekan ini, orang Makkah memutuskan untuk menaikkan taruhannya. Seribu dari mereka memanggul senjata dan berbaris untuk menuntaskan apa yang sudah dimulai. Kaum muslim menemui mereka dengan kekuatan tiga ratus orang di sebuah tempat bernama Badar dan mengalahkan mereka dengan telak. Al-Quran menyebutkan Perang Badar sebagai bukti kemampuan Allah untuk menentukan hasil dari setiap pertempuran tidak peduli ada rintangannya. Sebelum Badar, beberapa suku Badui bekerja untuk pedagang di Makkah sebagai pengawal kontrak. Setelah Badar, suku-suku ini mulai beralih pihak. Meningkatnya solidaritas komunitas muslim di Madinah mulai mengejutkan suku-suku Yahudi. Salah satu dari tiga suku Yahudi itu meninggalkan Piagam Madinah dan mencoba menghasut suatu pemberontakan melawan Muhammad dan kembali kepada status quo pra-Islam, tetapi pemberontakan itu gagal, dan suku ini diusir dari Madinah. Sekarang suku Quraisy benar-benar memiliki alasan untuk khawatir. Alih-alih melenyapkan Muhammad, tampaknya mereka mungkin harus mulai menggali sendiri sebuah lubang. Pada tahun ketiga setelah Hijrah, mereka memutuskan untuk mengalahkan kaum muslim selagi mereka masih memiliki kesempatan. Mereka melipat tigakan ukuran pasukan mereka, menuju Madinah dengan kekuatan tiga ribu orang. Kaum muslim hanya bisa mengupayakan hanya 950 prajurit. Sekali lagi, mereka akan kalah tiga banding satutetapi setelah Badar, hal ini tidak menjadi masalah. Mereka memiliki satu-satunya aset yang penting: Allah berada di pihak mereka. Kemenangan Islam yang kedua dari tiga pertempuran ikonik terjadi di sebuah tempat bernama Uhud. Pada awalnya umat Islam tampak akan menang lagi, tapi ketika orang Makkah mundur, sebagian dari kaum muslim tidak mentaati perintah tegas Muhammad: mereka pecah barisan dan tumpah di lapangan dalam serbuan kacau terburu-buru untuk merebut barang rampasanpada saat itulah orang Makkah menyerang dari belakang, dipimpin oleh Khalid ibn al-Walid, seorang genius militer yang kemudian masuk Islam dan menjadi salah satu jenderal terkemuka ummah. Nabi sendiri terluka di Uhud, tujuh puluh muslim tewas, dan banyak sisanya lari. Ummah selamat, tetapi pertempuran ini menandai kekalahan yang buruk. Pertempuran penting dalam sejarah Islam ini berskala begitu kecil, jika diukur terhadap perang paling nyata, sehingga nyaris tidak memenuhi syarat sebagai pertempuran. Akan tetapi, masing-masingnya ditanamkan ke dalam teologi Islam dan diimbuhi makna. Dengan demikian, pertempuran Badar menunjukkan bahwa kehendak Allah-lah, bukan faktor material, yang menentukan kemenangan dalam pertempuran. Tapi Perang Uhud mengangkat pertanyaan teologis yang berbahaya. Jika Badar menunjukkan kekuatan Allah, apa yang ditunjukkan Uhud? Bahwa Allah juga bisa kalah dalam pertempuran? Bahwa Dia tidak cukup mahakuasa sebagaimana yang dikatakan Muhammad? Akan tetapi, Muhammad menemukan pelajaran yang berbeda dalam kekalahan. Allah, jelasnya, membiarkan umat Islam kalah kali ini untuk mengajari mereka sebuah pelajaran. Kaum muslim seharusnya berjuang untuk alasan yang benarmenegakkan masyarakat yang adil di bumi. Sebaliknya, di Uhud mereka melupakan misi ini dan pergi berebut jarahan yang bertentangan langsung dengan perintah Nabi, sehingga mereka pun kehilangan pertolongan Allah. Dukungan Ilahi bukan sebuah hak; kaum muslim harus berupaya mencari nikmat Allah dengan bersikap sebagaimana diperintahkan dan tunduk kepada kehendak-Nya. Penjelasan atas kekalahan ini menyediakan bagi kaum muslim sebuah cetakan yang akan mereka gunakan berkali-kali pada tahun-tahun berikutnya, setelah bencana serangan Mongol pada abad ke-13, misalnya, ketika penyerbu nomaden dari Asia Tengah mengejutkan sebagian besar dunia Islam, dan sekali lagi dalam menanggapi dominasi Barat, yang dimulai pada abad ke-18 dan berlanjut hingga hari ini. Kaum Quraisy memerlukan waktu dua tahun untuk merencanakan serangan berikutnya. Dengan merekrut sekutu dari suku-suku lain, mereka membangun tentara berkekuatan sepuluh ribu orangukuran raksasa yang tak terbayangkan untuk waktu dan tempat saat itu. Ketika Muhammad mendengar kekuatan ini sedang berbaris menuju Madinah, beliau memerintahkan kaum muslim untuk menggali parit di sekitar kota. Kaum Quraisy tiba dengan menunggang unta, yang tidak akan atau tidak dapat menyeberangi parit tersebut. Kaum Quraisy yang terhalang memutuskan untuk membuat Madinah kelaparan dengan sebuah pengepungan. Akan tetapi, strategi pengepungan itu mengandaskan sebuah rencana rahasia yang disiapkan kaum Quraisy. Setelah bencana pertempuran Uhud, satu suku Yahudi Madinah lainnya terungkap telah berkolaborasi dengan Makkah. Seperti suku Yahudi yang pertama, mereka telah disidang dan dikirim ke pengasingan. Suku ketiga, Bani Qurayza, kemudian memproklamasikan kesetiaannya kepada Piagam Madinah. Namun sekarang, dalam putaran ke Perang Parit, para pemimpinnya telah secara diam-diam bersekongkol dengan kaum Quraisy untuk menyerang pasukan muslim dari belakang segera setelah pasukan Makkah maju menyerang ke depan. Tatkala serangan frontal tidak kunjung datang, para komplotan di dalam Madinah kehilangan keberanian. Sementara itu, pasukan pengepung mulai terpecah, karena mereka merupakan federasi suku-suku, sebagian besar dari mereka ikut gg nya untuk membantu sekutu Quraisy. Tanpa adanya pertempuran untuk dilawan, mereka menjadi gelisah. Ketika angin badai bertiupbukan masalah kecil di bentangan alam semacam inimereka pun mundur, dan tak lama kemudian Quraisy menyerah dan pulang juga. Keadaan ini membuat Bani Qurayza berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Persekongkolan mereka jadi ketahuan dan sekarang sekutu-sekutu mereka sudah pergi. Muhammad menyidang seluruh suku dan menunjuk salah satu mantan rekan mereka di antara suku-suku Madinah sebagai hakim. Ketika suku itu ditemukan bersalah, hakim menyatakan bahwa kejahatan itu merupakan pengkhianatan, yang hukuman baginya adalah hukuman mati. Beberapa penonton protes terhadap kalimat ini, sehingga dengan demikian sekitar delapan ratus orang Yahudi dihukum mati di alun-alun, sementara wanita dan anak-anak dari suku itu dikirim untuk tinggal bersama dua suku yang sudah diasingkan sebelumnya. Seluruh drama ini menjalarkan gelombang kejut ke Seantero Arabia. Persidangan dan pelaksanaan bagi hukuman Bani Qurayza menyiarkan tentang keteguhan warga muslim di Madinah. Dalam istilah militer yang ketat, Perang Parit adalah sebuah jalan buntu, tetapi suku Quraisy telah mengerahkan kekuatan sepuluh ribu dengan begitu gembar-gembor sehingga kegagalan untuk meraih kemenangan itu sama buruknya dengan kekalahan, dan kekalahan ini membantu untuk menyalakan sebuah mitos yang berkembang tentang ketangguhan kaum muslim, mengomunikasikan kesan yang luas bahwa komunitas ini bukan sekadar sebuah suku yang kuat, melainkan sesuatu yang aneh dan baru. Kaum muslim hidup dengan jalan yang sangat berbeda, mereka menunaikan ibadah ritual mereka sendiri, dan mereka memiliki seorang pemimpin yang, ketika masalah datang, masuk ke dalam keadaan trans dan menyalurkan nasihat-nasihat, konon, dari penolong adialami yang mahakuasa sehingga kaum muslim tidak takut pergi bertempur dengan pasukan yang kalah jumlah tiga banding satu. Siapakah penolong ini? Pada mulanya, banyak orang yang masih belum mengikuti agama itu berpikir, itu dewa yang benar-benar kuat. Tetapi lambat laun pesan Islam mulai terserap: bukan dewa melainkan Allah, satu-satunya. Dan bagaimana jika Muhammad itu persis seperti apa yang diklaimnya-seorang manusia di bumi yang secara langsung terhubung kepada pencipta seluruh alam semesta? Merekrut orang-orang untuk membunuhnya menjadi semakin sulit. Merekrut pejuang untuk melawan pasukannya -semakin sulit. Setelah Perang Parit, jumlah orang yang berpindah menganut Islam semakin membanjir. Sangat mudah untuk menduga bahwa orang-orang berpindah agama lantaran kepentingan diri sendiri, lantaran keinginan untuk bergabung dengan pihak yang menang. Namun, kaum muslimin percaya ada sesuatu yang lebih daripada itu. Dalam kehadiran Muhammad, mereka percaya, orang-orang mendapatkan sebuah pengalaman religius. Muhammad tidak pernah mengklaim memiliki kekuaran supranatural. Beliau tidak pernah mengklaim kemampuan membangkitkan orang mati, berjalan di atas air atau membua orang buta melihat. Beliau hanya mengaku berbicara atas nama Allah, dan tidak mengklaim bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah ucapan Allah. Kadang-kadang itu hanya Muhammad yang berbicara. Bagaimana mungkin orang membedakan kapan itu Allah dan kapan itu Muhammad. Pada waktu itu, hal tersebut tampaknya sudah jelas. Umat muslim hari ini memiliki cara khusus untuk membaca Al-Quran yang disebut Qiraat. Ini sangat berbeda dengan suara lain nya yang dibuat oleh suara manusia, seperti musik tetapi bukan bernyanyi, seperti mantera tetapi bukan jampi-jampi. Ia membangkitkan emosi bahkan dalam diri seseorang yang tidak memahami kata-katanya. Setap orang melakukan qiraat memahami kata-katanya. Setiap orang dengan cara berbeda-beda, tapi setiap pembacaan terasa seperti peniruan atau isyarat atau penafsiran dari pembacaan asli yang kuat. Ketika Muhammad menyampaikan Al-Quran, beliau tentunya melakukan itu dengan suara yang menembus dan emosional seperti ini. Ketika orang mendengar Al-Quran dari Muhammad, mereka tidak hanya mendengarkan kata-kata tetapi mengalami kekuatan emosional. Mungkin ini sebabnya mengapa kaum muslim bersikeras bahwa terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran. Al-Quran yang sebenarnya adalah satu keseluruhan, tidak terbagi: kata-kata dan maknanya, ya, tetapi juga suaranya itu, bahkan tampilan huruf ketika Al-Quran dalam bentuk tertulis. Bagi kaum muslim, bukan sosok Muhammad sebagai pribadi melainkan Al-Quran yang datang melalui Muhammad itulah yang menarik orang ke dalam Islam. Satu faktor lain yang menarik orang ke dalam komunitas itu dan menginspirasi mereka untuk memercayai klaim Muhammad. Di bagian dunia ini, perang berskala kecil bersifat endemik, sebagaimana tampaknya di wilayah mana pun yang dihuni oleh banyak suku nomaden kecil yang di antara mereka perdagangan bercampur dengan penyerangan (seperti wilayah berhutan di Amerika Utara timur sebelum Columbus tiba, atau Great Plains tak lama setelahnya). Tambahkan tradisi perseteruan darah Arab yang sudah berlangsung selama beberapa generasi, juga tambahkan jalinan rapuh aliansi suku yang mencirikan semenanjung itu pada saat ini, dan Anda peroM sebuah dunia yang menggelegak dengan kekerasan tanpa henti di mana-mana. Wilayah mana pun yang diambil alih Muhammad, beliau memerintahkan orang untuk hidup dalam damai dengan satu sama lain, dan para pengikutnya mematuhi itu. Tidak berarti ia menyuruh kaum muslim untuk menghindari kekerasan, karena komunitas ini tidak pernah ragu-ragu untuk membeli diri mereka sendiri. Kaum muslim masih terlibat dalam peperangan, tetapi bukan untuk melawan satu sama lain, mereka mengerahkan energi agresif mereka untuk melawan ancaman luar yang terus-menerus membahayakan kelangsungan hidup mereka. Mereka yang bergabung dengan ummah segera masuk ke dalam Dar al-Islam, yang berani "wilayah ketundukan (kepada Allah)", tetapi juga, secara tersirat, "wilayah perdamaian". Setiap orang lain yang tinggal di luar sana berada di Dar Al-Harb, wilayah perang. Mereka yang bergabung dengan ummah tidak perlu lagi takut-takut ada yang menyerang mereka dari belakang, tidak dengan sesama muslim. Masuk Islam juga berarti bergabung dengan proyek sosial yang penuh inspirasi: pembangunan masyarakat yang adil setara secara sosial. Untuk menjaga masyarakat itu tetap hidup, Anda harus berjuang, karena ummah dan proyeknya memiliki musuh yang keras kepala. Jihad tidak pernah berarti "perang suci" atau "kekerasan". Ada kata lain dalam bahasa Arab yang dengan lebih jelas berarti "berkelahi" (dan digunakan dalam pengertian tersebut dalam Al-Quran). Terjemahan yang lebih baik untuk jihad mungkin adalah "perjuangan", dengan semua konotasi yang sama dibawa oleh kata itu dalam retorika gerakan keadilan sosial yang dikenal Barat: perjuangan dipandang mulia ketika perjuangan itu untuk tujuan yang benar dan jika tuntutannya menghendaki "perjuangan bersenjata", itu pun tidak apa-apa; hal itu dibenarkan oleh tujuannya. Selama dua tahun berikutnya, suku-suku di seluruh Jazirah Arab mulai menerima kepemimpinan Muhammad, masuk Islam, dan bergabung dengan umat. Suatu malam Muhammad bermimpi bahwa ia telah kembali ke Makkah dan mendapau semua orang di sana menyembah Allah. Pada pagi harinya, beliau memerintahkan para pengikutnya agar berkemas untuk pergi berumrah. Beliau memimpin seribu empat ratus muslim melintasi dua ratus mil perjalanan ke Makkah. Mereka datang tanpa senjata, meskipun ada sejarah permusuhan belum lama ini, tetapi tidak ada pertempuran yang pecah. Kota itu menutup pintu gerbang bagi kaum muslim, tetapi para tetua Quraisy keluar dan menegosiasikan perjanjian dengan Muhammad: kaum muslim tidak bisa masuk ke Makkah tahun ini, tetapi bisa kembali dan menunaikan ibadah haji tahun depan. Jelas, kaum Quraisy tahu bahwa permainan telah berakhir. Pada 6 H, kaum muslim kembali ke Makkah dan mengunjungi Ka'bah tanpa kekerasan. Dua tahun kemudian, para tetua kota Makkah menyerah kepada Muhammad tanpa perlawanan. Sebagai tindakan pertamanya, Nabi menghancurkan semua berhala di Ka'bah dan menyatakan kubus dengan batu hitam di pojoknya ini sebagai tempat yang paling suci di dunia. Beberapa mantan musuh Muhammad menggerutu dan menggumamkan ancaman, tetapi arus pasang itu telah surut. Hampir semua suku telah bersatu di bawah panji-panji Muhammad, dan seluruh orang Arab hidup dalam harmoni untuk pertama kalinya dalam sejarah yang masih teringat. Pada 10 H (632 M), Muhammad melakukan sekali lagi umrah ke Makkah dan di sana menyampaikan khutbahnya yang terakhir. Beliau mengatakan kepada orang-orang yangj berkumpul untuk menganggap kehidupan dan harta seuap muslim itu suci, untuk menghormati hak-hak semua orang termasuk budak, mengakui bahwa perempuan memiliki hak atas laki-laki seperti halnya laki-laki memiliki hak atas perempuan, dan mengakui bahwa di kalangan kaum muslim tidak ada yang berdiri lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain kecuali dalam kebajikan. Beliau juga mengatakan dirinya adalah yang terakhir dari rasul-rasul Allah dan bahwa-setelah dia tidak ada wahyu lagi yang akan datang untuk umat manusia. Tak lama setelah kembali ke Madinah, beliau jatuh sakit. Panas lantaran demam, beliau pergi dari rumah ke rumah, mengunjungi para istri dan sahabatnya, menghabiskan satu atau dua jenak dengan masing-masingnya, dan mengucapkan selamat tinggal. Akhirnya beliau tinggal dengan istrinya, Aisyah, putri sahabat lamanya, Abu Bakar, dan di sana, beliau wafat dengan kepala di pangkuannya. Seseorang pergi keluar dan menyampaikan berita itu kepada kerumunan orang yang cemas. Segera saja, Umar yang setia, salah satu sahabat Muhammad yang paling keras dan kuat, tetapi juga paling pemarah, melompat berdiri dan memperingatkan bahwa setiap orang yang menyebarkan fitnah semacam itu akan kehilangan anggota tubuhnya jika kebohongannya terungkap. Muhammad meninggal? Mustahil! Kemudian sahabat yang lebih tua dan lebih bijaksana Abu Bakar pergi untuk menyelidiki. Sesaat kemudian dia kembali dan berkata, "Wahai kaum muslim! Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad sudah wafat. Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, ketahuilah bahwa Allah hidup dan abadi." Kata-kata tersebut menghapuskan kemarahan dan penyangkalan Umar. Dia merasa, ujarnya kepada teman-temannya kemudian, seolah-olah tanah di bawah kakinya telah runtuh. Kemudian dia pun menangis sejadi-jadinya, karena lelaki sekuat banteng ini menyadari bahwa berita itu benar: Rasul Allah telah meninggal. ==== ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
