Pasti lantaran wong gede-gede itu nggak terbiasa ikhlas 
ketika rame-rame potong kambing / sapi setahun sekali. 
Walhasil perburuan pahalanya terus memakan korban-korban 
lain yang tak perlu. 

Mbok sesekali yang tulus ikhlas dalam memimpin. Jangan cuma 
patuh pada perintah majikan. 

--- Leo Aritonang <pejantang@...> wrote: 

> Pecinta Rokok...fight back  ;-D 
>
>
> 2012/11/19 
> Wong cilik yang dikorbankan
>
> Koran SINDO -
> Senin, 19 November 2012 - 04:53 WIB
>
> Badrul Munir menulis "Rokok dan Wong Cilik", Kompas, Sabtu, 21 Juli 
> 2012. Dia mengatakan saat ini ada 34 juta pekerja yang bersentuhan 
> dengan industri rokok, baik langsung maupun tidak langsung.
>
> Apabila industri rokok menurun,atau bahkan tutup,bisa dibayangkan 
> berapa juta pengangguran baru yang muncul. Pemerintah mengeluarkan 
> Rencana Peraturan tentang Pengendalian Dampak Tembakau, yang 
> berpotensi mematikan industri rokok dan menimbulkan pengangguran 
> baru.
>
> Badrul menyanggah potensi negatif yang dikandung peraturan ini, 
> dengan mengajukan pertanyaan: apakah selama ini industri tembakau 
> (rokok) menguntungkan wong cilik? Dalam akhir tulisannya,dia 
> menyimpulkan: alasan bahwa penolakan rancangan peraturan pemerintah 
> tersebut akan merugikan wong cilik, hanya akal bulus para pengusaha 
> rokok agar tidak rugi dalam industri asap maut tersebut.
>
> Penelitian dilawan penelitian pula
> 
> Di tengah sikap tegas rezim penguasa,yang melihat bahwa secara 
> ilmiah terbukti rokok hanya membawa bahaya,maka "ketegasan ilmiah" 
> seperti itu mudah berubah menjadi "fanatisme ilmiah".Terbukti, 
> dalil dan argumen tentang rokok tak berubah: bahaya ya bahaya. Para
> dokter, dan ahliahli dalam bidang lain yang mengkaji perkara ini, 
> tahu bahwa bersikap fanatik terhadap suatu kebenaran bertentangan 
> dengan etika maupun prinsip-prinsip ilmiah, yang selalu membuka 
> peluang bahwa apa yang benar, teruji, dan mapan di suatu waktu 
> boleh jadi bakal goyah oleh temuan baru yang bertentangan dengan 
> kemapanan lama.
>
> Eksperimen DrGrethaZahar, ahli fisika, selama lebih dua puluh tahun 
> bahwa rokok memiliki dimensi lain buat penyembuhan berbagai 
> penyakit, dilecehkan oleh para ilmuwan, yang konon hidup demi 
> kebenaran ilmiah. Prof Sutiman Sumitro, ahli biologi dari 
> Universitas Airlangga, yang bertahun- tahun menyelidiki kebenaran 
> temuan Dr Gretha dan mencatatprestasigemilang hingga namanya 
> melejit ke seluruh dunia berkat temuannya yang spektakuler, 
> diremehkan dengan sikap apriori. Para ilmuwan, yang seharusnya 
> terusik oleh "academic curiosity" yang sehat, segara tergerak untuk 
> membuktikan apakah Prof Sutiman salah atau benar.
>
> Tapi itutakdilakukandantanggapan para ilmuwan itu hanya curiga, dan 
> prasangka buruk. Kerja ilmiah harus ditolak, atau diakui 
> kebenarannya, secara ilmiah pula.Penelitian seharusnya dilawan 
> dengan penelitian pula. Para doktor, para ahli kesehatan masyarakat 
> dan ahli disiplin lain, mengapa sudah puas dengan prasangka? Kedua 
> tokoh ini harus dilawan secara ilmiah dengan kerendahan hati para 
> "pencari" sejati. Sebelum temuan- temuan ilmiah ini dibantah secara 
> ilmiah, batil bagi kita untuk membuat klaim lain. Bukakan 
> perspektif publik dengan penelitian ilmiah, yang merupakan bahasa 
> para ilmuwan.
>
> Dengan begitu, wong cilik tak dibunuh dengan "kekuasaan" yang 
> bersifat antidialog.Jangan lupa, sebelum peraturan pemerintah ini 
> berlaku, kebijakan menaikkan cukai secara tak masuk akal telah 
> berhasil membunuh tiga ratusan industri rumah tangga, pemodal 
> kecil,yang memproduksi rokok. Mengapa ilmuwan bicara tentang wong 
> cilik, tanpa memiliki empati pada wong cilik? Bagaimana cara 
> menghayati dirinya sebagai kaum cendekiawan yang memanggul peran 
> profetik dan kaum tertindas? Kini baru muncul jawaban, mengapa 
> mereka membela kebijakan yang jelas mengorbankan warga negara yang 
> seharusnya dilindungi.
>
> Jangan korbankan wong cilik
>
> Sudah disebut di atas, Badrul menyimpulkan penolakan atas rancangan 
> peraturan pemerintah itu hanya akal bulus para pengusaha rokok. Ini 
> kesimpulan berbahaya dan fatal bagi seorang ilmuwan.Dengan begini, 
> Badrul meremehkan kesadaran kritis dan kapasitas para petani 
> tembakau membaca arah kebijakan pemerintah. Para petani tembakau 
> itu mendidih, tapi bersabar dalam penolakan mereka atas rencana 
> peraturan tersebut. Mereka berpolitik secara canggih dan berusaha 
> untuk tampil terhormat. Dan kemampuan mereka belajar dari 
> pengalaman luar biasa mengagumkan.
>
> Mereka sadar karena bagaimanapun yang dihadapi hanya pemerintah 
> kita sendiri. Caracara yang dianggap sopan,dan tak memukul jiwa 
> pejabat, diutamakan. Berdialog dengan pemerintah sendiri kurang 
> lebih dianggap sama dengan berdialog dengan sesama anggota 
> masyarakat dan keluarga. Saya peneliti, yang dengan serius dan 
> berhati-hati selama dua tahun terakhir mengikuti gerakan petani 
> tembakau Temanggung melakukan perlawanan secara terhormat. Mereka 
> dipimpin tiga kepala desa yang sangat terpelajar. Para petani pun 
> mulai makin sadar politik. Mereka berorganisasi secara modern.
>
> Selain mendirikan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), mereka 
> punya APTI lokal, Jawa Tengah, yang berfungsi sebagai roda 
> penggerak kesadaran politik kaum tani, yang disebut wong cilik 
> tadi. Mereka mendirikan Laskar Kretek sebagai benteng pertahanan, 
> sebagaimana sejarah mencatat, generasi pendahulu mereka memiliki 
> "Laskar Bambu Runcing"yang legendaris. Dalam masa dua tahun 
> penelitian itu,saya juga mencatat bahwa para petani tembakau 
> Temanggung meminta beasiswa kepada industri, buat anak-anak yang 
> masih di SLA dan yang memasuki universitas.
> 
> Beasiswa itu mereka peroleh tanpa sikap "meminta-minta", dan tak 
> membuat satu pihak lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain. 
> Kecuali itu,petani meminta agar industri memberi jaminan dan 
> memperjuangkan para petani untuk memperoleh pinjaman bank. Pihak 
> industri pun bersedia. Para petani memerlukan pinjaman sebesar Rp 
> 18 miliar. Pihak industri menyatakan, bila pinjaman di bawah 
> jaminannya tak diberikan maka dia sendirilah--yang sudah 
> menyiapkan Rp20 miliar rupiah-- yang akan memberikan pinjaman 
> tersebut. Melihat ada penjamin tepercaya, bank tak merasa keberatan.
> 
> Saya melihat sendiri proses peminjaman di bank tersebut. Pada masa 
> lalu, petani sulit memperoleh pinjaman dari industri. Itu pun ada 
> unsur menjerat--yang jelas merugikan mereka.Dewasa ini urusan itu 
> tidak sulit."Mutual trust" antara kedua belah pihak terjaga baik. 
> Saya bersaksi di sini demi kebenaran ilmiah,sebagai bentuk "jihad 
> fi sabilillah" membela tiga ratusan industri rumah tangga yang 
> sudah dikorbankan oleh para pejabat negara, didukung beberapa 
> kalangan yang merasa bertindak "heroik"dalam penghancuran kehidupan 
> para pengusaha kecil tersebut.
>
> Seorang dokter yang sedang kuliah kembali, dan tidak tahu urusan 
> lapangan, tidak selayaknya mengumumkan sikap dan pendiriannya 
> kepada umum,melalui media besar, yang besar jangkauannya. Hal itu 
> hanya akan berakibat mempermalukan diri sendiri. Apalagi jika di 
> balik tulisan yang diumumkan lewat media besar itu terdapat suatu 
> kepentingan, suatu ideologi,yang berseberangan dengan kepentingan 
> orang-orang yang dikorbankan tersebut. Konspirasi dari kekuatan-
> kekuatan yang hendak menghancurkan tembakau, keretek,dan para 
> pengusaha kecil di bidang keretek, memang kuat dan luar biasa besar 
> dukungan dananya.
>
> Maka, selanjutnya, konspirasi kekuatan-kekuatan besar itu tak bisa 
> dibiarkan.Mereka harus dilawan, terutama demi untuk menjaga, agar 
> wong cilik tak dikorbankan lagi semaumaunya, demi ego para pejabat 
> dan para ilmuwan yang menutup diri dari kebenaran ini.
>
> MOHAMAD SOBARY
> Budayawan dan Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
> 
> http://nasional.sindonews.com/read/2012/11/19/18/689393/wong-cilik-yang-dikorbankan





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke