Betul juga. Tukang puntung adalah salahsatu "profesi" yang punah tergusur pembangunan Orba yang menaikkan harga kertas dan plastik bekas perkilonya lebih mahal dibanding puntung.
Selisih harga yang cukup menggiurkan para tukang puntung untuk beralih profesi menjadi laskar mandiri yang dikomandani Sudomo. --- "suryana" <gsuryana@...> wrote: > Bila UU tembakau merugikan pabrikan rokok, maka yg rugi adalah > pabrikan besar dan pengguna rokok, karena seperti sudah pernah > terjadi ketika krisis yg lalu ( 1999 sd 2000 ), rokok jadi jadi an > meraja lela masuk ke pasaran rokok, padahal rokok tsb berasal dari > tembakau sisa, puntung rokok dan bahan baku rokok jadi jadi an. > > Saat ini siapa dimana bisa menemukan pemungut puntung rokok ? > > ----- Original Message ----- > From: "ajeg" <ajegilelu@...> > > > Pasti lantaran wong gede-gede itu nggak terbiasa ikhlas > > ketika rame-rame potong kambing / sapi setahun sekali. > > Walhasil perburuan pahalanya terus memakan korban-korban > > lain yang tak perlu. > > > > Mbok sesekali yang tulus ikhlas dalam memimpin. Jangan cuma > > patuh pada perintah majikan. > > > > --- Leo Aritonang <pejantang@...> wrote: > > > > > Pecinta Rokok...fight back ;-D > > > > > > > > > 2012/11/19 > > > Wong cilik yang dikorbankan > > > > > > Koran SINDO - > > > Senin, 19 November 2012 - 04:53 WIB > > > > > > Badrul Munir menulis "Rokok dan Wong Cilik", Kompas, Sabtu, 21 > > > Juli 2012. Dia mengatakan saat ini ada 34 juta pekerja yang > > > bersentuhan dengan industri rokok, baik langsung maupun tidak > > > langsung. > > > > > > Apabila industri rokok menurun,atau bahkan tutup,bisa > > > dibayangkan berapa juta pengangguran baru yang muncul. > > > Pemerintah mengeluarkan Rencana Peraturan tentang Pengendalian > > > Dampak Tembakau, yang berpotensi mematikan industri rokok dan > > > menimbulkan pengangguran baru. > > > > > > Badrul menyanggah potensi negatif yang dikandung peraturan ini, > > > dengan mengajukan pertanyaan: apakah selama ini industri > > > tembakau (rokok) menguntungkan wong cilik? Dalam akhir > > > tulisannya, dia menyimpulkan: alasan bahwa penolakan rancangan > > > peraturan pemerintah tersebut akan merugikan wong cilik, hanya > > > akal bulus para pengusaha rokok agar tidak rugi dalam industri > > > asap maut tersebut. > > > > > > Penelitian dilawan penelitian pula > > > > > > Di tengah sikap tegas rezim penguasa,yang melihat bahwa secara > > > ilmiah terbukti rokok hanya membawa bahaya,maka "ketegasan > > > ilmiah" seperti itu mudah berubah menjadi "fanatisme ilmiah". > > > Terbukti, dalil dan argumen tentang rokok tak berubah: bahaya > > > ya bahaya. Para dokter, dan ahliahli dalam bidang lain yang > > > mengkaji perkara ini, tahu bahwa bersikap fanatik terhadap > > > suatu kebenaran bertentangan dengan etika maupun prinsip- > > > prinsip ilmiah, yang selalu membuka peluang bahwa apa yang > > > benar, teruji, dan mapan di suatu waktu boleh jadi bakal goyah > > > oleh temuan baru yang bertentangan dengan kemapanan lama. > > > > > > Eksperimen DrGrethaZahar, ahli fisika, selama lebih dua puluh > > > tahun bahwa rokok memiliki dimensi lain buat penyembuhan > > > berbagai penyakit, dilecehkan oleh para ilmuwan, yang konon > > > hidup demi kebenaran ilmiah. Prof Sutiman Sumitro, ahli biologi > > > dari Universitas Airlangga, yang bertahun- tahun menyelidiki > > > kebenaran temuan Dr Gretha dan mencatatprestasigemilang hingga > > > namanya melejit ke seluruh dunia berkat temuannya yang > > > spektakuler, diremehkan dengan sikap apriori. Para ilmuwan, > > > yang seharusnya terusik oleh "academic curiosity" yang sehat, > > > segara tergerak untuk membuktikan apakah Prof Sutiman salah > > > atau benar. > > > > > > Tapi itutakdilakukandantanggapan para ilmuwan itu hanya curiga, > > > dan prasangka buruk. Kerja ilmiah harus ditolak, atau diakui > > > kebenarannya, secara ilmiah pula.Penelitian seharusnya dilawan > > > dengan penelitian pula. Para doktor, para ahli kesehatan > > > masyarakat dan ahli disiplin lain, mengapa sudah puas dengan > > > prasangka? Kedua tokoh ini harus dilawan secara ilmiah dengan > > > kerendahan hati para "pencari" sejati. Sebelum temuan- temuan > > > ilmiah ini dibantah secara ilmiah, batil bagi kita untuk > > > membuat klaim lain. Bukakan perspektif publik dengan penelitian > > > ilmiah, yang merupakan bahasa para ilmuwan. > > > > > > Dengan begitu, wong cilik tak dibunuh dengan "kekuasaan" yang > > > bersifat antidialog.Jangan lupa, sebelum peraturan pemerintah > > > ini berlaku, kebijakan menaikkan cukai secara tak masuk akal > > > telah berhasil membunuh tiga ratusan industri rumah tangga, > > > pemodal kecil,yang memproduksi rokok. Mengapa ilmuwan bicara > > > tentang wong cilik, tanpa memiliki empati pada wong cilik? > > > Bagaimana cara menghayati dirinya sebagai kaum cendekiawan yang > > > memanggul peran profetik dan kaum tertindas? Kini baru muncul > > > jawaban, mengapa mereka membela kebijakan yang jelas > > > mengorbankan warga negara yang seharusnya dilindungi. > > > > > > Jangan korbankan wong cilik > > > > > > Sudah disebut di atas, Badrul menyimpulkan penolakan atas > > > rancangan peraturan pemerintah itu hanya akal bulus para > > > pengusaha rokok. Ini kesimpulan berbahaya dan fatal bagi > > > seorang ilmuwan.Dengan begini, Badrul meremehkan kesadaran > > > kritis dan kapasitas para petani tembakau membaca arah > > > kebijakan pemerintah. Para petani tembakau itu mendidih, tapi > > > bersabar dalam penolakan mereka atas rencana peraturan > > > tersebut. Mereka berpolitik secara canggih dan berusaha untuk > > > tampil terhormat. Dan kemampuan mereka belajar dari pengalaman > > > luar biasa mengagumkan. > > > > > > Mereka sadar karena bagaimanapun yang dihadapi hanya pemerintah > > > kita sendiri. Caracara yang dianggap sopan,dan tak memukul jiwa > > > pejabat, diutamakan. Berdialog dengan pemerintah sendiri kurang > > > lebih dianggap sama dengan berdialog dengan sesama anggota > > > masyarakat dan keluarga. Saya peneliti, yang dengan serius dan > > > berhati-hati selama dua tahun terakhir mengikuti gerakan petani > > > tembakau Temanggung melakukan perlawanan secara terhormat. > > > Mereka dipimpin tiga kepala desa yang sangat terpelajar. Para > > > petani pun mulai makin sadar politik. Mereka berorganisasi > > > secara modern. > > > > > > Selain mendirikan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), > > > mereka punya APTI lokal, Jawa Tengah, yang berfungsi sebagai > > > roda penggerak kesadaran politik kaum tani, yang disebut wong > > > cilik tadi. Mereka mendirikan Laskar Kretek sebagai benteng > > > pertahanan, sebagaimana sejarah mencatat, generasi pendahulu > > > mereka memiliki "Laskar Bambu Runcing"yang legendaris. Dalam > > > masa dua tahun penelitian itu,saya juga mencatat bahwa para > > > petani tembakau Temanggung meminta beasiswa kepada industri, > > > buat anak-anak yang masih di SLA dan yang memasuki universitas. > > > > > > Beasiswa itu mereka peroleh tanpa sikap "meminta-minta", dan tak > > > membuat satu pihak lebih rendah atau lebih tinggi dari yang > > > lain. Kecuali itu,petani meminta agar industri memberi jaminan > > > dan memperjuangkan para petani untuk memperoleh pinjaman bank. > > > Pihak industri pun bersedia. Para petani memerlukan pinjaman > > > sebesar Rp 18 miliar. Pihak industri menyatakan, bila pinjaman > > > di bawah jaminannya tak diberikan maka dia sendirilah--yang > > > sudah menyiapkan Rp20 miliar rupiah-- yang akan memberikan > > > pinjaman tersebut. Melihat ada penjamin tepercaya, bank tak > > > merasa keberatan. > > > > > > Saya melihat sendiri proses peminjaman di bank tersebut. Pada > > > masa lalu, petani sulit memperoleh pinjaman dari industri. Itu > > > pun ada unsur menjerat--yang jelas merugikan mereka.Dewasa ini > > > urusan itu tidak sulit."Mutual trust" antara kedua belah pihak > > > terjaga baik. > > > Saya bersaksi di sini demi kebenaran ilmiah,sebagai bentuk > > > "jihad fi sabilillah" membela tiga ratusan industri rumah > > > tangga yang sudah dikorbankan oleh para pejabat negara, > > > didukung beberapa kalangan yang merasa bertindak "heroik"dalam > > > penghancuran kehidupan para pengusaha kecil tersebut. > > > > > > Seorang dokter yang sedang kuliah kembali, dan tidak tahu urusan > > > lapangan, tidak selayaknya mengumumkan sikap dan pendiriannya > > > kepada umum,melalui media besar, yang besar jangkauannya. Hal > > > itu hanya akan berakibat mempermalukan diri sendiri. Apalagi > > > jika di balik tulisan yang diumumkan lewat media besar itu > > > terdapat suatu kepentingan, suatu ideologi,yang berseberangan > > > dengan kepentingan orang-orang yang dikorbankan tersebut. > > > Konspirasi dari kekuatan-kekuatan yang hendak menghancurkan > > > tembakau, keretek,dan para pengusaha kecil di bidang keretek, > > > memang kuat dan luar biasa besar dukungan dananya. > > > > > > Maka, selanjutnya, konspirasi kekuatan-kekuatan besar itu tak > > > bisa dibiarkan.Mereka harus dilawan, terutama demi untuk > > > menjaga, agar wong cilik tak dikorbankan lagi semaumaunya, demi > > > ego para pejabat dan para ilmuwan yang menutup diri dari > > > kebenaran ini. > > > > > > MOHAMAD SOBARY > > > Budayawan dan Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) > > > > > > http://nasional.sindonews.com/read/2012/11/19/18/689393/wong-cilik-yang-dikorbankan > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
