Wah mas; Mas ini sebenarnya hebat sekali; setelah meliput keajaiban di Gaza; 
kini memberikan Kisah nyata tentang seorang Hindu yang masuk islam.
Anda kalau di christian mungkin disebut penyeru injil.
Tak banyak orang Islam seperti anda. Saya salut.


--- On Sat, 11/24/12, Tawangalun <[email protected]> wrote:

From: Tawangalun <[email protected]>
Subject: [proletar] Awalnya membenci malah jatuh hati
To: [email protected]
Received: Saturday, November 24, 2012, 3:49 AM
















 



  


    
      
      
      Umar Rao : Awalnya membenci, namun akhirnya jatuh hati.

Wah Genduk Mus bisa cekot2 ini.

   

Awalnya membenci, namun akhirnya jatuh hati. Pemuda India ini siap berada di 
garda terdepan, menjadi pembela agama Allah ini. Awalnya Muhammed Umar Rao 
sangat membenci umat Islam. Namun, setelah membaca kitab suci Alquran, pria 
India ini justru menemukan apa yang ia cari selama ini, yang akhirnya berujung 
pada suatu keputusan besar yang diambilnya. Rao memutuskan untuk memeluk Islam 
di usianya yang terbilang masih remaja, yakni sekitar 18 tahun. ''Saya merasa 
diberkati dengan agama Allah ini,'' ujarnya singkat.



Berasal dari keluarga kelas menengah berkasta Brahma, sejak kecil Rao sudah 
dididik dengan ajaran dan nilai-nilai Hindu. Pendidikan agama ini ia peroleh 
langsung dari bimbingan salah seorang pamannya dari pihak ibu. Sementara 
keluarga besarnya memang dikenal sebagai keluarga yang sangat membenci umat 
Islam. Karenanya, tak mengherankan jika ia tumbuh menjadi seorang pemeluk Hindu 
yang fanatik.



Di usianya yang masih belia, Rao bergabung dengan salah satu kelompok politik 
nasionalis Hindu terbesar di India, Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Di 
India, RSS dikenal sebagai kelompok Hindu garis keras yang sangat membenci umat 
Islam di sana. ''Saya selalu menebar kebencian terhadap Islam, termasuk di 
ruang publik sekalipun,'' ungkapnya. Salah satu contohnya adalah Rao kerap 
mengencangkan volume musik yang sedang dinikmatinya manakala terdengar suara 
azan.



Perkenalannya dengan Islam terjadi ketika sang ibu memintanya untuk bekerja 
pada sebuah perusahaan yang pemiliknya adalah seorang Muslim selama liburan 
musim panas. Tentu saja permintaan tersebut ditolak Rao, mengingat sejak usia 
kanak-kanak ia sudah benci dengan yang namanya Muslim. Agar tidak mengecewakan 
orang tuanya, ia kemudian memutuskan untuk mengisi liburan musim panas dengan 
bekerja di sebuah perusahaan yang dikelola oleh non-Muslim.



Namun, Rao tidak menyukai pekerjaan tersebut. Ia pun memutuskan untuk keluar 
dan lebih berkonsentrasi pada studinya agar setelah lulus nanti bisa 
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Berbeda dengan Rao, ibu serta saudara 
perempuannya justru memilih untuk bekerja paruh waktu di perusahaan Muslim 
tersebut selama dua bulan lamanya. Mereka, ungkapnya, sangat terkesan dengan 
pemilik perusahaan tersebut.



Melihat orang-orang dekatnya selalu memuji si pemilik perusahaan, membuat Rao 
semakin membenci orang Muslim. Akan tetapi, didorong oleh rasa bersalah karena 
tidak bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, ia pun memutuskan untuk 
menerima tawaran pekerjaan yang diberikan oleh ibunya. Kebenciannya terhadap 
Islam semakin besar, manakala ia mengetahui banyak di antara karyawan 
non-Muslim yang bekerja di perusahaan tersebut memeluk Islam.



Kemarahannya terhadap pemilik perusahaan, ia lampiaskan dengan memberinya 
pelajaran bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Dari situ 
kemudian Rao mulai melakukan studi mengenai perbandingan agama. Dan sejak saat 
itu, untuk mengetahui lebih banyak mengenai Islam, Rao pun mulai membaca 
terjemahan Alquran berbahasa Inggris.



Hal tersebut tentu saja membawa perubahan dalam kehidupannya. ''Setelah 
membacanya, saya seperti terjebak dalam ketakutan, keraguan, dan menyadari 
kenyataan bahwa yang selama ini saya perbuat adalah salah. Agama yang saya 
yakini selama ini ternyata hanyalah tentang imajinasi ataupun mitos dan 
kisah-kisah palsu,'' paparnya.



Dari situ kemudian muncul keraguan dalam diri Rao. Ia lantas bertanya kepada 
orang tuanya, orang-orang di sekitarnya yang ia ketahui pernah bertemu dengan 
Tuhan ataupun pernah membuat gambar serta lukisan Tuhan. Namun, orang-orang 
tersebut menjawab bahwa tak satu pun yang pernah melihat Tuhan sebagaimana 
banyak diungkapkan di dalam Alquran. Kenyataan ini justru semakin meruntuhkan 
keyakinannya terhadap ajaran Hindu. Kisah-kisah mengenai Ganesha, 
Chamundeswari, Rama, Sinta, dan lainnya tidak lagi masuk akal baginya. ''Aku 
tidak bisa lagi membayangkan mereka sebagai dewa.''



Berhenti menyembah berhala



Bahkan, ketika ia bertanya kepada orang tuanya mengapa ajaran dalam kitab Weda 
yang dengan jelas sekali bertentangan dengan para dewa masih tetap dijalankan, 
sang ibu justru memarahinya dan mengatakan seharusnya ia melakukan apa yang 
telah dicontohkan oleh para leluhur mereka. Keesokan harinya, Rao membaca 
sebuah ayat dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 170 yang berbunyi: ''Dan 
apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' 
mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami 
dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga, 
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak 
mendapat petunjuk?''



Pandangannya kemudian juga tertuju kepada ayat 134 dari Surah Al-Baqarah ini 
yang berbunyi: ''Itu adalah umat yang lalu, baginya apa yang telah 
diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan 
diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.''



Ketika membaca kedua ayat tersebut, Rao merasa takjub karena penjelasan dalam 
kedua ayat Alquran ini sama persis seperti pertanyaan yang ia ajukan kepada 
ibunya. Ia merasa tertohok oleh kedua ayat ini. Ia menyadari bahwa untuk semua 
pertanyaan yang selama ini bersemayam dalam kepalanya, ternyata jawabannya ada 
di dalam Alquran.



Sejak saat itu secara perlahan-lahan, dia mulai menghentikan kebiasaan 
menyembah patung para dewa Hindu dan berhenti melakukan Pooja (ritual doa dalam 
agama Hindu--Red). ''Karena ini termasuk perbuatan syirik, dan itu merupakan 
satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni.''



Selanjutnya Rao mulai mempraktikan ajaran Islam, meskipun hal tersebut masih 
dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Namun lambat laun, perihal 
keislamannya ini tidak bisa ia sembunyikan lagi dari keluarga besarnya. 
Mengetahui hal itu, keluarga Rao tidak bisa menerima keyakinan barunya ini. 
Beruntung dia masih memiliki saudara perempuan yang ternyata juga tertarik 
dengan Islam, dan pada akhirnya saudaranya pun memeluk Islam.



Bersama saudara perempuannya ini, Rao akhirnya memutuskan untuk keluar dari 
rumah, dan hidup terpisah dari keluarga besarnya. ''Selama lebih dari setahun 
kami berdua hidup tanpa pekerjaan maupun sumber penghasilan yang tetap. Namun, 
segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami untuk melalui semua masa-masa 
sulit itu,'' ujarnya.



Di saat masa sulit ini, ungkap Rao, Allah SWT telah membukakan pintu-pintu 
kesempatan kepadanya, sesuai dengan doa-doa yang selama ini ia panjatkan dalam 
setiap shalat lima waktu. Karenanya, ketika datang tawaran pekerjaan dari 
perusahaan industri mesin, ia pun menyampaikan lamaran. Namun, ia terpaksa 
meninggalkan pekerjaannya ini karena faktor jam kerja yang menganggu waktu 
beribadahnya.



Setelah menganggur selama hampir satu tahun lebih, akhirnya ia memutuskan untuk 
bekerja sebagai seorang pengajar. Profesi tersebut ia jalani hingga saat ini. 
Meski dengan pendapatan yang terbilang tidak begitu besar, ia merasa bersyukur 
karena Allah telah menjawab doa-doanya.



Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Ankabut ayat 2: ''Apakah 
manusia menyangka bahwa mereka akan ditinggalkan sendirian karena mereka 
berkata: ''Kami beriman, dan tidak akan diuji.''



Kini, pemuda India ini, tergolong seorang Muslim yang sangat taat beribadah. Ia 
yang awalnya menjadi kelompok pembenci Islam, kini setelah mempelajari Islam 
secara seksama, ia mencintai agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Bahkan, 
ketika ada sentimen negatif terhadap Islam dari kalangan non-Muslim, Rao 
senantiasa berada di garda terdepan dan menjadi pembelanya. Ia meyakini, agama 
Islam adalah agama yang damai dan cinta kasih, serta untuk kemuliaan umat 
manusia. islamreligion/dia



Biodata

Nama : Muhammad Umar Rao

Masuk Islam : Usia 18 tahun

Last modified on Monday, 27 August 2012 10:31

Read 4529 times





    
     

    
    






  










[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke