1 Apa agamanya jesus?
2 Apakah jesus beragama Kresten?
3 Dimana jesus mengajar kekerestenan?
4 Apakah alkitab itu sabda dari Yesus?
5 Dimana kuburan jesus?
6 Jika Yesus itu adalah Tuhan, siapa yang mencabut nyawa Tuhan?
7Jika Yesus itu Tuhan, Tuhan yang mana lagi yang menerima nyawanya?
8 Ketika Yesus mati selama tiga hari, siapa yang mengendalikan dunia atau 
alam     semesta ini ?
9 Setiap yang mati dan menyerahkan nyawanya, pasti bukan Tuhan?
10 Yesus mati dan lalu menyerahkan nyawanya, berarti Yesus bukan Tuhan? 
11 Apakah Yesus disunatin?
12 Apa yesus tahu dirinya bakal jadi tuhan?
13 Apakah Yesus sempat membaca alkitab ?
14.Kapan Yesus akan balik kedunia lagi?
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬


________________________________
 From: hakekat hidup <[email protected]>
To: 
Cc: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected];
 [email protected]; [email protected] 
Sent: Saturday, November 24, 2012 4:03 AM
Subject: [hakekathidupku] Air Bah
 

  


7
 
Air
Bah
--------------
Pasal
ini dialaskan atas Kejadian 6 dan 7.
 
Pada
zaman Nuh suatu kutuk yang berganda menimpa bumi ini sebagai akibat pelanggaran
Adam dan pembunuhan yang dilakukan oleh Kain. Namun demikian hal itu tidak
begitu banyak mengubah wajah alam ini. Memang jelas ada tanda‑tanda kebusukan
tetapi bumi ini masih tetap kaya dan indah di dalam pemberian Allah. Bukit‑bukit
dimahkotai oleh pepohonan yang indah yang menunjang pokok anggur yang sarat
oleh buah‑buahnya. Padang‑padang yang luas yang menyerupai taman ditutupi oleh
ribuan bunga‑bunga. Buah‑buahan yang ada di bumi ini beraneka ragam dan 
hampir‑hampir
tidak terbatas jumlahnya. Pohon‑pohon pada waktu itu jauh melebihi pohon apapun
yang ada sekarang ini di dalam ukuran, keindahan serta kesempurnaan bentuknya;
kayunya menunjukkan adanya lapisan‑lapisan yang indah serta terbuat dari bahan
yang keras dan tahan seperti batu. Mas, perak dan batu‑batu permata berlimpah
banyaknya.
 
Umat
manusia masih memiliki kesegarannya yang semula. Tetapi beberapa generasi telah
berlalu sejak Adam masih diperkenankan memakan buah alhayat yang dapat
memperpanjang hidup; dan umur manusia masih diukur dengan abad. Andaikata
manusia yang berumur panjang dengan kesanggupan yang tiada taranya untuk
berencana dan bekerja itu telah mengabdikan diri untuk melayani Tuhan, mereka
tentu akan menjadikan nama Khalik itu satu kepujian di atas dunia ini dan
mereka akan merupakan wujud daripada maksud Tuhan dalam menjadikan mereka.
Tetapi mereka telah gagal melakukan hal ini. Pada masa itu banyak 
raksasa‑raksasa,
manusia yang memiliki tubuh dan kekuatan yang besar, terkenal bijaksana, ahli
dalam merancang pekerjaan yang paling indah dan mengagumkan; tetapi kesalahan
mereka dengan membiarkan diri dalam kejahatan adalah sebanding dengan
kesanggupan mental serta keahlian mereka.
 
Tuhan
mengaruniakan kepada orang‑orang yang hidup sebelum air bah ini banyak
pemberian; tetapi mereka telah menggunakan kelimpahan itu untuk meninggikan
diri sendiri dan telah mengubahkannya menjadi laknat dengan memusatkan
perhatian mereka kepada pemberian‑pemberian tersebut gantinya kepada Dia yang
telah memberikannya. Mereka menggunakan mas, perak, batu‑batu permata serta
kayu‑kayu yang indah dan terpilih untuk membangun tempat tinggal mereka dan
berusaha untuk saling melebihi satu terhadap yang lainnya dalam keindahan rumah
dengan hasil pekerjaan orang‑orang yang ahli. Mereka berusaha hanya untuk
memuaskan keinginan hati mereka yang sombong dan bersuka‑suka dalam kepelesiran
dan kejahatan. Dengan tidak menginginkan Allah ada di dalam pengetahuan mereka,
segera mereka pun menyangkal adanya Allah. Mereka mengagungkan alam sebagai
pengganti Allah yang menjadikan alam ini. Mereka meninggikan kepandaian
manusia, menyembah hasil pekerjaan tangan mereka dan mengajar anak‑anak mereka
menyembah sujud kepada patung‑patung ukiran.
 
 
Di
padang‑padang hijau dan di bawah naungan pohon‑pohon yang rindang mereka
mendirikan mezbah untuk berhala mereka. Hutan‑hutan kayu yang luas, yang
daunnya tetap tumbuh sepanjang tahun ditahbiskan untuk penyembahan dewa‑dewa
palsu. Dengan hutan‑hutan kayu ini dihubungkan taman‑taman yang indah, 
jalan‑jalannya
yang panjang dan berliku‑liku itu ditudungi oleh segala macam pohon yang
berbuah lebat, dihiasi oleh patung‑patung ukiran dan dilengkapi dengan segala
sesuatu yang dapat menyenangkan perasaan serta menimbulkan nafsu berahi orang
banyak, sehingga mereka pun dirangsang untuk ambil bahagian dalam penyembahan
berhala.
 
Manusia
menyisihkan Allah dari pengetahuan mereka dan menyembah barang‑barang hasil
ciptaan angan‑angan pikiran mereka; dan sebagai akibatnya mereka pun menjadi
lebih merosot lagi. Pemazmur menggambarkan akibat yang ditimbulkan oleh
penyembahan berhala terhadap diri mereka. Ia berkata, "Seperti itulah
jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya
kepadanya." Mazmur 115:8. Adalah satu hukum daripada pikiran manusia bahwa
oleh memandang kita diubahkan. Manusia tidak akan naik lebih tinggi daripada
pemikirannya tentang kebenaran, kemurnian serta kesucian. Jikalau pikiran tidak
ditinggikan melebihi taraf kemanusiaan, jikalau itu tidak diangkat oleh iman
untuk merenung‑renungkan kasih serta hikmat yang tak terbatas itu, maka manusia
akan terus terbenam lebih dalam lagi. Penyembah dewa‑dewa yang palsu memakaikan
sifat‑sifat serta nafsu kemanusiaan kepada dewa‑dewa tersebut sehingga dengan
demikian ukuran tabiat dewa‑dewa itu merosot menjadi setaraf dengan manusia
yang berdosa. Dan sebagai akibatnya mereka menjadi cemar. "Ketika dilihat
Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan
hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata." Tuhan telah memberikan
kepada manusia hukum‑hukum‑Nya sebagai peraturan hidup, tetapi hukum‑Nya itu
dilanggar dan sebagai akibatnya timbullah segala macam dosa. Kejahatan manusia
dilakukan dengan terang‑terangan, keadilan diinjak-injak dan teriakan 
orang‑orang
yang teraniaya naik sampai ke surga.
 
Beristri
banyak telah mulai dipraktikkan pada waktu itu, bertentangan dengan rencana
Ilahi pada mulanya. Tuhan memberikan kepada Adam seorang istri untuk
menunjukkan tata cara‑Nya yang berkaitan dengan hal itu. Tetapi setelah jatuh
ke dalam dosa, manusia memilih untuk mengikuti kemauannya sendiri yang penuh
dengan dosa itu, dan sebagai akibatnya kejahatan dan kemalangan bertambah‑tambah
dengan cepatnya. Hubungan perkawinan dan hak milik seseorang tidak lagi
diindahkan. Siapa saja yang ingin istri atau harta benda orang lain bisa saja
mengambilnya dengan paksa, dan manusia pun bersuka‑suka dalam perbuatan yang
kejam. Mereka senang membunuh binatang‑binatang; dan penggunaan daging sebagai
makanan menjadikan mereka lebih kejam dan lebih haus darah lagi, sampai
akhirnya mereka menjadi tidak acuh sama sekali terhadap nyawa manusia.
 
 
Pada
waktu itu dunia masih seperti bayi; tetapi kejahatan telah begitu dalam dan
merajalela sehingga Allah tidak dapat membiarkannya lagi; dan Ia berkata,
"Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka
bumi." Ia mengatakan bahwa roh‑Nya tidak akan selalu bergumul dengan umat
yang berdosa. Jikalau mereka tidak berhenti mencemari bumi ini dan segala
kekayaannya dengan dosa‑dosa mereka, Ia akan melenyapkan mereka, dan juga akan
membinasakan perkara‑perkara yang dengannya Tuhan telah memberkati mereka; Ia
akan menyapu bersih binatang‑binatang dari padang, dan tumbuh‑tumbuhan yang
telah memberikan makanan yang berkelimpahan, dan akan mengubahkan bumi yang
indah ini menjadi satu keadaan yang sunyi senyap dan rusak binasa. Di 
tengah‑tengah
kejahatan yang merajalela, Metusalah, Nuh, dan banyak lagi yang lain, telah
berusaha untuk tetap menghidupkan pengetahuan akan Allah yang benar, dan
membendung arus kejahatan akhlak. Seratus dua puluh tahun sebelum air bah,
Tuhan melalui seorang malaikat yang suci menyatakan kepada Nuh akan maksud‑Nya,
dan memerintahkannya untuk membuat sebuah bahtera. Sementara membuat bahtera ia
harus berkhotbah bahwa Tuhan akan menurunkan air bah ke atas bumi untuk
membinasakan orang‑orang jahat itu. Mereka yang percaya akan pekabaran itu, dan
mau bersedia untuk menghadapi peristiwa itu melalui pertobatan serta
pembaharuan, akan memperoleh pengampunan dan akan diselamatkan. Henokh telah
mengulangi kepada anak‑anaknya akan apa yang telah dinyatakan Tuhan kepadanya
sehubungan dengan air bah. Dan Metusalah serta anak‑anaknya, yang sempat
mendengarkan khotbah Nuh ikut membantu membuat bahtera itu.
 
Tuhan
telah memberikan kepada Nuh ukuran bahtera dengan tepat, dan petunjuk‑petunjuk
yang saksama sehubungan dengan pembuatan bahtera itu sampai kepada perkara yang
sekecil‑kecilnya. Hikmat manusia tidak akan dapat merencanakan suatu bentuk
yang begitu kukuh. Allah adalah perancangnya dan Nuh adalah pembangun utamanya.
Itu telah dibangunkan seperti kerangka sebuah kapal laut agar dapat mengapung
di atas air, tetapi dalam beberapa hal ini lebih menyerupai sebuah rumah.
Tingginya saja tiga tingkat, tetapi hanya mempunyai sebuah pintu yang terdapat
di bagian sampingnya. Cahaya masuk dari atas dan kamar‑kamarnya diatur
sedemikian rupa sehingga semuanya memperoleh terang. Bahan‑bahan yang dipakai
dalam pembuatan bahtera ini adalah kayu gafir yang tidak akan lapuk ratusan
tahun lamanya. Pembangunan bahtera raksasa ini merupakan satu proses yang
lambat dan membutuhkan kerja keras. Oleh karena besarnya serta jenis pohon‑pohon
itu, maka kerja yang lebih berat lagi diperlukan pada waktu itu daripada saat
sekarang ini untuk menyediakan kayu‑kayunya, sekalipun orang‑orang pada zaman
itu mempunyai tenaga yang lebih kuat. Segala usaha manusia dikerahkan agar
pekerjaan itu sempurna, tetapi bahtera itu sendiri tidak akan sanggup untuk
bertahan terhadap topan yang akan datang ke atas bumi ini. Hanya Allah saja
dapat memeliharakan hamba‑hamba‑Nya yang berada di tengah‑tengah topan dan
gelombang itu.
 
 
"Karena
iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum
kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya;
dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima
kebenaran sesuai dengan imannya." Ibrani 11:7. Sementara Nuh menyampaikan
amarannya kepada dunia ini, usaha pekerjaannya memberikan bukti akan 
kesungguh‑sungguhannya.
Dengan cara seperti itu imannya disempurnakan dan menjadi nyata sekali. Ia
memberikan kepada dunia ini satu teladan untuk mempercayai apa yang dikatakan
Allah. Apa yang ia miliki dipakai untuk membangun bahtera itu. Apabila ia
memulai pembangunan bahtera raksasa itu di atas bumi yang kering, orang banyak
datang dari segala penjuru untuk melihat sesuatu yang ganjil dan untuk
mendengarkan kata‑kata yang diucapkan dengan sungguh‑sungguh dan penuh
semangat, oleh pengkhotbah yang luar biasa itu. Setiap pukulan tukang terhadap
bahtera itu merupakan satu kesaksian kepada orang banyak.
 
Mula‑mula
banyak orang yang kelihatannya menerima akan amaran itu; tetapi mereka tidak
berpaling kepada Allah dengan pertobatan yang sejati. Mereka tidak mau
meninggalkan dosa‑dosa mereka. Selama waktu yang berlangsung sebelum air bah
itu datang, iman mereka telah diuji dan mereka gagal untuk menghadapinya.
Dikalahkan oleh ketidak‑percayaan mereka yang sedang merajalela waktu itu,
akhirnya mereka bergabung dengan sahabat‑sahabat lamanya untuk menolak
pekabaran yang khidmat itu. Beberapa orang yang benar‑benar merasa dirinya
berdosa dan mau memperhatikan amaran itu; tetapi begitu banyak yang 
mengolok‑olok
serta mencemoohkan sehingga mereka dengan roh yang sama telah menolak undangan
yang penuh rahmat itu, dan dengan segera mereka pun menjadi pengolok‑olok yang
paling berani; karena tidak ada seorang pun yang lebih tekebur dan pergi begitu
jauh dalam dosa seperti mereka yang dulunya mempunyai terang kebenaran, tetapi
menolak Roh Allah yang dapat meyakinkan.
 
Orang‑orang
dalam generasi itu tidak semuanya penyembah‑penyembah berhala, dalam sepenuh
arti kata itu. Banyak yang mengaku sebagai penyembah Allah. Mereka berpendapat
bahwa berhala‑berhala mereka adalah sekadar gambaran Tuhan agar mereka bisa
memperoleh pemikiran yang lebih jelas tentang Oknum Ilahi itu. Golongan inilah
yang paling gigih menolak pekabaran Nuh. Apabila mereka berusaha untuk
menggambarkan Allah dengan benda‑benda materi, pikiran mereka dibutakan
terhadap kuasa dan keagungan‑Nya; mereka tidak lagi dapat menyadari kesucian
tabiat‑Nya yang tidak dapat diubahkan itu. Apabila dosa menjadi umum, lalu hal
itu tidak lagi kelihatan keji seperti sebelumnya, dan akhirnya mereka
menyatakan bahwa hukum Ilahi tidak berlaku lagi; bahwa adalah bertentangan
dengan tabiat Allah untuk menghukum orang yang melanggar; dan mereka menyangkal
bahwa hukum‑Nya akan dijatuhkan ke atas bumi ini. Apabila orang‑orang dalam
generasi itu telah menurut akan hukum Ilahi, mereka akan dapat menyadari suara
Allah di dalam amaran yang diucapkan oleh hamba‑Nya; tetapi pikiran mereka
telah begitu digelapi oleh penolakan akan terang kebenaran itu sehingga mereka
mempercayai bahwa pekabaran Nuh itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Bukanlah
orang banyak atau suara terbanyak yang berada di pihak yang benar. Dunia ini
berbaris melawan keadilan Allah dan hukum‑hukum‑Nya, dan Nuh dianggap sebagai
orang fanatik. Setan pada waktu menggoda Hawa untuk melanggar perintah Allah,
berkata kepadanya, "Sekali-kali kamu tidak akan mati." Kejadian 3:4.
Orang‑orang besar, orang‑orang dunia yang terhormat dan bijaksana mengulangi
hal yang sama itu. "Ancaman Allah," kata mereka, "adalah sekadar
untuk menakut‑nakuti dan tidak pernah akan menjadi kenyataan. Engkau tidak
perlu panik. Kejadian‑kejadian seperti kehancuran dunia oleh Allah yang telah
menciptakan‑Nya dan hukuman terhadap makhluk‑makhluk yang telah dijadikan‑Nya
tidak pernah akan terjadi. Tenang‑tenang saja, dan jangan takut. Nuh adalah
seorang yang fanatik." Dunia mengolok‑olok kebodohan orang tua yang
tertipu itu. Gantinya merendahkan diri di hadapan Allah, mereka terus hidup
dalam pelanggaran dan kejahatan, seolah‑olah Allah tidak pernah berkata‑kata
kepada mereka melalui hamba‑Nya.
 
Tetapi
Nuh berdiri teguh bagaikan batu karang di tengah‑tengah topan‑topan.
Dikelilingi oleh olokan dan cemoohan orang banyak, ia kelihatan berbeda oleh
karena ketulusan serta kesetiaannya yang tidak tergoncangkan itu. Suatu kuasa
menyertai kata‑katanya, karena itu adalah suara Allah kepada manusia melalui
hamba‑Nya. Hubungan dengan Allah menjadikan hubungannya kuat di dalam kuasa
yang tidak terbatas itu, sementara untuk seratus dua puluh tahun lamanya
suaranya yang khidmat itu didengar oleh generasi itu sehubungan dengan
peristiwa, yang sejauh pertimbangan hikmat manusia, mustahil akan terjadi.
 
Dunia
sebelum air bah berpendapat bahwa berabad‑abad lamanya hukum alam telah
ditetapkan. Musim‑musim datang silih berganti menurut gilirannya yang teratur.
Hingga saat ini belum pernah turun hujan; bumi ini dibasahi oleh embun. Air
sungai tidak pernah meluap‑luap tetapi mengalir dengan tenangnya menuju lautan.
Hukum yang tetap mengaturnya sehingga air sungai tidak pernah meluap‑luap.
Tetapi mereka ini tidak menyadari bahwa tangan Dia yang memerintah air itu,
berkata: "Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat." Ayub
38:11.
 
Apabila
waktu berlalu, dengan tidak adanya perubahan yang tampak dalam alam, manusia
yang tadinya hatinya digentarkan oleh rasa takut, sekarang tenang kembali.
Mereka seperti orang‑orang pada zaman ini berpendapat bahwa alam itu lebih
tinggi daripada Allah yang menjadikan alam, dan bahwa hukum‑hukum‑Nya itu kukuh
sehingga Allah sendiri tidak dapat mengubahnya. Sambil berpikir bahwa jikalau
pekabaran Nuh itu benar, itu berarti bahwa alam ini berlawanan dengan
kebiasaannya dan mereka pun menjadikan pekabaran ini, di dalam pikiran orang
banyak di dunia ini, sebagai sesuatu yang tidak masuk akal--satu penipuan yang
besar yang luar biasa. Mereka menyatakan ejekan terhadap amaran Allah dengan
berbuat hal yang sama seperti sebelum amaran itu diberikan. Mereka teruskan
dengan pesta pora mereka, dengan sifat kegelojohan; mereka makan minum, menanam
dan membangun, mengadakan rencana‑rencana sehubungan dengan 
keuntungan‑keuntungan
yang akan mereka peroleh pada hari‑hari mendatang; dan mereka pergi lebih jauh
dalam kejahatan dan dalam pelanggaran yang berani terhadap tuntutan‑tuntutan
Allah, untuk menyatakan bahwa mereka tidak takut kepada Oknum yang tidak
terbatas itu. Mereka katakan seandainya ada kebenaran dalam apa yang dikatakan
oleh Nuh, maka orang‑orang yang termasyhur--orang‑orang bijaksana dan
pintar--tentu akan dapat memahami keadaan itu.
 
Jikalau
orang‑orang sebelum air bah itu percaya akan amaran itu, dan bertobat dari
kejahatan mereka, Tuhan akan menahankan murka‑Nya seperti yang dilakukan
terhadap kota Niniwe sesudah itu. Tetapi oleh penolakan yang keras terhadap
tempelakan daripada angan‑angan hati mereka dan amaran‑amaran daripada nabi
Allah, generasi itu telah mencapai puncak kejahatannya dan sudah tiba pada
waktu kebinasaannya.
 
Masa
percobaan mereka sudah hampir berlalu. Nuh dengan setia telah mengikuti
petunjuk‑petunjuk yang telah diterimanya dari Tuhan. Bahtera telah selesai
dibangun sesuai dengan petunjuk Tuhan, dan telah diperlengkapi dengan makanan
untuk manusia dan juga binatang‑binatang. Dan sekarang hamba Allah itu
menyampaikan panggilannya yang terakhir kepada orang banyak. Dengan satu 
kerinduan
yang tidak dapat dilukiskan oleh kata‑kata, ia membujuk mereka untuk mencari
perlindungan sementara masih bisa diperoleh. Kembali mereka menolak kata‑katanya
sambil berteriak mengolok dan mengejeknya. Tiba‑tiba kesunyian mencengkam orang
banyak yang sedang mengolok‑olok itu. 
 
Segala
jenis binatang, mulai dari yang paling buas sampai kepada yang paling jinak,
kelihatan datang dari gunung‑gunung dan hutan, dan dengan pelahan‑lahan
beriring berjalan menuju bahtera. Satu suara bunyi angin yang menderu, dan
lihat, burung‑burung terbang dari segala penjuru, begitu banyak sehingga
menjadikan langit kelihatan gelap, dan dengan teratur mereka masuk ke dalam
bahtera. Binatang‑binatang menurut perintah Allah, sementara manusia enggan
menurutnya. Dipimpin oleh malaikat‑malaikat suci, mereka "datang kepadaku
dan berpasang‑pasangan masuk ke dalam bahtera," dan binatang‑binatang yang
halal berbaris tujuh‑tujuh. Orang banyak memperhatikan dengan keheran‑heranan,
yang lain dengan rasa takut. Ahli‑ahli filsafat dipanggil untuk menerangkan
kejadian yang luar biasa itu, tetapi sia‑sia belaka. Itu merupakan satu rahasia
yang tidak dapat dipahami oleh mereka. Tetapi manusia telah menjadi begitu
keras oleh penolakan mereka akan terang kebenaran, sehingga kejadian seperti
inipun hanya memberikan kesan sementara saja bagi mereka. Apabila umat manusia
yang terkutuk itu melihat matahari bersinar dengan megahnya, dan bumi ini
ditutupi oleh keindahan yang hampir menyerupai Eden, mereka menghalau rasa
takut mereka dengan sorak sorai mereka dan oleh perbuatan‑perbuatan yang penuh
dengan kekejaman, mereka seolah‑olah mengundang ke atas diri mereka datangnya
murka Allah yang sudah bangkit sebelumnya.
 
Tuhan
memerintahkan kepada Nuh, "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi
rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman
ini." Amaran‑amaran Nuh telah menjadi berkat kepada keluarganya. Sebagai
pahala terhadap kesetiaannya dan ketulusan hatinya, Allah telah menyelamatkan
seluruh anggota keluarganya bersama dengan dia. Betapa satu dorongan bagi orang
tua untuk tetap setia! Panggilan rahmat bagi umat yang berdosa tidak terdengar
lagi. Binatang‑binatang dari hutan dan burung‑burung telah memasuki tempat
perlindungan mereka itu. Nuh dan keluarganya sudah berada dalam bahtera,
"lalu Tuhan menutup pintu bahtera itu." Seberkas sinar yang
menyilaukan kelihatan, dan segumpal awan kemuliaan yang lebih terang daripada
kilat turun dari surga dan berhenti tepat di hadapan pintu bahtera itu. Pintu
yang besar itu, yang tidak mungkin dapat ditutupkan oleh orang‑orang yang ada
di dalam bahtera itu, dengan pelahan‑lahan tertutup oleh tangan yang tidak
kelihatan. Nuh ada di dalam bahtera dan mereka yang menolak rahmat tertinggal
di luar. Meterai surga ada di atas pintu itu; Tuhan telah menutupkannya dan
hanya Tuhan saja yang dapat membukanya. 
 
Demikian
pula apabila Kristus meninggalkan pekerjaan‑Nya sebagai perantara orang yang
berdosa, sebelum kedatangan‑Nya di awan‑awan, pintu rahmat akan ditutup.
Kemudian anugerah Ilahi tidak lagi akan menahan orang‑orang jahat, Setan akan
mengendalikan dengan sepenuhnya mereka yang telah menolak rahmat. Mereka akan
berusaha untuk membinasakan umat Allah; tetapi sebagaimana Nuh terpelihara di
dalam bahtera, demikian pula orang‑orang yang benar akan dilindungi oleh kuasa
Ilahi.
 
 
Selama
tujuh hari setelah Nuh dan keluarganya memasuki bahtera, tidak kelihatan 
tanda‑tanda
akan datangnya hujan topan. Selama jangka waktu ini iman mereka diuji. Saat itu
merupakan satu kemenangan bagi orang banyak di luar bahtera. Keterlambatan ini
menguatkan mereka dalam keyakinan bahwa pekabaran Nuh itu adalah sesuatu yang
tidak pernah akan datang. Sekalipun adanya kejadian‑kejadian yang khidmat yang
telah mereka saksikan--binatang‑binatang dan burung‑burung yang memasuki
bahtera dan malaikat Allah yang menutup pintu itu--mereka teruskan dengan
kepelesiran mereka, bahkan mencemoohkan akan tanda‑tanda kekuasaan Allah
tersebut. Mereka berkerumun di sekeliling bahtera, mengejek orang‑orang yang
berada di dalamnya dengan sangat beraninya seperti yang belum pernah mereka
lakukan sebelumnya.
 
Tetapi
pada hari yang kedelapan, awan gelap menutupi langit. Kemudian menyusul gemuruh
guntur dan kilat sabung menyabung. Dengan segera hujan turun dengan lebatnya.
Dunia belum pernah menyaksikan sesuatu seperti ini, dan hati manusia dicengkam
oleh rasa takut. Dengan diam‑diam mereka bertanya kepada diri masing‑masing,
"Mungkinkah Nuh yang benar dan bahwa dunia ini sudah ditetapkan untuk
dibinasakan?" Langit semakin menghitam dan hujan turun dengan lebih hebat
lagi. Binatang‑binatang lari ke sana ke mari dengan ketakutan dan jeritan
mereka seolah‑olah menggemakan nasib mereka dan juga nasib manusia. Kemudian
"pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan
terbukalah tingkap-tingkap langit." Air jatuh dari awan seperti air terjun
yang hebat. Air sungai pun meluap‑luap dan membanjiri lembah‑lembah. Pancaran
air ke luar dari bumi dengan satu kekuatan yang tak dapat digambarkan,
melemparkan batu‑batu karang yang besar ratusan kaki ke udara dan batu‑batu itu
berjatuhan, dan terbenam kembali ke dalam tanah.
 
Mula‑mula
orang banyak melihat kehancuran daripada barang‑barang buatan tangan mereka
sendiri. Bangunan‑bangunan mereka yang megah, taman yang indah, kebun‑kebun di
mana mereka telah tempatkan berhala‑berhala mereka dibinasakan oleh kilat yang
memancar dari langit dan puing‑puingnya berhamburan ke mana‑mana. Mezbah‑mezbah
di mana manusia dikorbankan dihancurkan dan penyembah‑penyembah berhala itu
gemetar di hadapan kuasa Allah yang hidup, dan mereka menyadari bahwa kejahatan
dan penyembahan berhala merekalah yang telah menyebabkan kehancuran tersebut.
 
 
Apabila
topan dahsyat melanda, pohon‑pohon, bangunan‑bangunan, batu‑batu karang dan
tanah terlempar ke segala penjuru. Kegentaran manusia dan binatang tidak dapat
dilukiskan dengan kata‑kata. Lebih keras daripada derunya topan terdengar
jeritan orang‑orang yang telah menghinakan kekuasaan Allah. Setan sendiri, yang
dipaksa untuk tetap tinggal di tengah‑tengah keadaan yang hebat ini, merasa
takut akan hidupnya itu. Ia telah bersuka‑suka untuk mengendalikan manusia
dengan penuh kuasa, dan menghendaki agar mereka hidup untuk mempraktikkan
kekejian itu dan terus memberontak terhadap pemerintah surga. Sekarang dia
menghujat Tuhan dan menuduh‑Nya sebagai satu oknum yang tidak adil dan kejam.
Banyak dari antara orang‑orang itu, seperti Setan, menghujat Tuhan, dan kalau
saja mereka sanggup, mereka mau menurunkan Dia dari takhta kekuasaan‑Nya. Yang
lain panik dan takut, mereka mengulurkan tangan mereka ke arah bahtera itu
minta supaya diperbolehkan masuk. Tetapi permintaan mereka itu sia‑sia.
Akhirnya angan‑angan hati mereka mau mengakui bahwa ada seorang Tuhan yang
memerintah di surga. Mereka berseru kepada Tuhan dengan bersungguh‑sungguh,
tetapi telinga‑Nya tidak lagi terbuka terhadap teriakan mereka. Pada jam‑jam
yang mengerikan itu mereka melihat bahwa pelanggaran terhadap hukum Allah telah
menyebabkan kebinasaan mereka. Namun demikian, sementara mereka mengakui 
dosa‑dosa
mereka oleh sebab takut terhadap hukuman, mereka tidak merasakan kekejian dosa.
Kalau saja hukuman itu dibatalkan mereka akan kembali mengulangi perbuatan
mereka untuk mencemoohkan surga. Demikian pula pada saat pehukuman Tuhan akan
menimpa bumi ini, sebelum api itu diturunkan, orang‑orang yang tidak bertobat
itu akan mengetahui dengan baik di mana dan apa dosa mereka yaitu pelanggaran
terhadap hukum Allah yang suci. Tetapi sebagaimana orang‑orang berdosa pada
zaman dahulu kala itu mereka juga tidak akan bertobat dengan sungguh‑sungguh.
 
Beberapa
dari antara mereka dalam kepanikan telah berusaha masuk ke dalam bahtera itu
dengan cara merusaknya, tetapi bahtera yang dibangun dengan kukuh dan kuat itu
menggagalkan usaha mereka. Beberapa bergantung ke bahtera itu sampai akhirnya
diterjang hanyut oleh arus yang deras, atau pegangan mereka terlepas menabrak
batu‑batu karang dan pohon‑pohon. Bahtera raksasa itu bergetar dengan hebat
apabila dipukul oleh topan dan gelombang yang dahsyat. Jeritan binatang‑binatang
yang ada di dalam bahtera itu merupakan cetusan daripada rasa takut dan rasa
sakit mereka. Tetapi di tengah‑tengah topan yang mengamuk itu, bahtera itu
terapung dengan tenangnya dan aman. Malaikat‑malaikat yang luar biasa
kekuatannya ditugaskan untuk memeliharakannya.
 
Binatang‑binatang,
pada waktu dilanda oleh topan, berlari kepada manusia seolah‑olah mengharapkan
akan diberi pertolongan. Banyak dari antara orang‑orang itu yang mengikatkan
anak‑anaknya kepada dirinya sendiri dan kepada binatang‑binatang yang kuat yang
mereka pikir mempunyai daya tahan hidup yang besar, dan naik ke tempat‑tempat
yang tertinggi untuk melepaskan diri dari air yang semakin tinggi. Yang lain
mengikat diri mereka ke pohon‑pohon yang tinggi di puncak bukit‑bukit dan
gunung‑gunung; tetapi pohon‑pohon itu tercabut dan dengan makhluk‑makhluk hidup
yang ada di atas terlempar ke dalam ombak yang sedang mengamuk. Satu demi satu
tempat yang tadinya dirasa aman sekarang ditinggalkan. Apabila air naik semakin
tinggi, orang banyak lari mencari perlindungan ke atas gunung‑gunung yang
paling tinggi. Sering manusia dan binatang bergumul untuk memperebutkan tempat
berpijak sampai kedua‑duanya hanyut diterjang arus.
 
Dari
puncak‑puncak yang tinggi manusia melihat di sekelilingnya satu lautan yang 
tiada
bertepi. Amaran hamba Allah yang khidmat itu sekarang tidak lagi jadi bahan
olokan dan ejekan. Betapa orang‑orang yang berdosa yang malang itu merindukan
untuk memperoleh kembali kesempatan yang telah mereka sia‑siakan! Mereka
merindukan satu jam lagi saja untuk bertobat, satu kesempatan saja lagi untuk
beroleh rahmat, satu panggilan dari bibir Nuh! Tetapi suara rahmat yang merdu
itu tidak terdengar lagi oleh mereka. Kasih, sebagaimana juga keadilan,
menuntut agar hukuman Allah itu dijatuhkan untuk menghentikan dosa itu. Air
yang dahsyat itu melanda tempat perlindungan yang terakhir dan pengolok‑olok
Allah itupun binasa di dalamnya.
 
 
"Oleh
Firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air
dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa,
dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh Firman itu juga langit dan bumi yang
sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan
kebinasaan orang-orang fasik." 2 Petrus 3:5, 6, 7. Topan yang lain sedang
datang mendekati. Bumi ini sekali lagi akan dilanda oleh murka Tuhan yang
membinasakan, dan dosa serta orang‑orang yang berdosa akan dimusnahkan.
 
Dosa‑dosa
yang telah mendatangkan pembalasan kepada dunia sebelum air bah, ada sekarang
ini. Takut akan Allah telah lenyap dari hati manusia, dan hukum‑Nya
diperlakukan dengan sikap acuh tak acuh dan cemoohan. Keduniawian yang ada pada
generasi tersebut disamai oleh keduniawian yang ada sekarang ini. Kristus
berkata, "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan
dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam
bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan
melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak
Manusia." Matius 24:38, 39. Tuhan menghukum orang‑orang sebelum air bah
bukan karena mereka makan minum; Ia telah memberikan kepada mereka buah‑buahan
dengan berkelimpahan untuk memenuhi kebutuhan jasmani mereka. Yang menjadi dosa
mereka ialah menerima pemberian‑pemberian tersebut tanpa rasa syukur kepada
Pemberinya, dan mereka telah merusakkan diri mereka oleh memanjakan nafsu makan
mereka tanpa batas. Adalah halal bagi mereka untuk menikah. Perkawinan adalah
sesuatu yang direncanakan oleh Tuhan; itu adalah salah satu daripada 
lembaga‑lembaga
yang pertama yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Ia telah memenuhinya dengan
kesucian dan keindahan; tetapi segala petunjuk ini telah dilupakan dan
pernikahan telah disalah‑gunakan dan dijadikan alat sekadar untuk memuaskan
hawa nafsu.
 
 
Keadaan
yang sama itu berlaku sekarang ini. Yang sebenarnya halal telah dijalankan
dengan secara berlebih‑lebihan. Nafsu makan dimanjakan tanpa batas. Orang‑orang
yang mengaku sebagai pengikut Kristus sekarang ini makan minum bersama‑sama
dengan orang‑orang pemabuk, sementara nama mereka tercantum dalam buku
keanggotaan gereja. Sifat tidak bertarak merusakkan kuasa akhlak dan rohani,
dan menyediakan jalan bagi pemanjaan akan nafsu berahi. Orang banyak tidak
merasakan adanya tanggung jawab moral untuk mengendalikan keinginan seks
mereka, dan mereka pun menjadi budak‑budak dari nafsu mereka. Manusia hidup
untuk memuaskan perasaan; bagi dunia dan kehidupan ini saja. Kemewahan
merajalela di segala lapisan masyarakat. Kejujuran dikorbankan agar memperoleh
kemewahan yang dapat dipertontonkan. Mereka yang ingin cepat jadi kaya, telah
menyalah gunakan keadilan dan menekan orang miskin, dan "budak‑budak serta
jiwa manusia" masih diperjual‑belikan. Penipuan, uang suap, pencurian
merajalela tanpa ada teguran baik di kalangan orang‑orang yang tinggi ataupun
yang rendah kedudukannya. Surat‑surat kabar dipenuhi oleh berita‑berita
pembunuhan--kejahatan yang dilakukan dengan berdarah dingin dan tanpa sebab,
sehingga kelihatannya seolah‑olah setiap naluri kemanusiaan telah lenyap sama
sekali. Dan kejahatan‑kejahatan seperti ini telah menjadi begitu biasa sehingga
tidak lagi menimbulkan tanggapan atau rasa kaget. Roh kekacauan sedang
merajalela di segala bangsa, dan pemberontakan‑pemberontakan yang dari waktu ke
waktu menimbulkan rasa ngeri di dunia ini adalah merupakan bukti daripada api
nafsu serta kejahatan, yang sekali terlepas dari pengendalian, akan memenuhi
dunia ini dengan celaka dan kebinasaan. Gambaran yang telah diberikan oleh
ilham tentang dunia sebelum air bah, melukiskan dengan sangat tepat tentang
keadaan yang segera akan terjadi kepada masyarakat modern sekarang ini.
Sekarang ini, di dalam abad ini, dan di dalam negara‑negara yang mengaku
Kristen, terdapat kejahatan‑kejahatan yang tiap hari dilakukan sehebat seperti
kejahatan‑kejahatan untuk mana orang‑orang berdosa pada zaman dahulu kala telah
dibinasakan.
 
Sebelum
Air Bah, Tuhan menyuruh Nuh untuk mengamarkan 
dunia
agar orang banyak dapat dipimpin kepada pertobatan, dan dengan demikian
terlepas dari kehancuran yang mengancam mereka. Apabila hari kedatangan Kristus
mendekat, Tuhan menyuruh hamba‑hamba‑Nya dengan satu amaran kepada dunia untuk
bersedia bagi peristiwa yang hebat itu. Orang banyak sedang hidup dalam
pelanggaran terhadap hukum Allah dan sekarang Dia dalam rahmat‑Nya memanggil
mereka untuk mentaati akan hukum‑hukum‑Nya yang suci itu. Semua orang yang mau
meninggalkan dosa‑dosa mereka melalui pertobatan kepada Allah, dan iman dalam
Kristus akan diberi keampunan. Tetapi banyak yang merasa bahwa adalah satu
pengorbanan yang terlalu besar untuk meninggalkan dosa‑dosa. Oleh karena hidup
mereka tidak selaras dengan prinsip‑prinsip moral daripada pemerintahan Allah
yang suci, mereka menolak amaran‑amaran‑Nya, dan menyangkal kekuasaan hukum‑Nya.
 
Dari
antara penduduk bumi sebelum Air Bah yang besar jumlahnya itu, hanya delapan
jiwa saja yang percaya dan menurut akan Firman Allah melalui Nuh. Untuk seratus
dua puluh tahun lamanya, pengkhotbah kebenaran itu telah mengamarkan dunia ini
tentang kebinasaan yang akan menimpa; tetapi pekabarannya telah ditolak dan
dinista, begitu pula sekarang ini. Sebelum Pemberi hukum itu datang untuk
menghukumkan orang‑orang yang melanggar, orang yang tidak menurut hukum itu
diamarkan untuk bertobat dan kembali jadi setia; tetapi bagi kebanyakan orang
amaran ini akan merupakan sesuatu yang sia‑sia. Rasul Petrus berkata,
"Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir
akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang
hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: 'Di manakah janji tentang
kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala
sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." 2 Petrus 3:3,
4. Bukankah kita mendengar kata‑kata yang sama ini diulangi, bukan hanya oleh
orang‑orang yang berbuat jahat secara terang‑terangan tetapi juga oleh banyak
orang yang berkhotbah dari atas mimbar di negara‑negara kita ini? "Tidak
ada sebab untuk jadi panik," kata mereka. "Sebelum Kristus datang,
seluruh dunia ini akan ditobatkan dan kebenaran akan memerintah selama seribu
tahun. Tenang! Tenang! Segala sesuatu akan berjalan sama seperti awal mulanya.
Jangan seorang pun yang menjadi gelisah oleh karena kabar‑kabar yang menakutkan
dari orang‑orang yang kepanikan itu." Tetapi pengajaran tentang masa
seribu tahun seperti ini tidak sesuai dengan ajaran Kristus, dan 
rasul‑rasul‑Nya.
Yesus mengemukakan pertanyaan yang penting itu, "Akan tetapi, jika Anak
Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" Lukas 18:8. Dan,
seperti telah kita lihat, Ia menyatakan bahwa keadaan dunia ini akan jadi
seperti keadaan dunia pada zaman Nuh. Paulus mengamarkan bahwa kita akan
melihat kejahatan bertambah‑tambah menjelang akhir dunia ini: "Tetapi Roh
dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan
murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan." 1 Timotius
4:1. Rasul mengatakan bahwa "pada hari-hari terakhir akan datang masa yang
sukar." 2 Timotius 3:1. Dan ia memberikan satu daftar dosa‑dosa yang akan
terdapat di antara mereka yang mempunyai satu bentuk peribadatan.
 
Apabila
masa percobaan mereka itu mendekati kesudahannya, orang‑orang sebelum air bah
hidup dalam kepelesiran dan pesta pora. Mereka yang mempunyai pengaruh dan
kuasa berusaha untuk menjadikan pikiran orang banyak asyik dengan kepelesiran
dan foya‑foya, agar jangan seorang pun terkesan oleh amaran terakhir yang
khidmat itu. Bukankah kita melihat hal yang sama ini berulang kembali pada
zaman kita ini? Sementara hamba‑hamba Allah memberikan pekabaran bahwa
kesudahan segala sesuatu sudah dekat, dunia ini asyik dalam 
kepelesiran‑kepelesiran
dan hiburan‑hiburan yang membuat manusia acuh tak acuh terhadap Tuhan dan
mencegah orang banyak untuk terkesan oleh kebenaran yang merupakan satu‑satunya
cara oleh mana mereka bisa diselamatkan dari kebinasaan yang akan datang.
 
Pada
zaman Nuh para ahli filsafat menyatakan bahwa tidak mungkin dunia ini
dibinasakan oleh air; demikian pula sekarang ini ada orang‑orang yang berilmu
pengetahuan yang berusaha menunjukkan bahwa bumi ini tidak dapat dibinasakan
oleh api, bahwa hal ini tidak sejalan dengan hukum alam. Tetapi Allah Pencipta
alam ini, Khalik dan Pengendali akan hukum‑hukum alam ini, dapat menggunakan
barang yang telah dijadikan‑Nya itu sebagai alat untuk menggenapkan maksud‑Nya.
 
Apabila
orang‑orang besar dan bijaksana itu telah membuktikan dengan memuaskan bahwa
mustahil bumi ini dibinasakan oleh air, bilamana rasa takut orang banyak
diredakan, bilamana semua orang menganggapnya sebagai seorang fanatik‑‑pada
saat itulah Allah bertindak. "Pada hari itulah terbelah segala mata air
samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit," dan
pengolok‑olok itupun ditelan oleh Air Bah. Dengan segala filsafat yang
dibanggakannya itu, manusia dengan terlambat mendapati bahwa kebijaksanaan
mereka itu adalah satu kebodohan, bahwa Pemberi hukum itu lebih besar daripada
hukum alam, dan yang Mahakuasa itu tidak kehabisan cara untuk melaksanakan 
niat‑Nya.
"Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak
pada hari-hari Anak Manusia." Lukas 17:26, 30. "Tetapi Hari Tuhan
akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang
dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala 
yang
ada di atasnya akan hilang lenyap." 2 Petrus 3:10. Apabila ajaran daripada
filsafat telah melenyapkan rasa takut terhadap hukum Allah; bilamana guru‑guru
agama menunjukkan kepada masa damai serta kemakmuran yang lama dan dunia ini
asyik dalam urusan dagang dan kepelesiran menanam dan membangun, berpesta pora
dan berfoya‑foya sambil menolak amaran‑amaran Allah dan mencemoohkan 
pesuruh‑pesuruh‑Nya--pada
saat itulah kebinasaan yang mendadak akan datang kepada mereka, dan mereka
pasti tidak akan luput. 1 Tesalonika 5:3.
 
 
 
 
 




xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 




>>Surat-menyurat :   [email protected][email protected],  
                                   [email protected],   
[email protected],  
                                    [email protected], 
                                    [email protected],  
 
>> MilisGroup:   [email protected],  
                             http://groups.yahoo.com/group/hakekatku_00/
 
                             [email protected], 
                             http://groups.yahoo.com/group/newhakekatku/
 
>>B l o g  :    http://bloghakekatku.blogspot.com 
 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke