Opini Ada apa di balik impor beras?
Setelah mengharu-biru masyarakat dengan kenaikan harga BBM yang gila-gilaan, kini rezim SBY dan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) kembali melakukan tindakan mengejutkan: mengimpor beras di tengah protes petani yang menolaknya. Hebatnya, impor beras ini dilakukan diam-diam. DPR menemukan kejanggalan dalam impor beras sebanyak 70.050 ton yang dikeluarkan per 1 November 2005 itu. Hal ini terlihat dari 'jangka waktu' antara keluarnya surat izin impor dan masuknya beras Vietnam ke Indonesia. Selang dua pekan setelah izin keluar, kata Zulkifli Hasan, anggota Komisi VI DPR, beras impor sudah masuk. Padahal biasanya bila izin impor keluar 1 November, minimal waktu yang dibutuhkan untuk pengurusan administrasi sampai kapal beras datang, sekitar satu bulan. Waktu sebulan tersebut dipakai untuk mengurus letter of credit (L/C), klausul awal, penandatanganan kontrak, dan survei kondisi beras. Tapi kenyataannya, semua proses itu super cepat, hanya makan waktu dua pekan. Itu baru 'keanehan' di satu sisi perihal pengurusan administrasi dan survei beras di lapangan. Keanehan di sisi lainnya, tiba-tiba ada informasi dari pemerintah bahwa stok beras telah berkurang dari 1,6 juta ton menjadi 900.000 ton. Sedangkan harga beras di pasar rata-rata Rp3.500 per kg lebih sedikit. Itu terjadi dalam dua pekan. Keanehan ini ternyata terwujud untuk sebuah prakondisi diperbolehkannya impor beras. Sebab pemerintah jauh sebelumnya telah menyatakan bahwa impor beras hanya akan dibuka jika memenuhi dua syarat. Pertama, harga rata-rata beras nasional di atas Rp3.500 per kg. Kedua, stok beras yang tersimpan di Bulog kurang dari satu juta ton. Ternyata, pada rakor terbatas Kantor Menko Perekonomian 25 Oktober 2005 terungkap harga beras nasional rata-rata Rp3.560,88 per kg. Sedang stok Bulog pada tanggal tersebut tinggal 800.00 ton. Akhirnya pemerintah langsung memberikan izin impor beras dari Vietnam. Pertanyaannya, mungkinkah dalam dua pekan stok beras nasional susut separuhnya. Apa alasannya? Lebaran? Justru konsumsi beras di saat Lebaran bisa berkurang karena masyarakat lebih banyak mengkonsumsi kueh yang terbuat dari terigu. Kalau pun stok beras berkurang, tidak akan secepat itu. Lalu bagaimana harga beras tiba-tiba naik jadi Rp3.560,88 per kg? Apakah harga tersebut sudah cukup berat bagi rakyat Indonesia? Secara statistik, kenaikan sebesar itu (17%) tidak cukup signifikan untuk menimbulkan sebuah keputusan besar yang menimbulkan implikasi ekonomis bagi para petani nasional. Tapi, faktanya begitu. Padahal dalam hal stok beras nasional, terjadi kesimpang-siuran data. Menurut data Deptan, pada 2005 terjadi surplus beras hingga 1,6 juta ton. Lantas kenapa Bulog takut stok beras nasional habis? Kalau pun Bulog takut, kenapa tidak membeli beras petani saja agar para petani bisa menjual berasnya sesuai harga impor pemerintah? Dari tahun ke tahun, tampaknya Bulog lebih senang membeli beras dari luar negeri ketimbang beras dalam negeri. Alasannya: beras petani Indonesia kadar airnya tinggi dan banyak pecah. Sedangkan beras asal Vietnam dan Thailand memenuhi standar kualitas. Lantas, siapa yang membuat standar? Mana yang seharusnya dibela, petani Indonesia yang sudah susah payah mennam padi, atau petani luar negeri yang tak tahu apa-apa tentang kemiskinan rakyat Indonesia. Dari pertanyaan itu kita bisa memahami kenapa Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai kebijakan impor beras tersebut merupakan tindak subversi ekonomi yang mengkhianati petani dalam negeri. Melihat gambaran 'keanehan' impor beras dengan segala rekayasa prakondisinya, lantas kita pun bertanya: sedemikian parahkah sistem perencanaan, prediksi, informasi, dan pengelolaan stok pangan pemerintah selama ini? Kita masih ingat pada Juli dan Agustus 2005, hampir semua pejabat pemerintah, mulai Menteri Pertanian, kepala Bulog, Menko Perekonomian, dan Menperindag, menyatakan bahwa pemerintah tidak akan impor beras karena stok beras nasional cukup. Produksi bagus Musim yang bersahabat dengan petani di tahun ini menyebabkan hasil pertanian, khususnya padi, bagus. Lantas Mentan pun memprediksi akan terjadi surplus produksi beras sekitar 1,6 juta ton per September, kira-kira cukup untuk 8,5 bulan dalam penyaluran rutin. Dengan demikian untuk tahun ini pemerintah tidak perlu impor beras. Tapi apa yang terjadi kemudian? Hanya dalam rentang dua bulan prediksi tersebut tiba-tiba berubah total, bahkan gambaran yang semula surplus itu kini berubah menjadi defisit. Padahal langkah pemerintah mengizinkan Bulog mengimpor beras saat ini dianggap sebagai suatu yang aneh dan konyol. Beberapa alasan kenapa impor beras itu konyol. Pertama, izin impor dikeluarkan pada saat di berbagai daerah tengah berlangsung panen raya. Kedua, produksi tahun ini diperkirakan akan bagus bahkan surplus, sehingga tak perlu impor. Ketiga, harga beras impor yang akan dibeli Bulog lebih mahal (Rp3.500 per kg) dibanding jika harus membeli kepada petani di dalam negeri yang hanya Rp2.900 per kg untuk beras kualitas sama. Keempat, saat pemerintah sedang kesulitan ekonomi saat ini, sebaiknya negara menghemat devisa. Kelima, meski pemerintah menjamin beras impor tidak akan bocor ke pasar, kita terlanjur tidak percaya sebab sampai hari ini tak ada mekanisme yang menjamin beras impor itu tidak masuk pasar. Keenam, bersamaan datangnya beras impor resmi, akan terbuka pintu untuk memasukkan beras 'spanyol' (separo nyolong alias beras ilegal). Yang terakhir ini sudah menjadi rahasia umum bahwa para importir beras biasanya pandai menyisipkan beras spanyol di kapal. Urusan bea cukai dan lain-lain, semuanya sudah 'maklum'. Di negeri 'sarang koruptor' seperti Indonesia, memasukkan beras 'spanyol' sama mudahnya dengan memasukkan beras resmi. Yang penting asal ada pencetusnya. Dan itu adalah izin impor beras di atas. Dengan adanya beras impor yang masuk ke Indonesia, maka beras 'spanyol' pun bisa leluasa masuk. Lantas, kepentingan siapakah beras impor tadi? Wallahu a'lam. Tuhan yang tahu. Oleh A.M. Saefudin Mantan Menneg Pangan dan Hortikultura http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A57&cdate=29-NOV-2005&inw_id=405491 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
