DOSA apa yang pernah diperbuat oleh Supradin, 48, ini, sehingga dia hampir saja harus kehilangan rumah dan istri. Tapi karena dia tak mampu menyelesaikan dengan kepala dingin, warga Sidoarjo ini dikejar-kejar polisi sampai Kalteng segala, gara-gara nggebuki istrinya dibantu anak kandung. Perselingkuhan sering menimbulkan dampak multidimensi. Bukan saja rumahtangga yang hancur, rumah tempat tinggalpun juga bisa terjual karenanya. Belum lagi anak-anak yang akan jadi korban. Itulah akibat daripada orangtua yang hanyua mau cari enak, keluarga dan anak menjadi ngebelangsak. Maka benar kata para praktisi perselingkuhan, selingkuh itu enaknya hanya sehari dua hari, tapi menderitanya bisa berkepanjangan tak cukup 360 hari dan 1.000 hari. Agaknya Ny. Prihatmi, 41, warga Larangan Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo ini tak pernah berfikir sejauh ini. Saat dia selingkuh, enjoy saja. Prinsipnya, “Saya seneng dia mau, hayolah membangun koalisi sampai eksekusi.” Padahal Supradin selaku suami pasti kelara-lara (korban perasaan). Bagaimana tidak, dia masih cinta sama istri, tapi kok itu barang “dilelang” ke mana-mana. Memangnya mau mengikuti langkah Gubernur Jokowi, apa? Bahwa Prihatmi punya PIL, Supradin selaku suami sudah lama tahu. Tapi saking cintanya pada istri, dia hanya menegur agar praktek selingkuh itu dihentikan, paling tidak dimoratorium lah. “Malu sama anak-anak,” begitu katanya. Tapi Prihatmi tak menggubris, terus saja membagi “aset”-nya ke pihak lain, sehingga suami hanya kebagian tinggal secuwil. Sepertinya dalam aksi perselingkuhan ini yang ngebet pihak perempuannya. Terbukti Prihatmi selama ini menjadi penyandang dananya, untuk memanjakan sang PIL. Tentu saja Supradin makin nelangsa bin kelara-lara. Bagaimana mungkin, dia yang mencari uang buat keluarga, eh hasilnya malah dihambur-hamburkan istri buat golek lanangan (cari lelaki). Celakanya, tak mampu bertindak tegas, Supradin malah menyikapi dengan cara nyingkir alias meninggalkan keluarganya. Dia pindah ke tempat lain, sementara istrinya dimanjakan dan dibiarkan bersuka ria bersama PIL-nya. Sadar apa yang akan terjadi belakangan, surat rumahnya pun dia “sekolah”-kan di kantor Pegadaian. Tak jelas, kebijakan itu karena kepepet butuh atau sekedar politik mengamankan aset. Agaknya Prihatimi makin serius berkalisi asmara dengan sang PIL, terbukti ada niat untuk menjual rumahnya, kemudian uangnya dibuat modal membangun keluarga baru. Maka seorang calon pembeli telah datang dan siap mengakuisisi rumah itu sepanjang sertifikat tanahnya lengkap. Harga memang sudah disepakai lebih dari Rp 200 juta, tapi transaksi bisa dilanjutkan jika sudah ditunjukkan sertifikatnya. Tahu bahwa sertifikat rumah dipegang suami, Prihatmi lalu merayu-rayu Supradin agar sertifikat itu bisa diserahkan. Tentu saja suami tidak mau, bahkan kini merasa ada kesempatan untuk jual mahal pada istri sendiri. “Sertifikat di Pegadaian, mau apa? Kamu enak saja mau menjual rumah, sedangkan suami dan anak kamu telantarkan.” begitu kata Supradin, sambil terbatuk-batuk karena lupa minum Supradyn sirup. Rupanya istri ngeyel juga sehingga ributlah suami istri itu. Ketika emosi suami sudah tak tertahankan lagi, dia ambil gunting. Sementara Bambang, 18, anak sulungnya disuruh memegangi ibunya, gunting itu ditorehkan ke pipi Prihatmi agar rusak kecantikannya. Habis itu bapak dan anak kabur ke Kalimantan Tengah. Tapi Bambang yang tak betah di tempat asing balik ke kampung dan polisi pun mencokoknya, sesuai dengan laporan KDRT yang dibuat oleh Prihatmi sebulan lalu. “Saya menyesal telah membantu menganiaya ibu sendiri, tapi jika bapak ibu mau cerai, saya tak keberatan,” begitu ujarnya. Kamu ikut bapak, “dimakan” ibu tiri lho……!(BJ/Gunarso TS)
[Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
