nice story!
congrats buat neng dan ujang, dan tentunya buat ma'e dan pa'e nya juga.

--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
>
> 
> Neng, sebut saja begitu, ponakan cantik centil ceria yang
> tinggal bersama kami, berapa hari belakangan mendadak
> rada judes. Setiap pagi suara serak sexynya cuma ber "daah..
> daah.. daaah..." ke semua orang saat pamit berangkat kerja.
> 
> Tidak biasanya dia begitu. Diantara ponakan lain yang juga
> tinggal di sini, Neng paling rajin menyapa orang-orang
> yang dipamiti. Terutama, "Aku berangkat ya maay..." kepada
> ma'e yang menjadi ibu asuhnya. Lalu "Berangkat ya yaahh..."
> kepada laki si ma'e yang sudah dianggap ayah sendiri.
> 
> Pernah juga suatu sore serak sexynya menjadi protestan,
> "Ini siapa mau bikin apa yaaa..." protesnya waktu menemukan
> mug berisi kopi di meja teras dapur yang sedang menunggu
> air bergolak. Saat itu dia mau menyelesaikan tugas kantor
> di meja favorit dekat taman berudara segar tapi rupanya
> terganggu oleh keberadaan mug yang tak jelas itu. Padahal,
> siapa pun di rumah ini tahu bahwa itu adalah mug kesayangan 
> si ayah. Bagus. Salah sendiri, kenapa masak air ditinggal.
> Ya nggak?
> 
> Tapi untuk ukuran Neng, protes itu jadi luarbiasa. Sebab
> biasanya kalau menemukan hal-hal menggantung seperti itu
> dia cukup ringan tangan untuk membereskannya. Atau, kalau pun
> tangannya terlalu berat ya paling ditinggal saja tanpa suara,
> tanpa kata-kata, tanpa harus menjadi protestan. Mulut
> mungilnya memang istimewa. Bisa terus berkicau tentang apa
> saja yang dijumpainya sepanjang hari sembari tangannya cekatan
> mengerjakan ini-itu seolah mulut dan tangannya punya nyawa
> sendiri-sendiri. Tapi untuk protes, untuk judes, jelas bukan
> karakter Neng. Simpan saja dulu protes dan judes itu untuk
> suamimu kelak.
> 
> Itulah kenapa kejudesan Neng, yang buat anak perempuan lain
> barangkali tergolong ringan, langsung mencemari atmosfir rumah.
> Kurang jelas apa yang menyebabkan dia mendadak jadi alien di
> rumah. Firasat ma'e, Neng sedang beranteman dengan Ujang,
> sebut saja begitu, sang gacoan yang sudah dipacarinya 3 tahun.
> Gosipnya, ada yang disamber orang. Entah yang mana.
> 
> Wah..
> 
> Tapi cihuy!
> 
> Seperti Pitung menemukan pelor emas, aku mulai cari garagara
> untuk menertibkan atmosfir rumah. Sekali pelor emas jatuh
> ke tangan si Pitung, modal kumpeni cuma tinggal biji melinjo
> yang kelewat letoy buat menggores kulit Pitung sekalipun.
> Demikian pepatah rusia.
> 
> Operasi garagara dimulai dengan menyebar pertanyaan ke seisi
> rumah (kecuali Neng). Pertanyaan seperti, "Ujang sudah datang?"
> atau, "Ujang telpon nggak?" dlsb kuledakkan di segala ruangan
> hingga letusannya terdengar sampai kamar Neng berikut jawaban
> dari orang-orang. Sudah tentu jawabannya negatif semua. Tapi
> kan bukan itu tujuannya. Yang terpenting saat ini adalah
> menggugah kesadaran setiap penghuni rumah tentang menghilangnya
> Ujang dari penglihatan dan pendengaran. Cuma dalam hitungan hari,
> bermunculanlah mimik prihatin hingga ke wajah orang-orang dapur.
> 
> Bagus. Tapi tolong copot mimik itu di depan Neng. Cukup saja
> maklumi hatinya yang lagi susah.
> 
> Tahap berikutnya, pertanyaan mulai kubidik langsung ke Neng.
> Awalnya dia menjawab tangkas. "Belum kontak tuh.." atau,
> "Hari ini aku sibuk yah, gak sempet.." atau, "Oh dia lagi ke
> sana ke sini (luar kota maksudnya)". Terserahlah. Akan terus
> kubidik sampai perawan molek itu kehabisan cara mengelak.
> 
> Namun dasar anak asuh ma'e, dia pilih mengelak dengan diam.
> Setelah kehabisan cara, dia mulai menjawab cuma dengan senyuman 
> lesung pipitnya disertai tatapan tajam tanpa menunjukkan minat 
> pada topik pembicaraan. Cuek bebek. Hmm.. keren...
> 
> Hampir satu bulan proses ini berlangsung. Sementara itu, dua
> jagoanku kalau kebetulan kumpul di rumah juga sengaja menggoda
> adik perempuannya dengan mainkan No One To Depend On, Santana.
> "ain't got nobody..." Tapi karena berbahan centil, Neng malah
> cekikikan sambil goyang entah cha-cha entah samba entah rumba,
> sambil melorotkan leher oblong hingga pundaknya melongok dunia.
> Oh, goyang tali beha itu namanya.
> 
> Ketika senyum jawaban mulai mencong ke kiri mencong ke kanan,
> makin keliatan judesnya, barulah kukeluarkan pelor emas dari
> buntelan kumalnya. Kugosok sampai cukup mengkilap untuk 
> dijadikan kalung di dada. Lalu koordinasi dengan perkembangan 
> operasi rahasia ma'e dan sepupunya (ibu kandung Neng) yang 
> coba meyakinkan Ujang untuk bertahan dan pantang mundur. Dua 
> emak-emak itu terpaksa berpihak ke Ujang setelah gagal membujuk 
> buah hatinya untuk melunak. Rasain. Buah jatuh nggak ke mana.
> 
> Setelah dapat ijin dari Ujang untuk masuk arena pertempuran,
> kucari waktu yang enak buat pamer kalung pelor emas ke Neng.
> Suatu kali di akhir pekan, di meja sarapan aku nyeletuk 
> sembarangan. "Kemarin aku dong ketemu Ujang. Sama cewek..." 
> 
> Neng melirik sekilas, "Iya?". Kaget dia, kok tiba-tiba aku
> kalungan pelor emas. "Biarin deh.." timpalnya sembarangan juga. 
> Tetap tak berminat pada topik pembicaraan tapi melengos. 
> Berusaha mengendalikan diri. Kehilangan nyali untuk menatap 
> tajam seperti biasa. 
> 
> "Cakep juga ya ceweknya.." Hap! Potongan terakhir pisang 
> goreng masuk mulut.
> 
> Neng bingung. Antara pengin kabur dan mendengar kelanjutannya.
> Untung dia cuma bungkam. Kalau enggak, giliran aku yang bakal 
> kebingungan kalau Neng minta ciri-ciri itu cewek. Lha wong itu 
> cewek imajiner untuk intimidasi belaka. 
> 
> Pada saat yang hampir bersamaan, ma'e dan sepupunya meramaikan 
> fb keluarga dengan topik "kerennya Ujang". Dan, sejak sarapan 
> pelor itu konon di fb terjadi perang terbuka antara Neng dan 
> Ujang. Mereka saling ledek, saling sindir, saling pamer pacar 
> baru masing-masing. 
> 
> Keluarga besar di seluruh jagat, geger. Lalu sepakat membentuk 
> dua kubu, pendukung Neng dan pendukung Ujang dengan niat 
> membuat hidup tambah hidup. Alias, ngomporin. Ada juga sih 
> sedulur saderek tipe "ilmuwan" yang berusaha netral dengan 
> nasihat-nasihat yang heu-euh. Tapi tidak cukup untuk 
> menyelamatkan posisi Neng yang agak terpojok. Lebih-lebih lagi 
> dua emak tersayangnya justru berpihak ke musuh besarnya. 
> Sebagai penonton fb aku cuma bisa garuk kepala. 
> 
> Seru. Kocak. Rame. Tapi jangan sampai berlarut. Bagaimana pun 
> hiburan kali ini menyangkut dua perasaan membara yang sesekali 
> memunculkan jilatan api. Kudorong Ujang untuk segera menurunkan 
> beat. Sukur-sukur menyudahinya. Runding punya runding, 
> kupercayakan sepenuhnya pada Ujang untuk menempuh cara apa. 
> 
> Tak dinyana tak diharap, jomblo keren berbadan tegap itu (lebih 
> guede dari gua!) menunjukkan sisi manusianya, tertunduk lemas 
> menyembunyikan matanya, berpikir keras. Aha, bagusnya tempat 
> minum ini lumayan remang. Kalau enggak, bisa-bisa mata ini 
> ikutan becek. Kutinggalkan bodi sterk itu berpikir sendirian. 
> 
> Berhari-hari kontak dengan Ujang belum menghasilkan kata sepakat. 
> Tapi dia setuju untuk meredam suasana dengan mengurangi 
> kehadirannya di fb. Sampai suatu hari, para ponakan di rumah 
> pada ramai terkekeh sepanjang hari menanggapi update Ujang di fb. 
> Persisnya lupa. Tapi kira-kira bunyinya begini, "Neng nggak tau 
> barusan gue dinner sama pacar selingkuhannya..." 
> 
> Entah dari mana si Ujang dapat ide menulis ini. Yang pasti, 
> kalimat becandaan itu sangat ajaib! Membuat centilku seperti 
> tersengat kreativitas Ujang yang merangsang. Mungkin juga 
> membuatnya teringat akan apa yang dia rindukan dari sosok yang 
> selama ini dipacarinya. 
> 
> Matanya kembali berbinar tanda hatinya melumer. Ceriwisnya 
> tidak lagi judes, dan lesung pipitnya yang menentramkan itu 
> memenuhi lagi atmosfir rumah. Cintanya bersemi kembali... 
> 
> 
> * 
> 
> Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun lalu. Dan kemarin, 
> Sabtu 16 Februari 2013 - konon bertepatan ciuman pertama mereka, 
> Neng dan Ujang mengikat janji untuk terus melanjutkan hidup bersama-sama. 
> 
> Berdua. 
> 
> Tanpa pacar selingkuhan masing-masing... 
> hahaha! kissing is healthy.. 
> 
> 
> http://www.youtube.com/watch_popup?v=EucT4JCEFy4&vq=large
> 
> mencintai angin 
> harus menjadi silir
> 
> mencintai air 
> harus menjadi ricik
> 
> mencintai gunung 
> harus menjadi terjal
> 
> mencintai api 
> harus menjadi jiwa
> 
> mencintai cakrawala 
> harus menebas jarak
> 
> mencintaimu...
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke