tergantung siapa dulu yg berciuman.
kalo uplik sama bleki sih biasanya sambil pada tutup idung.


--- In [email protected], "rezameutia" <rezameutia@...> wrote:
>
> Nice.., nice story.
> 
> Cuman kenapa kalo orang ciuman pada tutup mata ya?
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@> wrote:
> >
> > 
> > Neng, sebut saja begitu, ponakan cantik centil ceria yang
> > tinggal bersama kami, berapa hari belakangan mendadak
> > rada judes. Setiap pagi suara serak sexynya cuma ber "daah..
> > daah.. daaah..." ke semua orang saat pamit berangkat kerja.
> > 
> > Tidak biasanya dia begitu. Diantara ponakan lain yang juga
> > tinggal di sini, Neng paling rajin menyapa orang-orang
> > yang dipamiti. Terutama, "Aku berangkat ya maay..." kepada
> > ma'e yang menjadi ibu asuhnya. Lalu "Berangkat ya yaahh..."
> > kepada laki si ma'e yang sudah dianggap ayah sendiri.
> > 
> > Pernah juga suatu sore serak sexynya menjadi protestan,
> > "Ini siapa mau bikin apa yaaa..." protesnya waktu menemukan
> > mug berisi kopi di meja teras dapur yang sedang menunggu
> > air bergolak. Saat itu dia mau menyelesaikan tugas kantor
> > di meja favorit dekat taman berudara segar tapi rupanya
> > terganggu oleh keberadaan mug yang tak jelas itu. Padahal,
> > siapa pun di rumah ini tahu bahwa itu adalah mug kesayangan 
> > si ayah. Bagus. Salah sendiri, kenapa masak air ditinggal.
> > Ya nggak?
> > 
> > Tapi untuk ukuran Neng, protes itu jadi luarbiasa. Sebab
> > biasanya kalau menemukan hal-hal menggantung seperti itu
> > dia cukup ringan tangan untuk membereskannya. Atau, kalau pun
> > tangannya terlalu berat ya paling ditinggal saja tanpa suara,
> > tanpa kata-kata, tanpa harus menjadi protestan. Mulut
> > mungilnya memang istimewa. Bisa terus berkicau tentang apa
> > saja yang dijumpainya sepanjang hari sembari tangannya cekatan
> > mengerjakan ini-itu seolah mulut dan tangannya punya nyawa
> > sendiri-sendiri. Tapi untuk protes, untuk judes, jelas bukan
> > karakter Neng. Simpan saja dulu protes dan judes itu untuk
> > suamimu kelak.
> > 
> > Itulah kenapa kejudesan Neng, yang buat anak perempuan lain
> > barangkali tergolong ringan, langsung mencemari atmosfir rumah.
> > Kurang jelas apa yang menyebabkan dia mendadak jadi alien di
> > rumah. Firasat ma'e, Neng sedang beranteman dengan Ujang,
> > sebut saja begitu, sang gacoan yang sudah dipacarinya 3 tahun.
> > Gosipnya, ada yang disamber orang. Entah yang mana.
> > 
> > Wah..
> > 
> > Tapi cihuy!
> > 
> > Seperti Pitung menemukan pelor emas, aku mulai cari garagara
> > untuk menertibkan atmosfir rumah. Sekali pelor emas jatuh
> > ke tangan si Pitung, modal kumpeni cuma tinggal biji melinjo
> > yang kelewat letoy buat menggores kulit Pitung sekalipun.
> > Demikian pepatah rusia.
> > 
> > Operasi garagara dimulai dengan menyebar pertanyaan ke seisi
> > rumah (kecuali Neng). Pertanyaan seperti, "Ujang sudah datang?"
> > atau, "Ujang telpon nggak?" dlsb kuledakkan di segala ruangan
> > hingga letusannya terdengar sampai kamar Neng berikut jawaban
> > dari orang-orang. Sudah tentu jawabannya negatif semua. Tapi
> > kan bukan itu tujuannya. Yang terpenting saat ini adalah
> > menggugah kesadaran setiap penghuni rumah tentang menghilangnya
> > Ujang dari penglihatan dan pendengaran. Cuma dalam hitungan hari,
> > bermunculanlah mimik prihatin hingga ke wajah orang-orang dapur.
> > 
> > Bagus. Tapi tolong copot mimik itu di depan Neng. Cukup saja
> > maklumi hatinya yang lagi susah.
> > 
> > Tahap berikutnya, pertanyaan mulai kubidik langsung ke Neng.
> > Awalnya dia menjawab tangkas. "Belum kontak tuh.." atau,
> > "Hari ini aku sibuk yah, gak sempet.." atau, "Oh dia lagi ke
> > sana ke sini (luar kota maksudnya)". Terserahlah. Akan terus
> > kubidik sampai perawan molek itu kehabisan cara mengelak.
> > 
> > Namun dasar anak asuh ma'e, dia pilih mengelak dengan diam.
> > Setelah kehabisan cara, dia mulai menjawab cuma dengan senyuman 
> > lesung pipitnya disertai tatapan tajam tanpa menunjukkan minat 
> > pada topik pembicaraan. Cuek bebek. Hmm.. keren...
> > 
> > Hampir satu bulan proses ini berlangsung. Sementara itu, dua
> > jagoanku kalau kebetulan kumpul di rumah juga sengaja menggoda
> > adik perempuannya dengan mainkan No One To Depend On, Santana.
> > "ain't got nobody..." Tapi karena berbahan centil, Neng malah
> > cekikikan sambil goyang entah cha-cha entah samba entah rumba,
> > sambil melorotkan leher oblong hingga pundaknya melongok dunia.
> > Oh, goyang tali beha itu namanya.
> > 
> > Ketika senyum jawaban mulai mencong ke kiri mencong ke kanan,
> > makin keliatan judesnya, barulah kukeluarkan pelor emas dari
> > buntelan kumalnya. Kugosok sampai cukup mengkilap untuk 
> > dijadikan kalung di dada. Lalu koordinasi dengan perkembangan 
> > operasi rahasia ma'e dan sepupunya (ibu kandung Neng) yang 
> > coba meyakinkan Ujang untuk bertahan dan pantang mundur. Dua 
> > emak-emak itu terpaksa berpihak ke Ujang setelah gagal membujuk 
> > buah hatinya untuk melunak. Rasain. Buah jatuh nggak ke mana.
> > 
> > Setelah dapat ijin dari Ujang untuk masuk arena pertempuran,
> > kucari waktu yang enak buat pamer kalung pelor emas ke Neng.
> > Suatu kali di akhir pekan, di meja sarapan aku nyeletuk 
> > sembarangan. "Kemarin aku dong ketemu Ujang. Sama cewek..." 
> > 
> > Neng melirik sekilas, "Iya?". Kaget dia, kok tiba-tiba aku
> > kalungan pelor emas. "Biarin deh.." timpalnya sembarangan juga. 
> > Tetap tak berminat pada topik pembicaraan tapi melengos. 
> > Berusaha mengendalikan diri. Kehilangan nyali untuk menatap 
> > tajam seperti biasa. 
> > 
> > "Cakep juga ya ceweknya.." Hap! Potongan terakhir pisang 
> > goreng masuk mulut.
> > 
> > Neng bingung. Antara pengin kabur dan mendengar kelanjutannya.
> > Untung dia cuma bungkam. Kalau enggak, giliran aku yang bakal 
> > kebingungan kalau Neng minta ciri-ciri itu cewek. Lha wong itu 
> > cewek imajiner untuk intimidasi belaka. 
> > 
> > Pada saat yang hampir bersamaan, ma'e dan sepupunya meramaikan 
> > fb keluarga dengan topik "kerennya Ujang". Dan, sejak sarapan 
> > pelor itu konon di fb terjadi perang terbuka antara Neng dan 
> > Ujang. Mereka saling ledek, saling sindir, saling pamer pacar 
> > baru masing-masing. 
> > 
> > Keluarga besar di seluruh jagat, geger. Lalu sepakat membentuk 
> > dua kubu, pendukung Neng dan pendukung Ujang dengan niat 
> > membuat hidup tambah hidup. Alias, ngomporin. Ada juga sih 
> > sedulur saderek tipe "ilmuwan" yang berusaha netral dengan 
> > nasihat-nasihat yang heu-euh. Tapi tidak cukup untuk 
> > menyelamatkan posisi Neng yang agak terpojok. Lebih-lebih lagi 
> > dua emak tersayangnya justru berpihak ke musuh besarnya. 
> > Sebagai penonton fb aku cuma bisa garuk kepala. 
> > 
> > Seru. Kocak. Rame. Tapi jangan sampai berlarut. Bagaimana pun 
> > hiburan kali ini menyangkut dua perasaan membara yang sesekali 
> > memunculkan jilatan api. Kudorong Ujang untuk segera menurunkan 
> > beat. Sukur-sukur menyudahinya. Runding punya runding, 
> > kupercayakan sepenuhnya pada Ujang untuk menempuh cara apa. 
> > 
> > Tak dinyana tak diharap, jomblo keren berbadan tegap itu (lebih 
> > guede dari gua!) menunjukkan sisi manusianya, tertunduk lemas 
> > menyembunyikan matanya, berpikir keras. Aha, bagusnya tempat 
> > minum ini lumayan remang. Kalau enggak, bisa-bisa mata ini 
> > ikutan becek. Kutinggalkan bodi sterk itu berpikir sendirian. 
> > 
> > Berhari-hari kontak dengan Ujang belum menghasilkan kata sepakat. 
> > Tapi dia setuju untuk meredam suasana dengan mengurangi 
> > kehadirannya di fb. Sampai suatu hari, para ponakan di rumah 
> > pada ramai terkekeh sepanjang hari menanggapi update Ujang di fb. 
> > Persisnya lupa. Tapi kira-kira bunyinya begini, "Neng nggak tau 
> > barusan gue dinner sama pacar selingkuhannya..." 
> > 
> > Entah dari mana si Ujang dapat ide menulis ini. Yang pasti, 
> > kalimat becandaan itu sangat ajaib! Membuat centilku seperti 
> > tersengat kreativitas Ujang yang merangsang. Mungkin juga 
> > membuatnya teringat akan apa yang dia rindukan dari sosok yang 
> > selama ini dipacarinya. 
> > 
> > Matanya kembali berbinar tanda hatinya melumer. Ceriwisnya 
> > tidak lagi judes, dan lesung pipitnya yang menentramkan itu 
> > memenuhi lagi atmosfir rumah. Cintanya bersemi kembali... 
> > 
> > 
> > * 
> > 
> > Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun lalu. Dan kemarin, 
> > Sabtu 16 Februari 2013 - konon bertepatan ciuman pertama mereka, 
> > Neng dan Ujang mengikat janji untuk terus melanjutkan hidup bersama-sama. 
> > 
> > Berdua. 
> > 
> > Tanpa pacar selingkuhan masing-masing... 
> > hahaha! kissing is healthy.. 
> > 
> > 
> > http://www.youtube.com/watch_popup?v=EucT4JCEFy4&vq=large
> > 
> > mencintai angin 
> > harus menjadi silir
> > 
> > mencintai air 
> > harus menjadi ricik
> > 
> > mencintai gunung 
> > harus menjadi terjal
> > 
> > mencintai api 
> > harus menjadi jiwa
> > 
> > mencintai cakrawala 
> > harus menebas jarak
> > 
> > mencintaimu...
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke