http://www.suarapembaruan.com/News/2005/12/07/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Meredupnya Proses Pencerahan Bangsa
 

Thomas Koten 

DALAM Muktamar IV Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Makassar 
(4/12), Presiden Yudhoyono mengharapkan para cendekiawan ICMI bisa memberikan 
sumbangan pikiran atau pandangan yang visioner dan solusi dalam memecahkan 
berbagai persoalan bangsa. 

Harapan presiden, seperti juga harapan banyak pihak, bahwa di saat-saat krisis 
bangsa seperti sekarang ini, sangat dibutuhkan "bantuan" para cendekiawan. 

Antonio Gramsci (1891-1947), seorang pemikir berkebangsaan Italia, berpendapat 
bahwa salah satu prasyarat penting tiap proyek perubahan, terutama proyek 
krisis atau revolusi sosial, adalah kebutuhan akan kehadiran kaum cendekiawan 
atau intelektual. 

Kaum intelektual yang dimaksudkan di sini adalah sekelompok kecil masyarakat 
yang mendisiplinkan dirinya dalam berpikir-berefleksi tentang realitas 
kebangsaan yang dihadapinya hingga melahirkan pemikiran jernih yang dapat 
dijadikan panduan bagi penyelesaian krisis bangsa atau revolusi sosial. 
Penekanannya adalah pada pencerahan mindset (pola pikir). 

Dalam pengejewantahan ide-idenya, kaum intelektual memiliki semacam 
kategori-kategori tertentu. Menurut Richard Posner dalam Public Intellectuals; 
A Study of Decline, seperti dikutip Muhammad Ali (2004), ada intelektual yang 
bekerja menerjemahkan pikiran-pikiran besar di masa lalu dan tempat lain untuk 
kepentingan publik. 

Ada intelektual yang membuat usulan-usulan kebijakan publik berdasarkan 
spesialisasinya. Ada pula intelektual yang mengomentari kontroversi-kontroversi 
aktual. Ada intelektual meramal sejarah masa depan. Intelektual yang lain 
adalah kritikus sosial umum, sastra, budaya, satire politik dan pakar. 
Sebagian, lebih jauh mengusulkan reformasi sosial. Dan, bagaimana kita 
memetakan panorama ini? 

Dengan demikian, menarik bagi kita untuk mengikuti perkembangan intelektual, 
baik yang terjadi di Eropa maupun Amerika Serikat (AS), kemudian 
membandingkannya dengan perkembangan intelektual di Indonesia, terutama yang 
bertalian dengan perannya dalam proses penyelesaian krisis bangsa saat ini. 

Munculnya intelektual di Eropa, secara fenomenal bermula dari Prancis pada 
periode pencerahan abad ke-18, ditandai dengan naiknya tingkat literasi: 
penerbitan buku-buku dan surat kabar serta tumbuhnya minat baca publik. Bahkan, 
kafe-kafe dan ruang-ruang percakapan dan diskusi-diskusi menjamur. Mereka giat 
membicarakan masalah-masalah aktual publik. 

Pemerintah-raja berusaha mengendalikan pendapat publik dengan membatasi ruang 
gerak kaum intelektual untuk tetap terkotak dalam ruang privat, atau "berumah 
di angin", ala Rendra, karena pendapat publik dinilai sebagai ancaman yang 
merongrong eksistensi kekuasaan. 

Tetapi, pada saat yang sama juga publik terus mendesak agar dapat keluar dari 
ruang privat-kekuasaan pemerintah atau raja. Sabda raja yang otoritarian 
seperti Raja Louis XIV yang berkata: L'etat c'est moio (negara adalah saya), 
terus dilawan oleh rakyatnya. Perlawanan rakyat ini didukung dengan tampilnya 
editor dan penulis surat kabar, sastrawan, penulis, budayawan, ilmuwan, dan 
sebagainya. 

Menariknya, perkembangan intelektual di Prancis, bahkan juga di negara-negara 
Eropa lainnya, mengalami masa-masa suram, di mana banyak di antara kaum 
intelektual yang mengabdi dan menghambakan diri pada kepentingan kekuasaan. 

Peran mereka yang sesungguhnya sebagai pengkritisi kekuasaan, tergerus oleh 
kenikmatan-kenikmatan yang disajikan kekuasaan. Maka, lahirlah tokoh-tokoh 
intelektual kritis seperti yang lazim kita kenal; Julian Benda, Edward Shills, 
Karl Mannehim, Antonio Gamsci, yang mengkritisi independensi kaum intelektual 
yang mulai lentur. 

Sedangkan perkembangan intelektual di AS pun pernah mengalami pasang surut. 
Kerap pemerintah AS begitu anti terhadap kehadiran kaum intelektual karena 
dianggap terlalu mendikte kebijakan pemerintah. Namun, secara umum seperti 
dikatakan oleh Muhammad Ali, produksi intelektual di AS luar biasa pesat, meski 
awalnya intelektual di negeri ini berasal dari Eropa, sebut saja, Michael 
Foucault, Hannah Arendt, Jurgen Habermas. 

Karena iklim demokrasi yang berkembang di AS, membuat dunia intelektual tumbuh 
subur dan berkembang pesat. Lama-kelamaan AS pun memproduksi intelektualnya 
sendiri dengan warna khas AS. 


Di Indonesia 

Intelektual di Indonesia juga sebenarnya mengalami perkembangan unik. Masa 
"pencerahan" intelektual boleh dikatakan baru terjadi awal abad ke-20 yang 
dimulai oleh Boedi Utomo dan diteruskan dengan bangkitnya sekelompok pelajar 
dari seluruh Indonesia yang berani menggagas dan memproklamasikan satu 
Indonesia dalam satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. 

Tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara pun muncul dalam periode ini. Kelompok 
intelektual pada waktu itu tampil pada garda paling depan dalam menyuarakan 
aspirasi bangsa Indonesia tentang kemerdekaannya dari belenggu penjajahan. 
Soekarno dan Hatta termasuk di antaranya dengan memberikan spirit lahir dan 
batin untuk bersatu dan berjuang merebut kemerdekaan. 

Kaum intelektual seolah mengalami romantisme pada masa-masa awal kemerdekaan 
Indonesia yang dibangun dan diberi ruang gerak oleh kedua tokoh kemerdekaan itu 
Tetapi, sayang, romantisme itu akhirnya mati tatkala Demokrasi Terpimpin 
dirakit di tahun 1959 oleh Bung Karno sendiri. 

Pemikiran, bahkan juga fisik kaum intelektual dipenjarakan dan diberi cap final 
sebagai "monster hitam" yang harus dijauhi. Tidak ada lagi gua tanpa 
intelektual yang tak terusik oleh kekuasaan. Akhirnya, banyak intelektual yang 
terpinggirkan bahkan dikejar dan menjadi buronan kekuasaan. 

Kemerosotan intelektual kaum cendekiawan mengalami tingkat kesuraman yang cukup 
memprihatinkan pada era Orde Baru, terutama pada masa-masa pertengahan dan 
akhir rezim Soeharto yang terkenal otoriter dan militeristik itu. 

Ditinggalkannya paham "politik sebagai panglima" demi tekanan pada pembangunan 
ekonomi, bukan hanya membawa perbaikan di bidang ekonomi, melainkan juga 
kemajuan-kemajuan mendasar dalam kehidupan politik. Tetapi, atas nama 
pembangunan ekonomi pula, ruang gerak kontrol kaum intelektual dikerangkeng. 
Tumbuhnya aktivitas kaum intelektual seperti LSM, dianggap sebagai momok dan 
musuh kekuasaan sehingga perlu diberangus. 

Lain dengan era reformasi, di mana ruang-ruang publik baru berdiri. Koran, 
majalah, tabloid dan lain-lain tumbuh bak jamur di musim hujan. Muncul pula 
editor, jurnalis, sastrawan, penulis, pengamat dan budayawan muda usia, 
memenuhi ruang publik dengan karya-karya mereka. 

Jaringan intelektual, LSM dan kelompok intelektual dengan beragam disiplin ilmu 
bermunculan. Banyak suara kritis terhadap pemerintah atau otoritas apa pun yang 
berkuasa di ranah sosial- publik terdengar nyaring. 

Tetapi, apakah pencerahan telah terjadi di era sekarang ini? Tampaknya kita 
butuh ruang khusus untuk mendiskusikan hal ini. Mubyarto, ekonom dari UGM 
misalnya, dalam sebuah tulisannya mengatakan kaum cerdik pandai kita saat ini 
lebih asyik dan piawai berdebat tanpa memberi manfaat bagi masyarakat. 

Kata sang ekonom, ini disebabkan oleh terlalu menghambanya kaum intelektual 
kita pada ilmu pengetahuan modern, khususnya dari Barat. Kita hampir tidak 
pernah serius belajar perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di Asia. 

Kini, krisis bangsa sudah berlangsung tujuh tahun lebih. Jumlah kaum 
intelektual saat saat ini yang dibesarkan di bangku-bangku kuliah baik dalam 
maupun luar negeri, sudah menjamur. Banyak pula kaum intelektual yang masuk 
dalam lingkungan kekuasaan dan dengan satu misi, ingin ikut menyelesaikan 
persoalan bangsa. Tetapi, hasilnya? 

Dengan sangat menyesal perlu dikatakan bahwa hingga saat ini belum juga muncul 
ide-ide jenial dari para intelektual kita yang menjadi obor penerang bagi 
bangkitnya harapan rakyat di tengah gelombang kegelapan nurani yang menutupi 
langit Indonesia. 

Tampak belum juga ada ide-ide besar yang nyaris mengundang keterlibatan banyak 
pihak untuk mendiskusikannya dan menjadikan ide besar itu menjadi panduan, 
pijakan atau tujuan membuka kerudung krisis demi melihat dan menggapai hari 
esok. 

Maka, yang terpancar dari sana, kebenaran, keadilan dan ratio yang seharusnya 
bersenyawa secara utuh dalam diri kaum intelektual kita pun senyap dan semakin 
redup dalam proses pencerahan bangsa. * 

Penulis adalah Direktur The Justice Advocates Indonesia


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/7zgKlB/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke