Ketika kami masih kecil ayah saya ditahan oleh Polisi Militer Jepang 
(Kempetai), sehingga ibu harus berjuang sendiri mencari nafkah untuk 
membesarkan kami anak – anaknya. Pada saat tsb sangat sukar sekali 
bagi ibu untuk bisa mencarikan dan mendapatkan makanan untuk kami, 
sehingga kami sering harus tidur dengan perut lapar. Dan yang paling 
menyedihkan ialah dimana saya harus melihat ibu menangis. Demi anak-
anaknya ibu harus sering berpuasa.

Terkadang nasi satu piring kecil harus di bagikan kepada tiga anak-
anaknya, karena tiap anak hanya kebagian dua hingga tiga sendok 
makan saja, maka adik saya yang paling kecil, sering meratap: "Bu 
lagi, Bu tambah, saya masih lapar Bu", sedangkan kami yang lebih 
besar, masih bisa menahan rasa sakit maupun lapar kami, bahkan 
karena saya tidak tega melihat adik saya yang masih lapar, sering 
saya berikan bagian saya untuknya, sehingga saya tidak makan sama 
sekali.

Apakah anda bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu, yang 
harus melihat, dan mendengar jeritan tangis anaknya yang kelaparan, 
tetapi tidak ada persediaan nasi maupun makanan yang bisa 
diberikannya lagi. Ratapan adik saya tersebut merupakan pukulan bagi 
ibu saya, hatinya merasa sedih dan sakit, karena tidak bisa memenuhi 
keinginan anaknya yang lagi kelaparan.

Sambil membelai - belai kepala adik saya, mengalir air matanya 
berlinang, ia berkata: "Sabarlah nak, besok akan ibu masakan nasi 
lebih banyak lagi" Benar-benar satu pandangan dan pengalaman yang 
sangat menyayatkan hati saya dan tak terlupakan. 

Ibu bekerja sebagai pencuci pakaian. Pagi - pagi sebelum matahari 
terbit ia sudah harus bangun untuk mencuci pakaian. Satu pekerjaan 
yang berat, karena semuanya harus di cuci dengan tangan. Ia bekerja 
tujuh hari seminggu dengan tiada mengenal lelah dari pagi sampai 
malam. Walaupun kami telah tidur ibu masih tetap bekerja terus, 
dibawah remang - remang lampu cempor minyak, karena tidak ada 
listrik dirumah kami. Ia harus menggosok pakaian sampai dengan jauh 
malam, walaupun ibu harus bekerja berat, ia tidak pernah mengeluh.

Dari sejak kecil kami anak - anaknya tidak pernah memiliki sepatu 
sedangkan kakak saya pada bulan yang akan datang akan merayakan 
Natal di sekolahannya. Untuk perayaan Natal tersebut ibu berusaha 
ingin membelikan sepasang sepatu untuk kakak saya. Kebenaran 
tetangga kami adalah seorang penjual barang rombengan (tukang loak), 
melalui dia ibu memesan sepasang sepatu, walaupun sepatu bekas dan 
juga agak kebesaran, tetapi daripada tidak punya sepatu sama sekali. 
Harganyapun telah ditetapkan, tetapi karena ibu belum punya uang, ia 
diberi kesempatan untuk mengumpulkannya terlebih dahulu, setelah 
jumlah uangnya lengkap; boleh ia nanti menembus sepatu bekas 
tersebut.

Ibu ingin agar uang itu cepat terkumpul, sehingga ia bekerja lebih 
banyak dan lebih berat lagi. Ia harus menggosok pakaian terkadang 
hingga jam dua pagi sedangkan jam lima pagi ia sudah harus bangun 
lagi untuk mencuci pakaian. Bahkan untuk bisa menabung ini ibu telah 
beberapa kali melakukan puasa agar uangnya bisa lebih cepat 
terkumpul.

Akhirnya ibu jatuh sakit, karena pekerjaannya yang terlalu berat dan 
juga karena seringnya berpuasa, walaupun ia sakit, ia memaksakan 
diri untuk tetap bekerja terus, sehingga pada saat ia menggosok 
pakaian, karena kelelahan ia lelap sejenak. Akibatnya sangat fatal 
bagi ibu, pakaian langganan yang sedang ia gosok menjadi hangus oleh 
strikaan panas.

Ibu menangis, ia bukan menangis karena sakit, ia bukan menangis 
karena harus bekerja berat, ia menangis, karena uang celengan yang 
tidak seberapa jumlahnya yang seyogiyanya untuk menebus sepatu 
anaknya harus digunakan untuk mengganti pakaian yang hangus kena 
strikaan. Sehingga terpaksa, pada saat kakak saya mengikuti perayaan 
Natal di sekolah, dimana hampir semua murid memakai pakaian maupun 
sepatu baru, hanya kakak saya satu - satunya anak yang tidak memakai 
sepatu, bahkan kemeja yang dipakainya pun hanya sekedar kemeja 
tambalan yang sudah usang.

Ketika pulang sekolah kakak saya menangis ia tidak mau pergi ke 
sekolah lagi, karena ia telah menjadi cibiran dan ejekan dari kawan -
 kawan sekelasnya sebagai satu - satunya anak yang tidak memakai 
sepatu. Masih teringat oleh saya wajah ibu, sambil memeluk anaknya 
ia membelai kepala kakak saya, mengalir butir air matanya turun 
berlinang, tak sepatah katapun yang ia ucapkan, tetapi terbayang 
diwajahnya betapa pedih dan betapa sakitnya perasaan Ibu saya pada 
saat tersebut.

Apakah Anda bisa membayangkan berapa banyak orangtua menjelang Natal 
maupun Tahun Baru ini yang mungkin mengalami perasaan dan nasib yang 
sama seperti ibu saya, karena mereka tidak mampu membelikan pakaian 
maupun sepatu untuk anaknya? Dan berapa banyak anak jalanan yang 
tidak pernah mampu memiliki sepatu, boro-boro sepatu mungkin uang 
untuk makan pun tidak cukup. 

Oleh sebab itulah dalam kesempatan ini mang Ucup ingin mengetuk hati 
Anda untuk berbagi kasih dengan anak – anak jalanan yang diasuh oleh 
Romo Yohanes Gani Sukarsono, berikanlah mereka juga kesempatan di 
akhir tahun ini untuk bisa menikmati bagaimana rasanya agar mereka 
bisa selalu tidur dengan perut kenyang.

Sumbangan mohon dikirimkan 
ke Rekening BCA 222 001 036 1
atas nama Robertus Agus Waskito

Saya akhiri tulisan ini dengan ucapan banyak terima kasih sebelumnya 

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/7zgKlB/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke