REFLEKSI: Masyallah, apa saja yang tidak dicuri?
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/12/daerah/2278899.htm Bahkan Fasilitas KA Pun Dicuri... Ni Komang Arianti Kami telah menangkap tiga pencuri bantalan kayu dan penambat rel di lintasan Gubug, Kabupaten Grobogan. Ketiganya telah diserahkan ke Polsek Gubug untuk proses hukum. Kami sudah capai Pak Kadaop. Pesan singkat ini muncul di layar telepon seluler Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi IV Semarang Suprapto, akhir November 2005. Kami bisa memaklumi kelelahan rekan-rekan di lapangan yang nyaris setiap saat harus berurusan dengan pencuri fasilitas KA (kereta api). Tugas utama mereka memastikan kondisi lintasan rel aman untuk dilalui KA, bukan fokus bertugas menangkapi pencuri fasilitas KA,â? ujar Suprapto di Stasiun Semarang Gudang, Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (5/12). Bagi yang pernah merasakan perjalanan mengecek lintasan rel antara Stasiun Plabuan-Stasiun Kuripan, sepanjang 7,5 kilometer di Kabupaten Batang, dapat memahami pesan singkat yang dikirim pegawai PT KA itu. Pekerjaan mengecek terpasangnya penambat, bantalan, dan baut dengan benar di sepanjang lintasan rel cukup menguras konsentrasi dan fisik seorang juru periksa jalan rel (JPJR). Bersama dengan Budiyono, JPJR lintas Stasiun Plabuan-Kuripan, Kompas saat itu berjalan menembus keheningan malam dengan pemandangan sebelah kiri Alas Roban dan sebelah kanan laut lepas, pantai utara Jawa. Kegelapan malam menuntut mata seorang JPJR tetap jeli mengamati sambungan antar-rel, penambat, bantalan, dan baut yang terpasang. Setiap JPJR berangkat seorang diri ditemani lampu teplok, senter, kunci Inggris, dan bendera merah. Kecepatan berjalan seorang JPJR juga ada aturannya. Setiap satu kilometer rel harus diselesaikan seorang JPJR dalam waktu 15 menit. Tanpa senjata, terkadang Budiyono harus berhadapan dengan sekelompok orang yang mencuri patok beton penunjuk kilometer rel. Diakuinya, ia tak mampu berbuat apa-apa ketika berhadapan dengan kawanan pencuri yang berjumlah lima hingga 10 orang sebab mereka dilengkapi golok. Dari cerita ini, siapa pun akan turut merasakan ketakutan Budiyono yang setiap tengah malam berjalan sendirian di lintasan yang dikelilingi hutan lebat dan laut lepas. Pun rawan aksi pencurian. Semakin meningkat Selama dua tahun terakhir, kasus pencurian fasilitas KA di wilayah Daerah Operasi (Daop) IV, yang meliputi lintasan KA dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sampai Kabupaten Brebes, Jateng, semakin meningkat. Sepanjang tahun 2004 terjadi 22 kasus pencurian peralatan sinyal, dan tahun 2005, hingga November, tercatat 23 kasus pencurian serupa. Sementara sebelum tahun 2004, tercatat kasus pencurian peralatan sinyal, jumlahnya kurang dari 10 kali. Kejadian serupa terjadi di wilayah PT KA Daop lainnya. Kasus pencurian terhadap fasilitas KA selama ini tak hanya ditujukan pada peralatan sinyal telekomunikasi PT KA, tetapi juga pada sarana dan prasarana KA, seperti penambat, bantalan, motor wesel, dan keran air dalam toilet kereta penumpang. Pencuri penambat rel umumnya mencuri penambat secara silang dan tidak pada bantalan yang berurutan. Rupanya, mereka tahu bila penambat diambil berenteng dan pada bantalan yang berurutan, hal itu dapat membahayakan perjalanan KA yang melintas di rel tersebut. Salah satu areal stasiun di wilayah Daop IV yang kerap menjadi sasaran empuk kawanan pencuri spesialis fasilitas KA adalah Stasiun Semarang Gudang. Stasiun ini terletak tiga kilometer dari Stasiun Semarang Tawang dan berfungsi sebagai stasiun angkutan distribusi pupuk urea PT Pupuk Sriwijaya. Di areal stasiun yang sebagian besar tergenang rob limpasan air laut ke darat dan diapit tambak, sejumlah bentangan rel terendam dalam genangan rob dan air tambak. Ini menyuburkan pencurian kabel sinyal bawah tanah dan besi rel di areal Stasiun Semarang Gudang. Dari delapan jalur rel yang ada di stasiun ini, sekarang hanya tersisa tiga jalur rel dan satu rel cabang menuju Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Kelima jalur yang hilang itu sekarang semuanya tergenang rob, sebagian relnya dicuri orang, dan sisa rel yang ada akhirnya diselamatkan Divisi Jalan dan Jembatan PT KA daripada hilang dicuri, ujar Kepala Stasiun Semarang Gudang Sudiyono. Bahkan, pencuri di stasiun itu berani terang-terangan. Cerita tragis pegawai PT KA yang mengajukan pensiun dini karena diancam akan dibunuh kawanan pencuri spesialis juga terjadi di Stasiun Semarang Gudang. Suatu ketika, seorang petugas Stasiun Semarang Gudang melihat aksi kawanan pencuri dan melaporkannya ke Polisi Khusus KA. Tetapi, setelah Polsuska menangkap seorang dari kawanan pencuri ini dan memperlihatkannya ke petugas PT KA itu, tersangka mengancam akan membunuh petugas itu. Dilanda ketakutan, pegawai ini mengajukan pindah tugas ke lintasan lainnya yang jauh dari Stasiun Semarang Gudang. Tetapi, seminggu setelah ditempatkan di Stasiun Gubug, petugas ini masih menerima teror dan ancaman dari pelaku sehingga ia akhirnya mengajukan pensiun dini, tutur Sudiyono. Kasus pencurian kabel sinyal dan motor wesel juga kerap terjadi di stasiun ini. Tercatat ada lima motor wesel di lintasan Semarang Gudang yang pernah dicuri, tetapi pelakunya tertangkap. Harga satu motor wesel Rp 200 juta, yang merupakan barang impor dari Jerman. Dari pengakuan pencuri yang tertangkap, motor wesel dan besi pengamannya akan dijual kurang dari Rp 100.000 dan untuk kabel sinyal berinti 80 serabut tembaga dijual ke pasar loak Rp 20.000-Rp 50.000. Ironisnya, bila yang dicuri penambat, baut, dan bantalan rel, PT KA baru mengetahuinya setelah ada laporan dari JPJR. Sebab, hilangnya baut, penambat, dan bantalan rel tak terdeteksi secara otomatis di ruang kendali perjalanan KA. Padahal, jika baut atau bantalan rel hilang, bukan tidak mungkin sebuah rangkaian KA yang berjalan di atasnya bisa anjlok, terguling. Jika sinyal tidak berfungsi dengan benar, karena ada bagiannya yang dicuri, bisa saja pintu perlintasan KA yang seharusnya sudah ditutup masih terbuka. Ini membuka peluang kendaraan yang melintas di jalan umum menabrak rangkaian KA. Artinya, keterlambatan kedatangan sebuah rangkaian KA tak sepenuhnya berasal dari persoalan manajemen perjalanan KA. Masinis tetap harus mengutamakan keselamatan penumpangnya. Bisa saja mereka mengejar target waktu kedatangan, tetapi jika fasilitas keselamatan perjalanan KA ada yang hilang, dicuri, tentu risiko keselamatan penumpang menjadi taruhan. Direktur Teknik PT KA dan mantan Kepala Daop IV Semarang Makbul Sujudi Sumadilaga mengakui, pencurian fasilitas KA adalah salah satu contoh kasus dari sekian banyak kasus pencurian terhadap fasilitas publik yang ada di negeri ini. Menurut dia, maraknya kasus pencurian fasilitas keselamatan KA, besi siku menara PLN, dan besi penyangga jembatan jalan raya merupakan imbas dari reformasi 1998. Selain itu, juga dipengaruhi pergeseran dari budaya ekonomi kerakyatan ke budaya ekonomi kapitalis yang cenderung individual dan menekankan pemanfaatan teknologi untuk efisiensi tenaga kerja. Pada saat rapat angkutan Lebaran 2005, sempat dibahas rencana pembentukan Polisi KA dengan Polri. Rencana pembentukan Polka didasari angka pencurian fasilitas KA di lintas Jawa-Sumatera yang meningkat lima tahun terakhir dan semakin mencemaskan tutur Makbul. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/7zgKlB/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
