http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/12/opini/2278318.htm

 
Kelaparan Yahukimo Disengaja? 

Jonathan Lassa

Dalam terminologi Disaster Management, kelaparan termasuk kategori slow-on-set 
disaster, bencana yang terjadi perlahan-lahan.

Tidak seperti tsunami atau gempa yang tiba-tiba terjadi dan memakan korban, 
kelaparan (famine) mengalami proses,

Dilaporkan 55 meninggal dan 112 kritis akibat kelaparan di tujuh distrik di 
Yahukimo, Papua. Bupati Yahukimo mengungkap alasan klasik, makanan umbi-umbian 
sudah habis sejak Oktober 2005. Tidak ada makanan lain, masyarakat terlambat 
menanam. Dengan kata lain, One Pahebol, Sang Bupati, mengatakan, ke-55 orang 
yang meninggal adalah kesalahan sendiri. Pejabat negara seenaknya mengacungkan 
telunjuk kepada rakyatnya. Siapa suruh malas dan terlambat menanam pangan?

Kritik Amartya Sen dan Susan George

Karya Sen, The Poverty & Famines (1981), meski dianggap klasik, tetap menemukan 
gaungnya, terbukti mampu meruntuhkan argumentasi Maltusian mengenai penyebab 
kelaparan. Argumentasi kaum Maltusian, yang diserang Sen, terwakilkan dalam 
pernyataan Bupati Yahukimo, terlambat tanam, produksi pangan tidak ada, petani 
malas, dan seterusnya. Argumentasi Sen terkesan lebih populis, bukan kurangnya 
pangan dalam negara, tetapi karena ketiadaan akses (entitlements) atas pangan.

Sedangkan How Other Half Dies (1976), karya Susan George, yang juga dianggap 
klasik terasa provokatif. George mengusung semangat antikapitalisme global yang 
dalam praktik kerap mengisap termasuk petani negara dunia ketiga. Untuk 
memahami relevansi George, mungkin orang harus membaca food access model- nya 
Piers Blaikie, profesor emeritus yang agak kiri yang pernah membuat turunannya 
bisa diterapkan untuk level lokal seperti di Yahukimo. Mengapa di Yahukimo ada 
yang menikmati kelebihan pangan dan lainnya mati kelaparan?

Inti dua argumentasi itu adalah swasembada pangan sebagai indikator 
keberhasilan produksi dan ketersediaan bukan faktor dominan dalam ketahanan 
pangan. Faktor ketersediaan mirip argumentasi Perum Bulog yang berkeras harus 
impor pangan guna mempertahankan stok pangan nasional.

Indonesia memiliki produksi ekuivalen padi-beras 200-216 kg per orang/tahun, 
sedangkan konsumsi beras per kapita nasional yang diperlukan berkisar 115,5 kg. 
Cadangan pangan cukup besar, yang kalau mau bisa langsung beli dari petani 
untuk dijadikan stok di Perum Bulog. Lepas dari kontroversi Perum Bulog, secara 
nasional ada indikasi Indonesia aman pangan, tetapi justru di sinilah letak 
kekeliruannya. Ketahanan pangan (food security) justru jarang berelasi dengan 
faktor-faktor itu, tetapi berelasi dengan isu-isu kedaulatan pangan, benih, dan 
akses atas pangan (food entitlements).

Kedaulatan pangan Yahukimo kritis

Saat konflik tahun 2003, harga beras di sekitar lembah Baliem Rp 7.000-Rp 
20.000 per kg. Dari hasil penelitian saya tahun 2004 di Wamena, beras mendapat 
porsi 20 persen dari total konsumsi rumah tangga mingguan, setara 225.000 per 
KK setiap minggu.

Peralihan dari ethno-food seperti hipere (ubi jalar) ke beras justru membuat 
keprihatinan. Daerah Yahukimo sulit bisa swasembada beras. Mereka bergantung 
pada beras dari luar, membuat kondisi pangan kian rumit. Padahal, jauh sebelum 
tahun 1954, saat Yahukimo belum bersentuhan dengan dunia luar, masyarakat hidup 
dari produksi hipere (food crop).

Keterisolasian kerap menjadi sasaran empuk alasan kelaparan. Modus tunggal 
udara membuat semuanya serba mahal. Ketika harga bensin di Jakarta masih Rp 
2.200, bensin di lembah Baliem rata-rata dijual Rp 17.000-Rp 20.000. Harga 
energi ini telah memengaruhi harga pangan, termasuk hipere yang cash crops.

Kondisi pangan lembah Baliem, yang umumnya hipere (ubi jalar), ditanam dan 
dipanen hari demi hari. Konsep food stocking komunitas Yahukimo adalah disimpan 
di tanah. Asalinya, mereka tidak kenal sistem panen per musim (one off 
harvesting). Panen berbasis harian.

Sayang, pemerintah lokal kerap tidak percaya diri dan menggebu-gebu 
memperkenalkan bibit unggul, dengan iming- iming hasil berlipat. Padahal, kerap 
kali bibit unggul hipere menuntut sistem storing dan stocking berbeda. Konsep 
storing modern, yang membutuhkan gudang dan ruang bersuhu tertentu, amat mahal 
selain mudah untuk expired. Benih asli hipere lembah Baliem terkenal lebih 
cocok dengan budaya tanam orang asli.

Kebijakan yang kerap memaksa perubahan tanam tradisional ke bibit unggul versi 
outsiders berakibat terlucutinya kedaulatan orang lokal atas pangan dan benih 
yang lebih compatible dengan ekologi dan kultur Baliem dan Yahukimo.

Tahun 1997/1998 saat Wamena dan sekitarnya, seperti Yali, mengalami kekeringan 
(El Nino) yang berakibatkan kelaparan, hipere gagal produksi. Meski demikian, 
Manuel Boissiere (2002) mencatat, khususnya di Yali, masih ada sedikitnya 21 
jenis pangan lokal sebagai cadangan masa krisis, yang sebenarnya tak tersentuh 
kebijakan pangan pemerintah lokal.

Ketahanan pangan politis

Bagi yang skeptis berargumentasi, ada motif penciptaan krisis demi proyek. 
Namun, fakta kematian di Yahukimo yang berelasi erat dengan kelaparan 
mengingatkan pemerintah masih mengelola ketahanan pangan nasional secara 
sloganisme, penuh retorika: HAM atas Pangan,pendekatan berbasis hak.

UU No 7/1996 tentang Ketahanan Pangan mengatakan, ketahanan pangan adalah: 
Kondisi di mana terjadinya kecukupan penyediaan pangan bagi rumah tangga yang 
diukur dari ketercukupan pangan dalam hal jumlah dan kualitas dan adanya 
jaminan atas keamanan (safety), distribusi yang merata, dan kemampuan membeli.

Pertanyaannya, mengapa Bupati Pahebol memiliki jawaban lengkap atas masalah 
pangan di Yahukimo setelah 55 orang meninggal dan 112 sekarat? Mengapa aneka 
penjelasan versi negara jarang terjadi secara ex-ante, tetapi ex post?

Aneka perilaku politik yang tidak sopan seperti ini sering memaksa saya 
berkesimpulan, kelaparan dan kematian di Yahukimo adalah interaksi yang sengaja 
antara bencana pembangunan dan pembangunan bencana.

Jonathan Lassa Alumnus University of East Anglia UK, dengan Disertasi Politik 
Pangan dan Bantuan Pangan: Studi Kasus Indonesia 1950-2003


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
AIDS in India: A "lurking bomb." Click and help stop AIDS now.
http://us.click.yahoo.com/VpTY2A/lzNLAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke